PENGABDIAN TAK KENAL LELAH(By. Ida Syamsiah NA)
PENGABDIAN TAK KENAL LELAH(Kisah Insfiratif “Nek Masitoh” sesepuh LI cabang Jemaat Bunikasih-Cianjur)
Oleh : Ida Syamsiah NA
A. Profil Nek Masitoh
“Nek Masitoh”.Beliau adalah salah satu sesepuh LI yang kini sudah berusia 97 tahun tepatnya lahir di kampung bunikasih-Cianjur tanggal 21 Desember 1920, namun semangat penghidmatan dalam Jemaat masih tetap berkobar, terbukti dengan masih aktifnya beliau menjadi pengurus Talim-Tarbiyat cabang Bunikasih sampai sekarang. Beliau juga seorang pensiunan veteran yang konon menurut penuturannya, beliau bersama suaminya (masa belum baiat) ikut berjuang membantu tentara Nasional Indonesia Jawa Barat yang sedang bertugas di Gunung Gede dalam rangka menumpas para pemberontak DI-TII yang bersembunyi di hutan Gunung Gede. Rumah beliau yang terletak di kaki Gunung Gede pada saat itu dijadikan dapur umum-logistik perbekalan TNI. Dan salah satu pengorbanan yang terbesar dalam pengabdiannya kepada Negara yakni suami tercinta beliau di syahidkan oleh para pemberontak dengan cara ditembak dan dibakar di dalam rumahnya sendiri pada tahun 1950. Semoga Almarhum H Sulaeman ditempatkan di maqom syahid karena turut berjuang membela Negara dari para pemberontak DI-TII, Amin Allahumma Amin.
B. Tanggung Jawab pada Keluarga
Pasca ditinggal suami tercinta tidak ada harta benda yang tertinggal, semuanya habis terbakar, kecuali beberapa petak sawah. Untuk menghidupi 4 anak yatim, yang kemudian hari semuanya menjadi pengurus LI dan satu orang menjadi Muballigh (Mln. Asep Misbah), beliau bekerja keras tanpa lelah, doa dan tawakal menjadi spiritnya . Demi mempertahankan hidup ke-4 anaknya selain mengolah sawah sendiri, terkadang beliau menjadi buruh tani (dibuwat)-memotong padi milik orang lain, dan menjadi buruh penjahit bordir, ada juga derma (pamura-pamere, sunda) dari sebagian masyarakat yang empati terhadap beliau dan anak-anaknya.
(Bersama ketiga putrinya yang sekarang menjadi Pengurus LI Bunikasih)
Yang patut diteladani dari beliau adalah dalam memegang teguh amanah, sesulit apapun dalam membesarkan ke 4 anaknya, tidak sampai menjual harta peninggalan suaminya, karena menurut beliau sawah itu merupakan (dadasar hirup, Sunda)-bekal hidup demi masa depan anak-anaknya dimasa yang akan datang.
C. Latar Belakang Baiat
Dari sejak kecil beliau sering mendengar cerita yang biasa disampaikan oleh para Ajengan (Ustadz) kampung, bahwa nanti di akhir jaman akan datang ratu adil Imam Mahdi. Pesan ini pun disampaikan oleh ibunya Nek Masitoh, Uyut Urias.
Uyut Urias, tanda-tanda kedatangan ratu adil ditataran Sunda, menurut beliau sebagai berikut :
” engke mah diakhir jaman mun ngagorolongkeun endog ku halu ti masrik nepi ka maghrib moal peuepeus. Artinya "nanti diakhir jaman, kalau mengelindingkan telur pakai Alu (penumbuk padi) dari masrik(timur) sampai ke magrib(barat) tidak akan pecah, masksudnya (karena diangkut pakai truk dan mobil, perkembangan teknologi transportasi).
Engke mah ramat lancah bakal pasolengkrah di tengah kota. Nanti banyak sarang laba-laba ditengah kota (banyak kabel listrik, telepon dan antena parabola. Perkembangan telekomunikasi)
Loba awewe kawas lalaki, lalaki kawas awewe, (banyak perempuan menyerupai laki-laki dan sebaliknya laki-laki menyerupai perempuan, penyimpangan prilaku)
Nu benghar kuli nutu ka nu teu boga. Artinya, “ yang kaya akan menjadi tukang giling padi dari orang miskin-biasa (banyak pabrik heler/penggilingan padi)”,
Pulau jawa bakal dikongkorongan ku beusi, Artinya’ : “Pulau jawa akan dikalungi/dikelilingi oleh besi”. Maksudnya, Pulau Jawa akan dilalui oleh rel kereta api. Ternyata semua cacanderan (Petuah kuno yang mengandung ramalan) ini sudah banyak terbukti.
Pada tahun 1980-an Gunung Galunggung meletus, dampak letusanya terasa sampai di kampung Bunikasih, hujan abu dan langit tertutup awan hitam sehingga sinar matahari tidak terlihat. Seorang Ajengan kampung bernama Ustz. Dili dalam ceramahnya menyampaikan bahwa nanti diakhir jaman akan datang dajal ke dunia, sbb. :
"Engke di akhir zaman bakal turun dajjal ka dunya mamawa roti jeung ragaji. Sing saha nu milu ka dajjal bakal dibere roti, lamun teu milu bakal diragaji". Artinya, Nanti di akhir zaman akan turun dajjal ke dunia sambil membawa roti dan gergaji ". Maksudnya, nanti banyak pemimpin yang banyak mengimingib duniawi demi ketenarannya, kalau gak ikut kemauannya akan diboikot.
Ajengan Dili juga mengatakan, "Engke seueur jalmi nu saroleh ngantunkeun ti payun, tah eta teh waktuna Imam Mahdi lungsur pikeun ngalawan dajjal". Artinya : "Nanti banyak orang-orang Soleh meninggal duluan, nah itulah saatnya Imam Mahdi turun untuk melawan dajjal".
Ajengan Dili menggambarkan Dajal : Tantungngana Jujul ka langit (tinggi besarnya menembus langit) , dilaut samet mumuncangan (di lautan kalau berdiri, sebatas mata kaki), panon na pecak sabelah (matanya pecak/buta sebelah), ceulina lebar, (daun telinganya lebar karena bisa mendengar dari kejauhan). Nah !, kuayana gunung galunggung meletus oge, ieu ciciren geus akhir zaman. Urang kudu loba ibadah jeung ngaji- artinya: "nah dengan meletusnya gunung galunggung, ini menandakan sudah akhir zaman, kita harus banyak ibadah dan mengaji-.
sebagai catatan : Ajeungan Dili seorang sosok yang ditokohkan dan disegani di Kampung Bunikasih Kec. Warung kondang. Beliau dan keluarganya sangat baik terhadap Jemaat. Dan beliau tidak termasuk Ajeungan yang suka menjelekan Jemaat. Semoga anak keturunan bisa menerima kebenaran Imam Mahdi as. Aamiin
Mimpi pembuka Bai’at : Selain hal diatas yang membuat Nek Masitoh mantap untuk baiat adalah peristiwa mimpi yang beliau alami. Beliau menuturkan, "dalam mimpinya beliau melihat peristiwa banjir bandang (luapan air bahnya sangat dahsyat dan airnya bergolak). Tiba-tiba muncul sebuah menara tinggi ditengah-tengah luapan air tersebut, beliau berusaha menyelamatkan diri dan naik ke menara itu meskipun agak goyang. Sesampainya diatas menara, beliau melihat suatu tempat yang sangat luas, tak berujung sejauh mata memandang, kawasan itu berwarna putih lalu berubah berwarna kuning keemasan, sangat indah sekali sehingga seakan-akan beliau mau pingsan melihatnya".
Awalnya nenek masitoh tidak faham apa maksud semuanya itu, namun setelah mendapat penjelasan dari anak-anaknya yang sudah baiat, salah satunya Mln. Asep Misbah, baru beliau faham dan itu merupakan petunjuk dari Allah Taala agar segera bergambung dan berbaiat ke dalam bahtera Imam Mahdi as. alias ratu adil, karena menara putih salah satu tanda kebenaran Imam Mahdi as. Maka sesuai pesanan ibunda beliau tercinta, Uyut Uria, dalam Cacanderan, akhirnya beliau Baiat pada tahun 1983/1984-an., Alhamdulillah.
D. Penentangan pasca bai’at
Nek Itoh panggilan akrabnya, baiat ke dalam Jemaat ditangan bapak ketua Jemaat Cianjur pada masa itu (Ahmad Rosidi alm) , dan Alhamdulillah sudah berwasyiat dengan nomor Musiah 51822, juga tercatat sebagai anggota calon donor mata, semoga niat baik beliau dikabulkan dan diterima oleh Allah SWT, Aamiin.
Penentangan dari tokoh PSII,
Dengan ba’atnya beliau ke Jemaat Ahmadiyah tentu saja menggemparkan kampung Bunikasih, karena beliau adalah salah satu tokoh PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) yang notabenenya memang selama ini anti terhadap Jemaat. Mengetahui berita tersebut, tokoh-tokoh PSII berusaha memprovokasi masyarakat dengan isu bahwa nek itoh masuk aliran sesat , dan harus diselamatkan. Namun walaupun mendapat penentangan dari keluarga, teman sejawat, dan tokoh masyarakat Bunikasih, beliau tetap istiqomah memegang teguh janji baiat, ”dalam keadaan susah dan senang tetap setia kepada Allah Taala”, maju terus pantang mundur untuk mempertahankan keimanan terhadap Imam Zaman bersama 4 anak-anaknya, dan Ahmadi lainnya.
Penentangan, pemboikotan semakin meningkat, dikucilkan dari pergaulan masyarakat dialami, tetapi beliau terima dengan ikhlas. Cemoohan, caci maki, sindiran pedas, dan memalingkan muka sambil meludah serta tatapan sinis dari orang-orang yang antipati, beliau hadapi dengan sabar dan doa.
Agitasi di Pengajian Reboan
Dalam Pengajian rutin yang dilaksanakan seminggu sekali (Reboan), ceramah yang disampaikan oleh ustad setempat selalu berisi provokasi, caci maki , hinaan, serta fitnah keji terhadap Hz Masih Mauud as., yang membuat kuping panas dan hati bergejolak. Karena ghairat kecintaan kepada Hazrat Masih Mauud as. dan Jemaat-Nya, beliau tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh penceramah itu. Sebagai manusia biasa beliau terkadang merasa tidak sanggup untuk mendengarnya, dengan perasaan gelisah sengaja pergi pagi-pagi ke kebun-sawah sengaja menghindar untuk beberapa saat duduk dipematang sawah atau sengaja pergi ke kebun yang berada diluar kampung, sampai acara pengajian selesai. Nek Itoh hatinya hancur luluh dan hanya bisa bersedih dan berlinang air mata mendengar junjungannya yang mulia, Hz. Masih Mau’ud as, diperlakukan tidak senonoh, tidak sopan oleh para ajeungan, sementara beliau sendiri tidak bisa berbuat banyak. Langkah akhirnya beliau, menghindar dari majelis tersebut. Hal ini beliau lakukan berulang-ulang. Bila tiba hari Rabu beliau gelisah dan berdoa dengan penuh harap, semoga pengajian di Masjid hari ini ceramahnya menyejukan.
Puncak Penentangan,
Pembelaan Nek Masitoh, Penentangan yang pertama terhadapa Ahmadiyah Bunikasih puncaknya terjadi pada tahun 1983, setahun sebelum Nek Itoh Bai’at (1984). Dan Penentangan yang kedua terjadi pada tahun 1987, tiga tahun setelah Nek Itoh Bai’at, dimana warga Ahmadi sempat diusir termasuk beliau, dan hijrah Ke Cianjur kota. Saat itu di malam hari, terjadi penyerangan dari masa sekitar (5Kampung) terhadap rumah anak menantu Nek Itoh di kampung Bojong, rumah dirusak dan dilempari batu dan dilempari obor yang menyala diiringi teriakan dan caci maki dari masa yang sudah tersulut amarah, “Qadiani murtad…….kafir……sesat…..paehan……. duruk imahna...dan kata-kata kotor(sebutan binatang) yang membuat bulu kuduk merinding mendengarnya……!!!.. Itulah sebagian agitasi yang dilontarkan, Na'udzubillahi min dzaalik. Tiba-tiba dengan penuh keberanian nenek Masitoh, untuk membela anak menantunya, keluar rumah menerobos kerumunan masa hendak mencari bantuan ke aparat desa Bunikasih. degan berjalan kaki sejauh 1.5 KM. Saat keluar rumah, Beliau sempat dipukuli dan dicaci maki , namun anehnya beliau tidak merasakan sakit saat dipukuli, dan tetap melanjutkan langkahnya menembus kegelapan malam untuk mencari bantuan, sempet ada yang mengejar namun karena langkahnya cepat sekali beliau tidak terkejar, padahal jalan yang dilalui terjal dan licin karena melalui pematang sawah dan akhirnya sampai di rumah keponakannya Pa Mumuh (Sekdes Bunikasih). Beliau melaporkan insiden penyerangan oleh masa di kampung Bojong. Pada malam itu juga aparat Desa turun ke kampung Bojong.
Hijrah ke Cianjur, pada tahun 1987 terjadi insiden yang kedua. Karena keadaan tidak kondusif warga Ahmadi sempat hijrah(mengungsi) ke Cianjur kota dan ditampung dirumah pa Ketua Jemaat Cianjur (Ahmad Rasyidi alm), termasuk nek Masitoh kurang lebih 3 bulan. Sementara itu Pengurus Jemaat Cianjur Kota mengadakan komunikasi dan koordinasi dengan Pak Asep dari Kodim untuk melakukan usaha rekonsiliasi antara Warga Ahmadi Bunikasih dengan beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama di kampung Bunikasih. Selama ini, pengurus Jemaat Cianjur kota sudah menjalin hubungan baik dengan pa Asep dari Kodim. Setelah 3 bulan dipengungsian, atas perintah bapak camat Warung kondang , akhirnya keluarga nek Masitoh dijemput oleh pa Sekdes (Pa Mumuh) untuk kembali pulang ke kampung, kecuali keluarga bapak Bibing (Ayah Penulis, Peny.), menetap di Pamoyanan-Cianjur selama 11 tahun karena rumahnya rusak parah tidak bisa dihuni lagi.
Surat perjanjian damai yang ditanda tangani oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama merupakan tonggak awal terjadinya rekonsiliasi antara warga Ahmadi dengan masyarakat, Sejak itu kehidupan warga Ahmadi termasuk nek Masitoh pelan-pelan kembali normal.
E. Beberapa peristiwa keajaiban yang menggugah keimanan
Dengan baiatnya keluarga besar nek Masitoh , maka badai penentangan mulai merebak, dan pada saat itulah Allah Taala memperlihatkan keberfihakannya kepada Jemaat, dengan terjadi angin puting beliung yang sangat dahsyat,suasana pagi yang sejuk berubah menjadi suasana yang mencekam, kampung Bunikasih luluh lantak, banyak pohon tumbang,rumah warga banyak rusak terkena reruntuhan serta genting-gentingya pada pecah, termasuk salah satu provokator(tetangga depan rumah) yang selama ini membenci dan anti kepada Jemaat, rumahnya rusak parah karena tertimpa pohon nangka yang tumbang.
Sedangkan rumah nek masitoh (pada saat itu masih panggung) tidak apa-apa, sehingga membuat orang sekitar heran dan bingung dengan kejadian ini, namun bagi nek Masitoh kejadian ini menambah keyakinan bahwa wahyu yang diterima Hz masih Mauud a.s benar adanya, Inni Muhiinun man arooda ihaanataka wa Inni Mu’iinun man arooda I’aanataka - "Sesungguhnya Aku akan menghinakan orang yang menghina engkau dan sesungguhnya Aku akan menolong orang yang menolong engkau”. Dengan Wahyu ini terbukti murid-murid Imam Mahdi as. diselamatkan dari malapetaka yang dahsyat tersebut. Bapak Bibing pernah bercerita, "ada seorang pemimpin penyerangan mengalami sakit yang berkepanjangan. Perutnya buncit, menimbulkan bau bangkai-padahal masih hidup- dan keluarganya sudah meninggalkan, karena tidak sanggup untuk merawat. Pak Bibing masih sering mengunjungi dengan membawa beberapa liter beras. Detik-detik menuju ajalnya, dia sempat mengatakan dan berpesan, "Pak Bibing pertahankeun, ajaran nu diiluan ku maneh teh bener". Artinya, "Pak Bibing pertahankan, ajaran yang diikuti oleh anda itu benar". Beberapa hari kemudian, dia meninggal.
Terjadi hujan besar, sehingga banjir melanda kampung Bunikasih, dan menghanyutkan ikan-ikan dikolam warga, namun anehnya kolam punya nek Masitoh ikanya tidak ada yang hanyut malah kolam itu penuh dengan ikan yang entah dari mana datangnya, itupun membuat heran dan bingung tetangga sekitar, ada apa gerangan ini…..???.
Terjadi serangan hama wereng dan hama burung melanda sawah milik warga kampung Bojong sehingga puso dan gagal panen, namun tidak demikian dengan sawah milik orang Ahmadi termasuk punya nek Masitoh, panennya bagus dan berhasil sehingga pada saat itu katelah/dijuluki, “Pare Ahmadiyah”.
Itulah sekilas kisah Nek masitoh, beliau bukan hanya sesepuh LI namun menjadi sesepuh di Kampung Bunikasih, semangat penghidmatannya luar biasa, dalam setiap kegiatan Jemaat beliau selalu berusaha untuk hadir, padahal jarak tempuh dari rumah beliau yang ada di kampung Bunikasih menuju masjid yang ada di kampung bojong kl 1.5 Km (PP. 3 KM), beliau tempuh dengan jalan kaki dan melalui pematang sawah, semata-mata karena ghairat kecintaan yang tinggi kepada Jemaat .
Semoga kisah ini menjadi insfirasi bagi kita semua bahwa faktor usia tidak menjadi penghalang dalam menghidmati Jemaat, tetap semangat dan ita'at kepada Nizam Khilafat.
"Dalam keitaatan ada keberkatan yang luar biasa bagi kita dan anak keturunan sampai masa yang akan datang", itulah salah satu pesan beliau. Wassalamu'alaikum. Wr.wb. (Pwt, 26/12/2017).
(Anak keturunan Nek Masitoh) (Pengcab bunikasih & Ketda Jabar 4) ( Bersama ibu Bupati Cianjur).
PENGABDIAN TAK KENAL LELAH(Kisah Insfiratif “Nek Masitoh” sesepuh LI cabang Bunikasih-Cianjur)
Oleh : Ida Syamsiah NA
A. Profil Nek Masitoh
“Nek Masitoh”.Beliau adalah salah satu sesepuh LI yang kini sudah berusia 97 tahun tepatnya lahir di kampung bunikasih-Cianjur tanggal 21 Desember 1920, namun semangat penghidmatan dalam Jemaat masih tetap berkobar, terbukti dengan masih aktifnya beliau menjadi pengurus Talim-Tarbiyat cabang Bunikasih sampai sekarang. Beliau juga seorang pensiunan veteran yang konon menurut penuturannya, beliau bersama suaminya (masa belum baiat) ikut berjuang membantu tentara Nasional Indonesia Jawa Barat yang sedang bertugas di Gunung Gede dalam rangka menumpas para pemberontak DI-TII yang bersembunyi di hutan Gunung Gede. Rumah beliau yang terletak di kaki Gunung Gede pada saat itu dijadikan dapur umum-logistik perbekalan TNI. Dan salah satu pengorbanan yang terbesar dalam pengabdiannya kepada Negara yakni suami tercinta beliau di syahidkan oleh para pemberontak dengan cara ditembak dan dibakar di dalam rumahnya sendiri pada tahun 1950. Semoga Almarhum H Sulaeman ditempatkan di maqom syahid karena turut berjuang membela Negara dari para pemberontak DI-TII, Amin Allahumma Amin.
B. Tanggung Jawab pada Keluarga
Pasca ditinggal suami tercinta tidak ada harta benda yang tertinggal, semuanya habis terbakar, kecuali beberapa petak sawah. Untuk menghidupi 4 anak yatim, yang kemudian hari semuanya menjadi pengurus LI dan satu orang menjadi Muballigh (Mln. Asep Misbah), beliau bekerja keras tanpa lelah, doa dan tawakal menjadi spiritnya . Demi mempertahankan hidup ke-4 anaknya selain mengolah sawah sendiri, terkadang beliau menjadi buruh tani (dibuwat)-memotong padi milik orang lain, dan menjadi buruh penjahit bordir, ada juga derma (pamura-pamere, sunda) dari sebagian masyarakat yang empati terhadap beliau dan anak-anaknya.
(Bersama ketiga putrinya yang sekarang menjadi Pengurus LI Bunikasih)
Yang patut diteladani dari beliau adalah dalam memegang teguh amanah, sesulit apapun dalam membesarkan ke 4 anaknya, tidak sampai menjual harta peninggalan suaminya, karena menurut beliau sawah itu merupakan (dadasar hirup, Sunda)-bekal hidup demi masa depan anak-anaknya dimasa yang akan datang.
C. Latar Belakang Baiat
Dari sejak kecil beliau sering mendengar cerita yang biasa disampaikan oleh para Ajengan (Ustadz) kampung, bahwa nanti di akhir jaman akan datang ratu adil Imam Mahdi. Pesan ini pun disampaikan oleh ibunya Nek Masitoh, Uyut Urias.
Uyut Urias, tanda-tanda kedatangan ratu adil ditataran Sunda, menurut beliau sebagai berikut :
” engke mah diakhir jaman mun ngagorolongkeun endog ku halu ti masrik nepi ka maghrib moal peuepeus. Artinya "nanti diakhir jaman, kalau mengelindingkan telur pakai Alu (penumbuk padi) dari masrik(timur) sampai ke magrib(barat) tidak akan pecah, masksudnya (karena diangkut pakai truk dan mobil, perkembangan teknologi transportasi).
Engke mah ramat lancah bakal pasolengkrah di tengah kota. Nanti banyak sarang laba-laba ditengah kota (banyak kabel listrik, telepon dan antena parabola. Perkembangan telekomunikasi)
Loba awewe kawas lalaki, lalaki kawas awewe, (banyak perempuan menyerupai laki-laki dan sebaliknya laki-laki menyerupai perempuan, penyimpangan prilaku)
Nu benghar kuli nutu ka nu teu boga. Artinya, “ yang kaya akan menjadi tukang giling padi dari orang miskin-biasa (banyak pabrik heler/penggilingan padi)”,
Pulau jawa bakal dikongkorongan ku beusi, Artinya’ : “Pulau jawa akan dikalungi/dikelilingi oleh besi”. Maksudnya, Pulau Jawa akan dilalui oleh rel kereta api. Ternyata semua cacanderan (Petuah kuno yang mengandung ramalan) ini sudah banyak terbukti.
Pada tahun 1980-an Gunung Galunggung meletus, dampak letusanya terasa sampai di kampung Bunikasih, hujan abu dan langit tertutup awan hitam sehingga sinar matahari tidak terlihat. Seorang Ajengan kampung bernama Ustz. Dili dalam ceramahnya menyampaikan bahwa nanti diakhir jaman akan datang dajal ke dunia, sbb. :
"Engke di akhir zaman bakal turun dajjal ka dunya mamawa roti jeung ragaji. Sing saha nu milu ka dajjal bakal dibere roti, lamun teu milu bakal diragaji". Artinya, Nanti di akhir zaman akan turun dajjal ke dunia sambil membawa roti dan gergaji ". Maksudnya, nanti banyak pemimpin yang banyak mengimingib duniawi demi ketenarannya, kalau gak ikut kemauannya akan diboikot.
Ajengan Dili juga mengatakan, "Engke seueur jalmi nu saroleh ngantunkeun ti payun, tah eta teh waktuna Imam Mahdi lungsur pikeun ngalawan dajjal". Artinya : "Nanti banyak orang-orang Soleh meninggal duluan, nah itulah saatnya Imam Mahdi turun untuk melawan dajjal".
Ajengan Dili menggambarkan Dajal : Tantungngana Jujul ka langit (tinggi besarnya menembus langit) , dilaut samet mumuncangan (di lautan kalau berdiri, sebatas mata kaki), panon na pecak sabelah (matanya pecak/buta sebelah), ceulina lebar, (daun telinganya lebar karena bisa mendengar dari kejauhan). Nah !, kuayana gunung galunggung meletus oge, ieu ciciren geus akhir zaman. Urang kudu loba ibadah jeung ngaji- artinya: "nah dengan meletusnya gunung galunggung, ini menandakan sudah akhir zaman, kita harus banyak ibadah dan mengaji-.
sebagai catatan : Ajeungan Dili seorang sosok yang ditokohkan dan disegani di Kampung Bunikasih Kec. Warung kondang. Beliau dan keluarganya sangat baik terhadap Jemaat. Dan beliau tidak termasuk Ajeungan yang suka menjelekan Jemaat. Semoga anak keturunan bisa menerima kebenaran Imam Mahdi as. Aamiin
Mimpi pembuka Bai’at : Selain hal diatas yang membuat Nek Masitoh mantap untuk baiat adalah peristiwa mimpi yang beliau alami. Beliau menuturkan, "dalam mimpinya beliau melihat peristiwa banjir bandang (luapan air bahnya sangat dahsyat dan airnya bergolak). Tiba-tiba muncul sebuah menara tinggi ditengah-tengah luapan air tersebut, beliau berusaha menyelamatkan diri dan naik ke menara itu meskipun agak goyang. Sesampainya diatas menara, beliau melihat suatu tempat yang sangat luas, tak berujung sejauh mata memandang, kawasan itu berwarna putih lalu berubah berwarna kuning keemasan, sangat indah sekali sehingga seakan-akan beliau mau pingsan melihatnya".
Awalnya nenek masitoh tidak faham apa maksud semuanya itu, namun setelah mendapat penjelasan dari anak-anaknya yang sudah baiat, salah satunya Mln. Asep Misbah, baru beliau faham dan itu merupakan petunjuk dari Allah Taala agar segera bergambung dan berbaiat ke dalam bahtera Imam Mahdi as. alias ratu adil, karena menara putih salah satu tanda kebenaran Imam Mahdi as. Maka sesuai pesanan ibunda beliau tercinta, Uyut Uria, dalam Cacanderan, akhirnya beliau Baiat pada tahun 1983/1984-an., Alhamdulillah.
D. Penentangan pasca bai’at
Nek Itoh panggilan akrabnya, baiat ke dalam Jemaat ditangan bapak ketua Jemaat Cianjur pada masa itu (Ahmad Rosidi alm) , dan Alhamdulillah sudah berwasyiat dengan nomor Musiah 51822, juga tercatat sebagai anggota calon donor mata, semoga niat baik beliau dikabulkan dan diterima oleh Allah SWT, Aamiin.
Penentangan dari tokoh PSII,
Dengan ba’atnya beliau ke Jemaat Ahmadiyah tentu saja menggemparkan kampung Bunikasih, karena beliau adalah salah satu tokoh PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) yang notabenenya memang selama ini anti terhadap Jemaat. Mengetahui berita tersebut, tokoh-tokoh PSII berusaha memprovokasi masyarakat dengan isu bahwa nek itoh masuk aliran sesat , dan harus diselamatkan. Namun walaupun mendapat penentangan dari keluarga, teman sejawat, dan tokoh masyarakat Bunikasih, beliau tetap istiqomah memegang teguh janji baiat, ”dalam keadaan susah dan senang tetap setia kepada Allah Taala”, maju terus pantang mundur untuk mempertahankan keimanan terhadap Imam Zaman bersama 4 anak-anaknya, dan Ahmadi lainnya.
Penentangan, pemboikotan semakin meningkat, dikucilkan dari pergaulan masyarakat dialami, tetapi beliau terima dengan ikhlas. Cemoohan, caci maki, sindiran pedas, dan memalingkan muka sambil meludah serta tatapan sinis dari orang-orang yang antipati, beliau hadapi dengan sabar dan doa.
Agitasi di Pengajian Reboan
Dalam Pengajian rutin yang dilaksanakan seminggu sekali (Reboan), ceramah yang disampaikan oleh ustad setempat selalu berisi provokasi, caci maki , hinaan, serta fitnah keji terhadap Hz Masih Mauud as., yang membuat kuping panas dan hati bergejolak. Karena ghairat kecintaan kepada Hazrat Masih Mauud as. dan Jemaat-Nya, beliau tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh penceramah itu. Sebagai manusia biasa beliau terkadang merasa tidak sanggup untuk mendengarnya, dengan perasaan gelisah sengaja pergi pagi-pagi ke kebun-sawah sengaja menghindar untuk beberapa saat duduk dipematang sawah atau sengaja pergi ke kebun yang berada diluar kampung, sampai acara pengajian selesai. Nek Itoh hatinya hancur luluh dan hanya bisa bersedih dan berlinang air mata mendengar junjungannya yang mulia, Hz. Masih Mau’ud as, diperlakukan tidak senonoh, tidak sopan oleh para ajeungan, sementara beliau sendiri tidak bisa berbuat banyak. Langkah akhirnya beliau, menghindar dari majelis tersebut. Hal ini beliau lakukan berulang-ulang. Bila tiba hari Rabu beliau gelisah dan berdoa dengan penuh harap, semoga pengajian di Masjid hari ini ceramahnya menyejukan.
Puncak Penentangan,
Pembelaan Nek Masitoh, Penentangan yang pertama terhadapa Ahmadiyah Bunikasih puncaknya terjadi pada tahun 1983, setahun sebelum Nek Itoh Bai’at (1984). Dan Penentangan yang kedua terjadi pada tahun 1987, tiga tahun setelah Nek Itoh Bai’at, dimana warga Ahmadi sempat diusir termasuk beliau, dan hijrah Ke Cianjur kota. Saat itu di malam hari, terjadi penyerangan dari masa sekitar (5Kampung) terhadap rumah anak menantu Nek Itoh di kampung Bojong, rumah dirusak dan dilempari batu dan dilempari obor yang menyala diiringi teriakan dan caci maki dari masa yang sudah tersulut amarah, “Qadiani murtad…….kafir……sesat…..paehan……. duruk imahna...dan kata-kata kotor(sebutan binatang) yang membuat bulu kuduk merinding mendengarnya……!!!.. Itulah sebagian agitasi yang dilontarkan, Na'udzubillahi min dzaalik. Tiba-tiba dengan penuh keberanian nenek Masitoh, untuk membela anak menantunya, keluar rumah menerobos kerumunan masa hendak mencari bantuan ke aparat desa Bunikasih. degan berjalan kaki sejauh 1.5 KM. Saat keluar rumah, Beliau sempat dipukuli dan dicaci maki , namun anehnya beliau tidak merasakan sakit saat dipukuli, dan tetap melanjutkan langkahnya menembus kegelapan malam untuk mencari bantuan, sempet ada yang mengejar namun karena langkahnya cepat sekali beliau tidak terkejar, padahal jalan yang dilalui terjal dan licin karena melalui pematang sawah dan akhirnya sampai di rumah keponakannya Pa Mumuh (Sekdes Bunikasih). Beliau melaporkan insiden penyerangan oleh masa di kampung Bojong. Pada malam itu juga aparat Desa turun ke kampung Bojong.
Hijrah ke Cianjur, pada tahun 1987 terjadi insiden yang kedua. Karena keadaan tidak kondusif warga Ahmadi sempat hijrah(mengungsi) ke Cianjur kota dan ditampung dirumah pa Ketua Jemaat Cianjur (Ahmad Rasyidi alm), termasuk nek Masitoh kurang lebih 3 bulan. Sementara itu Pengurus Jemaat Cianjur Kota mengadakan komunikasi dan koordinasi dengan Pak Asep dari Kodim untuk melakukan usaha rekonsiliasi antara Warga Ahmadi Bunikasih dengan beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama di kampung Bunikasih. Selama ini, pengurus Jemaat Cianjur kota sudah menjalin hubungan baik dengan pa Asep dari Kodim. Setelah 3 bulan dipengungsian, atas perintah bapak camat Warung kondang , akhirnya keluarga nek Masitoh dijemput oleh pa Sekdes (Pa Mumuh) untuk kembali pulang ke kampung, kecuali keluarga bapak Bibing (Ayah Penulis, Peny.), menetap di Pamoyanan-Cianjur selama 11 tahun karena rumahnya rusak parah tidak bisa dihuni lagi.
Surat perjanjian damai yang ditanda tangani oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama merupakan tonggak awal terjadinya rekonsiliasi antara warga Ahmadi dengan masyarakat, Sejak itu kehidupan warga Ahmadi termasuk nek Masitoh pelan-pelan kembali normal.
E. Beberapa peristiwa keajaiban yang menggugah keimanan
Dengan baiatnya keluarga besar nek Masitoh , maka badai penentangan mulai merebak, dan pada saat itulah Allah Taala memperlihatkan keberfihakannya kepada Jemaat, dengan terjadi angin puting beliung yang sangat dahsyat,suasana pagi yang sejuk berubah menjadi suasana yang mencekam, kampung Bunikasih luluh lantak, banyak pohon tumbang,rumah warga banyak rusak terkena reruntuhan serta genting-gentingya pada pecah, termasuk salah satu provokator(tetangga depan rumah) yang selama ini membenci dan anti kepada Jemaat, rumahnya rusak parah karena tertimpa pohon nangka yang tumbang.
Sedangkan rumah nek masitoh (pada saat itu masih panggung) tidak apa-apa, sehingga membuat orang sekitar heran dan bingung dengan kejadian ini, namun bagi nek Masitoh kejadian ini menambah keyakinan bahwa wahyu yang diterima Hz masih Mauud a.s benar adanya, Inni Muhiinun man arooda ihaanataka wa Inni Mu’iinun man arooda I’aanataka - "Sesungguhnya Aku akan menghinakan orang yang menghina engkau dan sesungguhnya Aku akan menolong orang yang menolong engkau”. Dengan Wahyu ini terbukti murid-murid Imam Mahdi as. diselamatkan dari malapetaka yang dahsyat tersebut. Bapak Bibing pernah bercerita, "ada seorang pemimpin penyerangan mengalami sakit yang berkepanjangan. Perutnya buncit, menimbulkan bau bangkai-padahal masih hidup- dan keluarganya sudah meninggalkan, karena tidak sanggup untuk merawat. Pak Bibing masih sering mengunjungi dengan membawa beberapa liter beras. Detik-detik menuju ajalnya, dia sempat mengatakan dan berpesan, "Pak Bibing pertahankeun, ajaran nu diiluan ku maneh teh bener". Artinya, "Pak Bibing pertahankan, ajaran yang diikuti oleh anda itu benar". Beberapa hari kemudian, dia meninggal.
Terjadi hujan besar, sehingga banjir melanda kampung Bunikasih, dan menghanyutkan ikan-ikan dikolam warga, namun anehnya kolam punya nek Masitoh ikanya tidak ada yang hanyut malah kolam itu penuh dengan ikan yang entah dari mana datangnya, itupun membuat heran dan bingung tetangga sekitar, ada apa gerangan ini…..???.
Terjadi serangan hama wereng dan hama burung melanda sawah milik warga kampung Bojong sehingga puso dan gagal panen, namun tidak demikian dengan sawah milik orang Ahmadi termasuk punya nek Masitoh, panennya bagus dan berhasil sehingga pada saat itu katelah/dijuluki, “Pare Ahmadiyah”.
Itulah sekilas kisah Nek masitoh, beliau bukan hanya sesepuh LI namun menjadi sesepuh di Kampung Bunikasih, semangat penghidmatannya luar biasa, dalam setiap kegiatan Jemaat beliau selalu berusaha untuk hadir, padahal jarak tempuh dari rumah beliau yang ada di kampung Bunikasih menuju masjid yang ada di kampung bojong kl 1.5 Km (PP. 3 KM), beliau tempuh dengan jalan kaki dan melalui pematang sawah, semata-mata karena ghairat kecintaan yang tinggi kepada Jemaat .
Semoga kisah ini menjadi insfirasi bagi kita semua bahwa faktor usia tidak menjadi penghalang dalam menghidmati Jemaat, tetap semangat dan ita'at kepada Nizam Khilafat.
"Dalam keitaatan ada keberkatan yang luar biasa bagi kita dan anak keturunan sampai masa yang akan datang", itulah salah satu pesan beliau. Wassalamu'alaikum. Wr.wb. (Pwt, 26/12/2017).
(Anak keturunan Nek Masitoh) (Pengcab bunikasih & Ketda Jabar 4) ( Bersama ibu Bupati Cianjur).
PENGABDIAN TAK KENAL LELAH(Kisah Insfiratif “Nek Masitoh” sesepuh LI cabang Bunikasih-Cianjur)
Oleh : Ida Syamsiah NA
A. Profil Nek Masitoh
“Nek Masitoh”.Beliau adalah salah satu sesepuh LI yang kini sudah berusia 97 tahun tepatnya lahir di kampung bunikasih-Cianjur tanggal 21 Desember 1920, namun semangat penghidmatan dalam Jemaat masih tetap berkobar, terbukti dengan masih aktifnya beliau menjadi pengurus Talim-Tarbiyat cabang Bunikasih sampai sekarang. Beliau juga seorang pensiunan veteran yang konon menurut penuturannya, beliau bersama suaminya (masa belum baiat) ikut berjuang membantu tentara Nasional Indonesia Jawa Barat yang sedang bertugas di Gunung Gede dalam rangka menumpas para pemberontak DI-TII yang bersembunyi di hutan Gunung Gede. Rumah beliau yang terletak di kaki Gunung Gede pada saat itu dijadikan dapur umum-logistik perbekalan TNI. Dan salah satu pengorbanan yang terbesar dalam pengabdiannya kepada Negara yakni suami tercinta beliau di syahidkan oleh para pemberontak dengan cara ditembak dan dibakar di dalam rumahnya sendiri pada tahun 1950. Semoga Almarhum H Sulaeman ditempatkan di maqom syahid karena turut berjuang membela Negara dari para pemberontak DI-TII, Amin Allahumma Amin.
B. Tanggung Jawab pada Keluarga
Pasca ditinggal suami tercinta tidak ada harta benda yang tertinggal, semuanya habis terbakar, kecuali beberapa petak sawah. Untuk menghidupi 4 anak yatim, yang kemudian hari semuanya menjadi pengurus LI dan satu orang menjadi Muballigh (Mln. Asep Misbah), beliau bekerja keras tanpa lelah, doa dan tawakal menjadi spiritnya . Demi mempertahankan hidup ke-4 anaknya selain mengolah sawah sendiri, terkadang beliau menjadi buruh tani (dibuwat)-memotong padi milik orang lain, dan menjadi buruh penjahit bordir, ada juga derma (pamura-pamere, sunda) dari sebagian masyarakat yang empati terhadap beliau dan anak-anaknya.
(Bersama ketiga putrinya yang sekarang menjadi Pengurus LI Bunikasih)
Yang patut diteladani dari beliau adalah dalam memegang teguh amanah, sesulit apapun dalam membesarkan ke 4 anaknya, tidak sampai menjual harta peninggalan suaminya, karena menurut beliau sawah itu merupakan (dadasar hirup, Sunda)-bekal hidup demi masa depan anak-anaknya dimasa yang akan datang.
C. Latar Belakang Baiat
Dari sejak kecil beliau sering mendengar cerita yang biasa disampaikan oleh para Ajengan (Ustadz) kampung, bahwa nanti di akhir jaman akan datang ratu adil Imam Mahdi. Pesan ini pun disampaikan oleh ibunya Nek Masitoh, Uyut Urias.
Uyut Urias, tanda-tanda kedatangan ratu adil ditataran Sunda, menurut beliau sebagai berikut :
” engke mah diakhir jaman mun ngagorolongkeun endog ku halu ti masrik nepi ka maghrib moal peuepeus. Artinya "nanti diakhir jaman, kalau mengelindingkan telur pakai Alu (penumbuk padi) dari masrik(timur) sampai ke magrib(barat) tidak akan pecah, masksudnya (karena diangkut pakai truk dan mobil, perkembangan teknologi transportasi).
Engke mah ramat lancah bakal pasolengkrah di tengah kota. Nanti banyak sarang laba-laba ditengah kota (banyak kabel listrik, telepon dan antena parabola. Perkembangan telekomunikasi)
Loba awewe kawas lalaki, lalaki kawas awewe, (banyak perempuan menyerupai laki-laki dan sebaliknya laki-laki menyerupai perempuan, penyimpangan prilaku)
Nu benghar kuli nutu ka nu teu boga. Artinya, “ yang kaya akan menjadi tukang giling padi dari orang miskin-biasa (banyak pabrik heler/penggilingan padi)”,
Pulau jawa bakal dikongkorongan ku beusi, Artinya’ : “Pulau jawa akan dikalungi/dikelilingi oleh besi”. Maksudnya, Pulau Jawa akan dilalui oleh rel kereta api. Ternyata semua cacanderan (Petuah kuno yang mengandung ramalan) ini sudah banyak terbukti.
Pada tahun 1980-an Gunung Galunggung meletus, dampak letusanya terasa sampai di kampung Bunikasih, hujan abu dan langit tertutup awan hitam sehingga sinar matahari tidak terlihat. Seorang Ajengan kampung bernama Ustz. Dili dalam ceramahnya menyampaikan bahwa nanti diakhir jaman akan datang dajal ke dunia, sbb. :
"Engke di akhir zaman bakal turun dajjal ka dunya mamawa roti jeung ragaji. Sing saha nu milu ka dajjal bakal dibere roti, lamun teu milu bakal diragaji". Artinya, Nanti di akhir zaman akan turun dajjal ke dunia sambil membawa roti dan gergaji ". Maksudnya, nanti banyak pemimpin yang banyak mengimingib duniawi demi ketenarannya, kalau gak ikut kemauannya akan diboikot.
Ajengan Dili juga mengatakan, "Engke seueur jalmi nu saroleh ngantunkeun ti payun, tah eta teh waktuna Imam Mahdi lungsur pikeun ngalawan dajjal". Artinya : "Nanti banyak orang-orang Soleh meninggal duluan, nah itulah saatnya Imam Mahdi turun untuk melawan dajjal".
Ajengan Dili menggambarkan Dajal : Tantungngana Jujul ka langit (tinggi besarnya menembus langit) , dilaut samet mumuncangan (di lautan kalau berdiri, sebatas mata kaki), panon na pecak sabelah (matanya pecak/buta sebelah), ceulina lebar, (daun telinganya lebar karena bisa mendengar dari kejauhan). Nah !, kuayana gunung galunggung meletus oge, ieu ciciren geus akhir zaman. Urang kudu loba ibadah jeung ngaji- artinya: "nah dengan meletusnya gunung galunggung, ini menandakan sudah akhir zaman, kita harus banyak ibadah dan mengaji-.
sebagai catatan : Ajeungan Dili seorang sosok yang ditokohkan dan disegani di Kampung Bunikasih Kec. Warung kondang. Beliau dan keluarganya sangat baik terhadap Jemaat. Dan beliau tidak termasuk Ajeungan yang suka menjelekan Jemaat. Semoga anak keturunan bisa menerima kebenaran Imam Mahdi as. Aamiin
Mimpi pembuka Bai’at : Selain hal diatas yang membuat Nek Masitoh mantap untuk baiat adalah peristiwa mimpi yang beliau alami. Beliau menuturkan, "dalam mimpinya beliau melihat peristiwa banjir bandang (luapan air bahnya sangat dahsyat dan airnya bergolak). Tiba-tiba muncul sebuah menara tinggi ditengah-tengah luapan air tersebut, beliau berusaha menyelamatkan diri dan naik ke menara itu meskipun agak goyang. Sesampainya diatas menara, beliau melihat suatu tempat yang sangat luas, tak berujung sejauh mata memandang, kawasan itu berwarna putih lalu berubah berwarna kuning keemasan, sangat indah sekali sehingga seakan-akan beliau mau pingsan melihatnya".
Awalnya nenek masitoh tidak faham apa maksud semuanya itu, namun setelah mendapat penjelasan dari anak-anaknya yang sudah baiat, salah satunya Mln. Asep Misbah, baru beliau faham dan itu merupakan petunjuk dari Allah Taala agar segera bergambung dan berbaiat ke dalam bahtera Imam Mahdi as. alias ratu adil, karena menara putih salah satu tanda kebenaran Imam Mahdi as. Maka sesuai pesanan ibunda beliau tercinta, Uyut Uria, dalam Cacanderan, akhirnya beliau Baiat pada tahun 1983/1984-an., Alhamdulillah.
D. Penentangan pasca bai’at
Nek Itoh panggilan akrabnya, baiat ke dalam Jemaat ditangan bapak ketua Jemaat Cianjur pada masa itu (Ahmad Rosidi alm) , dan Alhamdulillah sudah berwasyiat dengan nomor Musiah 51822, juga tercatat sebagai anggota calon donor mata, semoga niat baik beliau dikabulkan dan diterima oleh Allah SWT, Aamiin.
Penentangan dari tokoh PSII,
Dengan ba’atnya beliau ke Jemaat Ahmadiyah tentu saja menggemparkan kampung Bunikasih, karena beliau adalah salah satu tokoh PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) yang notabenenya memang selama ini anti terhadap Jemaat. Mengetahui berita tersebut, tokoh-tokoh PSII berusaha memprovokasi masyarakat dengan isu bahwa nek itoh masuk aliran sesat , dan harus diselamatkan. Namun walaupun mendapat penentangan dari keluarga, teman sejawat, dan tokoh masyarakat Bunikasih, beliau tetap istiqomah memegang teguh janji baiat, ”dalam keadaan susah dan senang tetap setia kepada Allah Taala”, maju terus pantang mundur untuk mempertahankan keimanan terhadap Imam Zaman bersama 4 anak-anaknya, dan Ahmadi lainnya.
Penentangan, pemboikotan semakin meningkat, dikucilkan dari pergaulan masyarakat dialami, tetapi beliau terima dengan ikhlas. Cemoohan, caci maki, sindiran pedas, dan memalingkan muka sambil meludah serta tatapan sinis dari orang-orang yang antipati, beliau hadapi dengan sabar dan doa.
Agitasi di Pengajian Reboan
Dalam Pengajian rutin yang dilaksanakan seminggu sekali (Reboan), ceramah yang disampaikan oleh ustad setempat selalu berisi provokasi, caci maki , hinaan, serta fitnah keji terhadap Hz Masih Mauud as., yang membuat kuping panas dan hati bergejolak. Karena ghairat kecintaan kepada Hazrat Masih Mauud as. dan Jemaat-Nya, beliau tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh penceramah itu. Sebagai manusia biasa beliau terkadang merasa tidak sanggup untuk mendengarnya, dengan perasaan gelisah sengaja pergi pagi-pagi ke kebun-sawah sengaja menghindar untuk beberapa saat duduk dipematang sawah atau sengaja pergi ke kebun yang berada diluar kampung, sampai acara pengajian selesai. Nek Itoh hatinya hancur luluh dan hanya bisa bersedih dan berlinang air mata mendengar junjungannya yang mulia, Hz. Masih Mau’ud as, diperlakukan tidak senonoh, tidak sopan oleh para ajeungan, sementara beliau sendiri tidak bisa berbuat banyak. Langkah akhirnya beliau, menghindar dari majelis tersebut. Hal ini beliau lakukan berulang-ulang. Bila tiba hari Rabu beliau gelisah dan berdoa dengan penuh harap, semoga pengajian di Masjid hari ini ceramahnya menyejukan.
Puncak Penentangan,
Pembelaan Nek Masitoh, Penentangan yang pertama terhadapa Ahmadiyah Bunikasih puncaknya terjadi pada tahun 1983, setahun sebelum Nek Itoh Bai’at (1984). Dan Penentangan yang kedua terjadi pada tahun 1987, tiga tahun setelah Nek Itoh Bai’at, dimana warga Ahmadi sempat diusir termasuk beliau, dan hijrah Ke Cianjur kota. Saat itu di malam hari, terjadi penyerangan dari masa sekitar (5Kampung) terhadap rumah anak menantu Nek Itoh di kampung Bojong, rumah dirusak dan dilempari batu dan dilempari obor yang menyala diiringi teriakan dan caci maki dari masa yang sudah tersulut amarah, “Qadiani murtad…….kafir……sesat…..paehan……. duruk imahna...dan kata-kata kotor(sebutan binatang) yang membuat bulu kuduk merinding mendengarnya……!!!.. Itulah sebagian agitasi yang dilontarkan, Na'udzubillahi min dzaalik. Tiba-tiba dengan penuh keberanian nenek Masitoh, untuk membela anak menantunya, keluar rumah menerobos kerumunan masa hendak mencari bantuan ke aparat desa Bunikasih. degan berjalan kaki sejauh 1.5 KM. Saat keluar rumah, Beliau sempat dipukuli dan dicaci maki , namun anehnya beliau tidak merasakan sakit saat dipukuli, dan tetap melanjutkan langkahnya menembus kegelapan malam untuk mencari bantuan, sempet ada yang mengejar namun karena langkahnya cepat sekali beliau tidak terkejar, padahal jalan yang dilalui terjal dan licin karena melalui pematang sawah dan akhirnya sampai di rumah keponakannya Pa Mumuh (Sekdes Bunikasih). Beliau melaporkan insiden penyerangan oleh masa di kampung Bojong. Pada malam itu juga aparat Desa turun ke kampung Bojong.
Hijrah ke Cianjur, pada tahun 1987 terjadi insiden yang kedua. Karena keadaan tidak kondusif warga Ahmadi sempat hijrah(mengungsi) ke Cianjur kota dan ditampung dirumah pa Ketua Jemaat Cianjur (Ahmad Rasyidi alm), termasuk nek Masitoh kurang lebih 3 bulan. Sementara itu Pengurus Jemaat Cianjur Kota mengadakan komunikasi dan koordinasi dengan Pak Asep dari Kodim untuk melakukan usaha rekonsiliasi antara Warga Ahmadi Bunikasih dengan beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama di kampung Bunikasih. Selama ini, pengurus Jemaat Cianjur kota sudah menjalin hubungan baik dengan pa Asep dari Kodim. Setelah 3 bulan dipengungsian, atas perintah bapak camat Warung kondang , akhirnya keluarga nek Masitoh dijemput oleh pa Sekdes (Pa Mumuh) untuk kembali pulang ke kampung, kecuali keluarga bapak Bibing (Ayah Penulis, Peny.), menetap di Pamoyanan-Cianjur selama 11 tahun karena rumahnya rusak parah tidak bisa dihuni lagi.
Surat perjanjian damai yang ditanda tangani oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama merupakan tonggak awal terjadinya rekonsiliasi antara warga Ahmadi dengan masyarakat, Sejak itu kehidupan warga Ahmadi termasuk nek Masitoh pelan-pelan kembali normal.
E. Beberapa peristiwa keajaiban yang menggugah keimanan
Dengan baiatnya keluarga besar nek Masitoh , maka badai penentangan mulai merebak, dan pada saat itulah Allah Taala memperlihatkan keberfihakannya kepada Jemaat, dengan terjadi angin puting beliung yang sangat dahsyat,suasana pagi yang sejuk berubah menjadi suasana yang mencekam, kampung Bunikasih luluh lantak, banyak pohon tumbang,rumah warga banyak rusak terkena reruntuhan serta genting-gentingya pada pecah, termasuk salah satu provokator(tetangga depan rumah) yang selama ini membenci dan anti kepada Jemaat, rumahnya rusak parah karena tertimpa pohon nangka yang tumbang.
Sedangkan rumah nek masitoh (pada saat itu masih panggung) tidak apa-apa, sehingga membuat orang sekitar heran dan bingung dengan kejadian ini, namun bagi nek Masitoh kejadian ini menambah keyakinan bahwa wahyu yang diterima Hz masih Mauud a.s benar adanya, Inni Muhiinun man arooda ihaanataka wa Inni Mu’iinun man arooda I’aanataka - "Sesungguhnya Aku akan menghinakan orang yang menghina engkau dan sesungguhnya Aku akan menolong orang yang menolong engkau”. Dengan Wahyu ini terbukti murid-murid Imam Mahdi as. diselamatkan dari malapetaka yang dahsyat tersebut. Bapak Bibing pernah bercerita, "ada seorang pemimpin penyerangan mengalami sakit yang berkepanjangan. Perutnya buncit, menimbulkan bau bangkai-padahal masih hidup- dan keluarganya sudah meninggalkan, karena tidak sanggup untuk merawat. Pak Bibing masih sering mengunjungi dengan membawa beberapa liter beras. Detik-detik menuju ajalnya, dia sempat mengatakan dan berpesan, "Pak Bibing pertahankeun, ajaran nu diiluan ku maneh teh bener". Artinya, "Pak Bibing pertahankan, ajaran yang diikuti oleh anda itu benar". Beberapa hari kemudian, dia meninggal.
Terjadi hujan besar, sehingga banjir melanda kampung Bunikasih, dan menghanyutkan ikan-ikan dikolam warga, namun anehnya kolam punya nek Masitoh ikanya tidak ada yang hanyut malah kolam itu penuh dengan ikan yang entah dari mana datangnya, itupun membuat heran dan bingung tetangga sekitar, ada apa gerangan ini…..???.
Terjadi serangan hama wereng dan hama burung melanda sawah milik warga kampung Bojong sehingga puso dan gagal panen, namun tidak demikian dengan sawah milik orang Ahmadi termasuk punya nek Masitoh, panennya bagus dan berhasil sehingga pada saat itu katelah/dijuluki, “Pare Ahmadiyah”.
Itulah sekilas kisah Nek masitoh, beliau bukan hanya sesepuh LI namun menjadi sesepuh di Kampung Bunikasih, semangat penghidmatannya luar biasa, dalam setiap kegiatan Jemaat beliau selalu berusaha untuk hadir, padahal jarak tempuh dari rumah beliau yang ada di kampung Bunikasih menuju masjid yang ada di kampung bojong kl 1.5 Km (PP. 3 KM), beliau tempuh dengan jalan kaki dan melalui pematang sawah, semata-mata karena ghairat kecintaan yang tinggi kepada Jemaat .
Semoga kisah ini menjadi insfirasi bagi kita semua bahwa faktor usia tidak menjadi penghalang dalam menghidmati Jemaat, tetap semangat dan ita'at kepada Nizam Khilafat.
"Dalam keitaatan ada keberkatan yang luar biasa bagi kita dan anak keturunan sampai masa yang akan datang", itulah salah satu pesan beliau. Wassalamu'alaikum. Wr.wb. (Pwt, 26/12/2017).
(Anak keturunan Nek Masitoh) (Pengcab bunikasih & Ketda Jabar 4) ( Bersama ibu Bupati Cianjur).