SIAPAKAH PEMIMPIN UMAT ISLAM SETELAH NABI MUHAMMAD SAW WAFAT?
TUGAS NABI MUHAMMAD SAW DAN NUBUATAN KEDATANGAN IMAM MAHDI DI AKHIR ZAMAN
Sudah menjadi maklum tugas Nabi Muhammad Rasulullah SAW diakhir zaman ini tidak semudah apa yang dibayangkan hanya sebatas pikiran saja. Tetapi Tugas beliau SAW sangatlah berat, yaitu untuk mewujudkan langit dan bumi baru dengan tatanan sesuai keinginan Allah SWT. sehingga manusia yang ada di planet bumi ini benar-benar menjadi para pecinta sejati Allah SWT. Tentunya untuk menjadi pecinta sejati Allah SWT memerlukan keta'atan, penataan hati, pikiran, ucapan dan perilaku yang positif yang berakhlak Karimah. Dimasa awal, Inilah tugas Nabi Muhammad Rasulullah SAW untuk mewujudkannya. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُ مِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاِ نْ كَا نُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,"
(QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 3).
Penjelasan:
Tugas suci Rasulullah Saw meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia, yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau SAW; sebab, untuk kedatangan beliau di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim As, telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau, ketika dengan disertai putranya, Nabi Ismail As, beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2: 130).
Pada hakikatnya tiada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan Quat qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan filsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain. Didikan yang beliau berikan kepada para pengikut beliau memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau SAW menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini.
Dikarenakan Rasulullah SAW Nabi rahmatan Lil aalamiin, bukan untuk bangsa tertentu, maka sepeninggal beliau SAW pun harus ada yang melanjutkan proyek samawi ini demi terwujudnya misi suci Rasulullah SAW. Adapun sosok yang sering disebut-sebut dan sangat dinantikan kedatangannya diakhir zaman adalah sosok Imam Mahdi atau Al-Masih Mau'ud as. Dengan sosok inilah diharapkan tugas Rasulullah SAW diakhir zaman bisa dilanjutkan. Memang benar Islam dan ajarannya sudah sempurna, tetapi untuk pengikutnya atau umatnya tidak ada yang bisa menjamin kesempurnaan nya. Oleh karena itu lah umat Islam masih membutuhkan guru jagat yang melanjutkan misi Rasulullah SAW agar umat Islam masih bisa terbina, jangan seperti ayam yang kehilangan induknya.
Untuk mewujudkan hal ini, Allah SWT berfirman:
وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
"dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,"
(QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 4)
Penjelasannya:
Ingat, ajaran Rasulullah Saw ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka, yang di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau SAW. melainkan juga kepada keturunan berikutnya demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat. Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa Rasulullah SAW akan dibangkitkan di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau SAW. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabi SAW yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Rasulullah Saw untuk kedua kali dalam wujud Hadhrat Masih Mau’ud As di akhir zaman.
Abu Hurairah r.a. berkata, “pada suatu hari kami sedang duduk- duduk bersama Rasulullah SAW, ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah SAW, “siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata, “Dan Dia akan membangkitkannya juga pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka” ?– Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami. Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah SAW meletakkan tangan beliau pada Salman r.a dan bersabda, “bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadis Nabi Saw ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi. Hadhrat Masih Mau’ud As, pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi. Hadis Nabi SAW lainnya menyebutkan kedatangan Almasih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Qur’an kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Qur’an dan hadis kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini merujuk kepada kedatangan kedua kali Rasulullah SAW dalam wujud Hadhrat Masih Mau’ud As. (Al-Masih Yang dijanjikan).
(Tafsir Shoghir Surat Al-jumuah:3-4, hal. 1919-1921, HM. Bashiruddin MA, 2023).
Semoga kita dapat menjumpai sosok Imam Mahdi sebagai yang sudah dinubuatkan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Dan apabila sudah tahu, semoga kita bisa mengikuti perintah Nya untuk berbaiat kepada nya. Sebagaimana Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda:
فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَبَايِعُوْهُ، وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ؛ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ اَلْمَهْدِيُّ
“Jika kalian melihatnya (Imam Mahdi), maka berbai’atlah kepada nya! Walaupun (lutut mu) merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah al-Mahdi.” (HR. Ibn Majah 4222, Hakim dalam al-Mustadrak 4/463, dishahihkan Hakim dan disetujui adz-Dzahabi. Dan Sanadnya dinilai kuat dan shahih oleh Ibnu Katsir).
Maksud nya, karena berbaiat kepada imam Mahdi itu wajib, maka walaupun ada tantangan, rintangan, dimusuhi, dikafirkan dan disesatkan kita harus berusaha Baiat kepada Imam Mahdi, sebagai pemimpin umat Islam rahmatan Lil aalamiin di akhir zaman.
Bagaimana konsekuensi yang sudah tahu Imam Mahdi sudah datang, tetapi tidak mau berbaiat kepada nya.
Pada dasarnya manusia memiliki berbagai sifat, ada yang punya sifat membangkang pada penguasa atau pemimpin mereka. Bahkan bukan hanya tidak taat, sampai pemimpin mereka pun dikafirkan. Padahal hidup di bawah pemimpin muslim adalah suatu kebaikan. Enggan taat pada pemimpin yang sah adalah suatu bencana bahkan disifatkan oleh Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai orang yang mati jahiliyah (bodoh). Apa itu mati jahiliyah?
Ibnu ‘Umar berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).
من مات و لم يعرف امام زمانه، مات ميتة جاهلية –
"Barangsiapa meninggal dunia dan tidak mengenal Imam zamannya, maka dia mati jahiliah".
Semoga kita meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. Aamiin.
By. Abu Arsalanullah MA'A, 18/01/25.