BULAN MUHARAM PERSPEKTIF ISLAM AHMADIYAH DLL.

KEUTAMAAN BULAN MUHARAM DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF
(Disajikan dalam acara : Jalsah Salanah , Lengkong-Wonosobo, 19-21/10/2018)
Oleh : Mln. Nasiruddin Ahmadi



‘Woh tum ko Husain banate heei’ aor aap Yazidi bante heei’
Yeh kiya hii sastah sauda he, dushman ko teer chalaney do’.

“Mereka menjadikanmu Husain, dan mereka menjadikan diri mereka sendiri seperti Yazid. Betapa murahnya jual-beli ini; biarlah musuh melemparkan anak panahnya.”[2]

Definisi Muharam 
Dalam hal definisi tentang Muharam, Hampir semua ormas Islam bersepakat bahwa Al-Muharram di dalam bahasa Arab artinya adalah waktu yang diharamkan. Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. 

Sejarah Singkat Kalender Hijriyah atau Kalender Islam  

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 621/622 M.
Setelah melalui proses yang panjang dengan perdebatan yang ada, akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), Khalifah Sayyidina Umar bin Khatab ra. menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun.
Sistem kalender pra-Islam di Arab : Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan(Qomariyah) maupun Matahari (Syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi). Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).
Umat Islam bersepakat, bahwa tahun baru umat Islam jatuh pada tanggal 1 Muharam, saat itu Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 621/622. 
Sesuai dengan pandangan ABI, :
 “Penetapan Tahun Baru Islam dilakukan di masa Umar bin Khattab. Sebelumnya Muslimin menggunakan Tahun Gajah—tahun ketika Abrahah menyerbu Mekah untuk meruntuhkan Ka’bah—sebagai acuan penanggalan. Ada yang mengusulkan kepada Umar untuk menjadikan peristiwa bi’tsah Nabi saw sebagai awal penanggalan, atau pada riwayat lain Umarlah yang bertekat untuk memulai penanggalan dengan mengacu pada kelahiran atau bi’tsah Nabi saw. Namun, Ali bin Abi Thalib tidak menyetujui pandangan tersebut dan mengusulkan untuk menjadikan peristiwa hijrah Nabi saw sebagai awal penanggalan. Usul ini diterima dan ditetapkan oleh Umar pada tanggal 8 Rabi’ul Awal 17 H.[1] Oleh karena itu, nama tahunnya adalah Hijrah atau Hijriyah”.
“Namun demikian, terdapat pula riwayat lain, yang menyatakan bahwa penetapan penanggalan Islam telah dimulai sejak masa Nabi saw, atas perintah beliau sendiri, pasca pelaksanaan hijrah di bulan Rabi’ul Awal. Mereka (Muslimin saat itu) mengatakan bahwa peristiwa dimulainya penanggalan tersebut terjadi di bulan ini, setelah hijrah, dan berlanjut “hingga diperoleh satu tahun penuh.” [2] Sehingga, dari riwayat ini terlihat bahwa sistem penanggalan dimulai pada bulan Rabi’ul Awal dan diakhiri pada bulan Shafar. Syaikh Ja’far Subhani menegaskan bahwa riwayat inilah yang beAnar, berdasarkan bukti surat-surat yang dikirim oleh Nabi saw dan bukti-bukti lainnya. (Syaikh Ja’far Subhani, Al-Sirah al-Muhammadiyah, hal. 103)”.
Dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Namun direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah, dengan ketentuan sbb. :
Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.
Cara Penentuan awal bulan (new moon) : ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Larangan yang dilakukan pada bulan Muharam :
Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ }

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS At-Taubah: 36)

Qatadah rahimahullah pernah berkata:

(إنَّ الظُّلْمَ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيْئَةً وَوِزْراً مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهَا، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيْماً، وَلَكِنَّ اللهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِه مَا يَشَاءُ.)

“Sesungguhnya berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada berbuat kezaliman di selain bulan-bulan tersebut. Meskipun berbuat zalim pada setiap keadaan bernilai besar, tetapi Allah membesarkan segala urusannya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.”( Ustadz Sa’id Ya’i Ardiansyah, Lc., M.A. Fiqhussunnah. Sayyid Sabiq).

Hal-hal yang dilakukan di bulan Muharam :
Hampir semua umat Islam bersepakat bulan Muharam ini sebagai tahun baru umat Islam, yaitu pada tanggal 1 Muharam.
Adapun hal yang boleh dilakukan di bulan Muharam ini, umat Islam yang satu dengan lainnya sedikit berbeda pandangan bahkan ada yang membid’ahkan dengan berbagai argumentasinya, terutama pada tradisi pada tanggal 10 Muharam atau hari Asy-syuro.

Nama Bulan dan hari Kalender Hijriyah : 
Terdiri dari 12 bulan: Allah berfirman, 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ}
Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS At-Taubah: 36)

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان.))

“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta RajabMudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban. “(HR Al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679/4383).
Nama bulan  Hijriyah dan artinya :
No
Penanggalan Islam
Lama Hari

1
Muharram
30

2
Safar
29

3
Rabiul awal
30

4
Rabiul akhir
29

5
Jumadil awal
30

6
Jumadil akhir
29

7
Rajab
30

8
Sya’ban
29

9
Ramadhan
30

10
Syawal
29

11
Dzulkaidah
30

12
Dzulhijjah
29/(30)

Total
354/(355 

Arti nama-nama bulan Hijriah :
MUHARRAM, artinya: yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Penamaan Muharram, sebab pada bulan itu dilarang menumpahkan darah atau berperang. Larangan tesebut berlaku sampai masa awal Islam.
SHAFAR, artinya: kosong. Penamaan Shafar, karena pada bulan itu semua orang laki-laki Arab dahulu pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.
RABI’ULAWAL, artinya: berasal dari kata rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Maksudnya masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninqgalkan rumah atau merantau. Jadi awal menetapnya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga.
RABIU’ULAKHIR, artinya: masa menetapnya kaum laki-laki untuk terakhir atau penghabisan.
JUMADILAWAL nama bulan kelima. Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan Jumadil Awal, karena bulan ini merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.
JUMADILAKHIR, artinya: musim kemarau yang penghabisan.
RAJAB, artinya: mulia. Penamaan Rajab, karena bangsa Arab tempo dulu sangat memuliakan bulan ini, antara lain dengan melarang berperang.
SYA’BAN, artinya: berkelompok. Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).
RAMADHAN, artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang tersebut dalam Al-Quran, Satu bulan yang memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan. Hal itu dikarenakan peristiwa-peristiwa peting seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, yakni malam yang sangat tinggi nilainya, karena para malaikat turun untuk memberkati orang-orang beriman yang sedang beribadah, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaum muslimin dapat menaklukan kaum musyrik dalam perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.
SYAWWAL, artinya: kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan. Itulah yang mernbahagiakan.
DZULQAIDAH, berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Penamaan Dzulqaidah, karena bulan itu merupakan waktu istirahat bagi kaum laki-laki Arab dahulu. Mereka menikmatmnya dengan duduk-duduk di rumah.
DZULHIJJAH artinya: yang menunaikan haji. Penamaan Dzulhijjah, sebab pada bulan ini umat Islam sejak Nabi Adam as. menunaikan ibadah haji. (sa/kaskus/bdm.am.ac/imerzone)
Nama-nama hari
Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari : al-Ahad (Minggu), al-Itsnayn (Senin), ats-Tsalaatsa’ (Selasa), al-Arba’aa / ar-Raabi (Rabu), al-Khamsatun (Kamis), al-Jumu’ah (Jumat), as-Sabat (Sabtu).
Tanggal-tanggal Penting dalam Kalender Hijriyah:
1 Muharram: Tahun Baru Hijriyah
10 Muharram: Hari Asyura. Bagi Syi’ah memperingati wafatnya Imam Husain bin Ali
12 Rabiul Awal: Maulud Nabi Muhammad (hari kelahiran Nabi Muhammad)
27 Rajab: Isra’ Mi’raj
Bulan Ramadan: Umat Islam menjalankan Puasa di bulan Ramadan
17 Ramadan: Nuzulul Qur’an
10 hari ganjil terakhir di Bulan Ramadan terjadi Lailatul Qadar
1 Syawal: Hari Raya Idul Fitri
8 Dzulhijjah: Hari Tarwiyah
9 Dzulhijjah: Wukuf di Padang Arafah
10 Dzulhijjah: Hari Raya Ied-ul- Adha
11-13 Dzulhijjah:Hari Tasyriq.

Kalender Islam Ahmadiyah : 
Dalam buku Dini Ma’lumat, Hal. 68-70, Cet. Tahun 2016, tertulis :
Penanggalan Hijri Syamsi (HS) dimulai oleh Hadhrat Khalifatul-Masih II ra. (Hadhrat Al-Haj Mirza Basiruddin Mahmud Ahmad ra.) pada tahun 1940, dengan maksud untuk menggantikan penanggalan Kristen (Masehi). Adapun nama-nama bulan dan maksudnya sbb. : 
NO
MASEHI/Hari
HIJRIYAH/Hari
HIJRI SYAMSI/Hari
PERISTIWA

1
Januari
31
Muharram
30
Sulh

Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Mekkah

2
Pebruari
28
Safar
29
Tabligh

Nabi Muhammad SAW banyak mengirimkan surat-surat Tabligh kepada raja-raja.

3
Maret
31
Rabiul awal
30
Aman

Nabi Muhammad SAW pada Hijjatul-Wida’ mendeklarasikan keamanan tentang Jiwa, harta dan kehormatan Manusia. 

4
April
30
Rabiul akhir
29
Syahadat

Musuh Islam meminta guru mengaji kepada Rasulullah SAW. Tetapi setelah menipu dan menyandera, mereka berusaha mensyahidkan 77 Hufadz Quran di Raji’ dan Bi’ri Ma’unah. Yang syahid 69 orang.

5
Mei
31
Jumadil awal
30
Hijrah

Nabi Muhammad SAW. Hijrah dari Makkah ke Madinah.

6
Juni
30
Jumadil akhir
29
Ihsan

Nabi Muhammad SAW. Membebaskan tawanan-tawanan perang dari Banu Tol, karena mempunyai hubungan dengan Hatim Tol. 

 7
Juli
31
Rajab
30
Wafa

Terjadi Gazwah(perang) Zatirriqa. Para sahabat Rasulullah SAW. Melakukan  Perjalanan sangat panjang, tunggangan sangat terbatas, kaki lecet, kuku terlepas. Tetapi para sahabat pantang menyerah, dengan kejujuran, keikhlasan, keberanian dan keta’atan terus memeberikan tauladan yang tiada bandingannya.

8
Agustus
31
Sya’ban
29
Zhuhur

Allah Ta’ala memberikan kemenangan kepada Islam di luar Arab melalui perang Muwatah.

9
September
29
Ramadhan
30
Tabuk

Terjadi Gazwah Tabuk

10
Oktober
31
Syawal
29
Ikha

Nabi Muhammad SAW. Mengadakan hubungan persaudaraan antara Kaum Anshar-Muhajiriin.

11
Nopember
30
Dzulkaidah
30
Nubuwwah

Allah Ta’ala mengangkat Sayyidina Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi.

12
Desember
31
Dzulhijjah
29/(30)
Fatah

Terjadi Fathah Mekkah, dan Nabi Muhammad mengumumkan pengampunan.





354/(355




 
Note : Cara menghitung HIJRI SYAMSI adalah : Tahun Masehi – Tahun 621 H, Contoh, 2018-621 = 1397 HS. 
 

Apa itu hari Asy-syuro?
Hari Asyura (عاشوراء ) adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Syi'ah. Sedangkan asyura sendiri berarti kesepuluh. Hari ini menjadi terkenal karena bagi kalangan Syi'ah dan sebagian Sufi merupakan hari berkabungnya atas kesyahidanHusain bin Ali, cucu dari Nabi Islam Muhammad pada Pertempuran Karbala tahun 61 H (680). 
Akan tetapi, Sunni meyakini bahwa Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut untuk mengekspresikan kegembiraan kepada Tuhan karena Bani Israil sudah terbebas dari Fira'un (Exodus). Menurut tradisi Sunni, Nabi Muhammad berpuasa pada hari tersebut dengan jumlah dua hari dengan tujuan menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani,[1] dan meminta orang-orang pula untuk berpuasa.[2][3]
Pada masa pra-Islam, 'Asyura diperingati sebagai hari raya resmi bangsa Arab. Pada masa itu orang-orang berpuasa dan bersyukur menyambut 'Asyura. Mereka merayakan hari itu dengan penuh suka cita sebagaimana hari Nawruz yang dijadikan hari raya di negeri Iran.[4] Dalam sejarah Arab, hari 'Asyura (10 Muharram) adalah hari raya bersejarah. Pada hari itu setiap suku mengadakan perayaan dengan mengenakan pakaian baru dan menghias kota-kota mereka. Sekelompok bangsa Arab, yang dikenal sebagai kelompok Yazidi, merayakan hari raya tersebut sebagai hari suka cita.[4]
Asyura Sunni, Sebelum Islam, Hari Asyura sudah menjadi hari peringatan dimana beberapa orang Mekkah biasanya melakukan puasa. Ketika Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah, ia mengetahui bahwa Yahudi di daerah tersebut berpuasa pada hari Paskah Yahudi atau dalam tradisi Islam, Yahudi tersebut sedang berpuasa pada hari Yom Kippur[5]. Saat itu, Muhammad menyatakan bahwa Muslim dapat berpuasa pada hari-hari itu.[2][3]
Menurut NU : K.H.Said Agil Siradj (Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), mengajak semua umat Muslim di Indonesia, khususnya kaum Nahdliyin, untuk : menghormati kegiatan Asyura yang biasa diperingati kaum Syiah setiap pada 10 Muharam, tapi ia mengecam cara-cara mereka yang menyakiti diri-sendiri.
“Adapun acara Asyura itu adalah acara Islam, hanya cara yang dilakukan Syiah itu kadang berlebihan. Kita yang bukan Syiah pun sebenarnya (juga) harus ikut memperingati 10 Asyura, harus,” tandasnya usai mengisi dakwah keislaman di kantor PCNU Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (14/11) malam.
Menurut dia, memperingati Asyura sebagaimana dilakukan kaum Syiah bukanlah kegiatan yang sesat secara ajaran Islam. Ia justru menyerukan agar peristiwa bersejarah dimana salah satu cucu Nabi Mohammad SAW, Imam Husain yang dibantai dalam sebuah peperangan di Padang Karbala, juga dikenang untuk bahan refleksi bagi seluruh umat Islam di dunia “Sebagai ahli sunah, wajib hukumnya memperingati 10 Asyura, 10 Sura (Muharam),” tandasnya. (Editor: Suryanto, (http://www.antaranews.com/berita/405107/pbnu-peringatan-asyura-bukan-kegiatan-sesat).
Selain itu Muharram menjadi berbeda karena hari ke-sepuluh dalam bulan ini dipadati dengan nilai yang sarat dengan sejarah, yang lebih dikenal dengan hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) : 
Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat).
 Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi.
Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. 
Nabi Adam 'alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya.
Selamatnya Nabi Ibrahim 'alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar. 
(4) Nabi Yusuf 'alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah. 
(5) Nabi Yunus 'alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu. 
(6) Nabi Ayyub 'alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan. (7) Nabi Musa 'alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka. Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.
Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan. 
Makna Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang Selama ini diberikan oleh Allah swt. 
Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun yang terjadi pada hari ’asyuro juga.
Di Jawa misalnya kita mengenal bubur abang dan bubur putih yang dibagikan dan disajikan pada hari ‘asyura tidak lain untuk merawat ingatan sejarah tersebut secara perlambang. Bubur putih bermakna rasa syukur akan panjangnya umur hingga mendapatkan tahun baru kembali, semoga kehidupan tambah makmur. Seperti rasa syukurnya Nabi Nuh setelah berlayar dari banjir bandang, seperti syukurnya Nabi Musa setelah mengalahkan Fir’aun. 
Disamping itu Bubur Putih merupakan lambang kebenaran dan kesucian hati yang selalu menang dalam catatan sejarah yang panjang. Meskipun kemenangan itu tidak selamanya identik dengan kekuasaan, seperti Sayyidina Husain sebagai kelompok putihan yang ditumpas oleh Yazid bin Muaswiyyah sang penguasa laknat.
Sedangkan Bubur Abang (bubur merah) adalah pembanding yang selalu hadir dalam kehidupan di dunia berpasang-pasangan. Ada indah ada buruk, ada kebaikan ada kejahatan. 
Jadi bubur suro ini yang berwarna merah dan putih merupakan representasi dari rasa syukur yang mendalam. Atas segala karunia Allah swt. Dan yang lebih penting dari itu semua, Bubur Suro merupakan wahana untuk merawat ingatan akan adanya sejarah besar dalam Islam. (Asyuro: Membaca Kembali Sejarah Islam, Kamis, 14/11/2013 09:00, http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,35126-lang,id-c,ubudiyah-t,Asyuro++Membaca+Kembali+Sejarah+Islam-.phpx).

Puasa Asy-syuro
Menurut NU :
Ternyata puasa ‘Asyura’ adalah puasa yang telah dikenal oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga berpuasa pada hari tersebut. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَه.)

“Dulu hari ‘Asyura, orang-orang Quraisy mempuasainya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempuasainya. Ketika beliau pindah ke Madinah, beliau mempuasainya dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’. Barang siapa yang ingin, maka silakan berpuasa. Barang siapa yang tidak ingin, maka silakan meninggalkannya.”

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:
“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang   tidak suka boleh meninggalkannya." (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)
Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:  “Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka." Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga." (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910).
Abu Musa al-Asy’ari mengatakan: “Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu." (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912).
Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:
Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram. Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:
سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ 
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim, No: 1977) , 
Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:
  “Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram." (HR. Nasa’i, No: 1614)
.Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram. Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan: “Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).
Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.
Ketiga, memperbanyak sedekah. Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah. Mengenai hal ini Rasulullah bersabda: “Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795). (Oleh KH Zakky Mubarak, Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU).
Menurut ABI  : Sementara itu, berkaitan dengan riwayat seputar peristiwa keberuntungan para nabi di hari Asyura, selain tercantum pada jalur Ahlusunah, juga tercantum pada jalur Syiah. 
Namun, Al-Majlisi dan ulama Syiah lainnya telah jauh-jauh hari menyatakan bahwa riwayat tersebut dha’if (lemah) dan bohong. Apalagi diperkuat pula oleh penjelasan Maitsam al-Tammar (salah seorang murid dan sahabat dekat Ali bin Abi Thalib) tentang kebohongan riwayat tersebut. Maitsam berkata, “Mereka berdalih dengan hadis yang mereka buat bahwa Asyura merupakan hari di mana Allah mengampuni Adam, padahal peristiwa ini terjadi pada Dzulhijjah. Mereka berdalih bahwa pada hari itu Allah menerima taubat Dawud, padahal peristiwa ini juga terjadi pada Dzulhijjah. Mereka berdalih bahwa pada hari itu Allah mengeluarkan Yunus dari perut ikan Paus, padahal peristiwa ini terjadi pada Dzulqa’dah. Mereka berdalih bahwa pada hari itu bahtera Nuh berlabuh di Gunung Judi, padahal peristiwa ini terjadi pada 18 Dzulhijjah. Mereka berdalih bahwa pada hari itu Allah membelah laut untuk keselamatan Bani Israel, padahal peristiwa ini terjadi pada Rabi’ul Awal.”[6] (Syaikh Shaduq, Al-Amali, majlis ke-27, riwayat no.1; Syaikh Najamudin al-Thabasi, Shaum Asyura Baina Sunnah Nabawiyah wa al-Bid’ah,Umawiyah,hal.48-49).

Mengenai riwayat Puasa Asyura, beberapa ulama Islam juga meyakini kelemahannya. Riwayat yang kerap digunakan sebagai dalil adalah: Setelah Nabi saw berhijrah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Kemudian beliau bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik, ketika Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh mereka (Fir’aun). Karenanya, Musa berpuasa pada hari ini.” Rasulullah saw menjawab, “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Beliau lalu berpuasa pada hari itu dan memerintahkan Muslimin untuk juga berpuasa.[7] (Shahih Bukhari, Kitab Shaum, jil. 2, hal. 251).
Terdapat beberapa kejanggalan pada riwayat ini:
1). Orang-orang Yahudi hanya mengenal satu jenis puasa, yaitu Puasa Pertobatan, yang dilakukan pada hari Yom Kippur. Mereka memperingatinya sebagai hari kesedihan, karena dipindahkannya Tabut Musa dari Gunung Sinai. Peristiwa ini terjadi pada hari kesepuluh di bulan Tisyri (bulan ketujuh pada kalender Yahudi).
2). Berdasarkan riwayat di atas, dialog itu terjadi pada Muharram setelah hijrah. Dari penelusuran diperoleh bahwa Muharram saat itu kurang lebih bertepatan dengan 5 Juli 623 M. Sementara, Tisyri selalu bertepatan dengan September-Oktober.
3). Peristiwa selamatnya Bani Israel dari Fir’aun terjadi di bulan Abib (bulan pertama pada kalender Yahudi). Berarti kurang lebih bertepatan dengan Maret-April.
Dengan demikian, bulan Muharram saat itu tidak terkait sama sekali dengan peristiwa puasa Yom Kippur dan selamatnya Bani Israel dari Fir’aun. Dari analisis ini saja terlihat bahwa riwayat tersebut dha’if (lemah). Selain itu, riwayat-riwayat lain—baik dari jalur Ahlusunah maupun Syiah—juga menegaskan bahwa Nabi saw meninggalkan Puasa Asyura setelah hijrah, di antaranya:
1). Abdullah meriwayatkan bahwa suatu hari Asy’ats datang ke rumahnya, sementara ia sedang makan. Asy’ats segera berkata, “Ini hari Asyura.” Aku menjawab, “Memang puasa dilakukan pada hari itu, sebelum kewajiban Puasa Ramadhan turun. Tetapi, ketika kewajiban Puasa Ramadhan telah turun, maka Puasa Asyura ditinggalkan. Jadi, ikutlah makan bersamaku.”[9] (Shahih Bukhari, KitabTafsir,jil.5,hal.154-155)
2). Ibnu Umar berkata, “Nabi saw berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan Muslimin untuk juga berpuasa pada hari itu. Ketika kewajiban Puasa Ramadhan turun, maka beliau meninggalkan Puasa Asyura.”[10](Shahih Bukhari, Kitab Shaum,jil.2,hal.226)
3). Saat Muhammad al-Baqir ditanya tentang Puasa Asyura, ia menjawab, “Puasa tersebut dilakukan sebelum turunnya kewajiban Puasa Ramadhan. Ketika kewajiban Puasa Ramadhan telah turun, maka Puasa Asyura ditinggalkan.”[11]  Syaikh Shaduq, Man Laa Yahdhuruhu al-Faqih, jil. 2, hal. 51; Al-Hurr al-‘Amili, Wasa’il asy-Syi’ah,jil.10,hal.459).

Puasa Asysyura Telah ditinggalkan : Ketika Muhammad al-Baqir ditanya tentang Puasa Asyura, ia menjawab, “Puasa ini telah ditinggalkan dengan turunnya kewajiban Puasa Ramadhan. Dan segala yang ditinggalkan itu bid’ah.” Demikian halnya dengan Ja’far ash-Shadiq, saat ditanya tentang Puasa Asyura, ia menjawab persis seperti jawaban ayahnya itu. Bahkan ia menambahkan, “Adapun puasa pada hari itu tidak ditetapkan oleh Al-Qur’an, tidak pula oleh Sunah Nabi saw, kecuali sunah keluarga dan pengikut Ziyad dalam rangka (merayakan) terbunuhnya al-Husein.”[12](Al-Kulaini, Al-Kafi, jil. 4, hal. 146; Syaikh Thusi, Al-Istibshar, jil. 2, hal. 134). (Sabtu, 30 Januari 2016).

Menurut Muhammadiyah: (Bulan Muharram: Keutamaan, Legenda, Mitos, dan Bid’ah di Dalamnya,Tim dakwatuna 02/12/11 | 11:30 Tazkiyatun Nufus Ada 14 komentar286.198 Hits)
Legenda Dan Mitos Muharram, Di samping keutamaan bulan Muharram yang sumbernya sangat jelas, baik disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi banyak juga  legenda dan mitos yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari ‘Asyura. Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari ‘Asyura : 
Nabi Adam diciptakan, Nabi Nuh as di selamatkan dari banjir besar, Nabi Ibrahim dilahirkan dan Allah Swt menerima taubatnya.
Pada hari ‘Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa  yang mandi pada hari ‘Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. 
Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari ‘Asyura.

Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari ‘Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhammad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari ‘Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari ‘Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari ‘Asyura.
Bid’ah Di Bulan Muharram
Selain legenda dan mitos yang dikait-kaitkan dengan Muharram, masih sangat banyak bid’ah yang jauh dari ajaran Islam. Lebih tepat lagi bahwa bid’ah tersebut merupakan  warisan ajaran Hindu dan Budha yang sudah menjadi tradisi  masyarakat Jawa yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran kepercayaan. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Kejawen.
Dari segi sistem penanggalan, memang penanggalan dengan sistem peredaran bulan bukan hanya dipakai oleh umat Islam, tetapi masyarakat Jawa juga menggunakan penanggalan dengan sistem itu. Dan awal bulannya dinamakan  Suro. Pada hari Jum’at malam Sabtu, 1 Muharram 1428 H bertepatan dengan 1 Suro 1940. Sebenarnya penamaan bulan Suro, diambil dari ’Asyura yang berarti 10 Muharram. Kemudian sebutan ini menjadi nama bulan pertama bagi penanggalan Jawa.
Beberapa tradisi dan keyakinan yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa sudah sangat jelas bid’ah dan  syiriknya, seperti Suro diyakini sebagai bulan yang keramat, gawat dan penuh bala. Maka diadakanlah upacara ruwatan dengan mengirim sesajen atau tumbal ke laut. Sebagian yang lain dengan cara bersemedi mensucikan diri bertapa di tempat-tempat sakral (di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya) dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan ‘berjaga hingga pagi hari’ di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng keraton sambil membisu.
Tradisi tidak mengadakan pernikahan, khitanan dan membangun rumah. Masyarakat  berkeyakinan apabila melangsungkan acara itu maka akan membawa sial dan malapetaka bagi diri mereka.
Melakukan ritual ibadah tertentu di malam Suro, seperti  selamatan atau syukuran, Shalat Asyuro, membaca Doa Asyuro (dengan keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam agama) dan tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabatnya. Hadist-hadits yang menerangkan tentang Shalat Asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.
Tradisi Ngalap Berkah dilakukan dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan kirab kerbau bule (kiyai slamet) di keraton Kasunan Solo, thowaf di tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, begadang semalam suntuk dan lain-lainnya. Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang menunjukkannya. Semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan dan kebid’ahan yang membinasakan.
Menyikapi berbagai macam tradisi, ritual, dan amalan yang jauh dari ajaran Islam, bahkan cenderung mengarah pada bid’ah, takhayul dan syirik, maka marilah kita bertobat kepada Allah dan melaksanakan amalan-amalan sunnah di bulan Muharram seperti puasa. Rasulullah saw.  menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘Asyura  menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.Dari Abu Qatadah RA. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat.”  (HR. Muslim).

Cara Memperingati tradisi Asy-syuro :

Memperingati Asy-Syuro dengan bersedih : 
Orang-orang yang memperingatinya dengan kesedihan, maka orang tersebut laiknya aliran Syi’ah yang memperingati hari wafatnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Husain radhiallahu ‘anhu terbunuh di Karbala’ oleh orang-orang yang mengaku mendukungnya. Kemudian orang-orang Syi’ah pun menjadikannya sebagai hari penyesalan dan kesedihan atas meninggalnya Husain.
Di Iran, yaitu pusat penyebaran Syi’ah saat ini, merupakan suatu pemandangan yang wajar, kaum lelaki melukai kepala-kepala dengan pisau mereka hingga mengucurkan darah, begitu pula dengan kaum wanita mereka melukai punggung-punggung mereka dengan benda-benda tajam.
Begitu pula menjadi pemandangan yang wajar mereka menangis dan memukul wajah mereka, sebagai lambang kesedihan mereka atas terbunuhnya Husain radhiallahu ‘anhu. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ.))
“Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliyah.”(HR Al-Bukhari 1294). Kalau dipikir, mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama di hari meninggalnya ‘Ali bin Abi Thalib, Padahal beliau juga wafat terbunuh?.
Memperingati Asy-syuro dengan gembira :
Di antara manusia juga ada yang memperingatinya dengan bergembira. Mereka sengaja memasak dan menyediakan makanan lebih, memberikan nafkah lebih dan bergembira layaknya ‘idul-fithri, mereka berdalil dengan hadits lemah:

(( مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ)

“Barang siapa yang berlapang-lapang kepada keluarganya di hari ‘Asyura’, maka Allah akan melapangkannya sepanjang tahun tersebut.”( HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 9864 dari Abdullah bin Mas’ud dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab no. 3513,3514 dan 3515 dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri )

Dan perlu diketahui merayakan hari ‘Asyura’ dengan seperti ini adalah bentuk penyerupaan dengan orang-orang Yahudi. Mereka bergembira pada hari ini dan menjadikannya sebagai hari raya. (Penulis: Ustadz Sa’id Ya’i Ardiansyah, Lc., M.A.Artikel Muslim.Or.Id).

Note : Saat melakukan tradisi menyambut bulan Muharam atau Asy-syuro setiap Mazhab berbeda-beda, dan mereka memiliki argumentasi masing-masing.

Menurut Muhammadiyah :
Hamka pernah menyentil Syiah sebagai kelompok “Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.” (Baca Panji Masyarakat edisi 15 Februari 1975). (Oleh: Fadh Ahmad Arifan, Alumni S2 Studi Islam, Pascasarjana UIN Malang dan kini menjadi Pendidik di Madrasah Aliyah Muhammadiyah 2, Kota Malang, Jawa Timur).
Ketika Hamka berkunjung ke Najaf dan Karbala (Oktober 1950), penunjuk jalan menanyakan datang dari mana dan mazhab apa. Lalu Hamka menjawab dirinya dari Indonesia dan bermazhab Syafi’i.
Muzawwir, sang penunjuk jalan tadi mengatakan, “Mazhab Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan Syiah dan paling cinta kepada Husain”. “Maaf, saya tidak bermazhab Syiah, tetapi saya mencintai Husain!” Jawab Hamka. (Kata pengantar buya Hamka dalam buku “Al-Husain bin Ali: Pahlawan besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya”, karya M. al-Hamid al-Husaini, th 1978, hal xi).
I Marwah Atmaja, Tokoh Muhammadiyah : Ada dua peristiwa di hari Asyura (10 Muharram) di dalam Islam, Pertama hari yang diyakini hari kebebasan Musa dari kejaran Fira’un, dan kita disunahkan berpuasa pada tanggal itu. Yang kedua adalah peristiwa gugurnya Husein bin Ali, cucu Rasulullah di tanah Karbala. Asyura yang manakah yang dijadikan rujukan orang Jawa. Dari cara memperlakukan bulan muharram tampaknya peristiwa kedualah yang dijadikan rujukan. Mengapa demikian, karena orang Jawa cenderung menganggap bulan Sura sebagai bulan yang sial bukan bulan yang menggembirakan sebagaimana peristiwa pertama.
Yang jelas, di dalam mantra-mantra tradisional Jawa yang berbau Islam, banyak tersirat ritual yang memuliakan Fatimah (yang di Jawa disebut Dewi Pertimah yang disejajarkan dengan Dewi Pertiwi atau Dewi Bumi). Ali bin Thalib yang disebut Baginda Ngali, Hasan, Husein, maupun Muhammad Hanafiah. Mirip dengan kepercayaan kaum Syi’ah. Mereka juga sangat membenci Yazid yang disebut Raja Yazid Kang Duraka. Walau begitu mereka menghormati Abu Bakar, Umar, dan Usman juga Muawiyah. (Thursday 29-09-2016, 14:18 WIB).

Tradisi merayakan Asy-syuro dibeberapa daerah :
Di kalangan suku Banjar : yang merupakan muslim Sunni di Kalimantan, Hari Asyura dirayakan ekspresi kegembiraan dengan membuat bubur Asyura yang terbuat dari beras dan campuran 41 macam bahan yang berasal dari sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Bubur Asyura tersebut akan disajikan sebagai hidangan berbuka puasa sunat Hari Asyura.[6][7][8][9].
Bulan Suro menurut Kejawen :
Adalah bulan sakral untuk melakukan ritual. Salah satu yang diduga kuat menjadi latar belakang dari kangkeran bulan ini adalah sejarah zaman kerajaan tempo dulu. Terutama di daerah Jawa, sebagian keraton selalu mengadakan ritual memandikan pusaka keraton setiap malam 1 Suro. Karena tahun baru diharapkan menjadi energi baru bagi kehidupan manusia. Itulah sebabnya upacara adat dan ritual dimulai pada malam 1 Suro. 
Ritual yang dilakukan adalah menjamas senjata keratin, keris, mustika, batu akik dan senjata lainnya. Dengan kekuatan karisma keraton maka dibuatlah stigma tentang ‘angkernya’ bulan Suro.
Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos, :
Bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). 
Seluruh penghuni masing-masing dimensi mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang bersimbiosis mutual, saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta sebagai upaya memanifestasikan rasa sukur akan karunia terindah dari Tuhan YME. Sehingga manusia bukanlah segalanya di hadapan Tuhan, dan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya.
Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmosJavanisme bahwa akal-budi ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dapat memuliakan  manusia tetapi di sisi lain justru sebaliknya akan menghinakanmanusia, bahkan lebih hina dari binatang, maupun mahluk gaib jahat sekalipun.
Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan bumi ini berikut seluruh isinya untuk dimanfaatkan umat manusia.
Dalam tradisi Jawa sekalipun yang dianggap paling klenik sekalipun, prinsip dasar yang sesungguhnya tetaplah  PERCAYA KEPADA TUHAN YME. 
Di awal atau di akhir setiap kalimat doa dan mantra selalu diikuti kalimat; saka kersaning Gusti, saka kersaning Allah. Semua media dalam ritual, hanya sebatas dipahami sebagai media dan kristalisasi dari simbol-simbol doa semata. Doa yang ditujukan hanya kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Prinsip tersebut memproyeksikan bahwa kaidah dan prinsip religiusitas ajaran Jawa tetap jauh dari kemusrikan maupun syirik yang menyekutukan Tuhan.
Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tipikal tradisi Jawa kental akan penjelajahan wilayah gaib sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia terhadap lingkungan alam dan seluruh isinya.
Lingkungan alam dilihat memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik.: 
Lingkungan alam tidak sebatas apa yang tampak oleh mata, melainkan meliputi pula lingkungan yang tidak tampak oleh mata (gaib). Boleh dikatakan pemahaman masyarakat Jawa akan lingkungan atau dimensi gaib sebagai bentuk “keimanan“ (percaya) kepada yang gaib.
 Bahkan oleh sebagian masyarakat Jawa, unsur kegaiban tidak hanya sebatas diyakini atau diimani saja, tetapi lebih dari itu seseorang dapat membuktikannya dengan bersinggungan atau berinteraksi secara langsung dengan yang gaib sebagai bentuk pengalaman gaib.
Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa dimensi gaib merupakan sebuah realitas konkrit. Hanya saja konkrit dalam arti tidak selalu dilihat oleh mata kasar, melainkan konkrit dalam arti Jawa yakni termasuk hal-hal yang dapat dibuktikan melalui indera penglihatan  maupun indera batiniah. Meskipun demikian penjelasan ini mungkin masih sulit dipahami bagi pihak-pihak yang belum pernah samasekali bersinggungan dengan hal-hal gaib. Sehingga cerita-cerita maupun kisah-kisah gaib dirasakan menjadi tidak masuk akal, sebagai hal yang mustahal, dan menganggap pepesan kosong belaka. Pendapat demikian sah-sah saja, sebab tataran pemahaman gaib memang tidak semua orang dapat mencapainya. Yang merasa mampu memahamipun belum tentu tapat dengan realitas gaib yang sesungguhnya. Sedangkan agama sebatas memaparkan yang bersifat universal, garis besar, dan tidak secara rinci. 
MISTERI BULAN SURA, Bulan Sura adalah bulan baru yang digunakan dalam tradisi penanggalan Jawa. Di samping itu bagi masyarakat Jawa adalah realitas pengalaman gaib bahwa dalam jagad makhluk halus pun mengikuti sistem penanggalan sedemikian rupa. Sehingga bulan Sura juga merupakan bulan baru yang berlaku di jagad gaib. Alam gaib yang dimaksudkan adalah;
jagad makhluk halus ; jin, setan (dalam konotasi Jawa; hantu), siluman, benatang gaib, 
serta jagad leluhur ; alam arwah, dan bidadari. Antara jagad fana manusia (Jawa), jagad leluhur, dan jagad mahluk halus berbeda-beda dimensinya.  Tetapi dalam berinteraksi antara jagad leluhur dan jagad mahluk halus di satu sisi, dengan jagad manusia  di sisi lain, selalu menggunakan penghitungan waktu penanggalan Jawa. Misalnya; malam Jum’at Kliwon (Jawa; Jemuah) dilihat sebagai malam suci paling agung yang biasa digunakan para leluhur “turun ke bumi” untuk njangkung dan njampangai(membimbing) bagi anak turunnya yang menghargai dan menjaga hubungan dengan para leluhurnya. 
Demikian pula, dalam bulan Sura juga merupakan bulan paling sakral bagi jagad makhluk halus. Mereka bahkan mendapat “dispensasi” untuk melakukan seleksi alam. Bagi siapapun yang hidupnya tidak eling danwaspada, dapat terkena dampaknya.
Dalam siklus hitungan waktu tertentu yang merupakan rahasia besar Tuhan, terdapat suatu bulan Sura yang bernama Sura Duraka.  Disebut sebagai bulan Sura Duraka karena merupakan bulan di mana terjadi tundan dhemit.Tundan dhemit maksudnya adalah suatu waktu di mana terjadi akumulasi paradedemit yang mencari “korban” para manusia yang tidak eling dan waspadha. Karena pada bulan-bulan Sura biasa para dedhemit yang keluar tidak sebanyak pada saat bulan Sura Duraka. Sehingga pada bulan Sura Duraka biasanya ditandai banyak sekali musibah dan bencana melanda jagad manusia. 
Bulan Sura Duraka ini pernah terjadi sepanjang bulan Januari s/d Februari 2007.  Musibah banyak terjadi di seantero negeri ini. 
1) Di awali tenggelamnya KM Senopati di laut Banda yang terkenal sebagai palung laut terdalam di wilayah perairan Indonesia. Kecelakaan ini memakan korban ratusan jiwa. 
2) Kecelakaan Pesawat Adam Air hilang tertelan di palung laut dekat teluk Mandar, posisi di 40 mil barat laut Majene. 
3) Kereta api mengalami anjlok dan terguling sampai 3 kali kasus selama sebulan. 4) Tabrakan bus di pantura, bus menyeruduk rumah penduduk. 
5) Kecelakaan pesawat garuda di Yogyakarta. 
6) Beberapa maskapai penerbangan mengalami gagal take off, gagal landing, mesin error dsb. 
7) Jakarta dilanda banjir terbesar sepanjang masa. 
8) Kapal terbakar di Sulawesi dan maluku. 
9) Kapal laut di selat Karimun terbakar lalu tenggelam memakan ratusan korban berikut wartawan TV peliput berita. 
10) Banjir besar di Jawa Tengah, Angin puting beliung sepanjang Pulau Jawa-Sumatra. Dan masih  banyak lagi kecelakaan pribadi yang waktu itu Kapolri sempat menyatakan sebagai bulan kecelakaan terbanyak meliputi darat, laut dan udara.

Masyarakat Jawa memiliki kearifan lokal yang kemudian mengkristal menjadi tradisi masyarakat Jawa selama bulan Sura.  Sedikitnya ada 5 macam ritual yang dilakukan menjelang dan selama bulan Sura seperti berikut ini;
Siraman malam 1 Sura; mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Sebagai bentuk “sembah raga” (sariat) dengan tujuan mensucikan badan, sebagai acara seremonial pertanda dimulainya tirakat sepanjang bulan Sura; lantara lain lebih ketat dalam menjaga dan mensucikan hati, fikiran, serta menjaga panca indera dari hal-hal negatif. Pada saat dilakukan siraman diharuskan sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan YME agar senantiasa menjaga kita dari segala bencana, musibah, kecelakaan. Doanya dalam satu fokus yakni memohon keselamatan diri dan keluarga, serta kerabat handai taulan. Doa tersirat dalam setiap langkah ritual mandi. Misalnya, mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan sebanyak 7 kali siraman gayung (7 dalam bahasa Jawa; pitu, merupakan doa agar Tuhan memberikan pitulungan atau pertolongan). Atau 11 kali (11 dalam bahasa Jawa; sewelas, merupakan doa agar Tuhan memberikankawelasan; belaskasih). Atau 17 kali (17 dalam bahasa Jawa; pitulas; agar supaya Tuhan memberikan pitulungan dan kawelasan). Mandi lebih bagus dilakukan tidak di bawah atap rumah; langsung “beratap langit”; maksudnya adalah kita secara langsung menyatukan jiwa raga ke dalam gelombang harmonisasi alam semesta.
Tapa Mbisu (membisu); tirakat sepanjang bulan Sura berupa sikap selalu mengontrol ucapan mulut agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Sebab dalam bulan Sura yang penuh tirakat, doa-doa lebih mudah terwujud. Bahkan ucapan atau umpatan jelek yang keluar dari mulut dapat “numusi” atau terwujud. Sehingga ucapan buruk dapat benar-benar mencelakai diri sendiri maupun  orang lain.
Ziarah; pada bulan Sura masyarakat Jawa lebih menggiatkan ziarah ke makam para leluhurnya masing-masing, atau makam para leluhur yang yang dahulu telah berjasa untuk kita, bagi masyarakat, bangsa, sehingga negeri nusantara ini ada. Selain mendoakan, ziarah sebagai tindakan konkrit generasi penerus untuk menghormati para leluhurnya (menjadi pepunden). Cara menghormati dan menghargai jasa para leluhur kita selain mendoakan, tentunya dengan merawat makam beliau. Sebab makam merupakan monumen sejarahyang dapat dijadikan media mengenang jasa-jasa para leluhur; mengenang dan mencontoh amal kebaikan beliau semasa hidupnya. Di samping itu kita akan selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Asal-usul kita ada di dunia ini adalah dari turunan beliau-beliau. Dan suatu saat nanti kita semua pasti akan berpulang ke haribaan Tuhan Yang maha Kuasa. Mengapa harus datang ke makam, tentunya atas kesadaran bahwa semua warisan para leluhur baik berupa ilmu, kebahagiannya, tanah kemerdekaan, maupun hartanya masih bisa dinikmati hingga sekarang, dan dinikmati oleh semua anak turunnya hingga kini. Apakah sebagai keturunannya kita masih tega hanya dengan mendoakan saja dari rumah ? Jika direnungkan secara mendalam menggunakan hati nurani, sikap demikian tidak lebih dari sekedar menuruti egoisme pribadi (hawa nafsu negatif) saja. Anak turun yang mau enaknya sendiri enggan datang susah-payah ke makam para leluhurnya, apalagi terpencil nun jauh harus pergi ke pelosok desa mendoakan dan merawat seonggok makam yang sudah tertimbun semak belukar. Betapa teganya hati kita, bahkan dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk kemalasannya sendiri, bisa saja menggunakan alasan supaya menjauhi kemusyrikan. Padahal kita semua tahu, kemusyrikan bukan lah berhubungan dengan perbuatan, tetapi berkaitan erat dengan hati. Jangan-jangan sudah menjadi prinsip bawah sadar sebagian masyarakat kita, bahwa lebih enak menjadi orang bodoh, ketimbang menjadi orang winasis dan prayitna tetapi konsekuensinya tidak ringan.
Menyiapkan sesaji bunga setaman dalam wadah berisi air bening. Diletakkan di dalam rumah. Selain sebagai sikap menghargai para leluhur yang njangkung dan njampangi anak turun, ritual ini penuh dengan makna yang dilambangkan dalam uborampe. Bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, kenanga. Masing-masing bunga memiliki makna doa-doa agung kepada Tuhan YME yang tersirat di dalamnya (silahkan dibaca dalam forum tanya jawab). Bunga-bungaan juga ditaburkan ke pusara para leluhur, agar supaya terdapat perbedaanantara makam seseorang yang kita hargai dan hormati, dengan kuburan seekor kucing yang berupa gundukan tanah tak berarti dan tidak pernah ditaburi bunga, serta-merta dilupakan begitu saja oleh pemiliknya berikut anak turunnya si kucing.
Jamasan pusaka; tradisi ini dilakukan dalam rangka merawat atau memetri warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Pusaka merupakan buah hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan para leluhur kita di masa silam. Karya seni yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Selain itu pusaka menjadi situs dan monumen sejarah, dan memudahkan kita simpati dan berimpati oleh kemajuan teknologi dan kearifan lokal para perintis bangsa terdahulu. Dari sikap menghargai lalu tumbuh menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus bangsa agar berbuat lebih baik dan maju di banding prestasi yang telah diraih para leluhur kita di masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya, para pahlawannya, dan para perintisnya. Karena mereka semua menjadi sumber inspirasi, motivasi dan tolok ukur atas apa yang telah kita perbuat dan kita gapai sekarang ini. Dengan demikian generasi penerus bangsa tidak akan mudah tercerabut (disembeded) dari “akarnya”. Tumbuh berkembang menjadi bangsa yang kokoh, tidak menjadi kacung dan bulan-bulanan budaya, tradisi, ekonomi, dan politik bangsa asing. Kita sadari atau tidak, tampaknya telah lahir megatrend terbaru abad ini, sekaligus paling berbahaya, yakni merebaknya bentuk the newest imperialism melalui cara-cara politisasi agama.
Larung sesaji; larung sesaji merupakan ritual sedekah alam. Uborampe ritual disajikan (dilarung) ke laut, gunung, atau ke tempat-tempat tertentu. Tradisi budaya ini yang paling riskan dianggap musrik. Betapa tidak, jikalau kita hanya melihat apa yang tampak oleh mata saja tanpa ada pemahaman makna esensial dari ritual larung sesaji. Baiklah, berikut saya tulis tentang konsep pemahaman atau prinsip hati maupun pola fikir mengenai tradisi ini. Pertama; dalam melaksanakan ritual hati kita tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Kedua; adalah nilai filosofi, bahwa ritual larung sesaji merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia, sehingga untuk melangsungkan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan alam. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Ketiga; selain kedua hal di atas, larung sesaji merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan bersifat kasat mata atau jagad fisik, maupun  gaib atau jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya,  bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.( Sugeng warsa enggal Senin Legi, 1 Sura 1942 taun je, (29 Desember 2008, Salam Taklim Wilujeng Rahayu sabdalangit).
 

MUHARAM MENURUT ISLAM AHMADIYAH


> View Khotbah
Bulan Muharram dan Status Hadhrat Hussein (ra)
Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]
tanggal 10 Fatah 1389 HS/Desember 2010
di Mesjid Baitul Futuh, London.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu Ta’ala ‘anhu menulis sebuah syair dalam Bahasa Urdu,

‘Woh tum ko Husain banate heei’ aor aap Yazidi bante heei’
Yeh kiya hii sastah sauda he, dushman ko teer chalaney do’.
“Mereka menjadikanmu Husain, dan mereka menjadikan diri mereka sendiri seperti Yazid. Betapa murahnya jual-beli ini; biarlah musuh melemparkan anak panahnya.”[2]

GAMBARAN SYAIR :

Ini adalah satu kutipan dari syair nazm panjang karya Hadhrat Mushlih Mau’ud ra untuk menganjurkan Jemaat agar bersabar, memiliki harapan tinggi (positif) dan berhati tegar. Nazm ini beliau sampaikan pada tahun 1935 tatkala Jemaat sedang menghadapi perlawanan musuh yang sedang terjadi dengan keras sekali pada waktu itu. Sesungguhnya, hari ini saya tidak akan menjelaskan mazhmun(bahasan) mengenai nazm ini, melainkan hanya akan berbicara sekitar maksud dari pada dua buah [petikan] syair ini saja.
Dalam sejarah Islam syair ini mengisyaratkan pada sebuah peristiwa yang sangat zhulm (keaniayaan), mengerikan dan sangat menusuk perasaan hati pada pandangan setiap Muslim. Akan tetapi pengambilan kesan-kesan yang dapat melukiskan hakekatnya dengan tepat dari peristiwa yang sangat tragis dan mengerikan itu hanyalah orang-orang yang sedang berada dalam kancah penganiayaan dengan kejam. Atas peristiwa itu setiap orang Muslim tiada diragukan lagi tentu menampakkan perasaan simpati, perasaan duka, perasaan sedih dan prihatin dan orang-orang Syiah setiap tahun di bulan Muharram berusaha menyatakan peristiwa itu dengan cara mereka sendiri yang khas. Sedangkan menurut pandangan kita, perayaan mereka itu sedemikian rupa sehingga sudah merupakan perbuatan yang ghulluw (berlebih-lebihan) dan melampaui batas.[3]
Namun, hal itu sudah merupakan perayaan dengan cara mereka sendiri. Kendatipun, sebagaimana telah saya katakan bahwa hakikat kezaliman dalam peristiwa itu hanya dapat dipahami dengan sesungguhnya oleh orang-orang yang sedang berada didalam kancah penganiayaan dengan kejam. 

PERISTIWA KARBALA SIAPA YANG PALING MERASAKAN

Pada zaman ini golongan manakah selain dari Jemaat Ahmadiyah yang dapat melukiskan dengan sesungguhnya kepiluan peristiwa Karbala yang sangat mengerikan itu. Sebab itu dengan tepat sekali Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah melukiskannya dalam bentuk syair, ‘Mereka membuat kamu seperti Husain, mereka sendiri menjadi seperti Yazid’Siapakah yang dimaksud dengan kedua kelompok orang-orang ini (Husain dan Yazid ini)?
Kedua kelompok orang itu mengucapkan kalimah yang sama, ” ’Laa Ilaaha illallahu Muhammad rasulullah’ – “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.” Atau kedua kelompok itu menyatakan diri masing-masing mengucapkan kalimah itu. Namun satu daripadanya betul-betul mengerti hakekat kalimah itu dan telah menjadi mazhlum (teraniaya) dan yang satu lagi karena tidak menghargai kalimah itu telah menjadi zhalim. Peristiwa Karbala, dimana Hadhrat Imam Husain ra dan keluarga beliau serta beberapa orang yang menyertai beliau telah disyahidkan pada dasarnya merupakan kelanjutan dari peristiwa syahidnya Hadhrat Khalifah Usman ra.[4]
Sebabnya, apabila takwa sudah berkurang dan kepentingan pribadi sudah mulai menguasai diatas kepentingan umum, dan urusan duniawi didahulukan diatas kepentingan agama, maka timbullah satu hal, yaitu kezaliman dan barbariyat(kekejaman di luar batas kemanusiaan) menguasai nafsu manusia sampai puncaknya. Darah para kekasih Allah ditumpahkan atas nama Allah. Sungguh betapa besar kemalangan yang menyedihkan, orang-orang yang mengucapkan kalimah menyerang dan menganiaya orang-orang yang mengucapkan kalimah yang sama, sampai-sampai mereka tidak merasa bersalah untuk menumpahkan darah orang-orang ma’shum (suci) dan darah anak-anak. Orang-orang yang telah mengorbankan jiwa, harta-benda dan kehormatan mereka semata-mata demi Tuhan dan Rasul telah ditimpakan kedukaan, kesulitan dan musibah-musibah atas nama Tuhan dan Rasul.
Adakah nasib malang yang lebih buruk lagi bagi orang-orang zalim itu daripada perbuatan brutal diatasnamakan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, Hadhrat Muhammad saw? Tentang keburukan seperti itu Alquranul Karim telah berfirman,

MEMBUNUH DENGAN SENGAJA GANJARANNYA JAHANNAM

 “Dan barangsiapa membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia akan tinggal lama didalamnya, dan Allah murka kepadanya dan menjauhkannya dari sisi-Nya yakni melaknatnya dan akan menyediakan baginya azab yang sangat besar.” (An Nisa, 4 : 94)

Allah Ta’ala telah menunjukkan kemurkaan-Nya dengan menggunakan kata-kata yang sangat keras terhadap orang seperti itu. Bukan hanya akan dimasukkan ke dalam Jahannam melainkan mereka akan tinggal lama di dalamnya dan kemurkaan Tuhan turun terus-menerus menimpa mereka, dan mereka akan terus-menerus menjadi sasaran laknat Tuhan. Jahannam ini, kemurkaan Allah ini, laknat Allah ini, ini semua bukanlah perkara kecil, melainkan azab yang sangat besar. Ini adalah ‘adzaab ‘azhim (siksaan yang besar). Adakah nasib malang yang lebih buruk lagi daripada seseorang yang mengaku setia kepada Kalimah Syahadah namun dibakar dalam Jahannam terus-menerus dan merasakan kemurkaan, laknat dan azab Tuhan yang sangat berat dan mengerikan sekali? Demikianlah, orang yang demi untuk suatu keuntungannya sendiri dan untuk kedudukan bersifat keduniaan melakukan perbuatan kezaliman sedemikian rupa maka ia menjadi sasaran kemurkaan yang sangat dari Tuhan.

TIDAK BERDOSA MENDAPAT RIZKI

Sebaliknya tentang orang-orang yang tidak berdosa yang telah menjadi sasaran kezaliman dan mangsa barbariyat,
 “…mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka dianugerahi rezki dari Tuhan mereka.” (Surah Ali Imran, 3 : 170). Inilah perlakuan Allah Ta’ala kepada mereka. Jadi, barangsiapa yang disisi Allah Ta’ala hidup dan mendapat rezeki surga, maka adakah nikmat-nikmat dan ganjaran bagi mereka yang lebih besar dari pada itu.

KECINTAAN NABI MUHAMMAD KEPADA CUCUNYA 

Hadhrat Nabi saw bersabda mengenai Hadhrat Imam Husain dan Hadhrat Imam Hasan ra, “Keduanya adalah pemimpin para pemuda penduduk surga.” (sayyidaa syabaabi ahlil jannah) [5]
Untuk keduanya Hadhrat Nabi saw telah memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, 
Allahumma innii uhibbuhumaa fa ahibbahumaa’ “Ya Allah, sesungguhnya aku menyintai keduanya, dan Engkau juga cintailah mereka berdua.”[6] Jadi, orang yang menerima berkat doa-doa Hadhrat Rasulullah saw sampai batas kecintaan beliau seperti itu lalu meraih martabat syahid, maka pasti menjadi pewaris rezeki surga yang luhur sesuai janji Allah Ta’ala, sebaliknya pembunuh beliau pasti akan menjadi pewaris kemurkaan Allah Ta’ala.

PERISTIWA PENSYAHIDAN HZ. HUSEIN ra.

Bulan ini, kita sedang memasuki sepuluh hari pertama bulan Muharram. Di dalam bulan Muharram ini, 1400 tahun lalu pada tanggal 10 seorang yang sangat dicintai oleh Hadhrat Rasulullah saw yakni Hadhrat Imam Husain ra telah disyahidkan oleh orang yang sangat zalim.[7] Jika kita mendengar kisah pembunuhannya badan kita gemetar dan bulu roma kita berdiri karena sangat mengerikan. Orang-orang zalim itu tidak berpikir, “Bagaimanakah kedudukan orang yang sedang kami hunuskan pedang kepadanya?” Tetapi, sebagaimana telah saya katakan, apabila iman sudah terbang, maka semua perasaan dan pertimbangan pun hilang, bahkan rasa takut kepada Allah Ta’ala-pun lenyap dari dalam hati. Jika rasa takut kepada Allah Ta’ala sudah lenyap dari dalam hatinya, maka ia tidak mempertimbangkan, bagaimanakan kedudukan seseorang pada pandangan Allah Ta’ala atau kedudukannya pada pandangan Rasul-Nya saw? 

BEBERAPA PERTANYAAN

Bagaimanakah kisah disyahidkannya Hadhrat Imam Husain ra dan setelah beliau disyahidkan bagaimana perlakuan orang-orang zalim terhadap jenazah beliau yang beberkat? Setelah mendengar peristiwa ini manusia menjadi yakin bahwa, mereka itu mungkin saja telah membaca dua kalimah syahadat, tetapi sesungguhnya mereka itu tidak mempunyai keyakinan terhadap Dzat Tuhan.
Hadhrat Rasulullah saw datang ke dunia untuk menegakkan martabat kemanusiaan. Beliau saw telah menetapkan dasar hukum dan peraturan berperang. Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita yang tercantum dalam Alquran yang menekankan untuk bertindak adil dan i’tidaal (moderat) terhadap musuh, dan termasuk musuh yang sekalipun hendak menghancurkan agama Islam serta hendak membunuh Hadhrat Nabi saw. [Bersikap adil dan tidak berlebihan termasuk tatkala] berperang dengan mereka yang memiliki praktek kebiasaan yang telah biasa dilakukan oleh orang-orang Arab dulunya, yaitu mutilasi mayat musuh (memotong-motong dan merusak tubuh musuh yang sudah meninggal) satu kebiasaan tidak terhormat terhadap mayat, yang beliau saw telah melarangnya.[8]
Beliau saw datang untuk menghapus semua adat kebiasaan buruk itu dan mengakhiri riwayatnya yang mana menurunkan wibawa kemanusiaan. 
Bahkan beliau saw berlaku sangat pemaaf dan pengampun terhadap musuh-musuh dengan cara lemah-lembut. 
Tetapi, perlakuan terhadap cucu seorang Rasul kesayangan Allah Ta’ala, untuk mana beliau saw berdoa ke hadirat Allah Ta’ala, “Ya Allah! Aku sangat menyintainya, maka Engkaupun cintailah dia!”[9] 
Lagi, beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyintai cucuku, dia menyintaiku, dan barangsiapa yang menyintaiku dia menyintai Allah, dan disebabkan ia menyintai Allah maka ia akan dimasukkan ke dalam surga, demikian juga barangsiapa yang membencinya akan dibenci oleh Allah Ta’ala.”[10]


KECINTAAN PARA SAHABAT KEPADA CUCU NABI SAW.


Orang yang betul-betul menyintai seseorang, maka orang yang menjadi kesayangan orang yang dicintainya itu tentu akan menjadi kesayangannya juga. Tidak mungkin satu pihak ia menyatakan cinta terhadap seseorang namun di pihak lain ia membenci anak-keturunan orang yang dicintainya itu. Atau ia menyatakan diri menyintai orang-orang yang dicintai oleh orang yang dicintainya pada waktu orang yang dicintainya itu masih hidup, namun apabila orang yang dicintainya itu sudah menutup mata semua kesan kecintaan terhadap mereka lenyap. Maka, pernyataan cintanya itu hanya tinggal di mulut saja. Cara hidup yang demikian dapat terjadi di kalangan orang duniawi, sedangkan orang-orang yang memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala tentu tidak akan seperti itu.
Riwayat-riwayat menyebutkan, suatu ketika Hadhrat Abu Bakar Siddiq ra di zaman Khilafat beliau tengah berjalan ke suatu tempat. Di perjalanan, beliau melihat cucu tercinta Hadhrat Nabi saw sedang bermain-main bersama anak-anak lainnya. Beliau angkat anak itu dan memangkunya dengan kasih sayang seraya bersabda, “Junjunganku, Hadhrat Muhammad Mushthafa saw, sangat menyayangi anak ini, sebab itu aku pun sangat menyayanginya.”[11] Demikianlah cara menyatakan kesetiaan dan kasih sayang yang sesungguhnya terhadap buah hati orang yang betul-betul dicinta beliau.

PERISTIWA PEMBOIKOTAN TERHADAP HZ. HUSEIN ra.

Tetapi, bagaimana perlakuan terhadap beliau ra di Karbala? Bagaimana pelanggaran yang telah dilakukan terhadap ajaran yang telah ditegakkan oleh Rasulullah saw? Riwayat-riwayat menyebutkan ketika pasukan beliau ra dikalahkan oleh musuh [dibunuh habis], beliau (Hadhrat Imam Husain ra) mengarahkan kuda yang ditungganginya ke arah Furat [Sungai Euphrat, bukan melarikan diri tetapi mengambil air untuk diminum karena beliau dan rombongan beliau kehausan-Red]. 
Seseorang berteriak, “Mari kita halangi antara mereka dengan sungai!” Orang-orang memblokade (menutup dengan barisan prajurit pada) jalan yang akan beliau lalui, dan beliau tidak diberi jalan lewat mencapai sungai itu. Orang itu pun telah melepaskan anak panah kearah Hadhrat Husain ra sehingga menusuk leher tepat dibawah dagu beliau.
Mengenai keadaan pertempuran beliau, perawi menceritakan, “Hadhrat Husain ra dalam keadaan luka-luka, mengeratkan ikatan sorbannya terus melakukan perlawanan terhadap musuh sambil berjalan kaki melakukan serangan dengan gagah berani mengelakkan panah-panah yang menghujani tubuh beliau. 
Sebelum beliau syahid saya mendengar beliau berkata, ‘Demi Allah! Setelah aku, siapapun kalian bunuh dari antara para pencinta Allah Ta’ala, kemurkaan Allah Ta’alaterhadap kalian tidak akan lebih keras seperti kalian membunuhku. Demi Allah! Aku harap Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan atas kalian dan Dia akan memberi kemuliaan kepadaku. Tuhan akan membalas atas kejahatan kalian terhadapku sehingga kalian akan merasa heran. Demi Allah! Jika kalian membunuhku, Allah Ta’ala akan menciptakan suasana perang di tengah-tengah kalian dan darah kalian akan tumpah. Allah Ta’ala tidak akan ridha sebelum Dia melipatgandakan azab-Nya yang sangat pedih diatas kalian.’”[12]

SETELAH SYAHID DAN KEKEJIAN YANG DIALAMI HZ. HUSEIN ra. –Cikeusik

Setelah Hadhrat Husain ra disyahidkan bagaimana perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Kufah? Orang-orang Kufah mulai mengadakan penjarahan dan perampokan terhadap kemah-kemah Hadhrat Imam Husain ra, 
bahkan mereka (Kufah) mulai menyerang dan merampas kain-kain cadar penutup kepala orang-orang perempuan. 
Seorang bernama Umar Bin Sa’ad berteriak, “Siapakah orang-orang yang akan menginjak-injak tubuh Imam Husain ra dengan kuda mereka?” Mendengar seruan itu maka datanglah sepuluh orang penunggang kuda lalu dengan kejamnya menginjak-injak tubuh Hadhrat Imam Husain r.a dengan kaki kuda mereka, sehingga dada dan punggung jasad beliau ra menjadi remuk-redam dan pecah-belah.

KEKEJIAN LAIN YANG DIALAMI
Tembakan anak panah : Dalam pertempuran itu Hadhrat Imam Husain ra terlukai tembakan anak panah sejumlah 45 buah banyaknya pada tubuh beliau. 
Tusukan Tombak : Riwayat lain menyebutkan tubuh beliau terkena 33 buah tusukan tombak dan 
Bacokan pedang : sebanyak 47 buah luka terkena bacokan pedang, disamping luka-luka terkena anak panah. 
Pemenggalan kepala : Kekejaman yang paling biadab lagi ialah kepala Hadhrat Imam Husain ra dipenggal dipisahkan dari tubuhnya lalu dikirim kepada Ubaidullah Bin Ziyad, Gubernur Kufah. Keesokan harinya kepala Hadhrat Imam Husain ra itu dipancangkan oleh Gubernur itu diatas tanah kota Kufah. Setelah itu kepala Hadhrat Imam Husain ra dikirim kepada Yazid melalui Zahr Bin Qais.[13]
Demikianlah kekejaman yang dilakukan terhadap jenazah Hadhrat Imam Husain ra setelah disyahidkan. Perlakuan zalim apa lagi yang dapat dilakukan lebih kejam dari itu? Jenazah beliau tergeletak tanpa kepala. Penghinaan sangat kejam terhadap jenazah seperti itu barangkali hanya musuh yang paling jahat akan melakukannya, bukan orang yang telah mengucapkan dua Kalimah Syahadah dan mengaku telah beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw, yang telah memberi nasehat dengan tegas untuk menegakkan kehormatan manusia dan dengan tegas melarang perbuatan kejam seperti itu.

ALASAN IMAM HUSEIN TIDAK BAIAT

Sesungguhnya perbuatan kejam itu dilakukan oleh orang-orang gila duniawi dan mereka telah melakukan pelanggaran-pelanggaran di luar batas demi meraih maksud dan tujuan pribadi mereka, sedikitpun tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan agama. 
Hadhrat Imam Husain ra menganggap bahwa mereka telah bergelimang dalam kecintaan terhadap duniawi secara berlebihan, itulah sebabnya beliau menolak untuk baiat di tangan Yazid. Hadhrat Masih Mau’ud as di satu tempat bersabda, “Hadhrat Imam Husain ra tidak suka baiat di tangan orang yang fasik dan pendosa sebab dengan itu iman akan menjadi rusak.” [14] Beliau as bersabda, “Baiat kepada Yazid peleed (Yazid an-najis, Yazid najis, Yazid orang kotor) sudah dilakukan oleh banyak orang secara ijma’, tetapi Imam Husain ra dan Jemaat beliau tidak menerima ijma’ semacam itu dan tetap memisahkan diri.”[15]
Tapi meskipun tidak melakukan baiat, Hadhrat Imam Husain ra berusaha untuk perdamaian. Namun demikian, ketika beliau melihat gejala akan terjadi pertumpahan darah diantara orang-orang Muslim, maka orang-orang yang setia kepada beliau diminta segera pulang. Beliau berkata, “Kalian semua yang bisa pergi, tinggalkanlah saya dan pergilah!” Kini, keadaan-keadaannya adalah demikian. Beberapa orang [bukan keluarga yang] tetap tinggal bersama beliau ialah sekitar 30-40 orang dan mereka bersikukuh [tidak mau pergi meninggalkan beliau], itu selain orang-orang yang termasuk dari keluarga beliau.
Kemudian beliau menyampaikan kepada perwakilan Yazid, “Saya tidak ingin terjadi perang. Biarkanlah saya pulang untuk melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala. Atau biarkanlah saya pergi ke sebuah perbatasan supaya mendapat kesempatan syahid demi mempertahankan Islam. Atau bawalah saya dan pertemukanlah dengan Yazid supaya dapat saya jelaskan langsung kepadanya apa perkara yang sesungguhnya.” Tetapi para wakil [Yazid] itu tidak menerima permintaan tersebut. [16]
Akhirnya Imam Husain mulai diserang dan ketika peperangan mulai pecah, beliau tidak menemukan jalan lain kecuali beliau terjun ke medan perang sebagai pahlawan yang gagah berani menghadapi penyerangan musuh. Sungguh! Mereka dengan jumlah yang sedikit seperti telah saya sampaikan, semuanya kira-kira hanya 70-72 orang saja melawan pasukan yang sangat besar. Bagaimana mungkin [pasukan kecil] ini dapat melawan mereka? Sesungguhnya mereka (Hadhrat Imam Husain ra beserta para pengikut beliau) – sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah jelaskan – berkorban jiwa untuk tujuan yang benar dan satu demi satu pun menjadi syahid.

TERKABULNYA DO’A HZ. HUSEIN ra.

Allah Ta’ala memiliki cara-Nya sendiri untuk membalas kezaliman mereka sebagaimana Hadhrat Imam Husain ra telah bersabda, “Allah Ta’ala akan membalas untukku”, dan sesuai dengan sabda beliau ra, itu Allah Ta’ala telah membalas untuknya, Yazid memperoleh kemenangan hanya untuk sementara, tetapi sekarang adakah orang yang memanggil nama Yazid itu dengan sebutan yang baik? Jika Yazid mendapat penilaian nama baik, tentu orang-orang Muslim menggunakan nama itu untuk anak keturunan mereka. Akan tetapi sampai sekarang tidak ada orang Muslim yang memberi nama Yazid kepada anaknya. Jika ingin mengetahui tentang Yazid, Hadhrat Masih Mau’ud as menyebutnya ‘Yazid Peleed’ – “Yazid Kotor”.

KHILAFAT DAN CITA-CITA HZ.HUSEIN ra.

Hadhrat Imam Husain mempunyai suatu tujuan (cita-cita). 
Beliau tidak menginginkan kekuasaan pemerintahan. Beliau bermaksud ingin menegakkan hak (kebenaran) dan beliau pun benar-benar telah melaksanakannya. 
Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra telah menjelaskan dengan sangat baik. Beliau bersabda bahwa, “Ushuul (Peraturan, prinsip) yang Hadhrat Imam Husain ra ingin tegakkan ialah bahwa hak pemilihan Khilafat terletak di tangan ahli mulk(rakyat suatu Negara) atau sebuah Jemaat. 
Seorang bapak tidak dapat mewariskan kursi Khilafat itu kepada anaknya. Prinsip ini kini sungguh suci seperti juga di masa sebelumnya. Bahkan, dengan syahidnya Hadhrat Imam Husain ra, sistim yang benar ini semakin nampak jelas. Jadi, yang berhasil adalah Hadhrat Imam Husain ra, bukan Yazid.[17]
Kemudian perhatikanlah bagaimana Qudrat (Yang Maha Kuasa) telah menindak balas dengan cara yang lain lagi, sebuah pembalasan yang mengerikan. 

PENGAKUAN MUAWIYAH MENGENAI JABATAN KHOLIFAHNYA 

Mengenai peristiwa itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menulis dalam buku beliau ‘Khilafat Rasyidah’, “Tertulis dalam tarikh (kitab-kitab sejarah Islam), setelah kematian Yazid, anaknya Muawiyah, yang namanya sama dengan nama kakeknya, yaitu Muawiyah juga. Setelah Muawiyah bin Yazid (bin Muawiyah) ini mengambil baiat dari masyarakat, ia pulang ke rumahnya dan selama 40 hari ia tidak pernah keluar dari rumahnya. Suatu ketika ia keluar, lalu ia berdiri di mimbar dan mulai berpidato, 
‘Memang betul saya telah mengambil baiat dari kalian semua, namun bukan karena saya menganggap diri saya layak untuk mengambil baiat dari kalian. Akan tetapi dengan tujuan agar tidak timbul perpecahan diantara kalian semua. Dan dari sejak itu sampai sekarang saya tidak berhenti berpikir bahwa jika ada seseorang diantara kalian yang layak menerima baiat dari masyarakat, maka tongkat kepemimpinan ini akan saya serahkan kepadanya, dan saya akan bebas dari tanggung jawab. Namun setelah berulangkali merenungkan saya tidak melihat seorangpun yang layak dari antara kalian. Oleh sebab itu wahai saudara-saudara! Dengarlah baik-baik bahwa saya tidak layak untuk manshab (kedudukan) ini.
Selain itu, saya ingin berkata bahwa bapakku dan kakekku pun tidak layak untuk memegang tampuk pimpinan ini. Derajat bapakku jauh lebih rendah dari Imam Husain dan derajat bapaknya (kakekku) jauh lebih rendah dari derajat ayah Hasan dan Husain (Hadhrat Ali ra). Ali ra sungguh lebih berhak (lebih pantas dan tepat) menjadi Khalifah di zamannya dan sesudah itu dibandingkan dengan kakekku dan bapakku, Hasan dan Husain lebih berhak menjadi Khalifah. Oleh sebab itu saya sekarang melepaskan diri dari imarat (kepemimpinan) ini’.”[18]

PENGAKUAN YANG MENAMPAR BAPAKNYA SENDIRI

Perhatikanlah sekarang bagaimana perkataan seorang anak telah menampar muka bapak dan kakeknya sendiri. Sebabnya dia mempunyai rasa takut kepada Tuhan, sebabnya terdapat sekelumit takwa dalam hatinya. Dari seorang yang bergelimang dengan kehidupan duniawi sekarang juga dapat lahir anak keturunan yang jujur dan baik hati, melaksanakan kewajiban dengan adil seperti itu.
Akhirnya dia mengatakan, “Sekarang terpulang kepada kehendak kalian, siapapun yang hendak dijadikan pimpinan dan baiat di tangannya, lakukanlah sesuai dengan itu!” 
Ketika itu ibunya pun di belakang hijab (tirai pardah ruangan) sedang mendengarkan pidato anaknya itu. Ketika ia mendengar kata-kata yang diucapkan anaknya itu, dengan sangat marah ia berkata, “Hai anak celaka! Engkau telah memotong hidung keluarga! dan engkau telah menaburkan debu dalam seluruh kewibawaan keluarga!” [engkau telah menjatuhkan kehormatan keluarga!] Ia [Muawiyah] menjawab, “
Ibu, apa yang telah saya katakan justru itulah yang benar. Sekarang terserah, apa yang ingin ibu katakan tentang saya katakanlah sekehendak hati ibu!” Setelah itu ia segera pulang ke rumahnya dan tidak pernah keluar sampai beberapa hari kemudian meninggal dunia.

Sungguh kesaksian dahsyat bahwa terpisah dari orang-orang lain yang rela dengan Khilafat Yazid ternyata anak kandung Yazid sendiri tidak setuju dengan Khilafatnya. Anaknya itu telah mengeluarkan pernyataan demikian bukan karena serakah dengan kemewahan duniawi dan tidak pula ia berbuat demikian karena takut terhadap timbulnya permusuhan, melainkan ia mengeluarkan kebijakan itu setelah merenungkan dengan tekun dan serius keadaan dan situasi yang sebenarnya, “Ali ra lebih berhak menjadi Khalifah daripada Muawiyah, kakekku itu. Hasan dan Husain lebih berhak menjadi Khalifah daripada bapakku. Sedangkan aku sama sekali tidak sanggup memikul tanggung jawab ini.” Jadi pengangkatan Muawiyah (bin Abu Sufyan) terhadap Yazid sebagai Khalifah tidak dapat dikatakan hasil pemilihan. Adakah hal lain yang lebih besar dari kenyataan ini sebagai bukti untuk menunjukkan kehinaan seseorang, yaitu anak sendiri membuka hakikat kelemahan bapak kandungnya.

TAULADAN HZ. HUSEIN ra.

Kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran dari pengorbanan Hadhrat Imam Husain ra. 
Beliau berdiri diatas kebenaran dan menyebarkannya kepada dunia. 
Beliau telah bernazar untuk mengorbankan nyawa beliau demi menegakkan kebenaran. Kita pun dengan perantaraan doa-doa hendaknya selalu memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, agar Dia senantiasa membimbing kita kearah jalan yang lurus. 
Pada satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Hadhrat Al-Masih as telah disamakan (tasybiih) dengan Hadhrat Imam Husain ra dengan digunakannya lafaz-lafaz isti’aarah. Dari penyerupaan ini mengindikasikan bahwa Al-Masih (Al-Mahdi) yang akan datang yaitu Masih Mau’ud ini juga mendapatkan bagian persamaannya. Atas hal itu pun dari satu segi benar adanya persamaan dengan Imam Husain ra. Tetapi, pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as insya Allahtidak akan terulang lagi hal-hal seperti itu.” [19]

SEJARAH AKAN BERULANG

Inilah taqdir Ilahi bahwa peristiwa-peristiwa yang melemahkan agama Islam itu sekarang tidak akan terjadi lagi. Tetapi, kita harus banyak-banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar kita terlindung dari hal-hal itu yang akan memunculkan kerugian dalam keimanan. Telah saya katakan bahwa di zaman Masih Mau’ud as, Allah Ta’ala tidak akan mengulangi lagi peristiwa yang telah terjadi di masa lampau diantaranya Ialah :
Keberlangsungan Khilafat yang salah satu jalannya ialah juga dengan pemilihan Khalifah sesuai dengan lembaga pemilihan Khilafat. Hal demikian telah dinubuatkan oleh Hadhrat Rasulullah saw bahwa setelah Masih dan Mahdi wafat akan berdiri mata rantai [Khilafat] yang terus-menerus ada. 
Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah menjelaskan bagaimanakah jalannya bahwa peristiwa-peristiwa di masa lampau tidak akan terulang lagi? Misalnya Adam pertama telah dikeluarkan dari Jannat (surga) maka Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah Ta’ala telah memberiku nama Adam juga, supaya jalan masuknya anak keturunan Adam ke dalam Surga dipersiapkan kembali.”
Selanjutnya beliau as bersabda, “Al-Masih yang dulu telah disalib oleh orang-orang Yahudi. Namun dengan diberinya aku nama Al-Masih, Allah Ta’ala menyediakan sarana bagiku untuk mematahkan Salib. Demikianlah, Allah Ta’ala membalas  kekalahan di waktu lampau dengan kemenangan dan kejayaan di masa yang kedua kalinya ini.” [20]
ika Husain pertama telah disyahidkan oleh Yazid karena mengatakan haq(kebenaran), maka melalui Husain kedua, Allah Ta’ala akan mengalahkan lasykar Yazid, insya Allah! Maka, kita tegak dengan keimanan akan hal ini. 


BANYAK SHALAWAT DI BULAN MUHARRAM

Jadi, jika bulan Muharram memberi pelajaran kepada kita, maka kita haruslah senantiasa mengirim shalawat dan salam kepada Hadhrat Rasulullah saw dan kepada aal(keluarga) beliau saw. 
Sesuai dengan nasehat Hadhrat Imam Zaman, kita harus banyak-banyak membaca shalawat dan salam, memanjatkan doa-doa dan mengadakan perubahan suci dalam diri kita masing-masing serta memperbaiki kelakuan kita.
Kita harus menunjukkan keteguhan iman, kesabaran dan ketabahan menghadapi orang-orang yang mempunyai sifat seperti Yazid. Kita yakin, sekarang Yazidi(orang-orang bertabiat Yazid) tidak akan meraih keberhasilan, melainkan Husaini(orang-orang yang bertabiat Husain) lah yang akan mendapat kemenangan. 
Taufik keteguhan dan ketetapan hati juga dapat diperoleh hanya melalui pertolongan Allah Ta’ala dan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala telah memberi petunjuk agar kita banyak bersabar dan memanjatkan doa.
Sabar bukan hanya berarti menahan kezaliman dan bukan bersikap diam lalu tetap duduk-duduk saja, melainkan dengan tetap mengamalkan kebaikan dan menyatakan hal-hal yang benar tanpa rasa takut dan tanpa khawatir dengan resiko, ini disebut sabar juga. 
Jadi, Hadhrat Imam Husain ra telah menegakkan contoh teladan di hadapan kita bagaimana menyatakan kebenaran sehingga kita harus berpegang kepadanya setiap waktu. Jika kita tetap dalam keadaan demikian maka kita akan mendapat bagian dari kemenangan yang telah dijanjikan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Insya Allah.

MANFAAT SHALAWAT

Demi terkabulnya doa-doa, membaca shalawat adalah sangat penting. Hadhrat Masih Mau’ud as juga mengingatkan kearah itu. Banyak sekali Hadis-hadis juga menegaskan kearah itu, dan yang paling jelas lagi dalam Alquranul Karim Allah Ta’ala telah menegaskan untuk banyak membaca shalawat itu. Sebab itu kita semua setiap waktu harus selalu ingat membaca shalawat dan khususnya di bulan ini menaruh perhatian kearah itu sebagaimana sebelumnya Hadhrat Khalifatul Masih lV rh juga pernah menganjurkannya secara khusus, maka, saya ingin mengulangi lagi anjuran beliau itu bahwa di bulan ini banyak-banyaklah membaca shalawat. 
Hal itu menjadi sarana yang sangat baik untuk menimbulkan perasaan dan kesan tentang peristiwa Karbala, untuk memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala demi menghapuskan kezaliman-kezaliman.
Shalawat yang dikirimkan kepada Hadhrat Rasulullah saw menjadi sarana untuk menjadi ketenangan dan ketenteraman anak keturunan jasmaniah dan rohaniah beliau saw. Pemandangan kemajuan-kemajuan juga akan nampak kepada kita, dan hal itu menjadi salah satu jalan terbaik untuk menampakkan kecintaan kepada orang-orang yang telah menjadi kecintaan dan kesayangan Hadhrat Rasulullah saw juga.
Shalawat ini juga membawa berkat dalam pelaksanaan tujuan dibangkitkannya Hadhrat Masih Mau’ud as pada zaman sekarang ini, insya Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk membaca shalawat, sebanyak-banyaknya membaca shalawat khususnya pada hari-hari ini, dan shalawat ini akan menjadi keberkatan bagi pribadi kita juga.

MAQAM (DERAJAT) IMAM HUSEIN ra.

Pada akhirnya saya akan membacakan kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai Hadhrat Imam Husain ra, mengenai maqam (kedudukan) Hadhrat Imam Husain ra yang setiap orang Ahmadi harus selalu menaruh perhatian penuh kepadanya bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as memberi penjelasan tentang kedudukan Hadhrat Imam Husain ra itu. Seseorang menyampaikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ada orang Ahmadi yang dengan salah menyebut-nyebut mengenai kedudukan dan kehormatan Hadhrat Imam Husain. Maka atas hal itu, beliau as bersabda, 
“Telah disampaikan kepada saya, sebagian orang tuna ilmu (naadaan admi) yang menganggap diri mereka anggota Jemaatku dengan mulut mereka sendiri menyebut-nyebut na’udzubillah, ‘Hadhrat Imam Husain ra pemberontak karena tidak baiat kepada Khalifah-e-Waqt, Yazid, sedangkan Yazid ada di pihak yang benar.’ La’natullahi ‘alal kaadzibiin – ‘Laknat Allah atas para pendusta. Saya tidak mengharapkan, kata-kata buruk seperti itu keluar dari mulut orang-orang lurus dari Jemaat saya…Namun, melalui isytihar (selebaran) ini saya memberitahukan kepada para anggota Jemaat bahwa kita beritikad Yazid adalah seorang bertabiat kotor, ulat dunia, zalim dan pada dirinya tidak ada tanda-tanda bagi seseorang yang dapat dikatakan mu’min (beriman). Untuk menjadi orang mu’min bukanlah perkara mudah. Mengenai orang seperti itu Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang Arab gurun berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum sungguh-sungguh beriman; akan tetapi hendaknya kamu berkata, ‘Kami telah tunduk patuh’; karena iman sejati belum masuk ke dalam kalbu kamu.’” (Al-Hujarat 49:15)
Orang mu’min adalah mereka yang amal perbuatan mereka memberi kesaksian bahwa di dalam hatinya ada tertulis iman, dan ia mendahulukan kepentingan Allah Ta’ala dan keridhaan-Nya diatas setiap kepentingan pribadinya, dan ia berusaha melangkahkan kakinya diatas jalan takwa kendati pun susah dan sempit demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, dan ia terbenam dalam lautan kecintaan-Nya, dan ia singkirkan sejauh-jauhnya setiap benda seperti patung berhala yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Tuhan, apakah berupa keadaan akhlak, ataupun perbuatan fasik, atau kemalasan dan kelalaian. Tetapi, Yazid yang malang itu bagaimana dapat memperolehnya. Kecintaan terhadap dunia telah membutakannya.
Namun, Imam Husain ra adalah thahir dan muthahhar (suci dan tersucikan) dan tanpa ragu beliau adalah salah seorang manusia terpilih yang Tuhan sendiri telah menyucikannya melalui tangan-Nya, dan Dia telah menjadikannya hamba pilihan-Nya yang Dia cintai, dan tanpa ragu beliau salah seorang pemimpin ahli surga, dan jika satu dzarrah (sangat sedikit) saja menyimpan rasa benci dalam hati kepadanya akan mengakibatkan hilangnya iman.
Ketakwaan, kecintaan kepada Tuhan, kesabaran, istiqamah (teguh pendirian) dan zuhd (kesederhanaan), serta ibadah dari Sang Imam ini bagi kita merupakan uswah hasanah (teladan yang baik), dan kita adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk yang diterima Imam ma’shum (suci terjaga dari dosa) ini. 
Rusaklah hati orang yang menjadi musuhnya dan berjayalah hati yang menaruh kecintaan kepadanya serta menampakkannya dalam corak amal perbuatan. Iman beliau, akhlak beliau, keberanian beliau, ketakwaan dan istiqamah beliau serta kecintaan beliau kepada Tuhan; gambaran semuanya itu telah terlukis secara sempurna dalam diri beliau, laksana bayangan seorang yang tampan atau cantik terlihat di sebuah cermin yang jernih.
Orang ini tersembunyi dari mata dunia. Siapa yang dapat mengetahui martabat orang ini, selain mereka yang daripadanya. Mata orang dunia tidak akan dapat mengenalnya sebab beliau sangat jauh dari dunia. Itulah yang menyebabkan kesyahidan Husain ra sebab beliau tidak dikenal. Dunia pada zamannya telah menyintai orang-orang suci dan saleh sehingga kepada Husain ra pun dicintai juga. 
Ringkasnya, merendahkan Husain ialah perkara yang membuat seseorang masuk kedalam tingkat yang sangat dari kemalangan dan ketiadaan iman, dan barangsiapa yang menghina Husain ra atau siapa pun wali yang termasuk dari a-immah (para imam) yang muthahharin (tersucikan) atau sekalipun secara halus menggunakan kata-katanya maka ia menyia-nyiakan imannya.
Sebab, Allah Yang Gagah Perkasa menjadi musuh orang-orang seperti itu, yang memusuhi hamba pilihan dan orang-orang yang dicintai-Nya. Siapa yang mengatakan hal-hal buruk kepada saya atau melaknat dan mengutuk, bahkan, sungguh, penggunaan kata-kata buruk kepada siapa pun dari antara orang suci dan dicintai Tuhan, adalah maksiat besar. Memaafkan dan berdoa adalah lebih baik dalam menanggapi musuh yang bodoh seperti itu karena bila orang itu mengetahui saya itu dari Siapa maka ia tidak akan mengatakan kata-kata buruk.”[21]

DO’A

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi taufik kepada kita untuk menyintai Hadhrat Nabi saw dan aal (keluarga) beliau. Semoga Dia memberi taufik kepada kita untuk selalu mengirim salam dan shalawat kepada beliau saw. Kita juga harus berdoa.... 
semoga Allah Ta’ala melenyapkan semua penganiayaan dan kekejaman yang dilakukan dengan mengatasnamakan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di Pakistan dan di beberapa Negara lainnya, dan khususnya di bulan [Muharram] ini di Pakistan dan juga di beberapa tempat di dunia, kerusakan yang kerap terjadi diantara orang-orang Syiah dan Sunni dan golongan lainnya, saling membunuh satu sama lain, saling merusak, saling menyerang satu dengan yang lain guna menimbulkan ketakutan dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan, semoga Allah Ta’ala melindungi mereka juga.
Semoga bulan ini menjadi bulan yang aman bagi semua negeri Muslim dan semua orang Muslim sehingga terbukti menjadi bulan yang penuh kebaikan.
Semoga mereka betul-betul memahami tujuan kesyahidan Hadhrat Imam Husain ra dan mereka juga menjadi orang-orang yang beriman kepada Imam di zaman sekarang ini. (Pwt, 18/10/2018).


Postingan populer dari blog ini

MANA YANG AKAN DIIKUTI SYARIAT ATAU ADAT

SIAPAKAH BIDADARI YANG HAKIKI?

WUJUDKAN PERDAMAIAN DI DUNIA ISLAM