MERAIH QURB ILAHI(JS LENGKONG)


SARANA-SARANA  MERAIH QURB ILAHI
(Disampaikan : Acara Jalsah Salanah Se-Jateng & DIY, Lengkong-Wonosobo, 18-20/10/2019)
Oleh : Mln. Nasiruddin Ahmadi, (Muballigh Daerah Jateng 1)
((((((( (((((((( (((((((( (((((( (((((((( ((((((( ( ((((((( (((((((( (((((((( ((((( ((((((( ( (((((((((((((((((( ((( ((((((((((((((( ((( (((((((((( ((((((((((( 
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” ( QS. 2 :187)
Definisi :  "Qurb" secara leksikal bermakna mendekatnya sesuatu kepada sesuatu yang lain.Qurb ini terkadang dari sisi ruang (makan) dan terkadang dari sisi waktu (zaman). Oleh karena itu, kedekatan boleh jadi berada pada tataran ruang, atau berada pada arsy waktu. Dalam kebiasaan (urf) umum juga, kedekatan (qurb) memiliki penggunaan lainnya yaitu adanya nilai, kedudukan, dan derajat di sisi orang lain.
Pembagian qurb dalam perspektif filsafatQurb (kedekatan) dari sudut pandangan filsafat terbagi menjadi tiga: 
Kedekatan ruang (makâni) dan waktu (zamâni). Adapun kedekatan ruang dan waktu terkhusus pada bagian-bagian alam jasmani. Karena Tuhan suci dari segala bentuk bendawi maka dalam kedekatan ruang dan waktu ini terkait dengan Tuhan, tidak benar adanya.
Kedekatan kuiditas (mâhiyya). Namun kedekatan kuiditas (mâhiyyah) misalnya kedekatan Zaid dan Amr pada kuiditas kemanusian dan keseragamannya dalam urusan kehewanan dan keberpikiran (nâtiqiyyah). Akan tetapi Allah Swt, karena merupakan Wujud Nir-Batas dan Absolut, tidak memiliki kuiditas dan oleh karena itu kedekatan kuiditas ini tidak benar disandarkan kepada-Nya. Kuiditas (mahiyah) berasal dari bahasa Latin quid est (atau bahasa Arab, ma huwa, yang berarti “apa itu”), adalah batas-batas yang diterapkan atas eksistensi oleh keterbatasan persepsi manusia dan, karena itu, tidak real. Kadang-kadang kuiditas disebut sebagai ke-”apa”-an (whatish).
dan kedekatan eksistensial (wujudi). Kedekatan eksistensial, lantaran Allah Swt Penganugerah dan Sumber segala wujud serta terpisahnya Sebab Sempurna dengan akibat-akibatnya adalah sesuatu yang mustahil. Dan akibat merupakan relasi murni (rabth- mahdh) terhadap sebab. Dengan demikian kedekatan (qurb) Allah Swt kepada segala sesuatu adalah dari sisi kedekatan eksistensial Tuhan kepada segala sesuatu.

Kedekatan Allah Swt kepada segala sesuatu. Dalam masalah kedekatan Tuhan kepada kita ayat-ayat al-Qur'an terbagi menjadi empat bagian:

Bagian pertama adalah ayat-ayat yang menujukkan kepada hakikat kedekatan itu sendiri, dimana Tuhan dekat dengan kita. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (Qs. Al-Baqarah [2]:186).
Bagian kedua, ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan lebih dekat kepada kita dari siapa pun. "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." (Qs. Al-Waqiah [56]:8)
Bagian ketiga adalah ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa lebih dekat kepada manusia daripada urat nadinya. "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya." (Qs. Al-Qaf [50]:18).
Bagian keempat adalah ayat-ayat yang menandaskan bahwa Tuhan lebih dekat kepada manusia daripada diri manusia itu sendiri. Dalam menjelaskan ayat-ayat yang tergolong bagian keempat harus dikatakan bahwa manusia adalah maujud yang di dalamnya tidak berisi, melainkan sebagaimana wujud-wujud kontingen yang ajwaf (tengahnya kosong melompong). Oleh karena itu, antara manusia dan dirinya terdapat batas kekuasaan eksistensial Allah Swt. "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila rasul menyerumu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya." (Qs. Al-Anfal [8]:25).

Jalan mendekat kepada Allah Swt dari sudut pandang filsafat.
Jelas bahwa Tuhan bukan merupakan arah dan sisi sehingga melaluinya Tuhan dapat didekati. Melainkan, kedekatan kepada Tuhan dapat dihasilkan melalui penguatan efek-efek eksistensial manusia, sehingga sedapat mungkin menjadi cermin nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Dan dalam jalan meraup kebahagiaan, semakin besar kesempurnaan eksistensial manusia maka derajat kedekatannya kepada Tuhan semakin bertambah.
Kedekatan kepada Allah Swt dari sudut pandang ayat dan riwayat: Lantaran Tuhan Yang Maha Kuasa lebih dekat daripada segala sesuatu, maka manusia harus berupaya dengan menunaikan amal kebaikan sehingga  ia memperoleh kedekatan Ilahi.  Dalam meniti jalan perbuatan baik ini, terdapat dua bagian perbuatan. 
Pertama perbuatan wajib. Perbuatan-perbuatan yang memainkan peran sentral dan kunci dalam masalah kedekatan Ilahi adalah makrifat. Apa yang penting diperhatikan dalam perjalanan ini dan tergolong sebagai kewajiban adalah makrifat, ikhlas dalam perbuatan. Dan semakin besar makrifatnya ketulusan dalam perbuatan semakin besar pula. Al-Qur'an al-Karim memandang ibadah sebagai media untuk meraih makrifat dan keyakinan: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai keyakinan (ajal) datang kepadamu." (Qs. Al-Hijr [15]:99). Jelas bahwa keyakinan ini, bukan penegasan terhadap keberadaan sumber (mabdâ). Karena keyakinan ini sendiri adalah sumber ibadah bukan produk unggul ibadah dan tergolong sebagai bagian dari derajat para wali-wali Tuhan. Namun keyakinan ini, keyakinan terhadap keberadaan Allah Swt dengan segala sifat-sifat mutlak-Nya.[14] [14]. Abdullah Jawadi Amuli, Op cit, hal. 112. 
Kedua perbuatan mustahab. Ikhlas dalam perbuatan dan perbuatan-perbuatan lainnya misalnya, rendah hati, berbudi, berbuat kebajikan, dan sebagainya dihukumi sebagai nafilah (mustahab). Sebagian program-program akhlak (aturan praktis akhlak) dalam meniti jalan menuju kedekatan kepada Allah adalah termasuk perbuatan mustahab. Senada dengan sabda Imam Shadiq As: "Perkara yang diwahyukan Allah Swt kepada Nabi Daud As adalah: Wahai Daud! Sebagaimana orang-orang yang rendah hati (tawadhu') adalah orang-orang yang paling dekat kepada Allah Swt, demikian juga orang-orang sombong adalah orang-orang yang paling jauh dari Allah Swt."[15]. [15]. Muhammad Rey Syahri, Husaini Sayid Muhammad Muntakhab Mizân al-Hikmah, riwayat no. 5212. Namun jelas bahwa rendah hati (tawadhu'), berbudi baik, santun dan mengerjakan kebaikan yang dianjurkan dalam pembahasan kedekatan kepada Allah (qurb Ilahi) semuanya hukumnya mustahab. Asas dan porosnya adalah makrifatuLlah dan menghamba kepada-Nya. Menyitir sabda agung Rasulullah Saw, "Yâ Abâ Dzar! U'budulLâh kaannaka tarâ-Hu fain kunta lâa tarâ-Hu fainna-Hu Yarâka!"[16] [16]. Allamah Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 77, hal. 74.

Artinya ; “bahwa ibadahmu harus berdasarkan makrifat syuhudi (penyaksian) sedemikian engkau beribadah kepadanya sehingga seolah-olah engkau melihat Tuhan dan apabila (engkau tidak sampai pada derajat makrifat ini) engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”.

Memahami Meraih Qurub Ilahi. 
Berbagai Sarana dan Jalan untuk Meraih Qurub Ilahi, Dzat Allah Ta’ala adalah tidak terbatas, dan sifat-sifat-Nya pun amatlah banyak sehingga tidak  mungkin  kita  dapat  menghitungnya.  Demikian  pula  jalan-jalan  untuk  meraih  qurub Ilahi, begitu beragam dan luasnya sehingga tidak mungkin tercakup keseluruhannya dalam waktu yang singkat ini.
Untuk menuju kesuatu tujuan seperti dari titik A ke titik B, tentunya dibutuhkan kendaraan  yang fasilitasnya  lengkap dan sempurna. Hal ini demi kenyamanan, keamanan dan keselamatan para penumpang. Bukan hanya kendaraan yang fasilitasnya lengkap dan sempurna saja, tetapi kendaraan tersebut harus di kemudikan oleh orang yang sudah berpengalaman,  memiliki SIM, dan sudah hafal route untuk mencapai tujuan.
Jadi tujuan yang dimaksud adalah Qurb Ilahi, Kendaraannya dengan fisilitas yang lengkapnya adalah Islam & ajarannya, dan pengemudinya yang sudah berpengalaman itu, Nabi Muhammad Rasulullah SAW. 
Keyakinan  terhadap  Dzat  dan  Tauhid  Allah  Ta’ala  merupakan  sebuah  titik  sentral tujuan dalam kehidupan seorang mukmin, dan kecintaan kepada Allah Ta’ala adalah sarana & nutrisi rohani bagi seorang mukmin, yang tanpa itu bahkan  kehidupan hakiki tidak dapat terbayangkan. Selaras dengan wujud Allah Ta’ala yang  warooul warro  dan tiada terbatas, demikian halnya kecintaan  Allah  Ta’ala  dan  jalan-jalan  qurub-Nya  pun  sebegitu  luasnya  sehingga  tidak mungkin untuk kita menghitungnya. Betapa indahnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Alangkah menakjubkannya penampakan kuasa-Mu, menawan di setiap arah Ke arah manapun kami memandang, di sana terdapat penampakan wajah-Mu Pemahaman Hakiki Tuhan Rabbul ‘aalamiin dan sekelumit jalan untuk meraih Qurub-Nya”. 

Sang  Imam  Zaman,  Hadhrat  Masih  Mau’ud  as,  telah  menerangkan  juga  perihal keutamaannya.  Sebagai  tabaruk,  saya  akan  mengemukakan  beberapa  sabda  beliau  yang Beliau bersabda:
“Allah Ta’ala tidaklah dapat tertipu. Dia menjadikan sebagai muqarab-Nya (orang-orang yang  dekat  dengan-Nya),  mereka  yang  selalu  berenang  secara  alami  dalam  lautan kecintaan-Nya  ibarat  ikan,  dan  menjadi  kepunyaan-Nya  lalu  tetap  dalam  kondisi  itu, serta manjadi fana dalam ketaatan kepada-Nya.” (Sat Bacan, Ruhani Khazain jilid 10, hal. 210).
 “Seluruh  ketenteraman  manusia  terdapat  dalam  Qurub  (kedekatan)  dan  Mahabat (kecintaan) Allah Ta’ala.”(Lecture Lahore, Ruhani Khazain jilid 20, hal. 158)
“Perkara penting yang dihasilkan oleh doa adalah Qurub Ilahi.” (Malfuzat jilid 4, hal. 45, Edisi 2003, Cetakan Rabwah)
“Pertolongan  dan  dukungan  Allah  Ta’ala  adalah  tanda  sangat  gemilang  dari  seorang Muqarrab (orang yang dekat) dengan Allah Ta’ala.” (Malfuzat jilid 4, hal. 106, Edisi 2003, Cetakan Rabwah)
“Kemuliaan  manusia  ada  di  dalamnya,  dan  inilah  kekayaan  dan  nikmat  besar,  yakni mendapatkan  qurub  Allah  Ta’ala.”  (Malfuzat  jilid  4,  hal.  106,  edisi  2003,  cetakan Rabwah).

Syarat Mendasar untuk Meraih Qurub Ilahi – 
Kecintaan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW (Fana fi Rasul). Dari segi kedekatan dengan Allah Ta’ala, pada daur akhir kita ini, kedudukan tinggi dan maqom  yang  telah  Allah  Ta’ala  anugerahkan  kepada  Hadhrat  Aqdas  Masih  Mau’ud  as sungguh  tidak  ada  tara  dan  bandingannya.  Beliau  sendiri  bersabda  bahwa  beliau memperoleh  kedudukan  qurub  Ilahi  ini  karena  mengikuti  Hadhrat  Khatamun  Nabiyyiin Muhammad  Musthafa  saw  dan  karena  kecintaan  kepada  beliau  saw.  Dalam menyinggung mengenai kasyaf di masa-masa permulaan, beliau bersabda:
“Aku melihat di dalam mimpi bahwa orang-orang kesana kemari mencari seorang muhyi (yang  menghidupkan),  kemudian  seseorang  datang  ke  hadapan  hamba  yang  lemah  ini dan dengan isyarat ia mengatakan : Ini adalah orang yang mencintai Rasulullah SAW ”. Kemudian beliau menulis: “Maksud dari perkataan tersebut ialah, ,  maka hal itu terbukti di syarat paling utama untuk meraih kedudukan ini adalah kecintaan kepada Rasul dalam diri orang itu.” (Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain jilid 1, hal. 598).
Seluruh kehidupan  beliau menjadi saksi atas kedudukan tinggi dan martabat qurub Ilahi yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada beliau sebagai hasil dari kecintaan kepada Rasul Maqbul Rasulullah saw. Seraya menerangkan mengenai kondisi qurub Ilahi itu, beliau berseru kepada Allah Ta’ala: “Dunia  mengatakan,  ‘engkau  kafir!,’  namun  apakah  aku  dapat  menemukan  yang  lebih Menawan dari pada-Mu? Seandainya ada, maka  aku  akan  meninggalkan-Mu demi dia. Tetapi  aku  telah  menyaksikan  bahwa  ketika  orang-orang  menjadi  lalai  akibat  dunia, ketika  kawan-kawan  dan  musuh-musuhku  bahkan  tidak  mengetahui  apa  kabar keadaanku,  saat  itu  Engkau  membangunkanku  dan  dengan  penuh  cinta  kasih  berkata, ‘Janganlah  bersedih,  Aku  bersamamu,  datanglah  kemari  wahai  sahabat -Ku!’  dengan adanya ihsan-Mu ini, bagaimana mungkin aku akan meninggalkan-Mu. Tidak! Sekali-kali tidak.” (Badar, 11 Januari 1912, hal. 6). 
Puncak  qurub  Ilahi  ini  nampak  dalam  kehidupan  Rasul  suci  saw.  Beliau  saw  telah melemparkan kerikil penuh debu ke arah musuh pada saat perang Badar, Kemudian  ketika  beliau  saw  meletakkan  tangan  beliau  di  atas  tangan  para  sahabat (Saat Baiat), Sarana yang pasti dan meyakinkan guna meraih kecintaan Allah Ta’ala dan qurubNya adalah mengikuti wujud suci yang telah meraih kedudukan qurub yang paling tinggi dan  paling  banyak  mencintai  Allah  Ta’ala.  Allah  Ta’ala  telah  menetapkan  wujud  ini sebagai  uswah hasanah  dan contoh yang layak diikuti. 
Sarana yang Meyakinkan untuk Meraih Qurub Ilahi—Dzikir Ilahi.  Untuk mendapatkan Qurub Ilahi dan kecintaan Allah Ta’ala,  tahapannya sbb. :
 Yang paling pertama adalah diperolehnya Irfan Ilahi (pengenalan Ilahi). Irfan (pengenalan) mengenai suatu benda dapat  diperoleh  dengan  dua  cara.  Yakni  dengan  pemahaman  yang  benar  mengenai  husn(kejuwitaan)  dan  ihsan  (kebaikan)  dari  pada  benda  itu.  Dan  inilah  nikmat  yang  untuk meraihnya, mewiridkan sifat-sifat Allah Ta’ala dan memenuhi setiap detik dengan Dzikir Ilahi merupakan keharusan. Allah Ta’ala berfirman: Yakni, “wahai para pencahari qurub Ilahi! Teruslah kalian mengingat-Ku, sebagai hasilnya Aku pun akan mengingat kalian dan Aku akan mencurahkan kepada kalian nikmat Qurub-Ku.
Dzikir  Ilahi  merupakan  sarana  yang  meyakinkan  guna  meraih  qurub  Ilahi.  Ketika menyinggung mengenai orang-orang beriman, Allah Ta’ala menyatakan dalam Quran Majid: Yakni, mukmin hakiki dan orang yang mendapatkan qurub Ilahi adalah ia yang dalam setiap keadaan,  baik  ketika  berdiri,  ketika  duduk,  ataupun  ketika  berbaring,  dalam  setiap  kondisi, senantiasa mengingat Allah Ta’ala. Dalam menekankan mengenai Dzikir Ilahi, Allah Ta’ala berfirman di tempat lain:Yakni,  wahai  orang-orang yang beriman!  Ingatlah,  jangan  pernah  harta kekayaan  kalian dan  anak-anak  kalian  melalaikan  kalian  dari  mengingat  Allah,  karena  lalai  dari  mengingat Allah  benar-benar  merupakan  perkara  yang  menimbulkan  kerugian,  dan  orang  yang demikan adalah mahrum (luput) dari nikmat qurub Ilahi.Betapa  indahnya  Hadhrat  Muslih  Mau’ud  ra  bersabda  seraya  menyinggung  mengenai keutamaan dan perlunya dzikir Ilahi: “Biasakanlah juga berdzikir, karena tidaklah mungkin di dalam hati terdapat kecintaan dan kasih tetapi namanya tidak disebut di mulut”.
Berdoa : Doa untuk Meraih Qurub Ilahi. 
untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala dan qurubnya adalah berdoa untuk mendapatkan kecintaan Ilahi, yang merupakan akar dari segala kesuksesan. Keberhasilan semua sarana lainnya pun bergantung pada doa ini. Alhasil, merupakan  kewajiban  setiap  mukmin  untuk  memanjatkan  doa  dengan  cara  seperti  yang dilakukan  oleh  junjunan  tercinta  kita,  sang  kekasih  Allah,  Muhammad  saw.  Terbukti  dari hadis-hadis  bahwa  junjunan  kita  Muhammad  Arabi  saw  biasa  berdoa  dengan  cara  seperti ini: “ Wahai Tuhan kami, anugerahilah kami kecintaan Engkau, Wahai Tuhan tanamkanlah juga di dalam hatiku kecintaan orang-orang yang mencintai Engkau Dan tanamkanlah juga di dalam hatiku kecintaan pada akhlak luhur, pengorbanan-pengorbanan dan kebaikan-kebaikan yang dengannya dapat tercipta kecintaan Engkau. Dan wahai Tuhanku, ciptakanlah di dalam hatiku kecintaan pada-Mu melebihi kecintaan orang-orang pada air dingin disaat musim panas yang ekstrim”. inilah doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasul karim saw dan dengan mendawamkannya akan menciptakan kecintaan Allah Ta’ala di dalam kalbu manusia “. (Ta’aluq billah jilid 23, hal. 218-219).
Dan dengan membiasakan doa itu harta qurub Ilahi akan diperoleh. Selama  Allah  Ta’ala  sendiri  tidak  memegang  tangan  manusia,  tidaklah mungkin  tujuan  itu  dapat  diraih.  Hadhrat  Masih  Mau’ud  as  menerangkan  bahwa  sarana untuk itu adalah doa. Beliau bersabda: “Inilah caranya wahai orang-orang yang kucinta, yakni mohonlah qurub (kedekatan)-Nya Carilah tangan-Nya, bakarlah semua tali (yang lain)”.
Mujahadah  untuk Meraih Qurub Ilahi. Untuk  meraih  Qurub  Ilahi  diperlukan  mujahadah  dan  kegigihan  yang  berkesinambungan. Perkara  yang  sebenarnya  adalah,  tidak  mungkin  kita  mendapatkan  Allah  Ta’ala  tanpa pertolongan-Nya. Mujahadah yang Terus menerus demi Meraih Qurub Ilahi, Perjalanan  meraih  qurub  Ilahi  bukanlah  perkara  satu  atau  dua  hari,  bahkan  merupakan perjalanan mujahadah dari awal sampai akhir. Tawakal kepada Allah, penggunaan nikmat-nikmat  Allah  secara  benar,  berjihad  untuk  tablig  Islam,  mewakafkan  hidup  di  jalan  Allah, bersahabat dengan orang-orang shaleh, berinfaq di jalan Allah, bersyukur kepada Allah atas segala  nikmat,  pengorbanan  waktu  dan  mengikuti  ajaran-ajaran  Islam,  menempuh  jalan-jalan kerendahan hati, semua hal ini adalah bagian dari jihad berkesinambungan. Hendaklah ini menjadi panduan jalan sepanjang hidup bagi seorang mukmin untuk meraih qurub Ilahi sembari tetap tegak di atas hal ini dengan teguh dan berjalan di atas jalan-jalan ini. 
Quran Majid. sarana yang pasti di antara resep -resep manjur untuk meraih qurub Ilahi adalah Quran Majid. Ini adalah kitab suci yang dari awal sampai akhir mengandung Kalam Allah Ta’ala. Di dalamnya terdapat pengaruh-pengaruh suci yang dapat membawa para Salik menuju singgasana Ilahi, dan siapa pun yang mendapatkan karunia dari kitab petunjuk ini, maka  dia  mendapatkan  limpahan  harta  qurub  Ilahi.  Sungai  karunia  Quran  Majid  terus mengalir dan sekarang pun ini merupakan sarana utama dan mujarab untuk meraih qurub Ilahi.  Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: 
“Merupakan  pengalaman  dari  ratusan  ribu  orang suci  bahwa  dengan  mengikuti  Quran Syarif…terjalin  sebuah  hubungan  yang  menakjubkan  dengan  Maula  Karim….dan  suatu kelezatan  mahabat  (kecintaan)  Ilahi  yang  diperoleh  dari  perjumpaan  dengan-Nya,  akan ditanamkan di dalam hati mereka.” (Surma Casym Arya, Ruhani Khazain Jilid 2, halaman 31, catatan kaki).
“Quran  telah  membuka  jalan-jalan  keselamatan  hakiki  dan  sempurna….bacalah  oleh kalian Quran dengan perenungan (tadabur) dan cintailah ia dengan sangat, suatu kecintaan yang  tidak  pernah  kalian  berikan  kepada  yang  lain…sumber  seluruh  keberhasilan  dan keselamatan kalian adalah Quran.” (Kisyti Nuh, Ruhani Khazain jilid 19, hal. 26-27).
Suatu kali turun ilham kepada Hadhrat Masih Ma’ud as: Yakni, segala macam kebaikan terdapat di dalam Al-Quran. Menilawatkan kitab suci ini setiap hari pada waktu subuh memberikan kecemerlangan pada pikiran  manusia.  Quran  Majid  adalah  panduan  amal  bagi  setiap  orang  beriman,  yang tanpanya, qurub Ilahi pun tidak mungkin terbayangkan.
Nasehat Hadhrat Masih Mau’ud as berikut ini perlu untuk selalu diingat: “Janganlah  meninggalkan  Quran  Majid  seperti  benda  yang  dilupakan,  karena  di  dalamnya lah  terdapat  kehidupan  kalian.  Barang  siapa  yang  memuliakan  Al -Quran,  dia  akan mendapatkan kemuliaan di langit.” (Kisyti Nuh, Ruhani Khazain Jilid 19, hal. 13)
Shalat 5 Waktu, Shalat Tahajud dan Nawafil. Tangga  dan  salah  satu  sarana  pasti  guna  meraih  qurub  Ilahi  adalah  menunaikan  ibadah-ibadah sesuai dengan perintah Allah dan Rasul, urutan teratas di  antara ibadah-ibadah itu adalah penunaian shalat lima waktu secara dawam. Rasul Maqbul saw bersabda: Penyejuk mata saya terdapat dalah shalat. Nabi Muhammad Rasulullah  saw bersabda: 
“Sesungguhnya shalat adalah tiang penyangga agama Islam”, Beliau  juga  bersabda  “bahwa  yang  akan  dihisab  pertama  kali  pada  hari  kiamat  adalah penegakkan shalat”.
 “Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada  apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”(HR.Al-Bukhâri-6502-FathulBârî,(11/348).
Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: “Pendekatan diri hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah dengan sesuatu yang Aku wajibkan padanya. Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan nafilah (ibadah tambahan), sehingga Aku mencintainya.” (Bukhari).

Dalam memberikan penekanan mengenai itu, Hadhrat Masih Mau’ud as pun bersabda: 

“Barang siapa yang tidak melazimkan shalat lima waktu, ia bukan dari jemaatku.”. (Kisyti Nuh, Ruhani Khazain jilid 19, hal. 19).
Kemudian beliau bersabda: “Shalat adalah sesuatu yang tidak ada sarana lebih baik darinya untuk meraih qurub Allah Ta’ala. Ia adalah kunci untuk meraih qurub [Ilahi].” (Malfuzat jilid 2, hal. 347-348).
Kemudian beliau bersabda:“Manusia tidak akan pernah meraih qurub Allah Ta’ala, selama ia tidak menegakkan shalat.” (Malfuzat jilid 2, hal.346).

Hadhrat  Khalifatul  Masih  Al-Khamis  ayyadahullahu  ta’ala binasrihil  ‘aziz  sejak  hari  pertama  kekhilafatan  beliau  sedemikian  rupa  berkali-kali menekankan terkait iqomatish sholat  (penegakkan shalat). Saya sampaikan salah satu sabda beliau yang harus kita perhatikan, kita dengar, dan kita ingat. Beliau bersabda: “Setiap  insan  yang  ingin  menjadi  hamba  ahli  ibadah  kepada  Allah  Ta’ala,  yang  ingin meraih  qurub-Nya,  hendaklah  ia  menyucikan  dirinya  sendiri  dan  keturunannya.  Jika  ia ingin selamat dari serangan-serangan syaitan, maka hanya ada satu cara untuk itu, yakni berikanlah  perhatian  kepada  ibadah,  dan  untuk  itu,  perkara  yang  paling  penting  adalah shalat berjamaah.” (Khutbaat e Masroor jilid awal, hal. 24).
Sholat Tahajud : Penunaian  shalat  tahajud  pun  sangat  penting  untuk  meraih  qurub  Ilahi.  Shalat  tahajud memiliki  keutamaan  luar  biasa  dalam  perjalanan  ruhani  untuk  meraih  qurub  Ilahi.  Allah Ta’ala  berfirman  di  dalam  Quran  Majid,  “Wahai  orang-orang  yang  beriman,  tunaikanlah juga oleh kalian shalat tahajud pada sebagian waktu malam. Sangat boleh jadi Tuhan kalian akan menempatkan kalian pada maqom yang terpuji.” (QS. Bani Israil : 80).
Sholat Nawafil : Tahap  selanjutnya  dalam  perjalanan  ibadah  itu  adalah  nawafil.  Keutamaan  nawafil menjadi jelas karena Rasulullah saw bersabda bahwa bagi orang yang mencari qurub Ilahi, tujuan  itu  menjadi  mudah  dengan  menunaikan  nawafil.  Lafaz  dalam   hadis  nabi  adalah sebagai berikut: “Yang  akan  dihisab  pertama  kali  dari  dari  para  hamba  (Allah)  pada  hari  kiamat  adalah shalat….jika di dalam fardhunya terdapat kekurangan, maka Allah akan berfirman, ‘Lihatlah, apakah  hamba-hamba-Ku  menunaikan  nawafil  juga?  Jika  nawafil  dikerjakan,  maka kekurangan  dalam  fardhu  akan  disempurnakan  dengan  nawafil  tersebut.”  (Tirmidzi, Kitabush Shalat).
Puasa : “Sesungguhnya dia (puasa) adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahalanya”. Suatu saat Rasulullah SAW berkata kepada istri tercintanya, Sayyidah ‘Aisyah RA. “Sering-seringlah mengetuk pintu surga. ”Aisyah RA bertanya, “Dengan (cara) bagaimana?” Beliau menjawab. “ Dengan rasa lapar.”
Memang, ada kedekatan atau keterkaitan antara rasa lapar (puasa) dengan pintu surga. Dalam sebuah hadits, Abu Umamah bercerita. “Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata, “Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku kedalam surga. ”Beliau menjawab, “Hendaklah engkau berpuasa karena puasa merupakan amalan yang tidak ada tandingannya.”
Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya, dan beliau bersabda (yang artinya) dengan nasihat yang sama.” (HR. Ahamd, Nasa’I, dan Al-Hakim).

Syarat-Syarat Baiat. 
Saya ingin mengemukakan bahwa 10 syarat baiat yang telah ditetapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as pun sesungguhnya merupakan 10 tangga untuk meraih qurub Ilahi. Pada permulaan Khilafat Khamisah, Hadhrat Amirul Muminin Khalifatul Masih Al Khamis ayyadahullahu  ta’ala  binasrihil  ‘aziz  telah  memulai  rangkaian  khutbah  mengenai  10  syarat baiat.  Rangkaian  khutbah  itu  telah  diterbitkan  dalam  bentuk  buku.  Khutbah -khutbah  itu memiliki  kedudukan  sebagai  panduan  tetap  bagi  seorang  mukmin  Ahmadi  yang  mencari qurub Ilahi. Buku yang menggugah keimanan ini menjelaskan mengenai cara untuk meraih qurub Ilahi, menyadarkan orang-orang yang lalai, menjadikan para Ahmadi sebagai muslim sejati  yang beramal, dan  mempermudah  tahapan-tahapan  untuk  meraih qurub  Ilahi.  Buku ini  merupakan  buku  yang tidak  ada  bandingannya dalam hal  mengingatkan  kita  terkait  10 syarat baiat. Hendaknya buku ini selalu kita telaah. Beragam Sarana untuk Meraih Qurub Ilahi.
Menelaah buku-buku karya Hadhrat Masih Mau’ud as pun merupakan sarana yang pasti dan meyakinkan untuk meraih qurub Ilahi. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerangkan poin marifat ini, yakni buku-buku yang telah ditulis oleh seseorang yang kepadanya para malaikat turun, maka kepada orang-orang yang membacanya pun malaikat akan turun, dan dengan begitu ia mendapati buah manis qurub Ilahi.
Berziarah ke tempat-tempat suci yang  ditempati  oleh  orang-orang  yang  dekat  dengan  Allah  Ta’ala.  Dari  segi  ini,  contoh tempat-tempat  itu  adalah  Mekah  almukaromah,  Madinah  Munawaroh,  Qadian  Darul Amaan,  Rabwah  Darul  Hijrat  dan  setiap  tempat  yang  ditempati  oleh  khailfah  yang ditetapkan Allah Ta’ala Dengan berziarah sesuai dengan kemampuan ke tempat-tempat suci tersebut, dan pergi ke  sana  kemudian  berdoa  dengan  penuh  kerendahan  hati,  serta  memperbanyak shalawat kepada nabi Muhammad SAW,  maka  hati  manusia  mendapatkan  pencerahan  dan  kondisi  keimanan  yang dapat memberikan kemuliaan dengan nikmat qurub Ilahi. 

Meraih Qurub Ilahi—Berlaku Baik terhadap Makhluk Tuhan, Tertera dalam beberaqpa  hadis nabi:
Seluruh  makhluk  adalah  keluarga  Allah.  Allah  sangat  menyukai  orang  yang  berlaku  baik terhadap  makhluk-Nya.  Selain  manusia,  burung  dan  binatang  pun  termasuk  di  dalamnya. 
Tertera dalam hadis bahwa seorang perempuan Bani Israil yang tuna susila melihat seekor anjing kehausan yang sedang berputar-putar di sekitar sumur. Perempuan tersebut turun ke sumur  itu  dan  memenuhi  sepatunya  dengan  air  lalu  memberi  minum  anjing  yang  sedang kehausan itu. Atas kebaikannya itu, Allah Ta’ala telah mengampuninya.
 Sejauh  berkenaan  dengan  simpati  kepada  manusia.  Memperlakukan  setiap  insan  dengan perlakuan baik tanpa membeda-bedakan seorangpun merupakan jalan kebaikan yang dapat menyebabkan  manusia  dikaruniai  kecintaan  dan  qurub  Allah  Ta’ala.  Tertera  dalam  hadis qudsi  bahwa  pada  hari  kiamat  Allah  Ta’ala  akan  mengatakan  kepada  sebagian  hamba, “Ketika  Aku  lapar,  engkau  telah  memberiku  makan!  Ketika  Aku  haus,  engkau  telah memberiku  minum  dan  ketika  Aku  sakit,  engkau  telah  menjengukku.”  Hamba-hamba  itu akan berkata,  “Wahai Tuhan, kapankah Engkau merasakan lapar, sehingga  kami memberi Engkau  makan?  kapankah  Engkau  kehausan,  sehingga  kami  memberi  Engkau  minum? Kapankah Engkau tidak berpakaianan sehingga kami memberikan Engkau pakaian? Kapan Engkau  pernah  sakit,  sehingga  kami  menjenguk  Engkau?”  Kemudian  Allah  Ta’ala  akan berfirman,  “Lihatlah,  di  dunia  ada  hamba-hamba-Ku  yang  kelaparan  dan  kehausan,  tidak berpakaian serta sakit, lalu kalian mengkhidmati mereka. Oleh karena itu, meskipun kalian melakukan itu kepada hamba-hamba-Ku, itu sama dengan seolah kalian melakukan hal itu kepada-Ku.”  Alhasil, memperlakukan seluruh makhluk Allah dengan baik dan penuh simpati dapat membuat manusia dianugerahi kecintaan dan qurub Allah Ta’ala!.
 Contoh Syi’ar Ketakwaan, Salah  satu  di  antara  rang-orang  yang  telah  mencicipi  buah  manis  qurub  Ilahi  karena keberkatan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah : 
Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Sahib Rajiki ra. Kehidupan  beliau  dipenuhi  dengan  peristiwa-peristiwa  yang  menggugah  keimanan.  Saya ingin menyampaikan satu peristiwa yang dari itu dapat diketahui bahwa orang-orang yang mendapatkan  qurub,  mereka  benar-benar  menjalani  kehidupan  dengan  penuh  ketakwaan dan kesucian. Hadhrat Maulwi Sahib menceritakan, “Karena desakan seorang Ahmadi yang mukhlis, suatu kali  saya  mendapatkan  kesempatan  untuk  melewatkan  malam  di  rumahnya.  Secara kebetulan  ia  terpaksa  harus  pergi  ke  luar  rumah  karena  suatu  pekerjaan  yang  sangat penting. Ketika ia pergi, ia memberikan penekanan yang patut berkenaan dengan pelayanan terhadap saya sebagai tamu. Saat ia telah pergi dari rumah, istrinya yang sangat cantik dan masih  muda  memanggil  saya  dari  balik  pintu  dan  mengatakan,  ‘Saya  mau  masuk  untuk memijat badan Anda, apakah diizinkan?’ Maulwi sahib mengatakan,  ‘Menyentuhkan tangan kepada laki-laki yang bukan muhrim adalah dosa besar, oleh karena Anda tetaplah di kamar Anda  dan  jangan  berani  datang  ke  dekat  saya.’  Wanita  itu  kemudian  bersikeras  dengan kekeliruannya. Saya pun memberi jawaban  yang sama. Akhirnya, ketika saya merasa bahwa wanita  ini  tidak  akan  berhenti  dari  niat  buruknya,  maka  saya  mengambil  air  wudhu.  Di samping  situ  terhampar  sajadah.  Saya  shalat  mulai  shalat  di  atasnya  dan  memanjangkan ruku  dan  sujud  sehingga  dalam  kondisi  itu,  tibalah  waktu  subuh.  Saya  shalat  subuh, kemudian saya dihinggapi kantuk berat dan saya tertidur di tempat shalat. Dalam tidur saya melihat  mimpi  bahwa  wajah  saya  bercahaya  seperti  bulan  tanggal  ke  14,  dan  seorang malaikat  mengatakan  kepada  saya,  “Semua  karunia  ini  adalah  karena  mujahadah  engkau dan rasa takut engkau kepada Allah, dan karena engkau telah melewati malam ini dengan ketakwaan”. (Hayat e Qudsi, Bagian 2, Hal. 38).
Menempuh ketakwaan dan kesucian dalam kondisi sesulit apapun merupakan syiar orang-rang  yang  dekat  dengan  Allah.  Mereka  mendapatkan  martabat  dan  maqom  qurub  Ilahi setelah  berjalan  melewati  jalan-jalan  tersebut.  Berikut  ini  saya  sampaikan  salah  satu contohnya yang penuh dengan pelajaran: Di  London  ada  seorang  Ahmadi  lama  yang  mukhlis,  pemilik  sebuah  took  furniture  lama, bernama  Tn.  Abdul  Aziz  Din.  Beliau  berperawakan  tinggi  dan  pemuda  berwajah  rupawan. Beliau menceritakan bahwa seorang wanita datang ke tokonya. Membeli beberapa furniture dan  memberikan  alamat  rumahnya agar furniture  yang dibeli tadi  diantar. Wanita itu  pun berjanji akan membayar  furniture itu di rumahnya. Tn. Abdul Aziz Din menceritakan bahwa keesokan harinya ketika beliau pergi ke alamat yang diberikan sambil membawa furniture, seorang  wanita  muda  yang  cantik  keluar  dari  rumah  dan  mengatakan,  ‘Saat  ini  ibu  saya sedang berada di luar rumah, tetapi uang yang telah disepakati untuk pembayaran sudah diberikan kepada saya. Tolong Anda letakan furniturnya di lantai bawah.’  Beliau kemudian meletakkan furniture itu di lantai bawah.Lalu  beliau  menuturkan  lagi,  “Saya  duduk  di  atas  sebuah  kursi  sambil  menunggu  uang pembayarannya. Selang beberapa menit kemudian wanita muda tadi datang dan berdiri di depan  saya  tanpa  mengenakan  pakaian.  Kondisi  ini  membuat  saya  sangat  gelisah.  Saya beristighfar  dan  bertekad  sepenuh  hati  untuk  lari  dari  rumah  itu  dan  dalam  kondisi  yang begitu kalut secepat kilat lari ke atas. Saya lari sebegitu kencangnya tanpa memperdulikan bayaran  untuk  furniture  tadi  sehingga  kepala  saya  terbentur  ke  pintu  dan  terluka mengeluarkan  darah.  Setelah  keluar  dari  rumah  itu,  saya  menghela  nafas  dan  langsung kembali  ke  took.  Saya  bersyukur  kepada  Allah  Ta’ala  karena  dengan  karunia-Nya  telah menyelamatkan saya dari ujian yang sangat besar itu.”Orang-orang mengatakan bahwa luka di dahi beliau itu masih membekas sampai beberapa tahun  lamanya  dan  dalam  waktu  lama  peristiwa  itu  terus  mengingatkan  kepada  peristiwa Nabi Yusuf as! Sekarang  pun  peristiwa  ini  merupakan  sebuah  menara  cahaya  yang  berkilauan  dan sebagai petunjuk, khususnya bagi kaum muda!.

Beberapa Peristiwa Sahabat yang Memperoleh Qurub Ilahi
Di  antara  para  sahabat  Hadhrat  Masih  Mau’ud  as,  banyak  sekali  yang telah  mendapatkan harta  qurub  Ilahi,  Allah  Ta’ala  berbicara  kepada  beliau  semua  dan  membantu  serta membimbing  beliau  semua  dalam  setiap  langkahnya.  Saya  akan  mengemukakan  beberpa contoh orang suci yang telah memperoleh qurub Ilahi itu untuk menambah keimanan kita dan untuk menciptakan keinginan di dalam hati untuk meraih qurub Ilahi. 
Suatu  kali  para  sahabat  Hadhrat  Masih  Mau’ud  as  sedang  berkumpul  di  masjid  Aqsa Qadian.  Hadhrat  Sahibzada  Abdullatif  Sahib  Syahid  pun  berada  di  sana.  Karena  suatu keperluan,  beliau  bangkit  dari  tempat  beliau  dan  keluar  sejenak.  Tidak  berapa  lama, Hadhrat  Maulwi  Nuruddin  Sahib  ra  datang  dan  duduk  di  tempat  kosong  yang ditinggalkan  oleh  Sahibzada  Abdullatif  Sahib.  Ketika  Hadhrat  Sahibzada  Abdullatif kembali, maka dengan gaya sedikit marah beliau mengatakan,  ‘Maulwi Sahib, tidakkah Anda tahu jangan duduk di tempat orang lain!’  Baru saja Maulwi sahib akan bangkit dari tempat itu, tiba-tiba Sahibzada Sahib berkata, “Tidak, tidak, tetaplah Anda duduk di situ. Saya baru saja mendapatkan ilham:  “Janganlah berselisih dengan hamba-hamba yang disayangi Allah.” (Al-Hakam, 28 Oktober 1909).
Hadhrat Munshi Zafar Ahmad Sahib Kapurthalwi ra menceritakan, Setelah  baiat,  saya  tinggal  di  Ludhiana.  Seorang  berpembawaan  sufi  mengajukan beberapa  pertanyaan  lalu  bertanya  kepada  Hadhrat  Masih  Mau’ud  as,  apakah  beliau juga  bisa  membuatnya  berziarat  (bertemu)  dengan  Rasulullah  saw.  Beliau  menjawab bahwa untuk itu ada syarat-syarat yang patut, kemudian beliau melihat ke arah saya dan bersabda, “Atau semoga turun karunia Tuhan atasnya.” Orang itu menceritakan bahwa pada malam itu juga, dia melihat Rasulullah saw dalam mimpinya. (Ashab e Ahmad, Jilid 4, hal. 140).
Suatu kali Hadhrat Mir Nawab Sahib ra datang ke hadapan Hadhrat Maulana Nuruddin Sahib  ra  untuk  memungut  candah  Dar  ud  Dhuafa  atau  Nur  Hospital.  Beliau  ra mengatakan  bahwa  beliau  tidak  punya  waktu,  tetapi  Hadhrat  Mir  Sahib  berkali-kali mendesak.  Hudhur  ra  kemudian  menyingkapkan  pakaian  beliau  dan  mengeluarkan  1 pond sari situ lalu memberikannya, kemudian bersabda:“Hanya Nuruddin lah yang telah menyentuhnya.” (Tarikh Ahmadiyyat, jilid 3, hal. 556), Seolah pada waktu itu Allah Ta’ala telah memberikan uang itu kepada beliau. Bukan dari seorang manusia. 
Hadhrat Maulwi Fazl Din Sahib menceritakan :“Suatu  kali  Hadhrat  Maulana  Ghulam  Rasul  Sahib  ra  Rajiki  membawa  serta  saya untuk membeli buah dari penjual buah. Di dalam hati saya, saya ingin agar kami juga membeli anggur. Beliau membeli beberapa jenis buah, tetapi tidak membeli anggur, lalu berjalan (pulang), setelah beberapa jauh, tiba-tiba beliau berbalik dan kembali ke tempat penjual buah  lalu  membeli  anggur,  setelah  itu  pulang  kami  ke  rumah.  Di  perjalanan  beliau berkata  kepada  saya,  “Jika  tadi  Anda  mau  anggur,  seharusnya  Anda  bilang  sendiri. Mengapa  harus  meminta  Allah  Ta’ala  yang  mengatakannya?”  (Harian  Al-Fazl,  Januari 1995).
 Peganglah Hablullah (Tali Allah).
Allah  Ta’ala  dengan  karunia-Nya  telah  menganugerahkan  suatu  nikmat  ruhani  kepada Jemaat  Ahmadiyah  seluruh  dunia,  suatu  nikmat  yang  tidak  didapatkan  oleh  jemaat  lain manapaun. Yakni Khilafat  Rasyidah Ahmadiyah yang telah ditegakkan oleh Allah Ta’ala ini, sistem Khilafah yang ramah lingkungan. Pada zaman ini, Allah Ta’ala telah meletakkan mahkota Khilafat ruhani seluruh dunia di atas kepala beberkat Hadhrat Amirul Muminin Khalifatul Masih Al Khamis Ayyadahullahu Ta’ala binasrihil ‘aziz. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena seluruh alam tengah terbakar dalam terik, tanpa ada naungan. Kami bersyukur wahai Maula !, Kami telah mendapatkan naungan rahmat ini Khilafat dunia.  Wujud  Khalifah  yang  penuh  berkat  adalah  magnet  ruhani  seluruh  alam  yang  daya di bawah naungan Khilafat Ahmadiyah, para Amadi di seluruh dunia sedang manampilkan contoh tak ada tara bandingannya dalam hal persatuan internasional. 
Wahai  orang  yang  mendengar,  dengarlah!  Saat  ini  dengan  karunia  Allah  Ta’ala,  Imam Jemaat  Islam Ahmadiyah,  Hadhrat  Mirza  Masroor  Ahmad  Ayyadahullahu  ta’ala  binasrihil  aziz mendapatkan  maqom  (kedudukan)  bahwa  wujud  beliau  adalah  wujud  yang  paling  suci  di seluruh dunia, yang kepada beliau dianugerahi janji pengabulan doa dan siang malam belau dihujani  oleh  dukungan-dukungan  Allah  dan  kemenangan.  Kemenangan-kemenangan  di seluruh dunia ini semakin luas dari detik ke detik, jam ke jama, hari ke ke hari. Dan ribuan saksi mata pun merasakan pengabulan doa  ada dalam jalsah suci ini.
Secara terbuka saya katakan bahwa Hadhrat Imam Jemaat Ahmadiyah Ayyadahullahu Ta’ala binashrihil-aziz merupakan  penggenapan  dari  hablullah  (tali  Allah)  hakiki  pada  zaman  ini.  Menciptakan ikatan  rohani  dengan  wujud  yang  paling  Allah  Ta’ala  cintai  dan  wujud  yang  paling  suci, merupakan  sarana  yang  pasti  dan  meyakinkan  guna  meraih  qurub  Ilahi.  Sekarang  ini, mengikatkan  diri  pada  Khalifah  e  waqt  sama  dengan  memegang  hablullah  (tali  Allah). Khilafat  Ahmadiyah  adalah  hablullah,  yang  menghubungkan  hamba  dengan  Allah  Ta’ala. Oleh  karena  itu,  betapa  beruntungya  kita,  karena  Allah  Ta’ala  telah  menganugerahi  kita wasilah yang merupakan sebuah sarana hidup guna meraih qurub Ilahi.

Kesimpulan : Sarana atau jalan untuk meraih Qurb Ilahi adalah :
Mencintai dan mengikuti suri tauladan Nabi Muhammad SAW. 
Memahami Irfan Ilahi, Kejuwitaan dan kebaikan Allah Ta’aala.
Dzikir & Do’a.
Mujahadah, kerja keras & Istiqomah.
Membaca, memahami dan mengamalkan Al-quran
Mendirikan sholat lima waktu, Sunnah dan Nafal lainnya, terutama Tahajud.
Memahami dan mengamalkan 10 Syarat Bai’at
Berbuat baik dan melayani makhluk Allah.
Belajar dari orang-orang yang sudah meraih Qurb Ilahi
Berpegang pada Tali Allah (Hablullah), Khilafat Islam Ahmadiyah.
Ujian pun sebagai sarana untuk Qurb Ilahi, (Sakit, Katakutan). Dan lain-lain.

Sebagian Manfaat dekat dengan Allah SWT.
Allah Sayang, : Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah Pelindung dan Membawa kepada cahaya, : “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-baqarah:257).
Malaikat menghibur, tidak ada ketakutan, tidak bersedih, memberikan kegembiraan, janji surga dan Istiqomah : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Ha Mim Sajadah/Fushshilat : 31).
Allah akan menjadi Penolong, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”, (QS. Muhammad : 8), “....Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa “, (Al-haj : 41). 

Penutup
Para pendengar yang mulia!, Setelah  menyampaikan  beberapa  tetes  dari  samudra  qurub  Ilahi  yang  tiada  bertepi  dan mengemukakan beberapa contohnya, saya akan menutup uraian saya ini dengan kata-kata suci Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as yang di dalamnya beliau berseru kepada dahan -dahan hijau  dari  pohon  wujud  beliau    menghijau,  beliau  menyampaikan  sebuah  pesan  yang memberi  kehidupan  berkenaan  dengan  qurub  Ilahi.  Pesan  ini  harus  didengar  dengan perhatian khusus dan harus selalu diingat. Beliau bersabda: “Tempuhlah setiap jalan kebaikan. Karena tidak diketahui dari jalan yang mana kalian akan diterima….ada  kabar  suka  bagi  kalian,  karena  medan  untuk  mendapatkan  qurub  sedang kosong (sunyi sepi).  Setiap kaum tengah mabuk oleh kecintaan pada dunia, dan dunia tidak menaruh perhatian  kepada  perkara  yang  kepadanya  Tuhan  ridha.  Orang-orang  yang  berkeinginan keras untuk masuk ke dalam pintu ini, bagi mereka ada kesempatan untuk memperlihatkan kecakapannya dan untuk mendapatkan ganjaran yang khas dari Tuhan.” (Alwasiyat, Ruhani Khazain jilid 20, hal. 308-309)
Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik dan karunia-Nya kepada kita. Aamiin.

Wassalamua’alaikum Warahmatullaahi wa barakaatuhu....

Purwokerto-Banyumas, 25/09/2019.

Postingan populer dari blog ini

MANA YANG AKAN DIIKUTI SYARIAT ATAU ADAT

SIAPAKAH BIDADARI YANG HAKIKI?

WUJUDKAN PERDAMAIAN DI DUNIA ISLAM