JALSAH MALAYSIA 2018


KECINTAAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAW.
GERBANG MENUJU CINTA ILAHI
(Disampaikan : Acara Jalsah Salanah ke-33 Malaysia, Kualalumpur 21-23 Desember 2018 )
Oleh : Mln. Nasiruddin Ahmadi, (Muballigh Daerah Jateng 1, Indonesia)
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (3:32).

A. ILUSTRASI : Untuk membimbing pola pikir kita agar sampai kepada judul ceramah yang dia atas, maka saya akan berusaha untuk memberikan Ilustrasi sbb. :

Untuk menuju kesuatu tujuan seperti dari Malaysia mau ke Indonesia, dari Malaysia mau ke Filipina atau negara lainnya, tentunya dibutuhkan kendaraan (Pesawat) yang fasilitasnya  lengkap dan sempurna. Hal ini demi kenyamanan, keamanan dan keselamatan para penumpang. Bukan hanya kendaraan yang fasilitasnya lengkap dan sempurna saja, tetapi kendaraan (Pesawat) tersebut harus di kemudikan oleh orang yang sudah berpengalaman,  memliki sertifikasi kelayakan terbang dari yang berwenang dan sudah hafal route penerbangan untuk mencapai tujuan. 
Demikian juga untuk menuju tujuan hidup manusia yaitu, beribadah demi meraih keridhaan Allah, sehingga menjadi milik Allah dan menduduki singasana Ilahi, maka dibutuhkan kendaraan dan Pilotnya. Kendaraan yang dimaksud adalah Agama Islam yang sempurna dan lengkap, adapun Pilot yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang sudah berpengalaman perjumpaan dengan Allah SWT. Yang menjadi tujuan. Tentunya untuk Pilot akhir zaman adalah, Hadhrat Imam Mahdi as.

B. APAKAH TUJUAN HIDUP MANUSIA YANG SEBENARNYA ?
1. Walaupun manusia mempunyai keinginan hidupnya masing-masing -. Ternyata tujuan hidup manusia sudah ditentukan oleh sang Pencipta, yaitu untuk beribadah atau mengabdi kepada-Nya. sebagaimana Allah Ta’aala berfirman, :


WA MAA KHALAQTUL-JINNA WAL-INSA ILLAA LIYA’BUDUUN, artinya, “ Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku “ (Adz-dzariyat 51:57). Jadi manusia datang dan pergi bukan atas kemauannya sendiri. 
2. Hazrat Masih Mau’ud as. Bersabda,     “ ..menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia adalah untuk menyembah Allah Ta’aala dan meraih ma’rifat Allah Ta’aala serta menjadi milik Allah Ta’aala…tidak peduli apakah manusia mengerti atau tidak mengerti tujuan itu, akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak diragukan lagi yaitu, untuk menyembah Tuhan dan meraih ma’rifat Allah Ta’aala serta menjadi fana (melebur ) di dalam Allah Ta’aala  “. (FAI, Hal. 125-126, 2001).  Jadi, apabila manusia dari awal, sudah salah menentukan jalan hidupnya, maka selanjutnya ia  akan mengalami kehidupan yang gelap dan terlunta-lunta tanpa arah, laksana si buta mencari jalan rata.
3. Untuk mencapai tujuan hidup tersebut, manusia membutuhkan aturan hidup yang namannya agama dan manusia diberi modal 8 jalan yang mendasar yaitu : 
Mengenali Allah Ta’aala, 
Mendapatkan gambaran tentang kejuwitaan Allah  ( Husnun ), 
Mengenal kebaikan yang lebih dari Allah ( Ihsan), 
4. Do’a , Hz. Masih Mau’ud as bersabda, “Perlu diingat bahwa doa yang telah diwajibkan atas orang-orang Islam oleh kitab suci Allah Ta’ala mempunyai empat sebab mengapa diwajibkan;
Pertama, supaya mereka setiap saat dan keadaan selalu menghadap Allah, sehingga Tauhid akan selalu kokoh di hati mereka. Karena memohon kepada Allah Ta’ala berarti menyatakan bahawa hanya Allah Ta’ala yang dapat mengabulkan.
Kedua, agar iman menjadi kokoh ketika doa-doa itu dikabulkan   dan maksud-maksud mereka tercapai.
Ketiga, jika disatu segi sokongan/pertolongan Allah itu ada, makahikmah dan ilmu mereka itu akan bertambah.
Keempat, jika pengabulan doa itu dijanjikan dengan Ilham dan ru’ya lalu seperti itu jga sempurnanya, maka ma’rifat Ilahi itu akan semakain bertambah. Dari ma’rifat itu akan timbul kenyakinan, dan dari keyakinan akan timbul kecintaan. Dan dari kecintaan itu manusia akan terputus dari dari setiap dosa dan syirik-yang mana semua hal ini adalah buah dari Najat’keselamatab yang sebenarnya”(Ayaame-e-Sulh, Hal. 12-13).
5. Mujahadah, harus kerja keras jangan malas,
 Istiqomah, Teguh, ada tantangan yang menghadang, maju terus pantang mundur,
6. Bergaul dengan orang-orang Shaleh seperti hidupnya para Nabiullah.
7. Kasyaf & Ilham Suci, sebagai sarana pengawasan dan hiburan dari Allah Ta’aala. 

Untuk memahami dan bisa mengamalkan 8 jalan tadi agar tidak terperosok dan tersesat kita harus mencari guru pembimbing. 
C. MENGAPA HARUS MENGGUNAKAN KENDARAAN ISLAM UNTUK MENUJU TUJUAN HIDUP ?, Karena :
1. Fitrat yang suci, tunduk, ta’at, dan ikhlas dinamakan dengan fitrat ISLAM. Agama yang benar adalah, INNAD-DIINA ‘INDALLAAHIL-ISLAAMU, artinya,   “ Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah adalah ISLAM …“  ( Ali-Imran 3:2 ).
FA AQIM WAJHAKA LID-DIINI hANIIFAA, FITHRATALLAAHIL-LATII FATHARAN-NAASA ‘ALAIHAA, LAA TABDIILA LI KHALQILLAAHI, DZAALIKAD-DIINUL-QAYYIIM, Artinya, “  Maka hadapkanlah wajahmu untuk berbakti kepada agama dengan kebaktian selurus-lurusnya. Dan turutilah Fitrat yang diciptakan  Allah, yang sesuai dengan Fitrat itu Dia telah membentuk umat manusia. Tiada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah Agama yang benar “ ( Ar-rum 30:31 ).
2. Hazrat Masih Mau’ud as bersabda.  “  Agama yang di dalamnya terdapat ma’rifat yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya\ dalam bentuk yang tebaik, adalah ISLAM  ( 3:20).. Dan Islam telah ditanamkan dalam fitrat manusia. Dan Allah Ta’aala telah menciptakan manusia dalam keadaan Islam serta telah menciptakannya untuk Islam  (30:31)“.
3. Selanjutnya Beliau as. Bersabda, “ Dia ( Allah ) telah menghendaki agar manusia dengan segala kemampuannya terus-menerus menyembah, manaati, dan mencintai Tuhan. Itulah sebabnya Sang Maha Kuasa dan Maha Mulia telah menganugerahkan kepada manusia seluruh kemampuan yang selaras dengan ISLAM “.
4. Beliau as bersabda, “...bahwa keistimewaan yang sangat besar di dalam Islam adalah bahwasannya tujuan yang untuknya manusia telah diciptakan, ia tidak diperoleh selain melalui Islam. Apakah itu ?, yaitu agar kecintaan terhadap Allah Ta’ala menjadi berkembang dan ma’rifat tentang-Nya menjadi meningkat – yang mana melalui manusia melakukan ibadah kepada-Nya dengan suatu kesukaan dan kecenderungan yang kamil. Akan tetapi tujuan ini sampai kapanpun tidak akan pernah terpenuhi selama ajaran dan hidayat tidak kamil; dan kemudian contoh/bukti daripada hasil-hasil dan buah-buah akibat mengamalkan ajaran serta hidayat tersebut tidak ada – yaitu contoh/bukti yang dengan melihatnya dapat diketahui bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa”, (Malfuzaat, Vol. 7, Hal. 426).
5. Islam Agama Yang Menampakan AllahTa’ala : Beliau as. Bersabda, “Pahamilah dengan seyakin-yakinnya, bahwa fadhal hakiki yang datang dari langit tidak ada yang dapat mencuri maupu  menirunya. Jika di dalam Islam tida ada anugerah berdialog dan bercakap-cakap (dengan Allah Ta’ala) serta tidak ada karunia-karunia (lainnya itu), maka Islam tidak bermakna sedikitpun. Justru inilah kebanggaannya bahwa ia membuat orang Islam yang sejati menjadi pewaris anugerah-anugerah serta kemuliaan-kemuliaan tersebut. Dan ia (Islam) pada hakikatnya adalah agama yang menampakan Allah Ta’ala. Di dunia juga ia menampakkan Allah Ta’’ala. Dan inilah yang merupakan tujuan daripada Islam. Sebab melaui sarana yan satu inilah manusia mengalami maut/kematian, lalu ia jadikan bersis suci. Dan bagi manusia itu terbuka pintu najat/keselamatan yang hakiki. Sebab sebelum timbul kenyakinan kamil akan Allah Ta’ala, maka kapanpun tidak akan dapat meperoleh najat/keelamatan”, (Malfuzaat, Vol. 8, Hal. 321).

D. MENGAPA PILOTNYA HARUS NABI MUHAMMAD  RASULULLAH SAW ?
1. Nabi Muhammad SAW. Sebagai Jalur untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala :
“ Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (3:32).

2. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, Yang dicintai Tuhan : “In Kuntum Tuhibbunallaahi Fat-tabiuni yuhbib-kumullah wayaghfirlakum zunuubakum, menunjukan bahwa tidak seorang pun yang dapat menjadi orang yang dicintai Tuhan atau berhak mendapat kedekatan dengan-Nya melalui jalan dan ibadah yang dicatatnya sendiri. Petunjuk dan rahmat tuhan tidak bisa turun kepada seseorang kecuali dia betul-betul taat kepada Rosulullah SAW.
Dia yang luluh kecintan kepada Rosululloh s.a.w. dan hal ini, seolah-olah,  dia mejadikan dirinya mati kepada ketaatan dan kepatuhan kepada Rosullulloh s.a.w.,akan menerima cahaya iman dan kecintaan yang membuat lepas dari  segala sesuatu kecuali Tuhan; itu juga meberikannya keselamatan dan dosa. Di dunia ini juga dia menjalani hidup yang lurus dan saleh dan dia dikeluarkan dari kegelapan , dari kuburan nafsu rendah yang dalam . Hadis:              Anal hasyirulladzi Yuhsyarannasu    ala    qadami, menunjuk kenyatan    ini.Bunyinya :      Akulah     yang memberikan kehidupan kepada  yang mati  yang atas  jejaknya mereka di bangkitkan. Arti sesungguhnya     adalah apa          pun dasar keselamatan , hal itu dapat diperoleh tampa kehidupan yang     diberikan       kepada  seorang melalui Ruh kudus . Ayat Ayat Al Quran di atas   menunjukan  kepada   kita    kenyataan  bahwa   kehidupan     yang       diberikan    kepada seseorang melalui Ruh Kudus.      Ayat      Al Quran dia atas menunjukan kepada kita kenyataan bahwa kehidupan rohani tidak dapat diperoleh tanpa patuh sepenuhnya kepada Rasulullah SAW...”, (Malfuzaat, Vol.II, Hal. 183).
3. Hadhrat Khalifatul-Masih II ra. Bersabda, “Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan untuk memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin tercapai kecuali dengan mengikuti (Nabi Muhammad) Rasulullah SAW. Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari (QS. 2:63), bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh keselamatan”, (Alquran Terjemah dan Tafsir Singkat, Hal. 229, Edisi ke-lima 2014, Published by : Islam International Publication Limited Islamabad, Sheephatch Lane, Telford, Surrey GU 10 2AQ, England).

E. Jalan untuk kemajuan rohani : 
1. Harus mengikuti Jalur Ketaatan kepada Nabi Muhammad SAW. 
Allah berfirman :

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَا لصِّدِّيْقِيْنَ وَا لشُّهَدَآءِ وَا لصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا ۗ 

“ dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”, (An-Nisa 4:70).

Note dari ghair Ahmadi : [314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

2. Hadhrat Khalifatul-Masih II ra. Bersabda, “Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan rohani yang terbuka bagi kaum muslimin. Keempat martabat kerohanian – para Nabi, para Shidiq, Syuhada dan rang sholeh – kini semuanya  dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti (Nabi Muhammad) Rasulullah SAW semata. Tidak ada nabi lain menyamai beliau SAW dalam perolehan nikmat ini...”, (Alquran Terjemah dan Tafsir Singkat, Hal. 362-363, Edisi ke-lima 2014, Published by : Islam International Publication Limited Islamabad, Sheephatch Lane, Telford, Surrey GU 10 2AQ, England).

3. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “ (Nabi Muhammad) Rasulullah SAW adalah penjelmaan sempurna dari Rahmaniyyat, karena (Nabi) Muhammad (SAW) berarti dia yang sangat terpuji. Rahman berarti dia memberi tanpa meminta imbalan dan  memberi kepada setiap orang tanpa membedakan orang yang beriman atau orang kafir. Dan sudah jelas bahwa orang yang memberikan sesuatu tanpa meminta imbalan, adalah terpuji. Dengan demikian Muhammad memiliki penjelmaan Rahmaniyyat dalam diri beliau. Berkaitan dengan nama beliau Ahmad, di dalamnya terdapat penjelmaan Rahimiyyat. Karena Rahim berarti dia yang tidak membiarkan upaya menjadi sia-sia dan Ahmad juga berati dia yang memuji. Juga sudah jelas bahwa siapa saja yang berbuat baik kepada seseorang, yang disebut trakhir akan sangat bergembira dan memberi balasan atas apa yang telah dia perbuat, dan lebih jauh dia akan memujinya. Demikianlah Rahimiyyat dijelmakan dalam Ahmad. Dengan demikian Allah adalah Muhammad (Rahman), Ahmad (Rahim). Dengan kata lain (Nabi Muhammad) Rasulullah SAW adalah penjelmaan sempurna dari dua sifat agung Tuhan ini, Rahmaniyyat dan Rahimiyyat”,(Malfuzaat, Vo. II. Hal. 135).

4. Hz. Masih Mau’ud as bersabda, “ …bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul dan Juru Syafaat kecuali Muhammad Musthafa SAW. Maka berusahalah kamu sekalian menaruh kecintaan yang semurni-murninya kepada Nabi Agung ini, dan janganlah memberikan kepada siapapun tempat yang lebih tinggi daripada beliau, agar kamu digolongkan diantara orang-orang yang telah diselamatkan…. Siapakah yang memperoleh Najat itu ?, ialah orang yang benar-benar yakin bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan Nabi Muhammad SAW adalah juru Syafaat yang menengahi antara Tuhan dan seluruh umat manusia. Bahwa di bawah bentangan langit ini tidak ada Rasul lain yang semartabat dengan beliau dan tidak ada Kitab lain yang sederajat dengan Al-quran…” ( Ajaranku, hal. 12-13, 1993).
5. Syair Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as Kecintaannya kepada Rasulullah SAW.
LA SYAKKA ANNA MUHAMMADAN KHAIRUL-WARA, RAIQUL-KIRAAMI WANUKHBATUL-A’YAANI, - “Memang tak syak lagi Muhammad yang paling baik dari semua, orang pilihan dari orang-orang yang mulia dan orang pilihan dari orang-orang yang terkemuka “-.
TAMMAT ‘ALAIHI SHIFAATU KULLI MAZIYYATIN, KHUTIMAT BIHI NA’MA-U KULLI ZAMAANI, - “Segala sifat-sifat yang indah dan segala nikmat yang terdapat pada setiap zaman, telah sempurna di dalam dirinya (Muhammad SAW.)”-
WALLAAHI INNA MUHAMMADAN KARIDAAFATIN, WABIHIL-WUSHUULU BISUDDATI SULTHAANI, - “Demi Allah Muhammad adalah ikutan, dengan menolongnya orang bisa sampai ke Istana Ilahi “.
F. Menjawab keraguan, apakah kita boleh menjadikan Hadhrat Nabi Muhammad saw sebagai wasilah (perantara) untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt? 
Jawab : Mengikuti sunnah-sunnah beliau dan mencintai beliau sepenuhnya merupakan wasilah untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt agar doa kita memperoleh kemaqbulan di sisi-Nya. Di dalam doa setelah mendengar adzan juga kita diajarkan untuk menjadikan beliau wasilah (perantara) bagi kita. Sebagian dari ayat yang saya bacakan tadi yang dikutip dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as selengkapnya ayat itu berbunyi sebagai berikut,
 قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ -- Qul in kuntum tuhibbûnalLôha fattabi’ûnî yuhbibkumulLôhu wa Yaghfir lakum dzunûbakum, wal-Lôhu Ghofûrur-Rôhîm -- Artinya: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencintai kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Maka bisa kita lihat sunnah apakah yang beliau lakukan, yang harus kita ikuti? Apa yang beliau lakukan di hadapan para sahabah beliau sehingga riwayatnya telah disampaikan kepada kita?. (Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur AhmadKhalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz, 13 Maret 2009 di Masjid Baitul Futuh, London, UK.)

G. PILOT (GURU JAGAT) DIAKHIR ZAMAN :
Tujuan hidup harus terus berlangsung walaupun wujud suci Nabi Muhammad Musthoafa SAW sudah wafat dan sudah lama meninggalkan umat Islam. Nabi Muhammad SAW adalah sebagai Guru Jagat Rahmatan-Lil’aalamiin yang kesempurnaannya tidak bisa digantikan oleh sosok yang lain. Tetapi ditempat lain, Beliau SAW pun sudah menubuatkan, kemunduran umat Islam, “Tatkala Islam tinggal namanya saja, Quran tinggal Tulisan, Masjid banyak tapi kosong dari petunjuk dan ‘Ulama seburuk-buruk di kolong langit”, maka untuk menghidupkan dan menegakkan kembali agama Islam dan Syariat Al-quran, akan diutus Imam Mahdi as. Alhamdulillah kita termasuk orang-orang yang sudah mendapat karunia untuk menerima kebenaran Imam Mahdi as.
Sebagaimana para utusan Allah Ta’aala dari masa-kemasa tugas utamanya untuk memperkenalkan dan mengajak manusia ke Jalan Allah Ta’aala, maka sang Guru Jagat di akhir zaman inipun memiliki misi yang sama. 
Berikut ini beberapa Sabda dari Hadhrat Imam Mahdi as. :
1. “Allah Ta’ala menghendaki agar semua ruh yang berdiam di seluruh pelosok bumi, di Eropa maupun Asia, kesemuanya yang bertabiat baik akan ditarik kepada Tauhid dan akan dihimpun-Nya di dalam satu agama. Inilah kehendak Allah, yang karenan-Nya-lah maka aku diutus ke dunia. Ikutilah olehmu kehendak ini (Khilafah), tetapi dengan lemah lembut, dengan akhlak dan dengan banyak berdoa. Dan sebelum ada yang berdiri dengan memperoleh Ruhul-qudus dari Tuhan, bekerjalah semuanya bersama-sama sepeninggalku . Hendaknya kamu mengambil bagian dari Ruhul-qudus itu untuk berkasih-sayang kepada sesama makhluk dan untuk membersihkan jiwamu sebab  taqwa yang sejati tidak akan tercapai tanpa Ruhul-qudus. Ambilah keridhaan Tuhan sampai meninggalkan kehendak nafsumu, …janganlah kamu mabuk oleh kelezatan dunia karena semuanya akan menjauhkan dari Tuhan….” (Hz. Masih Mauud as., Alwasiat, Hal. 16-17).
2. Hadhrat Imam Mahdi as. bersabda, : “Tujuanku mengirim selebaran-selebaran dan pengumuman ke Amerika dan Eropa adalah karena aku harus membimbing mereka kepada Tuhan yang telah akau lihat sendiri. Aku tidak ingin menunjukkan Tuhan dalam bentuk dongeng-dongeng. Aku ingin memperkenalkan diriku kepada mereka sebagai saksi keberadaan Tuhan itu. Itu adalah hal yang langsung dan sederhana. Siapaun yang bergerak menuju Tuhan, maka Tuhan akan bergerak menuju dia dengan kecepatan yang lebih cepat daripada dia sendiri. Kami mendapati bahwa jika seseorang disebutkan baik dalam buku orang yang terhormat, maka dia juga dia akan dihormati orang. Apakah kalian kira orang memperoleh kedekatan kepada Tuhan tidak ada artinya dibandingkan tanda-tanda yang menjelmakan kebesaran dan kekuatan tak terbatas dari Tuhan....Dengan demikian orang-orang yang memperoleh kedekatan dengan Tuhan dan tidak lain melainkan sebuah tanda dan penjelmaan-Nya, dianggap sebagai sasaran yang mudah – orang yang yang menentangnya merencanakan dan berusaha sekuat tenaganya. Tetapi mereka dilindungi dari semua serangan itu dan mereka keluar dari pertarungan dengan selamat dan sejahtera dan dengan penghormatan dan kemenangan yang besar. Inilah yang mengejutkan kebanyakan musuh”, (Malfuzaat, Vo. I, Hal. 307).
3. Hadhrat Masih Mau’ud as.bersabda, “Aku mencoba menyeru orang-orang untuk datang dan tinggal bersamaku – kadang-kadang aku melakukannya dengan membuat pengumuman bahwa mereka hendaknya datang. Itu semua karena aku ingin mengabarkan kepada mereka tentang Tuhan yang telah aku temukan dan lihat, dan aku harus menunjukkan jalan terpendek untuk mencapai-Nya – jalan yang akhirnya menjadikan seseorang sebagai manusia Tuhan....Seseorang tidak harus melalui kesulitan-kesulitan untuk berjalan melalui jalan ini, hatilah yang berperan disini. Sesungguhnya Tuhan melihat ke dalam hati, dan hati yang penuh dengan kecintaan kepada Tuhan tidak membutuhkan sebuah berhala untuk tegak dihadapannya. Penyembah berhala tidak dapat membimbing seseorang kepada kesimpulan yang tepat dan pasti”, (Malfuzaat, Vol. I, Hal. 308).

H. MENGAPA HARUS MENGIKUTI GURU JAGAT  AKHIR ZAMAN, IMAM MAHDI DAN MASIH MAU’UD AS.?
Karena kedatangan Beliau as. Sudah dinubuatkan oleh Allah Ta’aala dan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW. dan sudah dikhabar ghaibkan melalui kitab-kitab terdahulu maupun Al-quran dan Hadits.
Karena Hz. Mirza Ghulam Ahmad yang bergelar Ratu adil Imam Mahdi dan Al-masih Mau’uud as. Sangat mencintai Allah dan Rasulullah SAW bahkan beliau sudah mendapar maqom atau darajat Fana-fillah wa Fana-fii Rasulullah SAW.
Bukti-bukti Kecintaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dan para Khulafanya  kepada Allah, Nabi Muhammad SAW, Islam dan Al-quran : 
1. “ Saya katakan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan serigala buas, tetapi kami tidak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabi (Muhammad) yang kami cintai, orang yang  lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami “, (Paigham-i-Sulh, hal. 30, 1908).
2. “Sekiranya orang-orang ini membantai anak-anak kami di depan mata kami dan mencincang apa-apa yang kami kasihi sampai berkeping-keping dan membuat mati dengan hina dan malu dan merampas harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan kepada nabi suci kami, Muhammad SAW “, (Aina Kamalati Islam, hal. 52, 1893 ).
3. Rela berkurban demi Muhammad SAW. : Hz. Khalifatul Masih III ra, bersabda,        “ Kami mengurbankan HATI dan jiwa untuk Nabi Muhammad SAW. HATI kami penuh dengan kecintaan kepada Beliau SAW. Zarrah-zarrah wujud kami dinaungi kebaikan-kebaikan Beliau SAW. Jika anak-anak kami di bunuh dengan kejam ( di hadapan kami ) maka kami bisa menahan kesedihan itu. tetapi kami tidak bisa menahan kesedihan sekejap matapun bila ada orang yang mencaci-maki kekasih kami, Hazrat Khairul-Anam ( yang lebih baik dari semua makhluk ) Khaatamul-Anbiyaa SAW  “,( Pidato Hz. Khalifatul-Masih ke-III ra, 7 Juni 1972, Hal. 5/ Riwat Hidup Khalifah-Masih ke-III ra, Hal. 22, Tahun 1987 ).                                                      4. Belah-lah hati, dan lihatlah : Tentang keyakinan & kecintaan yang menghujam sampai ke HATI yang sangat dalam, beliau bersabda, “ …. Jika ada seorang yang membelah HATI saya dan bisa melihatnya, maka ia mengetahui bahwa dalam HATI saya tidak ada sesuatu selain kecintaan kepada Allah SWT dan Muhammad SAW. “ (Riwat Hidup Khalifah-Masih ke-III ra, Hal. 23, Tahun 1987). 
5. Selanjutnya beliau bersanda, “ Hendaknya setiap HATI manusia penuh dengan kecintaan kepada Muhammad SAW dan hendaklah dari seluruh ujung dunia suara pujian Allah SWT dan suara shalawat kepada Muhammad SAW sampai ke telinga semua manusia “ (Al-Musabin, Hal. 351/Riwat Hidup Khalifah ke-III ra, Hal. 26, Tahun 1987).
I. MENJAGA KONSISTENSI UNTUK MENCAPAI TUJUAN HIDUP DEMI MERAIH KERIDHAAN DAN MENDUDUKI SINGASANA ILAHI :

1. Tekad kuat,  ingin berubah : “Saya selalu risau memikirkan bagaimana supaya di dalam Jemaat timbul suatu perubahan suci. Adapun gambaran yang terdapat dalam hati saya tentang perubahan di dalam Jemaat saya, masih belum terwujud. Dan menyaksikan kondisi ini keadaan saya bagaikan LA’ALLAKA BAKHI’UN NAFSAKA ALLA YAKUUNUU MU-MINIIN – Boleh jadi kamu membinasakan dirimu dari duka cita karena mereka tidak mau beriman -. Saya tidak menginginkan supaya pada waktu bai’at (orang-orang) ikut mengucapkan beberapa kata seperti burung beo. Itu tidak akan memberikan faedah sedikitpun. Raihlah ilmu Tazkiyah nafs (pensucian jiwa ), sebab itulah yang diperlukan. Maksud tujuan kami sama sekali bukan supaya kalian kesana-kemari bergaduh dan berdebat soal mati hidupnya Almasih as.         (menghitung angka-angka belaka, peny.) Itu hanyalah suatu perkara kecil, jangan berhenti disitu saja. Itu adalah suatu kekeliruan yang telah saya perbaiki. Sedangkan maksud tujuan    (utama) kami adalah masih sangat jauh dari itu. Yakni, ciptakanlah oleh kalian suatu perubahan (suci) dalam diri kalian. Dan benar-benar jadilah seorang Insan yang baru. Oleh karena itu penting bagi setiap orang diantara kalian supaya memahami rahasia ini,    (selama ini terlena oleh asyiknya dunia, peny. ) Dan adakan perubahan sedemikian rupa sehingga dia dapat mengatakan bahwa, ‘ Saya sudah berubah ‘ “  (Buku Bai’at hal. 23, 1999).
2. Jangan Malas, Dan  posisi orang malas dalam Jemaat ? : 
“…Beliau as bersabda : “ Kelompok ini tidak boleh terdiri dari  orang-orang Islam yang malas, tak berguna, dan bermulut besar yang melalui perpecahan dan amal buruk mereka telah menyebabkan kerugian tak terhitung bagi Islam serta mengotori wajah Islam yang bersih. Jemaat inipun tidak boleh terdiri dari orang-orang yang mengisolir diri, yang tidak mengenal kepentingan-kepentingan Islam dan permintaan manusia serta kesejahteraan mereka. Jemaat ini harus terdiri dari orang-orang yang menolong si miskin, menjadi ayah si yatim dan siap menyerahkan hidup mereka deni pengabdian untuk Islam”. (Qadian, 4 Maret 1889).

Bagaimana posisi orang malas dalam jemaat ?, :                                      
a. Hz. Imam Mahdi as. Bersabda,  “ Dan andaikata di suatu sudut relung dadamu ada terselip sifat keangkuhan, ria, cinta diri-sendiri, dan kemalasan, kamu tidak akan dianggap memiliki sesuatu yang dapat diterima oleh Tuhan. Jangan-jangan, oleh karena beberapa hal yang kamu sangka amal baktimu, kamu sebenarnya menipu diri sendiri karena beranggapan bahwa segala yang harus kamu kerjakan telah kamu laksanakan. Sabab Tuhan menghendaki agar di dalam wujudmu terjadi suatu revolusi yang dasyat lagi menyeluruh. Dia menuntut darimu suatu maut, sesudah maut itu  kamu akan diberi oleh-Nya kehidupan yang baru ”. (Ajaranku, hal. 7-8, tahun 1993).  
b. Orang malas tidak berguna : Beliau as. Bersabda “  Perlihatkanlah amal baik sejauh mungkin hingga kesempurnaannya mencapai derajat yang tertinggi. Setiap orang dari antara kamu yang menjadi kendur dan malas akan dilemparkan dari Jemaat bagaikan sebuah barang yang kotor. Ia akan mati membawa penyesalan dan bagaimanapun ia tidak akan dapat merugikan Allah “,  (Ajaranku, hal. 17, tahun 1993).
c. Rasulullah SAW. tidak memiliki rasa malas :
Hz. Masih Mau’ud as bersabda,  “ ….Penderitaan yang dialami selama 13 tahun oleh Nabi Kita SAW, di Mekkah Mu’azzamah dengan membaca riwayat hidup beliau pasa periode itu, maka dengan jelas akan diketahui bahwa Rasulullah SAW telah memperlihatkan akhlak-akhlak yang memang seharusnya diperlihatkan oleh seorang shaleh sempurna pada saat-saat sulit, yaitu tetap tawakkal kepada Allah, tidak berkeluh kesah, tidak memperlihatkan kemalasan dalam tugas, dan tidak takut terhadap sosok seseorang- sedemikian rupa sehingga orang-orang kafir menjadi beriman karena menyaksikan istiqamah yang demikian itu dan memberikan kesaksian bahwa istiqamah serta ketabahan dalam penderitaan seperti itu tidak dapat dilakukan tepat pada waktunya ini dan untuk itulah Dia telah menciptakan saya, sama sekali saya tidak mungkin jadi malas melaksanakannya, walaupun matahari di satu sisi dan bumi di sisi lain sama-sama ingin melumatkan saya “, (Tuhfah Golerwiyah, h. 8,9/Mahzarnamah, Hal. 197-198, tahun 2002).
3. Meraih Ma'rifat: Beliau as. bersabda, “Orang-orang dari golonganku begitu hebat akan memperoleh kelebihan dalam hal Ilmu dan Ma’rifat, sehingga mereka akan menutup mulut semuanya dengan Nur kebenaran mereka dan melalui dali-dalil dan tanda-tada  (Aayat) “. ( Riwat Hidup Khalifah-Masih ke-III ra, Hal. 41, Tahun 1987 ). 
4. Do’a yang berberkat dari Nabi Muhammad SAW untuk menghilangkan rasa malas dan Penakut ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINAL-‘AJZI WAL-KASALI WAL-JUBNI WAL-HARAMI WAL-BUKHLI…, Artinya, “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan malas, dan penakut dan tua dan bakhil/kikir…”            (Tarjamah Riadhush-shalihin, hal. 373, Cetakan tahun 1973). 

a. Do’a dan Keyakinan : Dua unsur ini tidak bisa dipisahkan. Umat Islam harus yakin ketika dia memanjatkan do’a  kepada Allah, niscaya Allah akan mendengar dan mengabulkannya. Sebagaimana janji Allah Ta’aala, - ..FA INNI QARIIBUN, UJIIBU DA’WATAD-DAA’I IDZAA DA’AANI…-“ … Maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan do’a orang yang memohon apabila ia mendo’a kepada-Ku…”. (Al-baqarah 2 : 187). b. Hz. Imam Mahdi as. Besabda, “ Untuk mengikuti ajaranku seseksama-seseksamanya dikehendaki agar mereka harus berkeyakinan bahwa mereka mempunyai satu Tuhan yang Qadir, Qayyum, dan Khalikul-kul, yang sifat-sifat-Nya tidak pernah berubah serta kekal lagi abadi “,   (Ajaranku, hal. 2, 1993).
c. Berdo’alah laksana bayi ; Berdoalah laksana bayi yang meminta air susu ibunya, menangis dan menangis dengan penuh harap dan kegelisahan, “ Mulailah kamu menangis bagaikan bayi yang meminta susu supaya air keluar dengan sendirinya dari dada ibu. Buatlah dirimu layak menerima kasih supaya kamu dianugerahi Kasih Sayang. Perlihatkanlah kegelisahan agar kamu memperoleh ketentraman hati. Merataplah sepuas-puasnya sampai ada sebuah tangan meraih tanganmu…”.                (Ajaranku, hal. 40-, 1993
d. Do’a  dan amal  Shaleh solusi menuju ke menara keyakinan : Berdo’a apabila ingin dikabulkan jangan hanya di bibir saja tetapi harus disertai keyakinan yang dihayati dan beramal shaleh, “ ..dalam memohon pertolongan ini janganlah hanya sekedar di bibir melainkan hendaknya benar-benar keyakinan itu dihayati bahwa setiap berkat itu turunnya dari langit. Kamu akan benar-benar menjadi orang shaleh hanya apabila pada setiap waktu jika kesulitan datang menimpamu, sebelum kamu menata rencana untuk menanggulangi kesulitan itu, kamu menutup pintu kamarmu dahulu lalu merebahkan dirimu dihadapan singasana Ilahi – meratap di hadapan Dia dan mengungkapkan bahwa kamu di hadapkan kepada suatu kesulitan dan kamu memohon Karunia-Nya. Maka niscayalah Ruhul-qudus akan menolongmu dan dengan jalan ghaib Dia kan membukakan pintu jalan keluar bagimu “,        (Ajaranku, 34, 1993).
e. Beliau as. Bersabda, “ Kalau kamu bermohon (berdo’a) dengan kesungguhan hati niscaya kamu akan menyadari itulah sebenar-benarnya ilmu yang memberi kesegaran dan kehidupan baru dan menyampaian kamu ke puncak menara keyakinan “ (Ajaranku, hal. 37, 1993).
J.  Rapatkan dan Kuatkan Barisan dan Tabur  kebaikan :
Sudah saatnya  para anggota Jemaat merapatkan kembali barisan yang kokoh laksana pondasi yang di cor oleh timah, untuk melakukan da’wat Ilallah atau Jihad damai, tanpa kekerasan sesuai cara Nabi suci Muhammad SAW.
1. Tabur kebaikan : Hz. Masih Mau’uad as,      “ Bersukacitalah kamu, sebab medan untuk mendapat qurub (kedekatan) kepada Tuhan, sekarang sedang sunyi-sepi. Tiap-tiap bangsa sedang asyik dalam urusan dunia. Dan tiap amal yang diridhai oleh Tuhan itu tidak diacuhkan oleh dunia. Bagi orang-orang yang dengan sekuat tenaganya hendak memamasuki pintu ini, ada kesempatan baik untuk memperlihatkan kecakapannya serta memperoleh hadiah istimewa dari Tuhan. Janganlah kamu menyangka bahwa Tuhan akan menyia-nyiakan kamu. Kamu adalah sebuah benih dari Tuhan yang sudah ditanamkan dalam bumi. Allah berfirman : Benih ini akan tumbuh kian besar, dari setiap pihak akan keluar cabang-cabangnya dan akan menjadi sebuah pohon besar…. “ (Al-wasiyat, h. 17, 1993). 
2. Jangan gentar menghadapi cobaan : Kesukaran yang di ridhai Allah : Hz. Masih Mau’ud as. Bersabda : “ Terimalah penghidupan pahit karena Tuhan. Kesukaran yang karenanya Tuhan ridha, lebih baik daripada kesenangan yang karenanya Tuhan murka. Kekalahan yang karenanya Tuhan Suka itu lebih baik daripada kemenangan yang menyebabkan kemurkaan Ilahi… Akan tetapi kalau kepahitan itu kamu tanggung, maka laksana seorang kanak-kanak yang disayangi. Kamu akan berada dalam pengkuan Tuhan dan kamu akan menjadi waris orang-orang suci yang telah berlalu sebelum kamu, tetapi amat sedikit yang demikian ini …Kalau kamu benar-benar tunduk kepada Tuhan, maka perhatikanlah, aku berkata kepadamu menurut kehendak Tuhan, bahwa kamu akan menjadi kaum Tuhan yang terpilih…
Cobaan untuk uji  kebenaran atau kebohongan : Berbahagialah orang yang percaya kepada perkataan Tuhan dan dia tidak gentar dalam menghadapi cobaan-cobaan yang akan datang dipertengahan masa itu, tersebab kedatangan cobaan-cobaan pun perlu juga supaya Tuhan menguji kamu, siapakah yang benar dalam pengakuan Bai’at-nya dan siapa pula yang bohong. Orang yang tergelincir karena suatu cobaan, ia sedikitpun tidak merugikan Tuhan, malah kesialannya itu akan menyampaikannya ke neraka. Kalau ia  tidak dilahirkan lebih baik bagi dia  “ ( Al-wasiyat, h. 17, 1993 ).



Mnbhg$##
Syajaa’ah dan Istiqomah : 
a. Pemberani tidak pernah melarikan diri :  
Munculkan sifat Berani, Perasaan TAKUT hanya bisa dikalahkan oleh KEBERANIAN      (Syajaa’ah). Dalam mengartikan beberapa Firman Allah tentang Keberanian, Hz. Masih Mau’ud as bersabda, “ Pemberani adalah mereka yang tidak melarikan diri pada saat bertempur, atau pada saat mereka ditimpa suati musibah,( 2:178 ), Kesabaran mereka pada waktu bertempur dan pada saat susah ialah demi keridhaan Allah untuk meraih Wajah-Nya, bukan memamerkan keberanian ( 13:23 ). Mereka ditakut-takuti bahwa orang-orang telah sepekat untk menghukum mereka, maka hendaklah mereka takut kepada orang-orang itu, ternyata dengan ditaku-takuti itu keimanan mereka semaki bertambah, dan mereka berkata, “ Cukuplah Tuhan bagi kami “ ( 3:174 )… Jadi, akar keberanian sejati adalah, Sabar dan keteguhan langkah. Tetap teguh dan tidak melarikan diri  sebagai pengecut dalam menghadapi setiap dorongan nafsu atau musibah yang menyerang bagaikan musuh, inilah keberanian… “ (Filsafat Ajaran Islam (FAI), h. 59-60, tahun 2001 ). 
b. Istiqomah senjata utama :      
Allah Ta’aala memberikan motivasi kepada orang-orang yang beriman, yaitu, “ Orang-orang yang berkata, Tuhan Kami adalah Allah dan kami sudah menjauhkan diri dari tuhan-tuhan palsu kemudian mereka Istiqamah, yakni tetap teguh dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan musibah, maka malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil berkata; Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati, dan bergembira serta bersuka-rialah sebab kamu sudah menjadi pewaris kebahagiaan yang telah dijanjikan kepadamu. Kami adalah sahabatmu di dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat “,         ( 41:31-32 ).
Istiqomah yang sempurna :
Hz. Imam Mahdi as. Bersabda, “ Istiqamah yang sempurna adalah,  Ketika bala musibah mengepung dari segala penjuru, dan di jalan Allah nyawa, kehormatan dan harga diri dihadapkan kepada bahaya, sementara tidak terdapat sesuatu yang menghibur, sampai-sampai Tuhan pun dengan tujuan hendak menguji, menutup pintu kasyaf atau mimpi atau Ilham yang membesarkan hati, lalu membiarkan dalam keadaan-keadaan takut yang mengerikan; pada saat itu tidak memperlihatkan sikap penakut dan tidak mundur ke belakang bagai para pengecut, serta tidak memperlihatkan suatu perubahan apa pun pada sifat kesetiaan, tidak mencemari ketulusan dan ketabahan, rela terhadap  kenistaan, pasrah terhadap maut, dan untuk mengokohkan langkah tidak menunggu-nunggu seorang kawan agar ia meberikan pertolongan. Tidak menuntut turunnya khabar-khabar suka dari Tuhan sebab masa yang genting, dan walaupun tidak berdaya serta lemah serta tidak memperoleh sesuatu yang menghibur sekalipun, tetap saja berdiri tegak, dan merebahkan leher ke depan seraya mengatakan, “ Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi ! “ dan tidak mengecam keputusan takdir, serta sama sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan keluh kesah sampai selesainya saat cobaan itu “,        ( FAI, Hal. 131-132, tahun 2001 ).

K. KESIMPULAN :

Hadirin wal-hadirat peserta Jalsah Salanah Malaysia yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, kesimpulan dari judul ceramah yang berjudul, “KECINTAAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAW. GERBANG MENUJU CINTA ILAHI”, adalah : 
Jalan untuk menuju pintu gerbang singasana Ilahi sangatlah berliku, penuh tantangan dan rintangan, apalagi bagi orang-orang yang belum tahu ilmunya akan semakin sulit bahkan tidak akan sampai. Tetapi bagi kita (para Ahmadi) yang sudah tahu kuncinya, akan mudah untuk menjalaninya.
Jalan untuk menuju pintu gerbang Singasana Ilahi, dibutuhkan kendaraan Islam Rahmatan-Lil-‘aalamiin yang lengkap dan sempurna. Mengapa harus menggunakan kendaraan Islam?, karena agama ini sudah mendapat legitimasi dari Allah Ta’ala sehingga mendapat legal standing yang tidak diragukan lagi. Sebagaimana Allah berfirman :

“ ...pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu...”, (Al-maidah 4:4).
Setelah tahu kendaraan Islam ini lengkap dan sempurna, tentunya yang menjadi pilot/supirnya pun harus bisa menguasai dan bisa mengendalikan kendaraan ini. Nabi Muhammad Musthofa Rasulullah SAW lah yang tepat untuk menjadi pengemudinya, karena beliau SAW sudah tahu persis jalan dan route untuk menuju Singasana Ilahi yang menjadi tujuan.
Nabi Muhammad SAW sang penegemudi kendaraan Islam sudah lama meninggalkan kita, sedangkan hidup harus terus berjalan. Kalau demikian dibutuhkan pengemudi yang bisa melanjutkan kendaraan Islam ini. Pengemudi ini pun harus ahli dan tahu jalan untuk menuju Singasana Ilahi, minimal sama dengan pengemudi sebelumnya. Dia-lah Imam Mahdi as sebagai pengemudi pengganti Nabi Muhmmad SAW di akhir zaman. Karena beliau as. Sudah merasakan serbat perjumpaan dengan Allah Ta’ala, dan menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW. Yang kecintaannya tidak diragukan lagi.
Untuk menuju Singasana Ilahi dibutuhkan konsistensi atau ke-Istiqomahan yang kuat seperti : Tekad yang kuat mau berubah, berusaha menghilangkan rasa malas, Selalu berdo’a dan memiliki Keyakinan akan berhasil, memperkuat barisan dan selalu menabur kebaikan, siap menghadapi ujian, memiliki keberanian yang terukur dan selalu Istiqomah.
Demikialah ceramah jalsah Salanah ini disampaikan. Semoga eksistensi Jemaat dimanapun berada, bisa memberikan manfaat kepada diri sendiri, lingkungan keluarga, Masyarakat, bangsa dan Negara. Dan semoga kita menjadi Insan yang memiliki spirit Ilahi sehingga bisa mewujudkan damai di hati, damai di pikiran, damai di langit dan damai di bumi, dengan moto : LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE,  dan semoga semua makhluk berbahagia. Aamiin. 

Purwokerto-Indonesia, 01/12/18
Wassalaam Khaktsar

Mln. Nasiruddin Ahmadi





حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ










Postingan populer dari blog ini

MANA YANG AKAN DIIKUTI SYARIAT ATAU ADAT

SIAPAKAH BIDADARI YANG HAKIKI?

WUJUDKAN PERDAMAIAN DI DUNIA ISLAM