SIAPAKAH BIDADARI YANG HAKIKI?
BIDADARI GANJARAN BAGI ORANG YANG BERTAQWA
Disusun Oleh: Nasiruddin Ahmadi
Bagaimana Bidadari bagi para wanita?
Apabila kita membaca dan memahami hakikat surga, teryata surga itu bukan milik jenis kelamin tertentu. Surga hanyalah dimiliki oleh orang yang bertaqwa dengan ketaqwaan yang sebenarnya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّنَعِيْمٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan,"
(QS. At-Tur 52: Ayat 18).
فٰكِهِيْنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمْ رَبُّهُمْ ۚ وَوَقٰٮهُمْ رَبُّهُمْ عَذَا بَ الْجَحِيْمِ
"Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka."
(QS. At-Tur 52: Ayat 19).
كُلُوْا وَا شْرَبُوْا هَـنِۤـيـْئًا بِۢمَا كُنْـتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"(Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan,""
(QS. At-Tur 52: Ayat 20).
SIAPAKAH JODOH DAN BIDADARI YANG HAKIKI
Selama ini kita salah memahami, siapakah sebenarnya bidadari yang akan menjadi pendamping nanti di surga. Seakan bidadari itu hanya didapati oleh kaum lelaki saja padahal Alquran menggambarkan tidak seperti itu. Bahkan yang lebih memprihatinkan, bidadari ini menjadi bahan buruan kelompok yang kerap kali melakukan tindakan kekerasan dan bom bunuh diri. Promosi yang dilakukan oleh guru guru mereka mengatakan, "apabila berjihad dengan melakukan bom bunuh diri, kalau mati syahid, dan apabila syahid akan masuk surga, di surga akan diberi kenikmatan dikelilingi oleh bidadari bidadari yang sangat cantik jelita. Na'uzubillahi min dzaalik, seakan surga itu hanya tempat pemuas nafsu kaum lelaki saja.
Atas pemahaman yang keliru ini, Alquran mengklarifikasi nya.
Adapun gambaran nikmat surga yang bisa dirasakan secara rohani oleh orang orang bertaqwa baik laki-laki maupun perempuan adalah :
مُتَّكِــئِيْنَ عَلٰى سُرُرٍ مَّصْفُوْفَةٍ ۚ وَزَوَّجْنٰهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ
"mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah."
(QS. At-Tur 52: Ayat 21).
Apakah yang dimaksud dengan Jodoh & Hur (bidadari) :
Zawwaja Syai’an bi Syai’in, artinya, ia memperpasangkan atau menjodohkan sebuah benda dengan sebuah benda lain; ia mempersatukannya sebagai kawannya atau sesamanya. Hūr adalah jamak dari Ahwar (bentuk mudzakar, atau laki-laki) dan Haurā’ (muannats, atau perempuan) dan berarti orang yang matanya ditandai sifat yang disebut Hawar, yakni, putih-mata yang sangat putih dan hitam-mata yang sangat hitam, dengan warna putih sekali, atau keindahan yang sangat pada diri orang itu. Ahwar berarti juga kecerdasan yang mumi atau jernih.
Maksud 'Iin :
'Iin adalah jamak dari a’yan dan 'aina’, yang masing-masing berarti laki-laki dan perempuan bermata hitam dan lebar; kata yang terakhir berarti juga ucapan atau perkataan bagus atau indah (Lane, Arabic - Engish Lexicon, oleh E.W Lane. Mufradat : Almufradat fii Gharaaib Qur'an , oleh Abdul Qasim Husain dan Taj : Taj al-arus oleh Abul Faid Sayyid Muhammad Murtada Al-husaini).
Surga dan Neraka akan dirasakan saat kondisi hidup Kita di dunia
Dengan demikian kata "Huur" dan ‘iin mengandung arti keindahan dan kemurnian pribadi dan watak. Kehidupan sesudah mati hanya merupakan citra (bayangan) dan penjelmaan kehidupan di dunia ini, dan ganjaran serta hukuman di akhirat hanyalah akan berupa perwujudan-perwujudan dan bayangan-bayangan perbuatan kita selama di dunia ini. Surga dan neraka bukanlah suatu alam serba-kebendaan baru yang datang dari luar. Sungguh benar, surga dan neraka akan dapat dilihat dan dirasakan. Katakanlah, kedua-duanya itu kebendaan, jika anda inginkan; akan tetapi surga dan neraka hanyalah perwujudan kenyataan rohani kehidupan ini. Segala kesulitan di dunia ini akan nampak di akhirat kelak sebagai belenggu-belenggu yang melingkari kedua belah kaki. Begitu juga panas yang membakar hati di dunia ini akan nampak dengan jelas sebagai nyala api yang berkobar-kobar; dan kecintaan kepada Tuhan dan Al-Khalik, yang dirasakan oleh orang mukmin akan nampak di alam akhirat dalam wujud seperti anggur, dan sebagainya. Oleh karena itu akan ada kebun-kebun, sungai-sungai, susu, madu, daging burung, anggur, buahbuahan, mahligai-mahligai, jodoh-jodoh, dan banyak benda lain lagi di surga, akan tetapi benda-benda itu tidak akan serupa benda-benda yang ada di dunia ini, melainkan berupa perwujudan kenyataan-kenyataan rohani kehidupan di dunia ini. Kata-kata "zawwajnaa, huur dan ‘iin",
Istri Menjadi Bidadari bagi Para Suami
sebagaimana diterangkan di atas menunjukkan bahwa di surga, hamba Allah yang muttaki akan dibuat hidup bersama jodoh-jodoh suci-murni yang berwajah berseri-seri oleh kejuitaan rohani yang cemerlang; atau, mereka akan mempunyai teman hidup – bidadari-bidadari cantik, yakni istri-istri mereka sendiri. Untuk mengerti dan memahami sifat ganjaran-ganjaran dan hukumanhukuman dalam kehidupan sesudah mati, hendaknya diingat bahwa kehidupan di sana adalah kelanjutan kehidupan yang telah kita jalani di dunia ini. Segera sesudah ruh manusia meninggalkan jasad tanahnya, ia diberi jisim baru; sebab ruh tidak dapat membuat kemajuan atau tidak dapat merasai kenikmatan atau sakit, tanpa tubuh. Tubuh baru itu sama halus dan latifnya seperti ruh di dunia ini sebelum mati. Karena bentuk dan sifat tubuh baru kita akan lain dari tubuh jasmani kita sekarang ini, lagi pula perbedaan itu sukar kita pahami, sifat ganjaran dan hukuman di alam akhirat nanti pun berada di luar jangkauan pengertian kita. Itulah sebabnya, mengapa Al-Qur’an mengatakan, “Dan tiada seorang pun mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai pahala atas apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 32 : 18). Dan Rasulullah Saw menurut riwayat pernah bersabda, “Tiada mata pernah melihat nikmat-nikmat surga, begitu pun tiada telinga pernah mendengamya, begitu juga tiada pikiran manusia memakluminya” (Bukhari). Kenyataan, bahwa di surga nanti tidak akan ada dosa, kejanggalan atau pembicaraan hampa, tiada kesenangan jasmani yang kita pahami tentang itu di sini, melainkan keamanan dan keridhaan Allah Swt belaka meliputi segala sesuatu (QS.56 : 26-27), menjelaskan keadaan surga, sebagaimana dimengerti oleh orang-orang muttaki dan dijanjikan kepada mereka oleh Al-Qur’an. Lihat juga catatan no. [2326, yaitu: As-Sajdah:18)
Sewaktu Rasulullah Saw menggambarkan bentuk dan sifat nikmat dan kesenangan surga, beliau diriwayatkan bersabda, “Tidak ada mata yang pernah melihatnya (nikmat surga itu) dan tidak ada pula telinga yang pernah mendengarnya, tidak pula pikiran manusia dapat membayangkannya” (Bukhari, Kitab Bad’al-Khalq). Hadis itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan. Nikmat-nikmat itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan dan tingkah-laku baik yang telah dikerjakan orang-orang muttaqi di alam dunia ini. Kata-kata yang dipergunakan untuk menggambarkan nikmat-nikmat itu, dalam Al-Qur’an telah dipakai hanya dalam arti kiasan. Ayat yang sekarang pun dapat berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang mukmin yang bertakwa di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan. Nikmat-nikmat itu akan berada jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia.
KELUARGA YANG BERIMAN AKAN KUMPUL DI SURGA
وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا تَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِ يْمَا نٍ اَلْحَـقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَاۤ اَلَـتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ ۗ كُلُّ امْرِئٍ بِۢمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
"Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya."
(QS. At-Tur 52: Ayat 22).
ANAK CUCU AKAN KUMPUL BARENG DI SURGA
Kalau dalam ayat terdahulu dinyatakan bahwa orang muttaki akan dibuat hidup bersama istri-istri mereka yang suci lagi cantik, maka ayat ini menerangkan bahwa anak-anak mereka pun akan berkumpul bersama mereka, dan dengan demikian kegembiraan mereka akan menjadi lengkap.
HANYA BERGAUL DENGAN ORANG MUTTAQI BELUM MENJAMIN
Kenyataan hanya mempunyai hubungan dengan orang muttaki semata tidak akan menimbulkan kebaikan pada orang mukmin. Amal baiknya sendirilah yang akan menyebabkan dia memperoleh tempatnya di surga.
ORANG TUA DILAYANI PARA PEMUDA DI SURGA
وَيَطُوْفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَا نٌ لَّهُمْ كَاَ نَّهُمْ لُـؤْلُـؤٌ مَّكْنُوْنٌ
"Dan di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan."
(QS. At-Tur 52: Ayat 25).
Ghilmān (pemuda-pemuda) adalah jamak dari Ghulām, yang berarti pemuda; pelayan; putra ; dsb. (Lane). Kata ini dalam Al-Qur’an digunakan secara sinonim dengan Walad dalam pengertian anak lelaki (QS.3: 41; 15: 54; 19: 8; 37: 102; 51: 29). Di tempat lain dalam Al-Qur’an (QS.76: 20), kata Wildān (putra-putra) menggantikan kata Ghilmān, yang menunjukkan bahwa pemuda-pemuda yang akan hilir-mudik menyertai orang-orang muttaki di surga itu, putra-putra mereka sendiri. Ayat ini dapat pula merujuk kepada janji Ilahi tentang kekayaan dan kekuasaan besar yang akan jatuh ke tangan orangorang Muslim, dan pula kepada pelayan-pelayan yang akan mengkhidmati mereka.
(Tafsir Suci Al-Qur'an Dengan Terjemahan Dan Tafsir Singkat, Jilid II, Surah At-Tur 52:18-25, hal.1799-1802, HM. Bashiruddin MA.)
Dari penjelasan diatas, maka semakin nyata bahwa yang akan menjadi bidadari surga kelak adalah istri yang Sholehah dan muttaqi, demikian juga sebaliknya bagi perempuan akan mendapatkan bidadari yaitu suami yang Sholeh dan muttaqi. Insya Allah.
Sebagaimana Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda,
PENEGASAN, YANG MENJADI BIDADARI ADALAH ISTRI SENDIRI
Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَتْفِلُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ أَمْشَاطُهُمْ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُمْ الْأَلُوَّةُ الْأَنْجُوجُ عُودُ الطِّيبِ وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُورُ الْعِينُ عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ » [أخرجه البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya kelompok pertama yang akan masuk surga adalah orang-orang yang wajahnya bagaikan rembulan di malam purnama. Kemudian yang setelahnya, bagaikan bintang diatas langit yang sangat terang cahayanya, mereka tidak pernah buang hajat dan air kecil, tidak buang ingus dan ludah. Sisir yang mereka pakai terbuat dari emas, keringat yang keluar dari tubuhnya misk, sanggulnya kayu gaharu, istri-istri mereka bidadari, mereka diciptakan diatas satu orang, dengan paras bapak mereka Adam, sepanjang enam puluh dira’ menjulang kelangit“. [HR Bukhari no: 3245. Muslim no: 2834].
Selebihnya hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Bekasi, NA, 19/12/2024