MENJAGA POLA HIDUP SEDERHANA MENJELANG IED FITRI
MENJAGA POLA HIDUP SEDERHANA MENJELANG IED FITRI
Oleh : Mln. Arsalanullah MA'A
1. Prinsip Kesederhanaan dalam Islam
Islam mengajarkan bahwa semua aspek kehidupan, termasuk dalam hal konsumsi dan pengeluaran harta, harus dilakukan secara seimbang dan tidak berlebihan. Allah SWT berfirman:
"dan janganlah engkau menghambur-hamburkan hartamu dengan boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."
(QS. Al-Isra: 26-27)
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., menekankan bahwa kehidupan dunia harus diperlakukan dengan keseimbangan:
“Harta bukanlah sesuatu yang tercela. Yang tercela adalah menggunakannya secara tidak sah dan boros.”
(Malfuzat, Jilid 4, hal. 215)
Beliau menasihatkan agar kita tidak terjerumus dalam sikap boros dan berlebihan, terutama dalam hal materi dan perayaan.
2. Konsumtif vs Kedermawanan
Ramadhan seharusnya menjadi bulan peningkatan spiritual dan kedermawanan, bukan sekadar ajang konsumsi yang berlebihan menjelang Idulfitri. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad, no. 23408)
Alih-alih menghamburkan uang untuk belanja pakaian mahal, makanan berlimpah, atau hal-hal yang tidak esensial, Islam lebih menganjurkan pengeluaran untuk zakat, sedekah, dan berbagi dengan yang membutuhkan.
Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. (Khalifah II) menegaskan bahwa harta yang digunakan untuk kepentingan agama dan kemanusiaan lebih bernilai dibandingkan untuk kesenangan duniawi yang sia-sia.
3. Konsumsi yang Bertanggung Jawab
Jemaat Ahmadiyah juga menekankan pengeluaran harta yang bertanggung jawab, khususnya untuk program sosial dan dakwah. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.b.a. (Khalifah V) dalam salah satu khutbahnya menyatakan:
“Janganlah kalian terjerumus dalam budaya yang hanya mementingkan dunia. Gunakanlah harta kalian untuk tujuan yang membawa manfaat jangka panjang, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.”
(Khutbah Jumat, 24 Juni 2016)
Dalam hal ini, Jemaat menganjurkan beberapa program pengorbanan harta, seperti:
Zakat dan Sedekah: Membantu fakir miskin agar mereka juga bisa merayakan Idulfitri dengan layak.
Tahrik Jadid & Waqfi Jadid: Gerakan pola hidup sederhana ini untuk mendukung upaya penyebaran Islam rahmatan Lil aalamiin dan pembangunan sarana pendidikan serta kesehatan di seluruh dunia.
Semua ini menunjukkan bahwa pengeluaran yang bijaksana jauh lebih bermanfaat dibanding konsumsi berlebihan menjelang Lebaran.
4. Menghindari Sifat Boros dan Riya
Dalam ajaran Islam, boros dan pamer (riya) adalah kebiasaan yang dikecam. Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, tetapi (berada) di tengah-tengah antara yang demikian."
(QS. Al-Furqan: 67)
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. juga memperingatkan terhadap kebiasaan membeli sesuatu hanya untuk gengsi atau menunjukkan status sosial:
“Seorang Muslim sejati tidak akan menghamburkan hartanya hanya demi pamer atau memuaskan hawa nafsunya. Islam mengajarkan kesederhanaan, bukan kemewahan yang berlebihan.”
(Malfuzat, Jilid 2, hal. 123)
Menjelang Lebaran, banyak orang tergoda untuk berbelanja secara impulsif, membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mengedepankan kesadaran finansial dan hidup sesuai kebutuhan.
Kesimpulan: Prioritaskan Pengeluaran yang Bermanfaat
Jama'ah Muslim Ahmadiyah mengajarkan bahwa menjelang Lebaran, umat Islam harus lebih fokus pada:
1. Kesederhanaan dan keseimbangan dalam pengeluaran.
2. Menyalurkan harta untuk kepentingan sosial dan agama (zakat, sedekah, candah).
3. Menghindari sifat boros, pamer, dan konsumtif yang berlebihan.
4. Membantu sesama agar semua orang bisa merayakan Idulfitri dengan bahagia.
Jika semua umat Islam mempraktikkan prinsip ini, maka Lebaran tidak hanya menjadi momen kebahagiaan pribadi, tetapi juga membawa keberkahan dan manfaat bagi masyarakat luas.
Referensi
1. Al-Qur'an: QS. Al-Isra: 26-27, QS. Al-Furqan: 67.
2. Hadis: HR. Ahmad, no. 23408.
3. Malfuzat: Kumpulan sabda Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.
4. Khutbah Khalifah Ahmadiyah:
- Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. (Khalifah II)
- Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.b.a. (Khalifah V), Khutbah Jumat, 24 Juni 2016.
Disusun kembali oleh: Abu Arsalanullah MA'A, 25/03/25.