PUISI PENGELANA PENCARI CINTA HAKIKI
PENGELANA PENCARI CINTA HAKIKI
By : Nasiruddin Ahmadi (Purwokerto, 18/03/2019)
Gunung, lembah, ngarai dan jalan setapak penuh bebatuan pun ditempuh
Tekad hati dan pikiran yang kuat ayunkan kaki yang melepuh
Walau onak dan duri menancap lukai tubuh, sang pengelana tak lelah bersimpuh
Kepada Ilahi Rabbi yang takkan pernah rapuh
Simponi alam menghibur rontaan dan jeritan hati
Percikan air hujan dan embun sejukan nurani
Sang pengelana berjalan dengan percaya diri
Untuk mencari getaran nada cinta hakiki
Tiba di kota berpagar gedung menjulang tinggi
Berhiaskan kerlap-kerlip rona lampu bak pelangi
Terdengar alunan musik pecahkan malam yang sunyi
Iringi biduan dan jingkrak kaki para pengunjung juga penari
Hiruk-pikuk kesibukan di jalanan kota, jauh dari kesunyian kuburan
Demi mengejar keinginan sesuai harapan
Kaki melangkah terseok lelah tak karuan,
Akhirnya terdampar di tempat hiburan
Sang Pengelana pun menjadi saksi dan terbius dalam lamunan
Gerangan apa yang sedang dicari oleh khalayak kerumunan
Banyak yang sempoyongan dan terkapar karena minuman
Terbersit dalam alam pikiran, apakah ini kampung siluman ?
Sang pengelana tersentak kaget dan terbelalak mata
Membuyarkan lamunan di alam maya tak nyata
Karena sentuhan lembut dan sapaan syahdu seorang wanita
Berbusana glamor, harum cantik jelita
Dengan kerling mata sayu dan senyum manis menatap
Diselingi sruput minuman dan makanan yang disantap
Mulai menyapa dengan nafas harum menghela sedap
Membuat sang pengelana menjadi salah tingkah dan gagap
Gerangan apa yang sedang dicari,
Di tempat yang tak kenal basa-basi
Tak kenal saudara, suami atau pun istri
Semuanya bisa di dapat dengan cara janji dan transaksi
Sang Pengelana pun tersipu malu
Merundukkan mata dari pandangan liar wanita ayu
Tak terasa peluh basahi tubuh, membungkam bibir yang kelu
Gejolak hati dan tingkah pun sulit padu, dihadapan wanita yang merayu
Lamunan pun bersambung, masuk ke alam terdalam
Mungkinkah ini yang sedang dicari
Cinta hakiki yang selama ini terpendam
Saat aku digembleng di pondok menjadi santri
Dipenghujung lamunan, malaikat pun datang dan membisikan hati yang galau
Aku datang untuk menghibur hati yang sedang risau
Malaikat bernasihat, bukan, bukan ini yang kau cari dan harapkan
Itu hanya sekedar fatamorgana rayuan setan yang menyesatkan
Untuk yang kedua kalinya sang pengelana bangun dari lamunan
Berusaha keras untuk menghindari rayuan
Astaghfirullaah, astaghfirullaah, bukan ini yang aku inginkan
Cinta hakiki yang aku rindukan, tapi belum ditemukan
Malam pun semakin larut, tempat hiburan mulai menyepi
Dengan langkah gontai sempitnya los dan kios disusuri
Terus berjalan terseok diantara bangunan toko
Terlihat gelandangan tertidur lelap di emperan ruko
Disudut pasar berdiri masjid dengan wibawanya
Sang pengelana merebah tertidur pulas di bawah naungannya
Bermimpi indah berjumpa dengan guru ngajinya
Sang guru berkisah tentang para auliya di zamannya
Dalam sebuah kisah, ada seorang wali ditanya anak kesayangannya yang masih ragu,
Duhai abu, apakah kau cinta kepada ibuku ?, Ya aku cinta, karena dia istriku dan ibumu
Duhai abu apakah kau mencintai aku ?,Ya, aku mencitaimu karena kau adalah anakku
Duhai abu, apakah kau mencitai Allah ?, Ya aku mencitai, Dia-lah Tuhan dan Penciptaku
Dalam kegalauan hatinya, sang anak bertanya lagi
Duhai abu, bagaimana mungkin satu hati dalam mencintai harus berbagi
Sang wali menjawab, anakku sayang, cinta yang hakiki hanya kepada Ilahi
Adapun cinta kepada yang lainnya, hanya jembatan untuk meraih cinta hakiki
Ash-sholaatu Khairum-minan-nauum !, kumandang adzan subuh bergema di mimbar
Sang pengelana terbangun dari tidur dan mimpi indah pun buyar
Alhamdulillaahiladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa, wa Ilaihin-nusyuur
Sang Pengelana berkata, baru saja guru mengajariku cinta hakiki, aku pun bersyukur
RIWAYAT HIDUP
Nama penulis puisi : Nasiruddin Ahmadi, lahir di Kota Bogor, 12 Mei 1968 dari pasangan suami – istri bernama : Sukman Ahmadi, alm ( Purn. ABRI-Veteran ) dan Alm. Ny. Sumarni ( Bidan RSU DKT-Bogor ) – Ahmadi lama di Jemaat Bogor Kota -. Pernah mengenyam pendidikan di :
1. Sekolah Dasar Negeri Batutulis 5 Bogor, : Lulus, 29 Mei 1982
2. SMP PGRI 29 Pamoyanan-Bogor, : Lulus, 14 Mei 1985
3. SMA Yayasan Bhakti Insani, Bogor : Lulus, 13 Mei 1988
4. Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Bogor : Lulus, 01 Sept 1994
Penulis sebelum berprofesi menjadi Ustadz sempat bekerja sebagai detailer (Branch Office) bergerak dibidang “ Instrument Medical of Suplier“, di PT. Agung Sentosa Eka Mandiri dan PT. Lito Bina Medikantara-Jakarta selama 3 tahun. Penulis Juga aktif dibeberapa kegiatan kepemudaan karang Taruna, Kader salah satu Partai dan Club Olah Raga (Tenis Meja). Semua jabatannya yang pernah di pegang, di jalankan dengan penuh dedikasi dan amanah.
Riwayat tugas sebagai Muballigh/Ustadz :
Di mulai dari Desa Wolwal Kab. Alor Prov. NTT. Sempat di Kupang dan Timor Timur., tahun 1994-1995. Setelah berada di Wilayah NTT,
Tahun 1995-1998, berkhidmat di Jemaat Pancor, Mataram, Keruak, Kelompok Praya, Sumbawa dan Bima-NTB.
Tahun 1998-2005, Penulis sebagai Muballigh di Kalimantan Timur, yang meliputi Kota Bontang, Samarinda, Balikpapan, Tarakan dan Nunukan,Kalimantan Timur.
Tahun 2005-2010, Penulis ditugaskan diWilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) selama 5 tahun. Penulis juga menyibukan diri di Kantor Kelurahan sebagai Tim Penyuluh, juga aktif menjadi Pengurus Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia ( PTMSI ) Provinsi Sultra.
Tahun 2010-2014, penulis di mutasikan kembali ke Wilayah yang pernah dijelajahinya – 13 tahun yang lalu-, yaitu di Lombok-NTB dan NTT.
Tahun 2014-2016, Bertugas di Manislor, Kab. Kuningan-Jawa Barat.
Tahun 2016-Sekarang, penulis berada di Purwokerto, Kab. Banymas-Jawa Tengah.