KHUTBAH KHALIFAH & RAMADHAN

*RAMADHAN DAN DOA*

_Ringkasan terjemah Khutbah Jumat Hazrat Khalifatul Masih V (aba) yang beliau sampaikan pada 29 Maret 2024 (semalam)_

*_Ramadhan – Waktu Khusus untuk Pengabulan Doa_*

 Setelah membaca Tashahhud, Ta'aawuz dan Surat al-Fatihah, Yang Mulia Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) membacakan ayat Al-Qur'an berikut ini:

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah: ‘Aku dekat.  Aku mengabulkan doa orang yang memohon ketika dia berdoa kepada-Ku.  Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mengikuti jalan yang lurus.’’ (Al-Qur’an, 2:187)

*_Hubungan Antara Ramadhan dan Pengabulan Doa_*

Huzur (aba) bersabda bahwa Allah telah menempatkan ayat ini bersama dengan ayat-ayat tentang puasa di bulan Ramadhan.  Hal ini menunjukkan bahwa doa mempunyai hubungan yang sangat khusus dengan Ramadhan dan puasa, itulah sebabnya menegakkan shalat fardhu, shalat sunah, dan bentuk shalat lainnya menjadi fokus utama selama Bulan Suci Ramadhan.  Setiap Muslim tahu bahwa di bulan ini, Tuhan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya lebih dari pada bulan-bulan lainnya.

Huzur (aba) bersabda bahwa suatu kali, Nabi (saw) bersabda bahwa Allah memperlakukan hamba-hamba-Nya sesuai dengan cara mereka memandang-Nya.  Jika seseorang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya juga ;  jika seseorang mengingat Allah di dalam hatinya maka Allah pun mengingatnya di dalam hati-Nya;  jika seseorang mengingat-Nya dalam suatu pertemuan maka Dia mengingat orang tersebut dalam pertemuan itu juga.  Jika seseorang mendekatkan diri kepada Allah sejengkal, maka Allah akan mendekat sehasta, jika ia mendekat kepada-Nya sehasta maka Allah akan mendekat kepadanya sedepa. Jika seseorang mendekat kepada-Nya dengan berjalan, maka Allah akan mendekat kepadanya dengan berlari. 
 
Intinya, beginilah cara Allah memperlakukan hamba-hamba-Nya pada saat-saat biasa.  Selama bulan Ramadhan, tercipta suatu lingkungan di mana fokus seseorang sepenuhnya tertuju pada mengingat Allah.  Maka bayangkan nikmat yang akan Dia berikan;  itu adalah sesuatu yang bahkan tidak dapat kita pahami.

*_Pentingnya Tetap Teguh dalam Berdoa_*

Huzur (aba) bersabda bahwa hal ini bergantung pada semua tindakan yang dilakukan dengan ketulusan hati sambil tetap teguh dalam iman.  Saat itulah Allah mengarah kepada hamba-Nya dengan penuh kasih sayang.  Nabi (saw) bersabda bahwa Allah tidak suka menolak seseorang yang datang kepada-Nya dengan tangan terulur.  Hal ini terjadi ketika seseorang menghadap ke hadirat-Nya dengan keikhlasan dan ketulusan hati.  Dimana Ketulusan hati menuntut suatu tekad untuk menempuh jalan pertaubatan yang sejati.

Huzur (aba) bersabda bahwa kadang-kadang dengan tergesa-gesa, beberapa orang mengatakan bahwa mereka berdoa tetapi doa itu tidak dikabulkan. Namun, mereka tidak merenungkan sudah sampai dimana kualitas keikhlasan mereka dalam berdoa? Apakah ketulusan mereka meningkat dalam hubungannya dengan Allah Ta'ala? Sudah sampai mana keteguhan mereka dalam menempuh jalan-jalan taubat atas dosa-dosa mereka? Dan seberapa besar upaya mereka memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan dengan cara memenuhi setiap perintah-Nya? Oleh karena itu, untuk mendapatkan kasih sayang-Nya yang istimewa, kita harus memenuhi perintah-perintah-Nya.

Huzur (aba) bersabda bahwa Tuhan sangat berbelas kasih sehingga Dia telah memberi kita kesempatan bertemu dengan Ramadhan tiap tahunnya, dimana jika ada kelemahan-kelemahan kita di sepanjang tahun, kita dapat menjadikan ramadhan ini sarana untuk memperbaikinya, memohon pengampunan dan menciptakan perubahan suci dalam diri untuk menjadi yang lebih baik.  Ini adalah kesempatan bagi kita untuk menjadi hamba Tuhan yang sejati, dan kita telah diberi kesempatan terbaik untuk meraih semua hal itu.  
 
Ketika kita akhirnya mencapai semua hal itu, maka Tuhan memberikan kabar gembira bahwa Dia tidak hanya mendengar doa kita tetapi juga menjawabnya.  Oleh karena itu, doa-doa kita tidak boleh terbatas pada kebutuhan pribadi saja, melainkan juga harus fokus pada membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih dekat dengan Allah Ta'ala.

*_Sekadar basa-basi dalam Doa saja tidaklah cukup_*

Huzur (aba) bersabda bahwa Allah telah memperjelas bahwa ungkapan cinta secara verbal saja tidak akan cukup untuk membawa seseorang menjadi hamba Tuhan yang sejati, hal ini hanya dapat dicapai dengan mengikuti setiap perintah-Nya.  Hal ini dapat diraih ketika seseorang mempunyai keyakinan yang kuat yang tidak akan pernah bisa digoyang dengan apapun.  
 
Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka sudah banyak berdoa namun tidak meraih pengabulan. Hendaknya mereka introspeksi diri untuk melihat apakah mereka telah berdoa dengan penuh keikhlasan dan apakah mereka telah berbuat adil dalam upaya meningkatkan hubungan mereka dengan Allah Ta'ala? 

Ada pula yang menetapkan parameter kemakbulan doa, yakni doa baru disebut makbul jika kebutuhan pribadinya terpenuhi. Jika kebutuhan pribadinya tidak terpenuhi maka mereka mulai mempertanyakan doa, bahkan mempertanyakan keberadaan Tuhan.  Namun ini bukanlah ciri-ciri hamba Tuhan yang sejati.  Oleh karena itu, sebelum mempertanyakan doa-doa kita, kita harus mempertanyakan diri kita sendiri untuk melihat apakah kita sudah memenuhi setiap perintah Allah Ta'ala dan mempertanyakan sudah sampai dimana kualitas keimanan kita? 

*_Bagaimana Doa Yang Benar Dapat Tercapai_*

Huzur (aba) bersabda bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menjelaskan secara rinci tentang pokok doa, siapakah hamba Tuhan yang sejati, dan bagaimana doa yang sejati dapat dicapai?  Huzur (aba) bersabda bahwa beliau akan menyajikan kutipan Hadhrat Masih Mau’ud (as) tentang hal ini.

Huzur (aba) bersabda bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan bahwa tidak ada keraguan bahwa Tuhan mendengarkan setiap doa kita, namun syaratnya adalah seseorang harus menempuh jalan-jalan takwa, yakni menerima dengan tegas keberadaan Tuhan yang dengan itu makin memperkuat keimanan mereka bahwa Allah Ta'ala mempunyai kuasa penuh atas segala sesuatu.  
 
Ketika persepsi iman kita sudah sampai pada kedudukan itu, maka seseorang akan melihat buah manis dari doa-doanya.  Tidak mungkin iman seseorang goyah karena satu bentuk kecil kesulitan.  Hubungan antara manusia dan Tuhan harus seperti dua sahabat sejati.  Inilah syarat-syarat yang paling mendasar dan fundamental untuk pengabulan doa.

Huzur (aba) lebih lanjut mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as), yang menyatakan bahwa kita harus mengembangkan diri kita ke tingkat di mana Allah Ta'ala dapat berbicara kepada kita.  Hal ini dapat dilakukan dengan menempuh jalan-jalan takwa, yakni membangun rasa takut kepada Allah, mempercayai keberadaan-Nya, yakni beriman kepada yang ghaib, serta meyakini bahwa Allah Ta'ala berkuasa atas segala sesuatu.

*_Bagaimana Mendapatkan Kepastian Keberadaan Tuhan_*

Huzur (aba) lanjutkan mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang mengatakan bahwa jika seseorang bertanya bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Tuhan itu ada, maka jawabannya ada pada ayat yang dikutip, yaitu bahwa Allah mengatakan bahwa Dia dekat.  Dengan kita berseru kepada-Nya, kita dapat menemukan Dia melalui jawaban-Nya atas doa-doa kita.  Dewa-dewa dari agama lain tidak dekat.  Oleh karena itu, ketika seseorang berseru kepada Allah dengan hati yang tulus ia dapat menemukan Tuhan dan meningkatkan kecintaannya kepada-Nya. Dan merupakan sebuah kebenaran bahwa pengabulan doa itulah, sebuah tanda agung keberadaan Tuhan.

Huzur (aba) lebih lanjut mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang mengatakan bahwa melihat tanda-tanda Tuhan adalah sarana untuk mengenali Tuhan.  Namun, jika masih ada penghalang antara manusia dan Tuhan, maka mereka tidak akan dapat mendengar-Nya atau melihat tanda-tanda-Nya.  Maka jalan keluarnya adalah memperkaya rasa cinta kepada Allah Ta'ala dan menjalin hubungan yang khas dengan-Nya agar tidak tersisa lagi tabir penghalang untuk dapat mendengar-Nya serta menyaksikan tanda-tanda-Nya.

Huzur (aba) melanjutkan dengan mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang bersabda bahwa untuk meningkatkan keimanan, seseorang harus terus tekun dalam doa.  Melalui doalah perubahan dalam diri seseorang akan diraih yang akan membawa mereka kepada kesudahan yang baik.

Huzur (aba) bersabda bahwa ini bukan hanya cerita masa lalu, hal yang sama berlaku saat ini dan masih banyak contoh pengabulan doa bahkan hingga saat ini.  Huzur (aba) bersabda beliau memberikan berbagai contoh pengabulan doa yang ditulis orang kepada beliau.  Review of Religions mengadakan program [The God Summit] tentang keberadaan Tuhan di mana banyak orang berbagi kisah mereka tentang pengabulan doa.  Bahkan, melalui pengabulan doa dari orang-orang yang lemah imannya pun Allah akan mewujudkan kuasa-Nya yang besar sehingga menuntun manusia untuk mengenal-Nya dan meningkatkan hubungan mereka dengan-Nya.

Huzur (aba) melanjutkan dengan mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as), yang bersabda bahwa ada perbedaan antara sekadar berdoa dengan berdoa setelah mengenal Tuhan. Dengan hanya sekadar berdoa takkan pernah mengantarkan seseorang pada hakikat doa;  sebaliknya, seseorang akan merasakan kekuatan doa yang sebenarnya ketika mereka sudah benar-benar mengenal Tuhan.  Melalui doa, Tuhan menjadi dekat dengan seseorang seolah-olah jiwanya berada di dekat-Nya.

*_Syarat Doa_*

Huzur (aba) lebih lanjut mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang menjelaskan bahwa shalat yang benar adalah berpantang dan menjauhkan diri dari kesia-siaan dan keburukan.  Tanda lain dari doa yang benar yang dipanjatkan dengan ikhlas adalah bahwa seseorang tidak sekedar berdoa untuk diri sendiri dan kebutuhan pribadinya, tetapi juga berdoa agar dianugerahkan taufik dan kekuatan untuk meningkatkan hubungan dengan Allah Ta'ala.  Doa yang benar dipanjatkan ketika kekhusyu'an menguasai diri seseorang sampai-sampai air mata berlinang beringinan dengan doa yang dipanjatkan.  Namun hal ini hanya bisa dicapai melalui rahmat Tuhan.  Oleh karena itu, penting juga untuk berdoa supaya Allah menganugerahkan kemampuan berdoa dalam arti yang sebenarnya.

Huzur (aba) lebih lanjut mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang bersabda bahwa syarat-syarat doa akan terpenuhi ketika hati mencerminkan apa yang diucapkan lidah.  Bangun di malam hari dan berikrar di hadapan Singgasana Ilahi bahwa sekarang kalbu kita dalam genggaman-Nya lalu mohonkanlah kesucian hati, maka kalbu seseorang menjadi demikian terbuka, yang pada gilirannya akan menghasilkan kemampuan untuk khusyu' berdoa.  Ketika kondisi khusyu' itu tercipta, dan air mata mulai mengalir, maka seseorang dapat merasakan sendiri bahwa doanya akan diterima.  Mereka yakin bahwa doa-doa mereka tidak harus diterima sebagaimana yang mereka minta, melainkan mereka meyakini bahwa dalam pengetahuan Allah yang tak terbatas, Dia akan menyediakan atau menciptakan sarana untuk melakukan apa pun yang terbaik dalam menjawab doa-doa tersebut.

Huzur (aba) melanjutkan mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang mengatakan bahwa mencapai doa yang benar dan hubungan yang benar dengan Tuhan memerlukan perjuangan dan usaha yang terus-menerus.  Kita menyaksikan dalam kehidupan ini, orang-orang tidak pernah lelah untuk terus berjuang dan bekerja keras dalam mengejar hal-hal duniawi;  lalu mengapa mereka harus lelah dalam upayanya berdoa yang benar kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya?

Huzur (aba) lebih lanjut mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang bersabda bahwa doa yang paling penting adalah doa penyucian dosa, karena pada akhirnya, inilah akar dari semua doa.  Apabila doa ini dikabulkan dan seseorang terbebas dari kejahatan dunia maka ia akan menjadi suci di sisi Tuhan.  Oleh karena itu, seseorang harus terus berusaha untuk memanjatkan doa ini hingga mereka mencapai kepastian bahwa mereka suci di sisi Tuhan.  Ketika ini terjadi, maka Allah Ta'ala akan memenuhi kebutuhan lainnya tanpa harus mereka memintanya.

*_Mengapa Seseorang Harus Berdoa Jika Segalanya Sudah Ditakdirkan?_*

Huzur (aba) melanjutkan mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang bersabda bahwa siapa pun yang ingin merasakan keberadaan Tuhan maka mereka harus berdoa.  Mengenai mengapa berdoa itu perlu padahal Tuhan sudah mengetahui apa yang akan terjadi, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan bahwa hanya karena Tuhan mengetahui apa yang akan terjadi bukan berarti Dia tidak mempunyai kuasa untuk mengubahnya.  Mengapa kita mencari pengobatan pada saat sakit kepala padahal kita tahu pada akhirnya sakit kepala itu akan hilang dengan sendirinya?  Kenyataannya adalah tindakan-tindakan semacam itu dapat membuahkan hasil.  Ketika seseorang berusaha dan berdoa, maka Allah pun akan mewujudkan harapannya.  Oleh karena itu, hanya karena Tuhan mengetahui apa yang akan terjadi bukan berarti Dia tidak dapat mengubah hasil akhirnya.  Sekalipun doa yang telah dipanjatkan tidak diterima persis sebagaimana yang dimohonkan, Allah tetap mendengarnya dan pengabulannya mengambil bentuk pemberian ampunan, atau dapat dilihat hasilnya, baik di dunia ini maupun di akhirat.  

Akan tetapi, keengganan dalam berdoa menyebabkan timbulnya karat di hati yang membuat seseorang semakin menjauh dari Tuhan, dan pada akhirnya membuat seseorang kehilangan iman.  Namun, dengan memanjatkan doa, seseorang dapat mencapai kesucian, membangun hubungan yang khas dengan Allah Ta'ala, menjauhi kejahatan dan meraih kemampuan untuk membangun bangunan amal saleh yang abadi.

*_Himbauan Doa Bagi Muslim Ahmadi di Yaman & Palestina_*

Huzur (aba) juga mendorong setiap Ahmadi untuk mendoakan para tahanan Ahmadi di Yaman, khususnya seorang wanita yang ditahan dalam keadaan yang sangat kejam.  Namun, dia menunjukkan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa.  Semoga Allah menciptakan sarana untuk pembebasan mereka dan semoga Allah menghilangkan kecurigaan yang berkembang di benak para penentang.

Huzur (aba) juga mendesak untuk mendoakan warga Palestina.  Tampaknya banyak perubahan yang terjadi, namun keadaan justru semakin memburuk.  Resolusi PBB memang disahkan, namun kekejaman masih terus terjadi.  Hal ini menunjukkan standar ganda negara-negara Barat.  Jika kekejaman yang sama dilakukan terhadap negara sekutunya, maka mereka akan segera menjatuhkan sanksi terhadap negara yang melakukan kekejaman tersebut.  Namun, tidak ada sanksi yang dikenakan terhadap Israel.  Faktanya, baru-baru ini AS tanpa syarat menyetujui bantuan senilai miliaran dolar untuk Israel.  Namun mereka hanya menyetujui bantuan beberapa juta dolar untuk Palestina, dengan syarat mereka tidak akan mengambil tindakan hukum terhadap Israel atau tidak akan menghadiri forum mana pun di mana mereka dapat bersuara menentang Israel.  Lalu apa yang bisa diharapkan dari orang-orang seperti itu?  Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa.  Allah SWT lah yang mampu menyelamatkan kaum tertindas dari para penindasnya.  Semoga Allah memberi kita kemampuan mendoakan orang-orang yang tertindas itu. _[pent: abu sayyal]_

_diterjemahkan dari alislam(dot)org, sekedar terjemah bebas yang kemungkinan ditemukan kesalahan dalam penerjemahannya_

Postingan populer dari blog ini

MANA YANG AKAN DIIKUTI SYARIAT ATAU ADAT

SIAPAKAH BIDADARI YANG HAKIKI?

WUJUDKAN PERDAMAIAN DI DUNIA ISLAM