KHUTBAH IED-UL-ADHA 2014 (Hanya ingin dipanggil Haji?)
Khotbah ‘Ied-ul- Adha
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
6 Oktober 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ
“Daging korban-korban dan darahnya sesekali-kali tidak akan sampai pada Allah akan tetapi ketaqwaan hatimu yang akan sampai pada-Nya.” (Al-Hajj, 22 : 38)
Pada hari ini kita dengan karunia Allah Ta’ala sedang merayakan Idul Adha. Di berbagai negara di dunia, hari ini sedang merayakannya dan di sebagian negara yang lain telah merayakan sebelumnya. Dalam Id ini sedang dipersembahkan pengorbanan-pengorbanan. Ratusan ribu binatang ternak pada hari-hari ini sedang dikorbankan. Selanjutnya pada hari-hari ini terdapat juga kewajiban Haji. Ratusan ribu orang Muslim sedang melaksanakan kewajiban ini. Jumlah pengorbanan yang diberikan oleh orang-orang yang beribadah Haji itu juga mencapai jumlah ratusan ribu.
HANYA INGIN DIPANGGIL HAJI
Tetapi, kebanyakan dari kita tidak merenungkan apakah faedah dari pengorbanan-pengorbanan ini atau apakah manfaat kegembiraan merayakan Id? Apakah kita memberikan pengorbanan hanya untuk memakan daging atau hanya untuk mengundang makan? Apakah sekedar hanya untuk memberitahukan kepada dunia, “Kami sedang berkorban, demikianlah keadaan kami, kami mampu mengorbankan kambing, domba, atau sapi.”
Kalau sebagian orang diantara kita pergi beribadah Haji dengan tujuan untuk memberitahukan kepada dunia, “Kami telah pulang dari menunaikan Haji.” Demi memberitahukan kepada dunia, “Sepulangnya kami dari berhaji, bersama dengan itu pada nama saya harus tertera sebutan ‘Haji’ [atau Hajjah], (sekarang) panggillah kami, Haji; atau dalam rangka mengalahkan saingan bisnis kami, dalam kartu nama kami dan kartu pengenal usaha kami tercetak dengan tertera tulisan Haji pada nama kami.” Apakah dengan demikian sudah cukup sehingga kita bisa menjadi hamba-hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala dan termasuk orang-orang yang menjalankan hukum-hukum-Nya? Allah Ta’ala menolak sangat keras pemikiran ini.
Dasar firman-Nya adalahلَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ (Al-Hajj, 22 : 38) “Daging korban-korban dan darahnya sesekali-kali tidak akan sampai pada Allah akan tetapi ketaqwaan hatimu yang akan sampai pada-Nya.” Maka dari itu, perintah Allah Ta’ala, “Rayakanlah Id!” ialah pengorbanan-pengorbanan yang mengutamakan dan berlandaskan ketakwaan, dilaksanakan untuk memperoleh ridha-Nya dan guna merayakan Id-Id.
MENGORBANKAN RASA EGO
Karena itu, Idul Qurban (Hari raya pengorbanan) ini mengajarkan tata cara pengorbanan yang berhikmah. Kalian harus memberikan perhatian untuk berjalan sesuai dengan ridha Allah Ta’ala dan merenungi perintah-perintah-Nya yang akan meninggikan derajat ketakwaan kalian. Kalian harus memberikan perhatian pada pengorbanan seorang ibu, anak dan bapaknya yang telah mengorbankan rasa egonya. [yaitu Siti Hajar, Hadhrat Ismail dan Hadhrat Ibrahim as] Mereka bukan hanya memperlihatkan contoh keteladanan mengalungkan pisau [siap sedia melakukan] pengorbanan dalam masa sementara saja, bahkan mereka pemberi pengorbanan secara terus-menerus dalam masa yang panjang.
Mereka yang mengajarkan tata cara dan pokok-pokok perdamaian dan keselamatan dunia itu tidak hanya mengorbankan egonya saja, tapi juga masa istirahatnya/kenyamanannya dan negaranya bahkan mereka terus menerus berdoa demikian, “Semoga Allah Ta’ala juga mengatur dan menyiapkan anak keturunan kami di masa yang akan datang menjadi pemberi keamanan dan keselamatan bagi dunia yang memperlihatkan jalan-jalan ketakwaan, menegakan derajat ketakwaan yang tinggi setelah mendahulukan ridha Allah Ta’ala atas segala sesuatu dan senantiasa menjadi teladan pembimbing untuk dunia.”
MENGENANG PERJUANGAN IBRAHIM
Maka dari itu, Id yang sedang kita rayakan ini dan melakukan manasik haji ialah dalam rangka mengenang pengorbanan Hadhrat Ibrahim as, beserta istri dan putra beliau. Ini bukanlah pengorbanan-pengorbanan lahiriah dan demi pernyataan belaka melainkan itu semua mengarahkan perhatian kita pada satu maksud dan tujuan yang sangat agung. Pengorbanan yang kita lakukan berupa penyembelihan kambing, domba dan sapi, ini bukanlah hanya merupakan pernyataan kebesaran kita atau untuk memperlihatkan kebaikan tertentu pada orang-orang sehingga mereka mengatakan, “Si Fulan telah mengorbankan domba yang bagus dan sangat mahal.”
Kalau pengorbanan itu kosong dari ketakwaan, kalau pengorbanan ini tanpa doa dan keinginan mendapatkan ridha Allah Ta’ala maka pengorbanan ini di sisi Allah Ta’ala layak ditolak sehingga dengan demikian menjadi penyebab kebinasaan. Seperti halnya shalat-shalat menjadi penyebab kebinasaan jika dilakukan tidak untuk memperoleh ridha Allah Ta’ala bahkan hanya untuk pamer, demikian pula ibadah Haji pun ditolak di sisi Allah Ta’ala jika dikerjakan bukan untuk mendapatkan ridha-Nya.
DAPAT HAJI MABRUR WALAU TIDAK BERHAJI
Ada sebuah riwayat perihal seorang wali (orang suci) yang melihat dalam kasyaf para malaikat sedang bercakap-cakap. Kata salah satu dari mereka, “Sedemikian banyak orang yang beribadah Haji pada tahun ini, siapakah diantaranya yang ibadahnya dikabulkan?” Kemudian dikatakan padanya (orang suci itu), “Diantara orang-orang yang beribadah Haji yang datang ke sini (Ka’bah, Makkah) tidak ada seorang pun yang dikabulkan. Ya, ada satu orang yang tinggal di suatu tempat, walaupun tidak datang ke sini untuk menunaikan ibadah Haji tetapi Hajinya dikabulkan.”
Sang wali itu berusaha mencari dan menemuinya, dan mencatat dalam hati, “Amal perbuatan apa yang telah diperbuat oleh orang itu sehingga memperoleh derajat takwa sedemikian rupa walaupun ia tidak melaksanakan ibadah haji [tapi hanya niat saja dan usaha menabung, tetapi] hajinya dikabulkan. Sementara di pihak lain, orang-orang yang datang untuk menunaikan ibadah haji di sini, hajinya tidak dikabulkan. Mungkin saja ia bisa menolong saya.” Orang suci ini mencarinya. Akhirnya sampailah ia pada orang itu. Ia berkata kepadanya, “Saya melihat kasyaf (atau ru’ya) seperti ini, yaitu Haji Anda dikabulkan. Amal perbuatan apakah yang sedemikian rupa disukai Allah sehingga sembari duduk-duduk saja di rumah, ibadah Haji Anda dikabulkan?” Ia berkata, “Saya seorang yang miskin. Sembari mengumpulkan uang-uang recehan untuk menyempurnakan keinginan ibadah Haji saya, saya juga menabungkan sisa-sisa uang belanja saya. Ketika saya tengah bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah Haji, dari rumah tetangga tercium harumnya masakan daging. Istri saya yang sedang hamil ingin makan dagingnya itu. Kadang kala perempuan yang sedang hamil ingin makan makanan yang diingininya. Karena istri saya itu sudah lama tidak memakan daging dan keadaan kami tidak memiliki uang untuk memasaknya.
Istri saya berkata, ‘Tetangga kita sedang masak daging, harumnya tercium kemana-mana, mintalah kepadanya!’ Seketika saya pergi ke rumah itu untuk mengambil/meminta sedikit masakan kuah berdaging. Saya pikir dikarenakan adanya ikatan yang baik antara kami dengan tetangga itu maka ia tidak menolak permintaan tersebut. Bukannya demikian yaitu sampai ke rumah yang tidak kami kenal.
Ketika saya mengetuk pintu sambil memanggil pemiliknya, istri pemilik rumah itu datang menuju pintu. Setelah saya sampaikan amanat istri saya kepadanya, perempuan itu berkata, ‘Daging ini baik bagi kami tetapi tidak baik bagi Anda sekalian. Oleh karena itu saya tidak dapat memberikannya.’ Saya bertanya pada perempuan itu, ‘Apa masalahnya daging ini baik bagi Anda tapi tidak baik bagi kami?’
Ia berkata, ‘Sudah beberapa hari ini kami kelaparan. Anak-anak kami merintih-rintih karena lapar. Suami saya sedang pergi. Kemudian saya melihat seekor keledai yang sudah mati. Saya memotong dagingnya dan membawanya pulang ke rumah. Daging itulah yang saat ini sedang saya masak. Inilah keadaan kami yang terpaksa. Bukan seperti keadaan Anda. Anda dapat membeli daging seperti harapan Anda. Daging ini tidak untuk Anda.’
Mendengar keadaan tetangga saya ini saya pun langsung pulang. Saya ambil uang tabungan saya untuk naik haji. Saya serahkan itu kepadanya lalu berkata kepadanya, ‘Daging itu pun haram bagi Anda, buang dan makanlah yang halal [daging yang bisa dibeli dengan uang ini].’ Demikianlah ceritaku.”
Walhasil, Allah Ta’ala telah menerima Haji seseorang yang berpikir atas dasar ketakwaan dan menunaikan hak kewajiban terhadap tetangga walaupun ia tidak melakukan ibadah Haji. Karenanya, setiap ibadah dan pengorbanan menghendaki (menuntut) adanya ruh ketakwaan dan ridha Allah Ta’ala. Tanpa itu, semua ibadah dan pengorbanan hanya mengalir di mulut saja.
NAIK HAJI HANYA UNTUK DIHORMATI
Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dalam satu kesempatan bersabda menjelaskan keadaan orang-orang yang pergi menunaikan ibadah Haji, “Pada waktu saya pergi menunaikan ibadah Haji dalam perjalanan saya mengenal baik seorang pemuda dari Hindustan (India). Di sana (Makkah), ketika tengah beribadah Haji saya melihatnya yang semestinya ia berdoa, bertasbih dan bertalbiah (mengucapkan Labaik Allahumma Labaik) tapi sebaliknya ia malah bernyanyi-nyanyi. Saya bertanya, ‘Apa yang sedang Anda lakukan? Ini adalah waktunya banyak-banyak berdoa. Seharusnya Anda sibuk dalam berdoa tapi Anda telah menyia-nyiakan waktu-waktu Anda seperti ini.’
Ia menjawab, ‘Saya tidak bisa shalat, tidak juga tahu bacaan doa. Saya seorang pedagang di kota Fulan di Hindustan, saya memiliki toko pakaian yang besar. Ada pesaing kami seorang pedagang toko pakaian lain yang menulis nama Haji di papan tokonya. Sekarang banyak sekali orang yang datang di tokonya karena itu bapak saya berkata, “Engkau juga pergilah ke Makkah. Walaupun tidak tahu apa-apa, sekurang-kurangnya akan tertulis nama Haji di papan nama engkau.” Karena itu saya datang ke sini supaya di papan nama toko saya tertera nama Haji.’” (Tafsir Kabir, jilid 6, h. 35.) Pendeknya, ada juga haji yang seperti ini.
Lebih lanjut Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda berikut ini, “Dalam perjalanan pulang, ketika ia tahu saya seorang Ahmadi dan sebagian orang lain mulai menentang. Ia juga masuk bersama mereka. Ia berkata, ‘Anda seorang Qadiani, kafir! Anda orang yang tidak tahu shalat, tidak mengenal Allah Ta’ala, tidak mengenal Rasul’, Tetapi dalam memberikan fatwa, mereka paling depan.
Demikianlah keadaan sebagian besar orang yang menunaikan ibadah Haji dewasa ini. Mereka tidak memberikan hak-hak Allah Ta’ala, tidak juga menunaikan hak-hak pada hamba-hamba-Nya. Satu sama lain berbuat aniaya, saling membunuh, terjerumus dalam berbagai macam keburukan, tetapi semua ini adalah orang-orang Muslim. Orang-orang Ahmadi mereka larang berhaji, karena orang Ahmadi itu menurut mereka adalah kafir. Oleh karenanya orang-orang ini kosong dari ketakwaan. Ikatan apakah yang akan mereka peroleh dengan Allah Ta’ala. Wallahu a’lam, mengenai hal ini Allah Ta’ala lebih mengetahui. Tetapi, kita yang telah beriman pada pribadi pecinta sejati Rasulullah saw, hendaknya berusaha untuk mencari ruh itu, yang merupakan ruh pengorbanan.
HAKIKAT PENGORBANAN ADALAH ISLAM
Guna lebih terang Hadhrat Masih Mau’ud as di beberapa tempat menjelaskan kepada kita mengenai apakah hakikat dari pengorbanan yang sesungguhnya dan bagaimanakah taraf/tingkat/standar pengorbanan itu? Beliau as antara lain bersabda, “Kami hanya menuntut satu pengorbanan, yang merupakan pengorbanan nafs (jiwa, ego, keakuan) masing-masing.” Kemudian bersabda, “Nama lain dari pengorbanan ini adalah Islam. Itulah yang menjadikan seseorang sebagai Muslim hakiki yaitu orang yang mengorbankan nafs (jiwa, ego) masing-masing. Arti dari Islam adalah meletakkan (menyerahkan dengan rela) leher sendiri untuk disembelih. Itu artinya, dengan kerelaan yang sempurna meletakan ruhnya di hadapan istana Tuhan.”
Bersabda, “Inilah nama yang indah.” (yaitu Islam) “yang merupakan ruh seluruh syariat dan jiwa seluruh perintah. Dengan kegembiraan hati dan keikhlasan meletakan lehernya sendiri untuk disembelih lalu menginginkan kaamil mahabbat (kecintaan yang sempurna), kaamil isyq (keasyikan nan sempurna) dan kaamil ma’rifat (wawasan rohaniah yang sempurna). Maka dari itu, perkataan Islam tertuju akan hal ini, yaitu untuk melakukan pengorbanan hakiki memerlukan kecintaan dan ma’rifat yang sempurna. Tidak memerlukan hal-hal lainnya. Demikian pula, kearah itulah Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an Syarif; لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ Lay yanaallaha luhuumuhaa wa laa dimaa’uhaa walaakiy yanaaluhut taqwaa minkum (al Haj : 38) Sekali-kali tidak akan sampai kepada-Ku daging kurban kalian dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepada-Ku adalah kalian takut pada-Ku dan mengusahakan ketakwaan kepada-Ku.”
KESIMPULAN
Oleh karena itu, sampai kapan pun bila utusan Allah Ta’ala ini belum diterima oleh umat Islam, hingga saat itu juga umat ini akan terus berada dalam keadaan terpecah-belah. Perang sesamanya akan terus berlangsung. Dengan melakukan kezaliman yang terus berlangsung sembari mengatasnamakan Allah dan rasul-Nya, menjadikan mereka terus menjadi sasaran kemarahan Allah Ta’ala. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menganugerahkan akal kepada mereka. Pemahaman pengorbanan hakiki pada diri orang-orang Muslim ini hendaknya ditimbulkan yaitu pengorbanan oleh Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as dalam pembangunan Ka’bah dan tujuan diutusnya Hadhrat Muhammad rasul Allah Saw yang mana sembari meninggikan tingkat pengorbanan bersamaan dengan itu menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak sesama hamba/makhluk-Nya serta menegakkan keamanan dan keselamatan di dunia.
DO’A DAN HARAPAN
Semoga Allah Ta’ala juga menganugerahkan pada kita pemahaman pengorbanan tersebut dalam corak warna yang hakiki dan selain memahami arti pengorbanan secara lahiriah dalam bentuk kambing-kambing, domba-domba dan sebagainya; Dia juga menjadikan kita sebagai orang-orang yang menunaikan kewajiban-kewajiban pengorbanan dan dapat memahami ruh pengorbanannya. Semoga Dia menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat memberikan keamanan, ketenangan dan keselamatan bagi dunia.
Sekarang setelah khotbah kedua kita akan berdoa. Ingatlah dalam doa-doa kita untuk keluarga orang-orang yang syahid. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan derajat yang tinggi kepada para Syuhada. Semoga pengorbanan mereka secara cepat membawa warna perubahan kemajuan yang dengan karunia Allah Ta’ala menjadi bernilai. Semoga setiap pengorbanan mereka menjadi penyebab kemajuan bagi Jemaat. Tetapi di satu segi, semoga Allah Ta’ala menciptakan kemudahan-kemudahan dan kelancaran-kelancaran untuk kita di tempat-tempat yang sedang terjadi pengorbanan, di sisi lain, semoga Dia memberikan akal pemahaman pada mereka [para penentang].
Doakan juga untuk orang-orang yang masih dipenjara di jalan Allah semoga Dia memberikan sarana kemudahan bagi mereka. Doakanlah juga bagi mereka yang berkorban dengan hartanya. Doakanlah juga untuk orang-orang wakaf yang berada dalam medan pengkhidmatan. Doakanlah juga bagi para sukarelawan yang mengorbankan waktunya dalam bekerja untuk Jemaat. Doakanlah juga bagi orang-orang miskin dan yang sangat membutuhkan pertolongan, semoga Allah Ta’ala menjauhkan mereka dari kesulitannya. Doakanlah para Ahmadi di Pakistan. Doakanlah para Ahmadi di Indonesia. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan semuanya dari setiap kesusahan. Doakanlah semua Ahmadi yang tinggal di seluruh pelosok dunia. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka.
Doakan juga untuk orang Muslim yang teraniaya. Banyak sekali orang Muslim yang berada dalam keadaan teraniaya, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari keaniayaan. Sebagian dari antara mereka adalah dalam kondisi terpaksa, dikarenakan keaniayaan atau kekerasan atau larangan-larangan mereka tidak dapat menerima kebenaran. Semoga Allah Ta’ala menghapuskan kekerasan yang mereka alami. Doakan juga untuk orang-orang Muslim Palestina. Semoga Allah Ta’ala menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka dan menjauhkannya.
Doakanlah untuk umat Muslim atau orang-orang Islam pada umumnya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan pada mereka pemahaman. Seperti sudah saya katakan sebelumnya berdoalah supaya organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan kejam yang bergerak mengatasnamakan Islam berakhir. Semoga Allah Ta’ala secepatnya menyelamatkan mereka. Semoga ajaran yang hakiki dari Islam tampil dengan jelas di dunia dengan benar. Dan orang-orang di dunia datang di bawah pangkuan-Nya.
DUA PONDASI ISLAM
Oleh karena itu, takwa adalah nama dari Islam. Takwa itu adalah dengan kaamil mahabbat (kecintaan yang sempurna) dan kaamil isyq (keasyikan nan sempurna) berusaha untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Mengamalkan semua perintah-Nya. Dan, yang sangat terang dari sabda beliau as ialah bahwa pondasi Islam ada pada dua hal.
Pertama, sudah saya sampaikan dalam permulaan Khotbah Jumat saya yang lalu, yaitu melaksanakan haq-haq (kewajiban, tanggungjawab) terhadap Allah dan yang
kedua : adalah menunaikan hak-hak makhluk. Inilah haq-haq yang untuk menegakannya Allah Ta’ala dengan menerima pengorbanan Hadhrat Ibrahim as dan Hadhrat Ismail as lalu Dia menyuruh mereka berdua mendirikan kembali bangunan Ka’bah.
Hal selanjutnya, demi melestarikan tujuan ini di kalangan anak keturunan mereka, kedua orang suci itu berdoa, “Hak tanggungjawab ini akan bisa berdiri tegak dan pada tingkatannya yang tertinggi pada saat seseorang yang mendirikan keteladanan tanpa banding dalam hal memenuhi dan menegakkan haq-haq (kewajiban, tanggungjawab) tersebut.”
“Doa kami adalah, ‘Kabulkanlah (terimalah) pengorbanan kami yang sangat hina ini dan kabulkanlah doa-doa yang dari itu lahir anak keturunan kami.” Inilah doa-doa Hadhrat Ismail as dan Hadhrat Ibrahim as. Selanjutnya Allah Ta’ala mendengar doa kedua Nabi tersebut dan diutus oleh-Nya Rasul Agung itu dari keturunan Hadhrat Ismail as guna melaksanakan uswatun hasanah beliau saw dalam menegakkan HuquuquLlah dan juga menegakkan Huquuqul ’ibaad. Beliau saw menegakkan taraf dalam haq beribadah kepada Allah sehingga Dia yang merupakan Tuhan Pemilik Arsy berfirman; قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ () Qul inna sholaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ’aalamiin. (al ‘An’aam ; 163) “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam’.”
NASIHAT DAN RENUNGAN ‘IED :
“Sudahilah pertentangan pertentangan antara satu dengan yang lain dengan jalan aman dan damai . maafkanlah kesalahan saudaramu , sebab sunguh jahatlah dia yang tidak bersedia di ajak berdamai oleh saudaranya . dia kan memutuskan hubungan sebab ia telah mencoba menanam bibit perpecahan. Tingalkanlah keinginan untuk mengikuti hawa nafsu dan bersitegangrasa antara satu dengan yang lain walaupun seandainya kamu berada di pihak yang benar, bersikaplah merendahkan diri (hati) seakan akan kamu bersalah agar kamu sendiri diperlakukan dengan pengampunan. Lepaskan segala sesuatu yang akan mengemukakan hawa nafsu, sebab pintu yang melalui pintu itu kamu dipersilahkan masuk tak dapat dilalui orang yang gemuk oleh hawa nafsunya. Alangkah malangnya orang yang tidak mempercayai apa yang difirmankan Tuhan dan apa yang telah kusampaikan kepadamu. Sekira kamu agar Tuhan di langit ridha kepadamu, maka segeralah bersatu padu seakan-akan kamu antara satu sama lain seperti saudara sekandung layaknya . Diantara kamu orang yang patut di hormati , hanyalah dia orang yang suka mengampuni kesalahan saudaranya. Malanglah dia yang bersikeras kepala dan tidak bersedia memaaf kan kesalahan orang lain , sebab ia bukan dari golonganku (jemaatku)“,
Na, Pwt. 09/08/2019.