MERAIH QURB ILAHI(JS LENGKONG)
SARANA-SARANA MERAIH QURB ILAHI
(Disampaikan : Acara Jalsah Salanah Se-Jateng & DIY, Lengkong-Wonosobo, 18-20/10/2019)
Oleh : Mln. Nasiruddin Ahmadi, (Muballigh Daerah Jateng 1)
((((((( (((((((( (((((((( (((((( (((((((( ((((((( ( ((((((( (((((((( (((((((( ((((( ((((((( ( (((((((((((((((((( ((( ((((((((((((((( ((( (((((((((( (((((((((((
“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” ( QS. 2 :187)
Definisi : "Qurb" secara leksikal bermakna mendekatnya sesuatu kepada sesuatu yang lain.Qurb ini terkadang dari sisi ruang (makan) dan terkadang dari sisi waktu (zaman). Oleh karena itu, kedekatan boleh jadi berada pada tataran ruang, atau berada pada arsy waktu. Dalam kebiasaan (urf) umum juga, kedekatan (qurb) memiliki penggunaan lainnya yaitu adanya nilai, kedudukan, dan derajat di sisi orang lain.
Pembagian qurb dalam perspektif filsafatQurb (kedekatan) dari sudut pandangan filsafat terbagi menjadi tiga:
Kedekatan ruang (makâni) dan waktu (zamâni). Adapun kedekatan ruang dan waktu terkhusus pada bagian-bagian alam jasmani. Karena Tuhan suci dari segala bentuk bendawi maka dalam kedekatan ruang dan waktu ini terkait dengan Tuhan, tidak benar adanya.
Kedekatan kuiditas (mâhiyya). Namun kedekatan kuiditas (mâhiyyah) misalnya kedekatan Zaid dan Amr pada kuiditas kemanusian dan keseragamannya dalam urusan kehewanan dan keberpikiran (nâtiqiyyah). Akan tetapi Allah Swt, karena merupakan Wujud Nir-Batas dan Absolut, tidak memiliki kuiditas dan oleh karena itu kedekatan kuiditas ini tidak benar disandarkan kepada-Nya. Kuiditas (mahiyah) berasal dari bahasa Latin quid est (atau bahasa Arab, ma huwa, yang berarti “apa itu”), adalah batas-batas yang diterapkan atas eksistensi oleh keterbatasan persepsi manusia dan, karena itu, tidak real. Kadang-kadang kuiditas disebut sebagai ke-”apa”-an (whatish).
dan kedekatan eksistensial (wujudi). Kedekatan eksistensial, lantaran Allah Swt Penganugerah dan Sumber segala wujud serta terpisahnya Sebab Sempurna dengan akibat-akibatnya adalah sesuatu yang mustahil. Dan akibat merupakan relasi murni (rabth- mahdh) terhadap sebab. Dengan demikian kedekatan (qurb) Allah Swt kepada segala sesuatu adalah dari sisi kedekatan eksistensial Tuhan kepada segala sesuatu.
Kedekatan Allah Swt kepada segala sesuatu. Dalam masalah kedekatan Tuhan kepada kita ayat-ayat al-Qur'an terbagi menjadi empat bagian:
Bagian pertama adalah ayat-ayat yang menujukkan kepada hakikat kedekatan itu sendiri, dimana Tuhan dekat dengan kita. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (Qs. Al-Baqarah [2]:186).
Bagian kedua, ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan lebih dekat kepada kita dari siapa pun. "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." (Qs. Al-Waqiah [56]:8)
Bagian ketiga adalah ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa lebih dekat kepada manusia daripada urat nadinya. "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya." (Qs. Al-Qaf [50]:18).
Bagian keempat adalah ayat-ayat yang menandaskan bahwa Tuhan lebih dekat kepada manusia daripada diri manusia itu sendiri. Dalam menjelaskan ayat-ayat yang tergolong bagian keempat harus dikatakan bahwa manusia adalah maujud yang di dalamnya tidak berisi, melainkan sebagaimana wujud-wujud kontingen yang ajwaf (tengahnya kosong melompong). Oleh karena itu, antara manusia dan dirinya terdapat batas kekuasaan eksistensial Allah Swt. "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila rasul menyerumu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya." (Qs. Al-Anfal [8]:25).
Jalan mendekat kepada Allah Swt dari sudut pandang filsafat.
Jelas bahwa Tuhan bukan merupakan arah dan sisi sehingga melaluinya Tuhan dapat didekati. Melainkan, kedekatan kepada Tuhan dapat dihasilkan melalui penguatan efek-efek eksistensial manusia, sehingga sedapat mungkin menjadi cermin nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Dan dalam jalan meraup kebahagiaan, semakin besar kesempurnaan eksistensial manusia maka derajat kedekatannya kepada Tuhan semakin bertambah.
Kedekatan kepada Allah Swt dari sudut pandang ayat dan riwayat: Lantaran Tuhan Yang Maha Kuasa lebih dekat daripada segala sesuatu, maka manusia harus berupaya dengan menunaikan amal kebaikan sehingga ia memperoleh kedekatan Ilahi. Dalam meniti jalan perbuatan baik ini, terdapat dua bagian perbuatan.
Pertama perbuatan wajib. Perbuatan-perbuatan yang memainkan peran sentral dan kunci dalam masalah kedekatan Ilahi adalah makrifat. Apa yang penting diperhatikan dalam perjalanan ini dan tergolong sebagai kewajiban adalah makrifat, ikhlas dalam perbuatan. Dan semakin besar makrifatnya ketulusan dalam perbuatan semakin besar pula. Al-Qur'an al-Karim memandang ibadah sebagai media untuk meraih makrifat dan keyakinan: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai keyakinan (ajal) datang kepadamu." (Qs. Al-Hijr [15]:99). Jelas bahwa keyakinan ini, bukan penegasan terhadap keberadaan sumber (mabdâ). Karena keyakinan ini sendiri adalah sumber ibadah bukan produk unggul ibadah dan tergolong sebagai bagian dari derajat para wali-wali Tuhan. Namun keyakinan ini, keyakinan terhadap keberadaan Allah Swt dengan segala sifat-sifat mutlak-Nya.[14] [14]. Abdullah Jawadi Amuli, Op cit, hal. 112.
Kedua perbuatan mustahab. Ikhlas dalam perbuatan dan perbuatan-perbuatan lainnya misalnya, rendah hati, berbudi, berbuat kebajikan, dan sebagainya dihukumi sebagai nafilah (mustahab). Sebagian program-program akhlak (aturan praktis akhlak) dalam meniti jalan menuju kedekatan kepada Allah adalah termasuk perbuatan mustahab. Senada dengan sabda Imam Shadiq As: "Perkara yang diwahyukan Allah Swt kepada Nabi Daud As adalah: Wahai Daud! Sebagaimana orang-orang yang rendah hati (tawadhu') adalah orang-orang yang paling dekat kepada Allah Swt, demikian juga orang-orang sombong adalah orang-orang yang paling jauh dari Allah Swt."[15]. [15]. Muhammad Rey Syahri, Husaini Sayid Muhammad Muntakhab Mizân al-Hikmah, riwayat no. 5212. Namun jelas bahwa rendah hati (tawadhu'), berbudi baik, santun dan mengerjakan kebaikan yang dianjurkan dalam pembahasan kedekatan kepada Allah (qurb Ilahi) semuanya hukumnya mustahab. Asas dan porosnya adalah makrifatuLlah dan menghamba kepada-Nya. Menyitir sabda agung Rasulullah Saw, "Yâ Abâ Dzar! U'budulLâh kaannaka tarâ-Hu fain kunta lâa tarâ-Hu fainna-Hu Yarâka!"[16] [16]. Allamah Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 77, hal. 74.
Artinya ; “bahwa ibadahmu harus berdasarkan makrifat syuhudi (penyaksian) sedemikian engkau beribadah kepadanya sehingga seolah-olah engkau melihat Tuhan dan apabila (engkau tidak sampai pada derajat makrifat ini) engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”.
Memahami Meraih Qurub Ilahi.
Berbagai Sarana dan Jalan untuk Meraih Qurub Ilahi, Dzat Allah Ta’ala adalah tidak terbatas, dan sifat-sifat-Nya pun amatlah banyak sehingga tidak mungkin kita dapat menghitungnya. Demikian pula jalan-jalan untuk meraih qurub Ilahi, begitu beragam dan luasnya sehingga tidak mungkin tercakup keseluruhannya dalam waktu yang singkat ini.
Untuk menuju kesuatu tujuan seperti dari titik A ke titik B, tentunya dibutuhkan kendaraan yang fasilitasnya lengkap dan sempurna. Hal ini demi kenyamanan, keamanan dan keselamatan para penumpang. Bukan hanya kendaraan yang fasilitasnya lengkap dan sempurna saja, tetapi kendaraan tersebut harus di kemudikan oleh orang yang sudah berpengalaman, memiliki SIM, dan sudah hafal route untuk mencapai tujuan.
Jadi tujuan yang dimaksud adalah Qurb Ilahi, Kendaraannya dengan fisilitas yang lengkapnya adalah Islam & ajarannya, dan pengemudinya yang sudah berpengalaman itu, Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Keyakinan terhadap Dzat dan Tauhid Allah Ta’ala merupakan sebuah titik sentral tujuan dalam kehidupan seorang mukmin, dan kecintaan kepada Allah Ta’ala adalah sarana & nutrisi rohani bagi seorang mukmin, yang tanpa itu bahkan kehidupan hakiki tidak dapat terbayangkan. Selaras dengan wujud Allah Ta’ala yang warooul warro dan tiada terbatas, demikian halnya kecintaan Allah Ta’ala dan jalan-jalan qurub-Nya pun sebegitu luasnya sehingga tidak mungkin untuk kita menghitungnya. Betapa indahnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Alangkah menakjubkannya penampakan kuasa-Mu, menawan di setiap arah Ke arah manapun kami memandang, di sana terdapat penampakan wajah-Mu Pemahaman Hakiki Tuhan Rabbul ‘aalamiin dan sekelumit jalan untuk meraih Qurub-Nya”.
Sang Imam Zaman, Hadhrat Masih Mau’ud as, telah menerangkan juga perihal keutamaannya. Sebagai tabaruk, saya akan mengemukakan beberapa sabda beliau yang Beliau bersabda:
“Allah Ta’ala tidaklah dapat tertipu. Dia menjadikan sebagai muqarab-Nya (orang-orang yang dekat dengan-Nya), mereka yang selalu berenang secara alami dalam lautan kecintaan-Nya ibarat ikan, dan menjadi kepunyaan-Nya lalu tetap dalam kondisi itu, serta manjadi fana dalam ketaatan kepada-Nya.” (Sat Bacan, Ruhani Khazain jilid 10, hal. 210).
“Seluruh ketenteraman manusia terdapat dalam Qurub (kedekatan) dan Mahabat (kecintaan) Allah Ta’ala.”(Lecture Lahore, Ruhani Khazain jilid 20, hal. 158)
“Perkara penting yang dihasilkan oleh doa adalah Qurub Ilahi.” (Malfuzat jilid 4, hal. 45, Edisi 2003, Cetakan Rabwah)
“Pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala adalah tanda sangat gemilang dari seorang Muqarrab (orang yang dekat) dengan Allah Ta’ala.” (Malfuzat jilid 4, hal. 106, Edisi 2003, Cetakan Rabwah)
“Kemuliaan manusia ada di dalamnya, dan inilah kekayaan dan nikmat besar, yakni mendapatkan qurub Allah Ta’ala.” (Malfuzat jilid 4, hal. 106, edisi 2003, cetakan Rabwah).
Syarat Mendasar untuk Meraih Qurub Ilahi –
Kecintaan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW (Fana fi Rasul). Dari segi kedekatan dengan Allah Ta’ala, pada daur akhir kita ini, kedudukan tinggi dan maqom yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as sungguh tidak ada tara dan bandingannya. Beliau sendiri bersabda bahwa beliau memperoleh kedudukan qurub Ilahi ini karena mengikuti Hadhrat Khatamun Nabiyyiin Muhammad Musthafa saw dan karena kecintaan kepada beliau saw. Dalam menyinggung mengenai kasyaf di masa-masa permulaan, beliau bersabda:
“Aku melihat di dalam mimpi bahwa orang-orang kesana kemari mencari seorang muhyi (yang menghidupkan), kemudian seseorang datang ke hadapan hamba yang lemah ini dan dengan isyarat ia mengatakan : Ini adalah orang yang mencintai Rasulullah SAW ”. Kemudian beliau menulis: “Maksud dari perkataan tersebut ialah, , maka hal itu terbukti di syarat paling utama untuk meraih kedudukan ini adalah kecintaan kepada Rasul dalam diri orang itu.” (Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain jilid 1, hal. 598).
Seluruh kehidupan beliau menjadi saksi atas kedudukan tinggi dan martabat qurub Ilahi yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada beliau sebagai hasil dari kecintaan kepada Rasul Maqbul Rasulullah saw. Seraya menerangkan mengenai kondisi qurub Ilahi itu, beliau berseru kepada Allah Ta’ala: “Dunia mengatakan, ‘engkau kafir!,’ namun apakah aku dapat menemukan yang lebih Menawan dari pada-Mu? Seandainya ada, maka aku akan meninggalkan-Mu demi dia. Tetapi aku telah menyaksikan bahwa ketika orang-orang menjadi lalai akibat dunia, ketika kawan-kawan dan musuh-musuhku bahkan tidak mengetahui apa kabar keadaanku, saat itu Engkau membangunkanku dan dengan penuh cinta kasih berkata, ‘Janganlah bersedih, Aku bersamamu, datanglah kemari wahai sahabat -Ku!’ dengan adanya ihsan-Mu ini, bagaimana mungkin aku akan meninggalkan-Mu. Tidak! Sekali-kali tidak.” (Badar, 11 Januari 1912, hal. 6).
Puncak qurub Ilahi ini nampak dalam kehidupan Rasul suci saw. Beliau saw telah melemparkan kerikil penuh debu ke arah musuh pada saat perang Badar, Kemudian ketika beliau saw meletakkan tangan beliau di atas tangan para sahabat (Saat Baiat), Sarana yang pasti dan meyakinkan guna meraih kecintaan Allah Ta’ala dan qurubNya adalah mengikuti wujud suci yang telah meraih kedudukan qurub yang paling tinggi dan paling banyak mencintai Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menetapkan wujud ini sebagai uswah hasanah dan contoh yang layak diikuti.
Sarana yang Meyakinkan untuk Meraih Qurub Ilahi—Dzikir Ilahi. Untuk mendapatkan Qurub Ilahi dan kecintaan Allah Ta’ala, tahapannya sbb. :
Yang paling pertama adalah diperolehnya Irfan Ilahi (pengenalan Ilahi). Irfan (pengenalan) mengenai suatu benda dapat diperoleh dengan dua cara. Yakni dengan pemahaman yang benar mengenai husn(kejuwitaan) dan ihsan (kebaikan) dari pada benda itu. Dan inilah nikmat yang untuk meraihnya, mewiridkan sifat-sifat Allah Ta’ala dan memenuhi setiap detik dengan Dzikir Ilahi merupakan keharusan. Allah Ta’ala berfirman: Yakni, “wahai para pencahari qurub Ilahi! Teruslah kalian mengingat-Ku, sebagai hasilnya Aku pun akan mengingat kalian dan Aku akan mencurahkan kepada kalian nikmat Qurub-Ku.
Dzikir Ilahi merupakan sarana yang meyakinkan guna meraih qurub Ilahi. Ketika menyinggung mengenai orang-orang beriman, Allah Ta’ala menyatakan dalam Quran Majid: Yakni, mukmin hakiki dan orang yang mendapatkan qurub Ilahi adalah ia yang dalam setiap keadaan, baik ketika berdiri, ketika duduk, ataupun ketika berbaring, dalam setiap kondisi, senantiasa mengingat Allah Ta’ala. Dalam menekankan mengenai Dzikir Ilahi, Allah Ta’ala berfirman di tempat lain:Yakni, wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah, jangan pernah harta kekayaan kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah, karena lalai dari mengingat Allah benar-benar merupakan perkara yang menimbulkan kerugian, dan orang yang demikan adalah mahrum (luput) dari nikmat qurub Ilahi.Betapa indahnya Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda seraya menyinggung mengenai keutamaan dan perlunya dzikir Ilahi: “Biasakanlah juga berdzikir, karena tidaklah mungkin di dalam hati terdapat kecintaan dan kasih tetapi namanya tidak disebut di mulut”.
Berdoa : Doa untuk Meraih Qurub Ilahi.
untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala dan qurubnya adalah berdoa untuk mendapatkan kecintaan Ilahi, yang merupakan akar dari segala kesuksesan. Keberhasilan semua sarana lainnya pun bergantung pada doa ini. Alhasil, merupakan kewajiban setiap mukmin untuk memanjatkan doa dengan cara seperti yang dilakukan oleh junjunan tercinta kita, sang kekasih Allah, Muhammad saw. Terbukti dari hadis-hadis bahwa junjunan kita Muhammad Arabi saw biasa berdoa dengan cara seperti ini: “ Wahai Tuhan kami, anugerahilah kami kecintaan Engkau, Wahai Tuhan tanamkanlah juga di dalam hatiku kecintaan orang-orang yang mencintai Engkau Dan tanamkanlah juga di dalam hatiku kecintaan pada akhlak luhur, pengorbanan-pengorbanan dan kebaikan-kebaikan yang dengannya dapat tercipta kecintaan Engkau. Dan wahai Tuhanku, ciptakanlah di dalam hatiku kecintaan pada-Mu melebihi kecintaan orang-orang pada air dingin disaat musim panas yang ekstrim”. inilah doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasul karim saw dan dengan mendawamkannya akan menciptakan kecintaan Allah Ta’ala di dalam kalbu manusia “. (Ta’aluq billah jilid 23, hal. 218-219).
Dan dengan membiasakan doa itu harta qurub Ilahi akan diperoleh. Selama Allah Ta’ala sendiri tidak memegang tangan manusia, tidaklah mungkin tujuan itu dapat diraih. Hadhrat Masih Mau’ud as menerangkan bahwa sarana untuk itu adalah doa. Beliau bersabda: “Inilah caranya wahai orang-orang yang kucinta, yakni mohonlah qurub (kedekatan)-Nya Carilah tangan-Nya, bakarlah semua tali (yang lain)”.
Mujahadah untuk Meraih Qurub Ilahi. Untuk meraih Qurub Ilahi diperlukan mujahadah dan kegigihan yang berkesinambungan. Perkara yang sebenarnya adalah, tidak mungkin kita mendapatkan Allah Ta’ala tanpa pertolongan-Nya. Mujahadah yang Terus menerus demi Meraih Qurub Ilahi, Perjalanan meraih qurub Ilahi bukanlah perkara satu atau dua hari, bahkan merupakan perjalanan mujahadah dari awal sampai akhir. Tawakal kepada Allah, penggunaan nikmat-nikmat Allah secara benar, berjihad untuk tablig Islam, mewakafkan hidup di jalan Allah, bersahabat dengan orang-orang shaleh, berinfaq di jalan Allah, bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, pengorbanan waktu dan mengikuti ajaran-ajaran Islam, menempuh jalan-jalan kerendahan hati, semua hal ini adalah bagian dari jihad berkesinambungan. Hendaklah ini menjadi panduan jalan sepanjang hidup bagi seorang mukmin untuk meraih qurub Ilahi sembari tetap tegak di atas hal ini dengan teguh dan berjalan di atas jalan-jalan ini.
Quran Majid. sarana yang pasti di antara resep -resep manjur untuk meraih qurub Ilahi adalah Quran Majid. Ini adalah kitab suci yang dari awal sampai akhir mengandung Kalam Allah Ta’ala. Di dalamnya terdapat pengaruh-pengaruh suci yang dapat membawa para Salik menuju singgasana Ilahi, dan siapa pun yang mendapatkan karunia dari kitab petunjuk ini, maka dia mendapatkan limpahan harta qurub Ilahi. Sungai karunia Quran Majid terus mengalir dan sekarang pun ini merupakan sarana utama dan mujarab untuk meraih qurub Ilahi. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:
“Merupakan pengalaman dari ratusan ribu orang suci bahwa dengan mengikuti Quran Syarif…terjalin sebuah hubungan yang menakjubkan dengan Maula Karim….dan suatu kelezatan mahabat (kecintaan) Ilahi yang diperoleh dari perjumpaan dengan-Nya, akan ditanamkan di dalam hati mereka.” (Surma Casym Arya, Ruhani Khazain Jilid 2, halaman 31, catatan kaki).
“Quran telah membuka jalan-jalan keselamatan hakiki dan sempurna….bacalah oleh kalian Quran dengan perenungan (tadabur) dan cintailah ia dengan sangat, suatu kecintaan yang tidak pernah kalian berikan kepada yang lain…sumber seluruh keberhasilan dan keselamatan kalian adalah Quran.” (Kisyti Nuh, Ruhani Khazain jilid 19, hal. 26-27).
Suatu kali turun ilham kepada Hadhrat Masih Ma’ud as: Yakni, segala macam kebaikan terdapat di dalam Al-Quran. Menilawatkan kitab suci ini setiap hari pada waktu subuh memberikan kecemerlangan pada pikiran manusia. Quran Majid adalah panduan amal bagi setiap orang beriman, yang tanpanya, qurub Ilahi pun tidak mungkin terbayangkan.
Nasehat Hadhrat Masih Mau’ud as berikut ini perlu untuk selalu diingat: “Janganlah meninggalkan Quran Majid seperti benda yang dilupakan, karena di dalamnya lah terdapat kehidupan kalian. Barang siapa yang memuliakan Al -Quran, dia akan mendapatkan kemuliaan di langit.” (Kisyti Nuh, Ruhani Khazain Jilid 19, hal. 13)
Shalat 5 Waktu, Shalat Tahajud dan Nawafil. Tangga dan salah satu sarana pasti guna meraih qurub Ilahi adalah menunaikan ibadah-ibadah sesuai dengan perintah Allah dan Rasul, urutan teratas di antara ibadah-ibadah itu adalah penunaian shalat lima waktu secara dawam. Rasul Maqbul saw bersabda: Penyejuk mata saya terdapat dalah shalat. Nabi Muhammad Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya shalat adalah tiang penyangga agama Islam”, Beliau juga bersabda “bahwa yang akan dihisab pertama kali pada hari kiamat adalah penegakkan shalat”.
“Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”(HR.Al-Bukhâri-6502-FathulBârî,(11/348).
Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: “Pendekatan diri hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah dengan sesuatu yang Aku wajibkan padanya. Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan nafilah (ibadah tambahan), sehingga Aku mencintainya.” (Bukhari).
Dalam memberikan penekanan mengenai itu, Hadhrat Masih Mau’ud as pun bersabda:
“Barang siapa yang tidak melazimkan shalat lima waktu, ia bukan dari jemaatku.”. (Kisyti Nuh, Ruhani Khazain jilid 19, hal. 19).
Kemudian beliau bersabda: “Shalat adalah sesuatu yang tidak ada sarana lebih baik darinya untuk meraih qurub Allah Ta’ala. Ia adalah kunci untuk meraih qurub [Ilahi].” (Malfuzat jilid 2, hal. 347-348).
Kemudian beliau bersabda:“Manusia tidak akan pernah meraih qurub Allah Ta’ala, selama ia tidak menegakkan shalat.” (Malfuzat jilid 2, hal.346).
Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis ayyadahullahu ta’ala binasrihil ‘aziz sejak hari pertama kekhilafatan beliau sedemikian rupa berkali-kali menekankan terkait iqomatish sholat (penegakkan shalat). Saya sampaikan salah satu sabda beliau yang harus kita perhatikan, kita dengar, dan kita ingat. Beliau bersabda: “Setiap insan yang ingin menjadi hamba ahli ibadah kepada Allah Ta’ala, yang ingin meraih qurub-Nya, hendaklah ia menyucikan dirinya sendiri dan keturunannya. Jika ia ingin selamat dari serangan-serangan syaitan, maka hanya ada satu cara untuk itu, yakni berikanlah perhatian kepada ibadah, dan untuk itu, perkara yang paling penting adalah shalat berjamaah.” (Khutbaat e Masroor jilid awal, hal. 24).
Sholat Tahajud : Penunaian shalat tahajud pun sangat penting untuk meraih qurub Ilahi. Shalat tahajud memiliki keutamaan luar biasa dalam perjalanan ruhani untuk meraih qurub Ilahi. Allah Ta’ala berfirman di dalam Quran Majid, “Wahai orang-orang yang beriman, tunaikanlah juga oleh kalian shalat tahajud pada sebagian waktu malam. Sangat boleh jadi Tuhan kalian akan menempatkan kalian pada maqom yang terpuji.” (QS. Bani Israil : 80).
Sholat Nawafil : Tahap selanjutnya dalam perjalanan ibadah itu adalah nawafil. Keutamaan nawafil menjadi jelas karena Rasulullah saw bersabda bahwa bagi orang yang mencari qurub Ilahi, tujuan itu menjadi mudah dengan menunaikan nawafil. Lafaz dalam hadis nabi adalah sebagai berikut: “Yang akan dihisab pertama kali dari dari para hamba (Allah) pada hari kiamat adalah shalat….jika di dalam fardhunya terdapat kekurangan, maka Allah akan berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-hamba-Ku menunaikan nawafil juga? Jika nawafil dikerjakan, maka kekurangan dalam fardhu akan disempurnakan dengan nawafil tersebut.” (Tirmidzi, Kitabush Shalat).
Puasa : “Sesungguhnya dia (puasa) adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahalanya”. Suatu saat Rasulullah SAW berkata kepada istri tercintanya, Sayyidah ‘Aisyah RA. “Sering-seringlah mengetuk pintu surga. ”Aisyah RA bertanya, “Dengan (cara) bagaimana?” Beliau menjawab. “ Dengan rasa lapar.”
Memang, ada kedekatan atau keterkaitan antara rasa lapar (puasa) dengan pintu surga. Dalam sebuah hadits, Abu Umamah bercerita. “Aku pernah mendatangi Rasulullah seraya berkata, “Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku kedalam surga. ”Beliau menjawab, “Hendaklah engkau berpuasa karena puasa merupakan amalan yang tidak ada tandingannya.”
Kemudian aku mendatangi beliau untuk kedua kalinya, dan beliau bersabda (yang artinya) dengan nasihat yang sama.” (HR. Ahamd, Nasa’I, dan Al-Hakim).
Syarat-Syarat Baiat.
Saya ingin mengemukakan bahwa 10 syarat baiat yang telah ditetapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as pun sesungguhnya merupakan 10 tangga untuk meraih qurub Ilahi. Pada permulaan Khilafat Khamisah, Hadhrat Amirul Muminin Khalifatul Masih Al Khamis ayyadahullahu ta’ala binasrihil ‘aziz telah memulai rangkaian khutbah mengenai 10 syarat baiat. Rangkaian khutbah itu telah diterbitkan dalam bentuk buku. Khutbah -khutbah itu memiliki kedudukan sebagai panduan tetap bagi seorang mukmin Ahmadi yang mencari qurub Ilahi. Buku yang menggugah keimanan ini menjelaskan mengenai cara untuk meraih qurub Ilahi, menyadarkan orang-orang yang lalai, menjadikan para Ahmadi sebagai muslim sejati yang beramal, dan mempermudah tahapan-tahapan untuk meraih qurub Ilahi. Buku ini merupakan buku yang tidak ada bandingannya dalam hal mengingatkan kita terkait 10 syarat baiat. Hendaknya buku ini selalu kita telaah. Beragam Sarana untuk Meraih Qurub Ilahi.
Menelaah buku-buku karya Hadhrat Masih Mau’ud as pun merupakan sarana yang pasti dan meyakinkan untuk meraih qurub Ilahi. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerangkan poin marifat ini, yakni buku-buku yang telah ditulis oleh seseorang yang kepadanya para malaikat turun, maka kepada orang-orang yang membacanya pun malaikat akan turun, dan dengan begitu ia mendapati buah manis qurub Ilahi.
Berziarah ke tempat-tempat suci yang ditempati oleh orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala. Dari segi ini, contoh tempat-tempat itu adalah Mekah almukaromah, Madinah Munawaroh, Qadian Darul Amaan, Rabwah Darul Hijrat dan setiap tempat yang ditempati oleh khailfah yang ditetapkan Allah Ta’ala Dengan berziarah sesuai dengan kemampuan ke tempat-tempat suci tersebut, dan pergi ke sana kemudian berdoa dengan penuh kerendahan hati, serta memperbanyak shalawat kepada nabi Muhammad SAW, maka hati manusia mendapatkan pencerahan dan kondisi keimanan yang dapat memberikan kemuliaan dengan nikmat qurub Ilahi.
Meraih Qurub Ilahi—Berlaku Baik terhadap Makhluk Tuhan, Tertera dalam beberaqpa hadis nabi:
Seluruh makhluk adalah keluarga Allah. Allah sangat menyukai orang yang berlaku baik terhadap makhluk-Nya. Selain manusia, burung dan binatang pun termasuk di dalamnya.
Tertera dalam hadis bahwa seorang perempuan Bani Israil yang tuna susila melihat seekor anjing kehausan yang sedang berputar-putar di sekitar sumur. Perempuan tersebut turun ke sumur itu dan memenuhi sepatunya dengan air lalu memberi minum anjing yang sedang kehausan itu. Atas kebaikannya itu, Allah Ta’ala telah mengampuninya.
Sejauh berkenaan dengan simpati kepada manusia. Memperlakukan setiap insan dengan perlakuan baik tanpa membeda-bedakan seorangpun merupakan jalan kebaikan yang dapat menyebabkan manusia dikaruniai kecintaan dan qurub Allah Ta’ala. Tertera dalam hadis qudsi bahwa pada hari kiamat Allah Ta’ala akan mengatakan kepada sebagian hamba, “Ketika Aku lapar, engkau telah memberiku makan! Ketika Aku haus, engkau telah memberiku minum dan ketika Aku sakit, engkau telah menjengukku.” Hamba-hamba itu akan berkata, “Wahai Tuhan, kapankah Engkau merasakan lapar, sehingga kami memberi Engkau makan? kapankah Engkau kehausan, sehingga kami memberi Engkau minum? Kapankah Engkau tidak berpakaianan sehingga kami memberikan Engkau pakaian? Kapan Engkau pernah sakit, sehingga kami menjenguk Engkau?” Kemudian Allah Ta’ala akan berfirman, “Lihatlah, di dunia ada hamba-hamba-Ku yang kelaparan dan kehausan, tidak berpakaian serta sakit, lalu kalian mengkhidmati mereka. Oleh karena itu, meskipun kalian melakukan itu kepada hamba-hamba-Ku, itu sama dengan seolah kalian melakukan hal itu kepada-Ku.” Alhasil, memperlakukan seluruh makhluk Allah dengan baik dan penuh simpati dapat membuat manusia dianugerahi kecintaan dan qurub Allah Ta’ala!.
Contoh Syi’ar Ketakwaan, Salah satu di antara rang-orang yang telah mencicipi buah manis qurub Ilahi karena keberkatan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah :
Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Sahib Rajiki ra. Kehidupan beliau dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang menggugah keimanan. Saya ingin menyampaikan satu peristiwa yang dari itu dapat diketahui bahwa orang-orang yang mendapatkan qurub, mereka benar-benar menjalani kehidupan dengan penuh ketakwaan dan kesucian. Hadhrat Maulwi Sahib menceritakan, “Karena desakan seorang Ahmadi yang mukhlis, suatu kali saya mendapatkan kesempatan untuk melewatkan malam di rumahnya. Secara kebetulan ia terpaksa harus pergi ke luar rumah karena suatu pekerjaan yang sangat penting. Ketika ia pergi, ia memberikan penekanan yang patut berkenaan dengan pelayanan terhadap saya sebagai tamu. Saat ia telah pergi dari rumah, istrinya yang sangat cantik dan masih muda memanggil saya dari balik pintu dan mengatakan, ‘Saya mau masuk untuk memijat badan Anda, apakah diizinkan?’ Maulwi sahib mengatakan, ‘Menyentuhkan tangan kepada laki-laki yang bukan muhrim adalah dosa besar, oleh karena Anda tetaplah di kamar Anda dan jangan berani datang ke dekat saya.’ Wanita itu kemudian bersikeras dengan kekeliruannya. Saya pun memberi jawaban yang sama. Akhirnya, ketika saya merasa bahwa wanita ini tidak akan berhenti dari niat buruknya, maka saya mengambil air wudhu. Di samping situ terhampar sajadah. Saya shalat mulai shalat di atasnya dan memanjangkan ruku dan sujud sehingga dalam kondisi itu, tibalah waktu subuh. Saya shalat subuh, kemudian saya dihinggapi kantuk berat dan saya tertidur di tempat shalat. Dalam tidur saya melihat mimpi bahwa wajah saya bercahaya seperti bulan tanggal ke 14, dan seorang malaikat mengatakan kepada saya, “Semua karunia ini adalah karena mujahadah engkau dan rasa takut engkau kepada Allah, dan karena engkau telah melewati malam ini dengan ketakwaan”. (Hayat e Qudsi, Bagian 2, Hal. 38).
Menempuh ketakwaan dan kesucian dalam kondisi sesulit apapun merupakan syiar orang-rang yang dekat dengan Allah. Mereka mendapatkan martabat dan maqom qurub Ilahi setelah berjalan melewati jalan-jalan tersebut. Berikut ini saya sampaikan salah satu contohnya yang penuh dengan pelajaran: Di London ada seorang Ahmadi lama yang mukhlis, pemilik sebuah took furniture lama, bernama Tn. Abdul Aziz Din. Beliau berperawakan tinggi dan pemuda berwajah rupawan. Beliau menceritakan bahwa seorang wanita datang ke tokonya. Membeli beberapa furniture dan memberikan alamat rumahnya agar furniture yang dibeli tadi diantar. Wanita itu pun berjanji akan membayar furniture itu di rumahnya. Tn. Abdul Aziz Din menceritakan bahwa keesokan harinya ketika beliau pergi ke alamat yang diberikan sambil membawa furniture, seorang wanita muda yang cantik keluar dari rumah dan mengatakan, ‘Saat ini ibu saya sedang berada di luar rumah, tetapi uang yang telah disepakati untuk pembayaran sudah diberikan kepada saya. Tolong Anda letakan furniturnya di lantai bawah.’ Beliau kemudian meletakkan furniture itu di lantai bawah.Lalu beliau menuturkan lagi, “Saya duduk di atas sebuah kursi sambil menunggu uang pembayarannya. Selang beberapa menit kemudian wanita muda tadi datang dan berdiri di depan saya tanpa mengenakan pakaian. Kondisi ini membuat saya sangat gelisah. Saya beristighfar dan bertekad sepenuh hati untuk lari dari rumah itu dan dalam kondisi yang begitu kalut secepat kilat lari ke atas. Saya lari sebegitu kencangnya tanpa memperdulikan bayaran untuk furniture tadi sehingga kepala saya terbentur ke pintu dan terluka mengeluarkan darah. Setelah keluar dari rumah itu, saya menghela nafas dan langsung kembali ke took. Saya bersyukur kepada Allah Ta’ala karena dengan karunia-Nya telah menyelamatkan saya dari ujian yang sangat besar itu.”Orang-orang mengatakan bahwa luka di dahi beliau itu masih membekas sampai beberapa tahun lamanya dan dalam waktu lama peristiwa itu terus mengingatkan kepada peristiwa Nabi Yusuf as! Sekarang pun peristiwa ini merupakan sebuah menara cahaya yang berkilauan dan sebagai petunjuk, khususnya bagi kaum muda!.
Beberapa Peristiwa Sahabat yang Memperoleh Qurub Ilahi
Di antara para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, banyak sekali yang telah mendapatkan harta qurub Ilahi, Allah Ta’ala berbicara kepada beliau semua dan membantu serta membimbing beliau semua dalam setiap langkahnya. Saya akan mengemukakan beberpa contoh orang suci yang telah memperoleh qurub Ilahi itu untuk menambah keimanan kita dan untuk menciptakan keinginan di dalam hati untuk meraih qurub Ilahi.
Suatu kali para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berkumpul di masjid Aqsa Qadian. Hadhrat Sahibzada Abdullatif Sahib Syahid pun berada di sana. Karena suatu keperluan, beliau bangkit dari tempat beliau dan keluar sejenak. Tidak berapa lama, Hadhrat Maulwi Nuruddin Sahib ra datang dan duduk di tempat kosong yang ditinggalkan oleh Sahibzada Abdullatif Sahib. Ketika Hadhrat Sahibzada Abdullatif kembali, maka dengan gaya sedikit marah beliau mengatakan, ‘Maulwi Sahib, tidakkah Anda tahu jangan duduk di tempat orang lain!’ Baru saja Maulwi sahib akan bangkit dari tempat itu, tiba-tiba Sahibzada Sahib berkata, “Tidak, tidak, tetaplah Anda duduk di situ. Saya baru saja mendapatkan ilham: “Janganlah berselisih dengan hamba-hamba yang disayangi Allah.” (Al-Hakam, 28 Oktober 1909).
Hadhrat Munshi Zafar Ahmad Sahib Kapurthalwi ra menceritakan, Setelah baiat, saya tinggal di Ludhiana. Seorang berpembawaan sufi mengajukan beberapa pertanyaan lalu bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, apakah beliau juga bisa membuatnya berziarat (bertemu) dengan Rasulullah saw. Beliau menjawab bahwa untuk itu ada syarat-syarat yang patut, kemudian beliau melihat ke arah saya dan bersabda, “Atau semoga turun karunia Tuhan atasnya.” Orang itu menceritakan bahwa pada malam itu juga, dia melihat Rasulullah saw dalam mimpinya. (Ashab e Ahmad, Jilid 4, hal. 140).
Suatu kali Hadhrat Mir Nawab Sahib ra datang ke hadapan Hadhrat Maulana Nuruddin Sahib ra untuk memungut candah Dar ud Dhuafa atau Nur Hospital. Beliau ra mengatakan bahwa beliau tidak punya waktu, tetapi Hadhrat Mir Sahib berkali-kali mendesak. Hudhur ra kemudian menyingkapkan pakaian beliau dan mengeluarkan 1 pond sari situ lalu memberikannya, kemudian bersabda:“Hanya Nuruddin lah yang telah menyentuhnya.” (Tarikh Ahmadiyyat, jilid 3, hal. 556), Seolah pada waktu itu Allah Ta’ala telah memberikan uang itu kepada beliau. Bukan dari seorang manusia.
Hadhrat Maulwi Fazl Din Sahib menceritakan :“Suatu kali Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Sahib ra Rajiki membawa serta saya untuk membeli buah dari penjual buah. Di dalam hati saya, saya ingin agar kami juga membeli anggur. Beliau membeli beberapa jenis buah, tetapi tidak membeli anggur, lalu berjalan (pulang), setelah beberapa jauh, tiba-tiba beliau berbalik dan kembali ke tempat penjual buah lalu membeli anggur, setelah itu pulang kami ke rumah. Di perjalanan beliau berkata kepada saya, “Jika tadi Anda mau anggur, seharusnya Anda bilang sendiri. Mengapa harus meminta Allah Ta’ala yang mengatakannya?” (Harian Al-Fazl, Januari 1995).
Peganglah Hablullah (Tali Allah).
Allah Ta’ala dengan karunia-Nya telah menganugerahkan suatu nikmat ruhani kepada Jemaat Ahmadiyah seluruh dunia, suatu nikmat yang tidak didapatkan oleh jemaat lain manapaun. Yakni Khilafat Rasyidah Ahmadiyah yang telah ditegakkan oleh Allah Ta’ala ini, sistem Khilafah yang ramah lingkungan. Pada zaman ini, Allah Ta’ala telah meletakkan mahkota Khilafat ruhani seluruh dunia di atas kepala beberkat Hadhrat Amirul Muminin Khalifatul Masih Al Khamis Ayyadahullahu Ta’ala binasrihil ‘aziz. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena seluruh alam tengah terbakar dalam terik, tanpa ada naungan. Kami bersyukur wahai Maula !, Kami telah mendapatkan naungan rahmat ini Khilafat dunia. Wujud Khalifah yang penuh berkat adalah magnet ruhani seluruh alam yang daya di bawah naungan Khilafat Ahmadiyah, para Amadi di seluruh dunia sedang manampilkan contoh tak ada tara bandingannya dalam hal persatuan internasional.
Wahai orang yang mendengar, dengarlah! Saat ini dengan karunia Allah Ta’ala, Imam Jemaat Islam Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Ayyadahullahu ta’ala binasrihil aziz mendapatkan maqom (kedudukan) bahwa wujud beliau adalah wujud yang paling suci di seluruh dunia, yang kepada beliau dianugerahi janji pengabulan doa dan siang malam belau dihujani oleh dukungan-dukungan Allah dan kemenangan. Kemenangan-kemenangan di seluruh dunia ini semakin luas dari detik ke detik, jam ke jama, hari ke ke hari. Dan ribuan saksi mata pun merasakan pengabulan doa ada dalam jalsah suci ini.
Secara terbuka saya katakan bahwa Hadhrat Imam Jemaat Ahmadiyah Ayyadahullahu Ta’ala binashrihil-aziz merupakan penggenapan dari hablullah (tali Allah) hakiki pada zaman ini. Menciptakan ikatan rohani dengan wujud yang paling Allah Ta’ala cintai dan wujud yang paling suci, merupakan sarana yang pasti dan meyakinkan guna meraih qurub Ilahi. Sekarang ini, mengikatkan diri pada Khalifah e waqt sama dengan memegang hablullah (tali Allah). Khilafat Ahmadiyah adalah hablullah, yang menghubungkan hamba dengan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, betapa beruntungya kita, karena Allah Ta’ala telah menganugerahi kita wasilah yang merupakan sebuah sarana hidup guna meraih qurub Ilahi.
Kesimpulan : Sarana atau jalan untuk meraih Qurb Ilahi adalah :
Mencintai dan mengikuti suri tauladan Nabi Muhammad SAW.
Memahami Irfan Ilahi, Kejuwitaan dan kebaikan Allah Ta’aala.
Dzikir & Do’a.
Mujahadah, kerja keras & Istiqomah.
Membaca, memahami dan mengamalkan Al-quran
Mendirikan sholat lima waktu, Sunnah dan Nafal lainnya, terutama Tahajud.
Memahami dan mengamalkan 10 Syarat Bai’at
Berbuat baik dan melayani makhluk Allah.
Belajar dari orang-orang yang sudah meraih Qurb Ilahi
Berpegang pada Tali Allah (Hablullah), Khilafat Islam Ahmadiyah.
Ujian pun sebagai sarana untuk Qurb Ilahi, (Sakit, Katakutan). Dan lain-lain.
Sebagian Manfaat dekat dengan Allah SWT.
Allah Sayang, : Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah Pelindung dan Membawa kepada cahaya, : “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-baqarah:257).
Malaikat menghibur, tidak ada ketakutan, tidak bersedih, memberikan kegembiraan, janji surga dan Istiqomah : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Ha Mim Sajadah/Fushshilat : 31).
Allah akan menjadi Penolong, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”, (QS. Muhammad : 8), “....Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa “, (Al-haj : 41).
Penutup
Para pendengar yang mulia!, Setelah menyampaikan beberapa tetes dari samudra qurub Ilahi yang tiada bertepi dan mengemukakan beberapa contohnya, saya akan menutup uraian saya ini dengan kata-kata suci Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as yang di dalamnya beliau berseru kepada dahan -dahan hijau dari pohon wujud beliau menghijau, beliau menyampaikan sebuah pesan yang memberi kehidupan berkenaan dengan qurub Ilahi. Pesan ini harus didengar dengan perhatian khusus dan harus selalu diingat. Beliau bersabda: “Tempuhlah setiap jalan kebaikan. Karena tidak diketahui dari jalan yang mana kalian akan diterima….ada kabar suka bagi kalian, karena medan untuk mendapatkan qurub sedang kosong (sunyi sepi). Setiap kaum tengah mabuk oleh kecintaan pada dunia, dan dunia tidak menaruh perhatian kepada perkara yang kepadanya Tuhan ridha. Orang-orang yang berkeinginan keras untuk masuk ke dalam pintu ini, bagi mereka ada kesempatan untuk memperlihatkan kecakapannya dan untuk mendapatkan ganjaran yang khas dari Tuhan.” (Alwasiyat, Ruhani Khazain jilid 20, hal. 308-309)
Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik dan karunia-Nya kepada kita. Aamiin.
Wassalamua’alaikum Warahmatullaahi wa barakaatuhu....
Purwokerto-Banyumas, 25/09/2019.