APA YANG TERJADI SETELAH RAMADHAN TINGGALKAN KITA
Setelah Ramadhan: Kita Kembali ke Fitrah atau Kembali ke Nafsu?
Oleh : Mln. Arsalanullah MAA, MB. Sy. (Tidung, 12/03/2026).
Menjelang datangnya Idul Fitri , suasana masyarakat biasanya mulai berubah. Pusat perbelanjaan menjadi ramai, promo ada di mana-mana, dan banyak orang mulai sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan lebaran.
Tidak sedikit yang merasa harus membeli pakaian baru, menyediakan makanan berlimpah, atau mengganti berbagai barang di rumah agar suasana hari raya terasa lebih meriah.
Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan dengan jujur di dalam hati:
*Apakah ini benar-benar makna ldul Fitri yang diajarkan oleh Islam?*
Padahal hakikat Idul Fitri adalah hari kembali kepada fitrah—kembali kepada kesucian. Setelah sebulan penuh kita ditempa oleh ibadah di bulan Ramadhan , menahan lapar, menahan hawa nafsu, memperbanyak doa dan ibadah, seharusnya kita selesai dari Ramadhan dengan hati yang lebih lembut, lebih sederhana, dan lebih peduli kepada sesama.
Ramadhan seharusnya mendidik kita untuk tidak dikuasai oleh keinginan dunia.
Karena itu, sangat disayangkan jika setelah sebulan dilatih menahan diri, kita justru kembali pada sikap berlebihan dalam urusan dunia. Islam tidak melarang kita bergembira pada hari raya, tetapi Allah mengingatkan agar kita tidak terjatuh pada sikap berlebih-lebihan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
*“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”*
(QS. Al-A‘raf 7:31)
Bahkan Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat keras:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.”
(QS. Al-Isra 17:27)
Karena itu, menjelang Idul Fitri seharusnya bukan hanya menjadi waktu untuk berbelanja, tetapi juga menjadi waktu untuk berkorban dengan harta di jalan Allah.
Di saat inilah kita menunaikan zakat fitrah, memperbanyak infak (pengorbanan candah) dan sedekah, menunaikan zakat mal, membayar fidyah, Eid fund serta berbagai bentuk pengorbanan harta lainnya agar kebahagiaan hari raya juga dirasakan oleh orang-orang yang membutuhkan.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang zakat fitrah:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”
(HR. Abu Dawud)
Namun ada satu pertanyaan yang seharusnya menggugah hati kita semua.
*Bagaimana jika ketika kita lebih mengutamakan perilaku konsumtif, lalu dalam hal pengorbanan harta kita tidak jujur di dalamnya?*
Misalnya kita begitu mudah mengeluarkan uang untuk belanja dan kesenangan, tetapi ketika menunaikan zakat, infak, atau sedekah kita justru merasa berat, bahkan mencari cara untuk mengurangi ukuran pengorbanan harta atau menunda-nundanya.
Jika hal itu terjadi, maka pertanyaan yang lebih dalam adalah:
*Apakah Allah akan meridhai puasa kita selama sebulan penuh ini?*
*Apakah Allah akan menerima ketakwaan yang kita harapkan dari Ramadhan?*
Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah bentuk lahiriah ibadah semata, tetapi ketakwaan yang ada di dalam hati:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
(QS. Al-Hajj 22:37)
Ayat ini mengingatkan bahwa nilai ibadah tidak diukur dari penampilan luarnya saja, tetapi dari kejujuran hati dan ketakwaan kita.
Allah juga mengingatkan:
لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kalian tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna sebelum kalian menginfakkan sebagian dari apa yang kalian cintai.”
(QS. Ali ‘Imran 3:92)
Artinya, keimanan kita benar-benar diuji ketika kita mengorbankan sesuatu yang kita cintai, termasuk harta.
Karena itu, jika Allah memberikan kita rezeki lebih menjelang lebaran, tidak semuanya harus dihabiskan untuk konsumsi sesaat. Akan jauh lebih bijak jika sebagian rezeki tersebut kita gunakan untuk membantu sesama dan sebagian lagi dipersiapkan untuk kebutuhan setelah lebaran, agar kehidupan kita tetap seimbang dan penuh keberkahan.
Sesungguhnya keberhasilan kita menjalani bulan bukan diukur dari meriahnya perayaan kita, tetapi dari perubahan hati kita. Jika Ramadhan benar-benar menyentuh hati kita, maka ia akan melahirkan sifat dermawan, sederhana, dan penuh empati kepada sesama.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya barang baru yang kita beli. Kebahagiaan itu justru lahir ketika hati kita bersih, ketika kita mampu berbagi dengan orang lain, dan ketika kita merasa dekat dengan Allah.
Sebab harta yang kita habiskan untuk diri sendiri akan habis, tetapi harta yang kita korbankan di jalan Allah akan menjadi amal yang kekal dan kelak akan kita temukan kembali sebagai cahaya di hadapan-Nya.
Dirilis by. Abu Arsalanullah