DEFINISI KHOOTAMAN NABIYYIIN & LAA NABIYA BA'DA
MAKNA KHOOTAMAN NABIYYIIN & LAA NABIYA BA’DA
Oleh : Mln. Qomaruddin, Sy.D & Ustadz Dendi Ahmad Daud, M.Ag.
A. Pengantar
Diskursus mengenai makna خا تم النبيين Khataman Nabiyyin dan لا نبى بعدى Laa Nabiyya Ba’di sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Al-Karim dan sabda-sabda yang Mulia Rasulullah saw bukanlah hal baru dalam dialektika tafsir klasik maupun kontemporer. Dalam rentang waktu yang cukup panjang, topik ini sudah dibahas oleh generasi ke generasi bahkan terus berkelanjutan sampai kini, dan nampaknya spirit ini belum akan berakhir.
Sesungguhnya yang menjadi polemik tak berkesudahan ini adalah dua pemikiran yang berseberangan. Pemikiran pertama: diwakili kelompok yang memberikan interpretasi normatif dengan gagasan yang sebenarnya cemerlang tetapi kemudian terhenti hanya sebatas gagasan tanpa adanya aplikasi konkrit yang sifatnya membumi. Pemikiran kedua: diwakili kelompok yang memiliki pemahaman yang hampir sama dengan pemahaman kelompok pertama, akan tetapi kemudian dilanjutkannya dengan melakukan reinterpretasi dan pembaruan gagasan dari yang bersifat normatif dan abstrak kepada aplikatif dan konkrit secara sinergis.
Kelompok pertama direpresentasikan oleh individu-individu dan kelompok Islam diluar Jama’ah Islam Ahmadiyah, sedangkan kelompok kedua direpresentasikan oleh Jama’ah Islam Ahmadiyah. Sumber ketegangan dua kelompok ini bermuara pada dua kesimpulan yang berbeda pula. Kesimpulan pertama adalah bahwa maknaخا تم النبيين Khataman Nabiyyin dan لا نبى بعدى Laa Nabiyya Ba’di, secara absolut dipahami sebagai nabi terakhir alias nabi pamungkas dan tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw dalam corak dan bentuk apapun.
Kesimpulan kedua adalah bahwa makna:
خاتم النبيين Khataman Nabiyyin dan لا نبى بعدى Laa Nabiyya Ba’di tidak hanya dipahami seperti pemahaman pertama secara absolut, namun selanjutnya menawarkan gagasan mengenai makna-makna lain yang harus dikaji secara lebih mendalam sesuai isyarat nash-nash Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah saw bahwasanya kenabian dalam agama Islam senantiasa akan terus berlangsung, bahkan sabda-sabda beliau saw mengisyaratkan kedatangan seorang nabi yang bernama Isa ibn Maryam dari kalangan umat Islam sendiri. Keyakinan ini pun dianut oleh mayoritas kelompok-kelompok Islam di luar Jama’ah Islam Ahmadiyah misalnya Nahdlatul Ulama (NU), dimana dalam Mu’tamarnya yang ke-III di Surabaya tanggal 12 Rabiuts Tsani 1347 H/28 September 1928 memutuskan bahwa wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa as itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai nabi dan rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw.
Dalam hal ini, Al-Qur’an menjelaskan bahwa Nabi Isa as adalah seorang utusan Allah SWT hanya untuk kaum Bani Israil, Firman-Nya: “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil…” (QS 3:49). Di ayat lain, Allah SWT menegaskan bahwasannya Nabi Isa Israili sudah wafat. Firman-Nya:
“Ingatlah ketika Allah berfirman: Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu…” (QS 3:55). Abdullah ibnu Abas menafsirkan kata متوفيك -mutawaffika dengan مميتك mumiituka (Bukhari, 65:12). Kemudian berdasarkan sabda Rasulullah SAW bahwa Nabi Isa Israili telah wafat dalam usia 120 tahun (At-Thabrani dalam Al-Kabir dari Fatimah r.a, Kanzul Umal Juz XI, No. 3262, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid II, Hal. 246).
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa Nabi Isa AS untuk kaum Bani Israil sudah wafat, dan Nabi Isa AS yang akan turun di akhir zaman itu adalah sosok yang berasal dari umat Rasulullah SAW karena ia akan melaksanakan syariat Rasulullah SAW dengan misi yang sama dengan beliau SAW yaitu untuk seluruh bangsa di dunia. Dalam hal ini Jama’ah Islam Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Isa ibn Maryam akhir zaman itu sudah turun ataupun sudah datang dalam wujud pendiri Jama’ah Islam Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadhiani. Beliau merupakan Imam Mahdi (pemimpin yang dijanjikan) bagi umat Islam, dan Masih Mau’ud (Isa yang dijanjikan) oleh yang mulia Rasulullah SAW.
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah خاتم النبيين Khataman Nabiyyin begitu pula beliau meyakini bahwa sesudah beliau SAW tidak akan ada lagi nabi yang semisal beliau. Marilah kita simak pernyataan-pernyataan beliau, diantaranya:
“Fitnah yang dilontarkan kepadaku dan Jemaatku adalah bahwa kami tidak meyakini bahwa Rasulullah SAW sebagai خاتم النبيين Khataman Nabiyyin adalah suatu kedustaan yang besar terhadap kami. Dengan keteguhan iman, makrifat dan bashirat, kami meyakini bahwa Rasulullah SAW sebagai خاتم الأنبياء Khatamul Anbiya…” (Al-Hakam, 7 Maret 1905).
“Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan gelar kepada Rasulullah SAW خاتم النبيين Khataman Nabiyyin, kemudian di dalam sabdanya Rasulullah SAW menyatakan لا نبى بعدى- Laa Nabiyya Ba’di. Allah swt telah menetapkan bahwa sesudah beliau tidak akan datang nabi dari segi makna nabi hakiki” (Kitabul Bariyah, Hal. 185).
“Sesungguhnya nabi kita adalah خاتم الأنبياء Khatamul Anbiya yang tidak ada nabi sesudahnya kecuali yang disinari dengan sinarnya dan penzahirannya merupakan bayangan penzahiran Rasulullah SAW” (Al-Istifta, Hal. 22, 1907).
“Allah mencintai orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya yang harus diamalkan dan meyakini bahwa nabi-Nya Muhammad SAW adalah خاتم الأنبياء Khatamul Anbiya”. (Casmah Makrifat, Hal. 324, 1908).
“Tuduhan yang dilontarkan kepadaku adalah bahwasannya aku seolah-olah mendakwakan kenabian sedemikian rupa sehingga aku seperti tidak ada sangkut pautnya dengan Islam, artinya bahwa aku menganggap diriku sebagai nabi yang terpisah sehingga tidak perlu lagi mengikuti Al-Qur’an, membuat kalimah dan kiblat sendiri menyatakan bahwa syariat Islam mansukh dan tidak mentaati Rasulullah SAW. Tuduhan ini sama sekali tidak benar, bahkan pendakwaan seperti itu menurut hematku adalah sebuah pengingkaran. Aku menyatakan bahwa diriku adalah nabi berdasarkan karunia yang dianugerahkan Tuhan dimana aku dapat bercakap-cakap dengan-Nya. Dia sangat sering berbicara dengan menurunkan kalam-Nya kepadaku, menjawab kata-kataku dan banyak sekali memperlihatkan hal-hal gaib, membukakan tabir rahasia-rahasia masa yang akan datang dimana manusia seumumnya tidak mendapatkan kedekatan yang khusus ini dengan-Nya. Kepada yang lain Dia tidak membukakan rahasia-rahasia itu. Oleh sebab inilah Dia menamaiku nabi dalam arti nabi ummati (nabi pengikut) supaya nubuwatan junjungan kita Muhammad SAW bahwa Isa yang akan datang itu berasal dari umat beliau dan bergelar nabi menjadi sempurna. Kalau tidak, harapan hampa serta khayalan kosong akan menguasai manusia berkenaan dengan kedatangan Nabi Isa AS, bagaimana beliau bisa menjadi ummati. Apakah setelah turun dari langit ia akan masuk Islam, lalu sejak itu Nabi kita SAW tidak lagi menjadi خاتم الأنبياء Khatamul Anbiya?” (Surat Kabar Lahore, 26 Mei 1908).
Berdasarkan pernyataan-pernyataan beliau tersebut, maka Jemaat Ahmadiyah dalam memahami dan menginterpretasikan topik di atas tetap berada dalam koridor Islam yakni berdasarkan Al-Qur’an suci dan sabda-sabda Rasulullah SAW dan para ulama mutaqaddimin dengan di dukung oleh pemahaman bahasa Arab baik gramatikal maupun kesusasteraannya ketika membahas masalah kedatangan Mahdi dan Masih yang dijanjikan dari kalangan umat beliau SAW yang dianugerahi gelar kenabian yaitu nabi ummati Rasulullah SAW.
B. Uraian Pertama; خاتم النبيين Khataman Nabiyyin
1. Latar Belakang Turunnya Ayat
Allah SWT berfirman yang terjemahannya sbb:
((( ((((( (((((((( (((((( (((((( (((( (((((((((((( (((((((( ((((((( (((( ((((((((( ((((((((((((( ( ((((((( (((( ((((((( (((((( ((((((((
“Muhammad bukanlah bapak salah seorang dari antara kaum laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khataman Nabiyyin. Dan Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS 33:40).
Ayat ini diturunkan pada tahun ke-5 Hijrah dengan latar belakang menjawab tuduhan dan ejekan bahwa Rasulullah SAW adalah Abtar (seorang yang tidak memiliki anak laki-laki dewasa/rijal). Dan kedua adalah peristiwa pernikahan beliau dengan Siti Zainab ra yang merupakan janda dari Zaid Ibn Harits ra, seorang pemuda yang dimerdekakan Rasulullah dan kemudian diambil sebagai putera angkat beliau.
Di Makkah pada waktu itu, semua putera Rasulullah SAW telah meninggal dunia semasa masih kanak-kanak. Musuh-musuh beliau mengejeknya sebagai Abtar yang maksudnya tidak memiliki pelanjut yang akan melestarikan nama beliau. Mereka pikir, cepat atau lambat Islam akan berakhir dengan suatu kesudahan (bahrul muhith). Allah SWT menjawab secara tegas ejekan mereka seperti tertuang dalam surah Al-Kautsar dimana Rasulullah SAW bukanlah seorang yang tidak berketurunan melainkan merekalah yang tidak berketurunan
Setelah surah Al-Kautsar diturunkan, kaum Muslimin di masa awal beranggapan bahwa Rasulullah SAW akan dianugerahi anak-anak lelaki yang akan hidup sampai usia dewasa. Maka dengan turunnya ayat 40 surah Al-Ahzab ini, Allah SWT menggugurkan anggapan tersebut dan menghilangkan kesalah pahaman tersebut, sebab ayat ini menyatakan bahwa beliau baik dahulu, sekarang ataupun di masa yang akan datang bukan atau tidak akan menjadi bapak seorang laki-laki dewasa.
Ayat ini nampak seolah-olah kontradiktif dengan surah Al-Kautsar. Surah Al-Kautsar menjelaskan bahwa bukannya Rasulullah SAW yang diancam dengan tidak akan berketurunan, melainkan musuh-musuh beliaulah yang tidak akan berketurunan. Namun kenyataannya putera-putera lelaki beliau malahan meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa. Hal ini menjadikan musuh-musuh beliau bertambah gembira dan semakin menjadi-jadi mengejek beliau.
Kalau kita renungkan, ayat ini sebenarnya berusaha menghilangkan keragu-raguan dan prasangka terhadap timbulnya arti yang sepertinya bertentangan, padahal sama sekali tidak. Ayat 40 dari surah Al-Ahzab ini menyatakan bahwa Nabi besar Muhammad SAW adalah seorang utusan Allah, yang mengandung arti bahwa beliau adalah seorang bapak rohani bagi seluruh umat manusia dan beliau juga seorang خاتم النبيين Khataman Nabiyyin, yang maksudnya adalah beliaupun seorang bapak rohani para nabi.
Di dalam surat Ahzab ayat 5 sendiri Allah SWT berfirman: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” (QS 33:6). Menurut ayat ini kalau istri seorang nabi disebut Ummul Mu’minin (Ibu orang-orang yang beriman), maka nabi itu sendiri merupakan bapak ruhani bagi orang -orang yang beriman ابو الروحاني (Bapak Rohani). Dengan demikian maka gugurlah anggapan bahwa Rasulullah saw seorang abtar karena putera-putera rohani beliau senantiasa akan terus-menerus ada dengan jumlah yang sangat banyak yang mana putera-putera rohani ini akan melestarikan nama beliau, nama Islam dan meneruskan misi menegakkan tauhid Ilahi لااله الاالله محمد رسول الله (tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah)” ke seluruh dunia.
Apabila ungkapan خاتم النبيينKhataman Nabiyyin hanya diartikan bahwa beliau adalah nabi terakhir dan tidak akan datang lagi nabi sesudah beliau, maka ayat ini akan menjadi sumbang dan tidak memiliki korelasi dengan konteks ayat dimaksud. Dari pada menyanggah ejekan orang-orang kafir bahwa beliau seorang abtar, malahan mendukung dan menguatkannya ini sungguh merupakan ironi yang harus disingkirkan jauh-jauh dari benak seorang muslim yang benar-benar mencintai dan mentaati beliau.
Jika Allah SWT menyatakan bahwa beliau bukanlah bapak salah seorang laki-laki dewasa diantara kalian, maka pernikahan beliau dengan Siti Zainab ra yang merupakan janda dari putera angkat beliau yaitu Zaid ibn Harits ra tidaklah menjadi penghalang atas pernikahan beliau dengan Siti Zainab ra, karena ia sebenarnya bukanlah putera beliau. Dengan demikian, anggapan bahwa putera angkat adalah putera sejati dalam tradisi bangsa Arab pada saat itu menjadi gugur pula dengan turunnya ayat ini.
2. Kenabian dalam Agama Islam
Islam memberikan peluang dan kesempatan bagi umatnya untuk dapat meraih berbagai derajat kerohanian sampai tingkatan tertinggi. Derajat-derajat tersebut adalah kenabian, shiddiqin, syuhada dan shalihin (QS 4:69). Hal ini berarti bahwa seorang Muslim bisa menjadi nabi, siddiq, syahid dan shaleh dalam konteks keislaman dibawah kenabian dan kerasulan Muhammad SAW.
Ketika seorang Muslim dapat meraih salah satu derajat kerohanian, ini merupakan bukti pengabulan do’a dari Allah SWT kepada yang bersangkutan. Dalam sehari semalam kita selalu memanjatkan do’a, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula yang sesat” (QS 1:6-7). Kalimat “orang-orang yang Engkau telah beri nikmat kepada mereka”, tafsirnya terdapat dalam surah An-Nisa/4:69,
“barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya maka mereka itu termasuk golongan orang-orang yang kepada mereka Allah memberi nikmat para nabi, shidiq, syahid dan shaleh, dan merekalah sebaik-baik kawan”. Kata الرسول Al-rasul adalah makrifah dan menunjukkan kepada rasul tertentu yaitu nabi Muhammad SAW.
Kalimat “barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya” adalah jumlah syarat, dan kalimat “maka mereka itu termasuk golongan orang-orang … dst” merupakan jawab syarat. Artinya, siapapun dari umat nabi Muhammad SAW yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, Allah pasti akan menjadikan mereka seorang nabi, shadiq, syahid dan shaleh.
Kata مع ma’a pada ayat di atas memiliki arti menjadi, termasuk, di dalam dan bersama/dengan. Apabila kita mengambil arti bersama/dengan, maka di dalam umat Islam alih-alih menjadi nabi, bahkan tidak mungkin ada yang menjadi shaleh, syahid ataupun shadiq. Ummat terdahulu tidak mungkin bersama dengan ummat Islam dari segi tempat, karena mereka merupakan ummat yang telah berlalu,kebersamaan itu hanya bisa dari segi kedudukan dan martabat. Jika kata مع ma’a diartikan bersama/dengan, maka di dalam umat Islam mereka yang taat kepada Allah dan rasul-Nya hanya akan bersama/dengan orang-orang shaleh, syahid dan shadiq tanpa ia bisa menjadi seperti mereka. Di kalangan umat Islam terdapat orang yang shaleh, syahid dan shadiq dimana derajat-derajat kerohanian tersebut mereka peroleh berkat ketaatan kepada Allah SWT dan Yang Mulia Rasulullah SAW.
Sebagai perbandingan dari arti مع ma’a : menjadi, termasuk, di dalam dan bukan hanya berarti bersama/dengan dalam konteks sebuah ayat, maka perhatikanlah ayat berikut
“Sesungguhnya orang-orang munafik berada dibagian paling bawah dari api, dan engkau tidak akan mendapatkan penolong bagi mereka kecuali orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, berpegang teguh kepada Allah serta tulus ikhlas dalam ibadah mereka kepada Allah, maka mereka ini termasuk golongan orang-orang mukmin. Dan kelak Allah akan memberi ganjaran besar kepada orang-orang mukmin” (QS 4:145-146). Seandainya kata مع ma’a dalam ayat ini diartikan hanya bersama/dengan tidak dengan arti menjadi atau termasuk, maka pengertiannya adalah orang munafik tidak akan bisa menjadi seorang mukmin tetapi hanya bisa bersama/dengan orang-orang mukmin walaupun ia sudah bertobat, memperbaiki diri, berpegang teguh kepada Allah serta dengan tulus beribadah kepada-Nya.
Allah swt berfirman yang terjemahannya sbb:
“Wahai bani Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antaramu yang memperdengarkan ayat-ayat Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati”. (QS 7:35). Di dalam ayat ini kalimat “Wahai Bani Adam” sebagaimana ayat-ayat sebelumnya (QS 7:27, 28 dan 32) ditujukan secara khas kepada umat di zaman Rasulullah SAW dan generasi-generasi sesudahnya, dan bukan ditujukan kepada umat yang hidup di masa silam dan yang datang tidak lama sesudah masa Nabi Adam AS.
Kalimat Ya’tiyannakum (akan datang kepadamu), Yaqussuna ‘alaikum (akan memperdengarkan, menceritakan, mengisahkan, menjelaskan kepadamu) adalah sighat (bentuk) kalimat فعل المضارع fi’il mudhari untuk masa sekarang dan akan datang yang bermakna istimrar (terus-menerus). Lebih lanjut pada kalimat Ya,tiyannakum, Allah SWT memberikan حرف التوكيد huruf taukid (penegas) nun, dimana menurut علم المعانىilmu ma’ani, khitab ini ditujukan kepada seseorang yang memiliki keraguan bahkan pengingkaran terhadap khabar yang terkandung di dalamnya. Maka dengan huruf taukid ini Allah SWT menegaskan bahwa khitab tersebut - yang di dalamnya mengandung suatu khabar - tidak perlu diragukan apalagi diingkari, tetapi hendaknya diterima sebagai sebuah kebenaran yang datang dari hadirat Allah SWT. Secara implisit, rasul-rasul yang akan datang ini berasal dari kalangan umat Rasulullah SAW dan bukan berasal dari kalangan umat lain karena pintu kenabian sudah ditutup oleh beliau dan hanya terbuka bagi umat beliau.
Siti Aisyah ra berkata: “Kalian boleh mengatakan bahwa ia (Rasulullah SAW) خاتم النبيينKhataman Nabiyyin dan janganlah kalian mengatakan tidak ada lagi nabi sesudahnya”. (Durrun Mantsur, Jilid V, Hal. 204 dan Takmilah Majmaul Bihar, Hal. 5). Menurut sebagian ulama hadits ucapan ini dilatar belakangi oleh larangan kepada kaum muslimin untuk mencampur adukan kalimat خاتم النبيين Khataman Nabiyyin sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dengan kalimat لا نبي بعده Laa Nabiyya Ba’dahu, akan tetapi substansinya adalah para sahabat diizinkan menjuluki Rasulullah SAW sebagai خاتم النبيين Khataman Nabiyyin dan dilarang untuk mengatakan لا نبي بعدى "tidak ada lagi nabi sesudah beliau".
Rasulullah SAW bersabda: انا خاتم الأنبياء و أنت يا على خاتم الأولياء “Aku adalah Khatamul Anbiya, dan engkau wahai Ali Khatamul Auliya”. (Tafsir Safi di bawah ayat Khataman Nabiyyin). Di dalam bahasa Arab, suatu kata apabila di idhofatkan dengan kata jamak, maka umumnya makna yang dipahami menunjuk kepada pujian atau keutamaan. Oleh karena itu, makna خاتم الأنبياء Khatamul Anbiya di sini adalah nabi yang paling sempurna atau utama, begitu pula makna خاتم الأولياء Khatamul Auliya adalah wali yang paling sempurna atau utama. Dengan demikian makna خاتم Khatam di atas hanya bisa dipahami dengan makna sempurna atau utama dan tidak dimaknai dengan arti terakhir, penutup, penghabisan atau pamungkas.
Apabila dipaksakan dengan makna tersebut, maka hal ini akan menjadi rancu. Bagaimana mungkin Hadhrat Ali ra dijuluki wali terakhir padahal kenyataannya sesudah beliau masih banyak sekali muncul para wali yang lain. Begitu pula dengan Rasulullah, apabila beliau dijuluki nabi terakhir, lalu bagaimana dengan kedatangan Nabi Isa akhir zaman dari kalangan umat beliau yang disabdakan berkali-kali yang mana menurut para ulama hadits derajat hadits-hadits mengenai kedatangan Isa ibn Maryam di akhir zaman mencapai mutawatir maknawi. Walaupun sesudah beliau banyak sekali datang para wali, akan tetapi kewalian beliau adalah yang paling utama bahkan sejarah mencatat bahwa beliau juga salah seorang khalifah dari silsilah Khulafaur Rasyidin dimana derajat khalifah jauh lebih tinggi lagi dibandingkan wali.
Rasulullah SAW bersabda kepada paman beliau Hadhrat Abbas ra: إطمإن ياعمى أنت خاتم المهاجرين فى الهجرة كما أنا خاتم النبيين فى النبوة “Tentramkanlah hatimu wahai pamanku, sesungguhnya engkau adalah Khatamul Muhajirin dalam hal hijrah sebagaimana aku Khataman Nabiyyin dalam hal kenabian.” Kalimat خاتم المهاجرين Khatamul Muhajirin tidak bisa diartikan orang yang terakhir hijrah demikian pula خاتم النبيين Khatamun Nabiyyin dengan nabi terakhir, karena orang-orang yang berhijrah setelah Hadhrat Abbas ra terus saja berlangsung. Namun Hadhrat Abbas ra di sini dijuluki seorang Muhajir yang terbaik dalam hijrahnya pada waktu itu.
3. Makna-makna Khataman Nabiyyin
Menurut arti baik yang tersurat maupun tersirat dalam kata Khatam, maka ungkapan خاتم النبيين Khataman Nabiyyin memiliki makna-makna sebagai berikut:
Meterai, segel, cap ataupun stempel bagi para nabi, maksudnya ialah tidak ada nabi yang dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermateraikan Rasulullah SAW kerena beliau sebagai Mushaddiq (yang membenarkan) pendakwaan kenabian mereka. Kenabian semua nabi yang sudah lampau harus dibenarkan dan disahkan oleh beliau kemudian tidak akan ada seorangpun mencapai derajat kenabian sesudah beliau kecuali dengan cara menjadi pengikut setia beliau.
Cincin; maksudnya adalah sebagaimana cincin dipakai sebagai perhiasan, maka Rasulullah SAW merupakan perhiasan bagi sekalian nabi.
Afdhal, terbaik, termulia dan paling sempurna; maksudnya adalah bahwa beliau adalah nabi terbaik, termulia dan paling sempurna dari sekalian nabi ditilik dari segi ajaran yang dibawanya maupun luasnya cakupan misi yang diemban beliau yakni untuk seluruh bangsa dan kaum di dunia ini.
Terakhir atau pamungkas; maksudnya adalah bahwa beliau adalah nabi terakhir atau nabi pamungkas diantara para nabi pembawa syariat. Penafsiran ini sudah diterima oleh para ulama terkemuka seperti: Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani dan lain-lain. Rasulullah SAW sebagai Akhirul Anbiya (nabi penutup, nabi tiada tandingan, nabi terakhir atau nabi pamungkas) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian menjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau. (untuk memahami lebih lanjut makna-makna tersebut di atas, pembaca bisa menelaah kitab-kitab dan rujukan berikut: Zurqani, Syarah Muwahib Al-Laduniyyah, Futuhat, Tafhimat, Maktubat dan Yawaqit wal Jawahir).
4. Makna-makna Khatam dari Segi Lughat
Apabila sebuah kalimat bahasa Arab diidhofatkan dengan bentuk jamak, maka hal ini selalu menunjukkan kepada makna pujian dan keagungan. Sekarang marilah kita perhatikan ungkapan kalimat-kalimat berikut yang diawali dengan kata Khatam:
Plato, dijuluki خاتم الحكماء Khatamul Hukama (Miratusuruh).
Syamsuddin dijuluki خاتم الحفاظ Khatamul Huffadz (At-Tajridus Sharih)
Rasyid Ridho dijuluki خاتم المفسرين Khatamul Mufassirin (Al-Jamil Al-Islam)
Abu Tammam dijuluki خاتم الشعراء Khatamus Syu’ara (Wafiatul ‘Ayan)
Imam Suyuti dijuluki خاتم المحققين Khatamul Muhaqqiqin (Tafsir Itqan)
Muhammad Abduh dijuluki خاتم الأئمة Khatamul Aimmah (Tafsir Fatiha)
Manusia disebut خاتم المخلوقات جسمانيا Khatamul Makhluqat Jasmanian (Tafsir Kabir)
Nabi Isa as dijuluki خاتم شقاءالأئمة Khatamus Syifa Al-Aimmah (Baqiyyatul Mutaqaddimin).
Syaikh Waliullah Dehlawi dijuluki خاتم المحدثين Khatamul Muhadditsin (Ujala Nafi)
Abu Hasan Kabus bin Abi Thahir dijuluki خاتم الملوك Khatamul Muluk (Wafiatul ‘Ayan)
Apabila kita memaknai kata خاتم Khatam dengan terakhir atau penutup pada ungkapan kalimat-kalimat di atas tidak dengan makna utama, mulia, terbaik, sempurna, ataupun yang sepadan dengan itu, maka Plato yang dijuluki خاتم الحكماء Khatamul Hukama, Syamsuddin خاتم الحفاظ Khatamul Huffadz ataupun Rasyid Ridho yang dijuluki خاتم المفسرين Khatamul Mufassirin dimaknai dengan Hakim terakhir, penghafal terakhir, dan mufassir terakhir maka kita melihat bahwa sesudah beliau-beliaupun muncul juga para hakim, para penghafal, dan para mufassir yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karena itu pemaknaan tersebut tidak tepat, yang tepat adalah bahwa beliau-beliau adalah: hakim utama, penghafal terbaik dan mufassir ternama. Demikian juga untuk Abu Tamam, Imam Suyuti, Muhammad Abduh, dan seterusnya.
5. Pemahaman Kalimat Khatama, Nakhtimu dan Yakhtimu dalam Al-
Qur’an Al-Karim
Allah SWT berfirman yang terjemahannya sebagai berikut:
“ Allah menutup atas hati-hati mereka, pendengaran dan penglihatan mereka ditutup…” (Q.S. 2:7).
“ Katakanlah; terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepada mu ?” (Q.S. 6:46).
“ Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya”. (Q.S 45 : 23).
“ Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (Q.S. 36:65).
“ Bahkan mereka mengatakan; ia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah, maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu”. (Q.S 42 : 24).
Kalimat خاتمKhatama secara harfiah diterjemahkan dengan : menutup, mencabut dan mengunci mati. Kemudian ketika disambungkan dengan kalimat lain dalam konteks sebuah ayat maka akan memiliki makna baru. Misalnya; ختم على قلبهkhatama ‘alaa qolbihi; ia menutup hatinya, ini adalah makna harfiah. Akan tetapi makna yang dimaksud adalah; جعله لا يفهمJa’alahu laa yafhamu; ia menjadikkannya tidak memahami atau mengerti, ini adalah makna majazi atau kiasan. ( Al-Munjid, hal. 169). Dengan demikian خاتم الله على...الخKhatamallahu…dst ) Q.S. 2 : 7, 6 : 46(, dan ) 45 : 23(, نختم على...الخ Nakhtimu…dst ) Q.S. 36 : 65(, يختم على...الخ Yakhtimu… dst )Q.S. 42 : 24( tidak dimaknai dengan makna hakiki (sebenarnya) melainkan dengan Majazi (kiasan) artinya hati, pendengaran dan penglihatan yang dimaksud bukanlah merujuk kepada materinya yaitu hati, telinga dan mata yang bersifat kebendaan melainkan kepada suatu keadaan, sifat dan fungsi benda tersebut.
Dalam ayat-ayat tersebut di atas, orang-orang ingkar yang disebutkan di sini menolak menggunakan hati, pendengaran dan penglihatannya untuk memahami kebenaran. Akibatnya hati, pendengaran dan penglihatan mereka menjadi kehilangan dayanya. Seperti halnya hati, telinga dan mata jasmani yang tidak digunakan maka, bagian tubuh yang vital ini lambat laun akan menjadi rusak dan tidak berguna sehingga tidak mendatangkan faedah bagi pemiliknya. Apa yang dinyatakan melalui ungkapan pada ayat-ayat di atas hanya merupakan akibat dari sikap mereka sendiri yang sengaja tidak mau mengindahkan. Oleh karena semua hukum berasal dari Allah SWT, dan tiap-tiap sebab diikuti oleh akibatnya maka menutup hati, pendengaran dan penglihatan berkaitan erat dengan sang pemilik hukum yaitu Allah SWT.
C. Uraian Kedua : لا نبي بعدى (Laa Nabiyya Ba’di)
1. Hadits-hadits yang Dijadikan Dasar sebagai Hujah
Sabda-sabda Rasulullah SAW mengenai لا نبي بعدى Laa Nabiyya Ba’di (tidak ada lagi nabi sesudahku) dan matan-matan lain yang satu redaksi dan kesepadanan dengannya tidak disangsikan lagi keshahihannya. Hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh para perawi masyhur yaitu : Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Tirmidzi, Ibnu Hiban dan Ibnu Majah. Kita dapat menelaahnya melalui kitab-kitab shihah hadits begitu pula sunnahnya.
Kemudian di pihak lain, Rasulullah SAW pun banyak bersabda mengenai kedatangan Nabi Isa ibn Maryam di akhir zaman yang berasal dari umat beliau. Sepintas, nampak seperti adanya kontradiktif antara sabda-sabda beliau di satu sisi dengan sabda-sabda beliau di sisi lain. Barangkali inilah subtansi permasalahan yang harus kita kaji secara lebih mendalam guna mendapatkan pemahaman sebagaimana yang dimaksudkan oleh beliau.
Seperti halnya hadits-hadits لا نبي بعدىLaa Nabiyya Ba’di, hadits-hadits yang menyatakan mengenai نزول عيسى ابن مريم فى أخر الزمانnuzuul 'isa bnu maryama fii akhiriz zamaan turunnya Isa ibn Maryam di akhir zaman, ini pun diriwayatkan oleh para perawi yang juga masyhur yakni ; Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Tirmidzi, Imam Abi Daud dan Ibn Hibban. Menurut penjelasan ulama hadits, derajat hadits-hadits mengenai turunnya Isa ibn Maryam di akhir zaman adalah Mutawatir Ma’nawi.
Dalam hadits-hadits tersebut Isa ibn Maryam yang akan turun di akhir zaman mengemban misi sebagai berikut:
Menjadi hakim yang adil
Menghancurkan salib
Membunuh babi
Meniadakan peperangan
Membagikan harta
Misi-misi beliau tersebut hendaknya dipahami secara kerohanian, sebab kedatangan seorang utusan Tuhan membawa misi kerohanian. Dengan demikian, misi-misi yang diemban oleh nabi Isa ibn Maryam di akhir zaman dalam ungkapan-ungkapannya harus dimaknai secara kontekstual dan tidak secara tekstual. Oleh karena itu maksud dari misi-misi beliau adalah sebagai berikut :
,حكما عدلاMenjadi Hakim yang Adil; maksudnya berbagai pertikaian dan perselisihan faham dalam urusan agama akan diputuskan oleh beliau. Misalnya dalam urusan madzhab fiqh, setelah beliu turun maka tidak akan ada lagi madzhab-madzhab fiqh seperti yang kita kenal sekarang dimana ada mazhab Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi ataupun madzhab-madzhab yang lainnya akan diputuskan oleh beliau dan keputusannya tidak mengatasnamakan salah satu Imam Madzhab melainkan keputusannya adalah merupakan madzhab beliau.
,كسر الصليبMenghancurkan Salib; maksudnya faham ketuhanan trinitas dalam agama Nasrani atau Kristen akan dipatahkan secara argumentatif oleh beliau baik secara aqli maupun naqli. Dengan demikian, faham trinitas ini dengan sendirinya akan gugur ataupun hancur. Salib merupakan symbol faham trinitas kaum Kristen dewasa ini.
,قتل الخنزيرMembunuh Babi; maksudnya adalah bahwa perilaku dan sifat-sifat hewani yang dimiliki babi secara majazi (kiasan) akan disingkirkan dan digantikan dengan akhlak-akhlak mulia Rasulullah SAW yang merupakan manefestasi akhlak-akhak Allah SWT. Diantara sifat-sifat hewani babi adalah; senang hidup di lingkungan yang kotor, berperilaku menyimpang (lesbian/homoseksual), mengidap berbagai penyakit yang membahayakan dan menularkannya kepada penghuni lingkungannya dan lingkungan yang lain.
,وضع الحربMeniadakan Peperangan; maksudnya ialah bahwa situasi dan kondisi ketika diutusnya beliau untuk menyampaikan dakwah Ilallah tidak mendorong untuk dilakukannya perjuangan (jihad) secara fisik melalui peperangan, akan tetapi situasi dan kondisi yang dihadapi menuntut upaya melakukan perjuangan melalui pena dan penyebaran dakwah secara damai tanpa adanya kekerasan.
,فيض المالMembagikan Harta; maksudnya ilmu dan ma’rifat Ilahi yang beliau terima dari Allah SWT demikian banyak dan melimpah. Itulah harta yang dimaksud dalam perkataan ini. Kemudian harta ini akan dibagikan kepada siapa saja yang mau menerimanya sehingga karena begitu banyak dan melimpahnya sampai-sampai orang yang menerimanya tidak kuasa menampungnya.
2. Menangkap Isyarat Akhir Zaman
Akhir zaman itu adalah suatu masa dimana dunia diisyaratkan dengan tanda-tanda seperti dijelaskan surah At-Takwir/81: 1-13, terjemahan berikut tafsirnya adalah sebagai berikut:
“Apabila matahari digulung (matahari itu adalah nabi Muhammmad SAW . Dimana beliau akan mendapat serangan hebat dari berbagai segi dan penjuru), (2). dan apabila bintang-bintang menjadi kotor (bintang-bintang adalah para ulama yang menjadi sumber kekacauan sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah SAW bahwa ulama mereka adalah sejahat-jahat manusia, dari mereka keluar fitnah-fitnah ; Baihaki dan Misykat hal.38), (3). dan apabila gunung-gunung dijalankan (gunung-gunung adalah orang-orang besar seperti para pejabat, orang-orang kaya dan lain-lain yang banyak melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain di bumi), (4). dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (telah diciptakannya berbagai sarana transportasi modern untuk kemudahan manusia sehingga unta-unta itu sudah banyak ditinggalkan), (5). dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan (adanya kebun-kebun binatang diberbagai kawasan dunia), (6). dan apabila sungai-sungai dikeringkan (airnya dialihkan menjadi terusan-terusan), (7). dan apabila manusia dipertemukan (hubungan dunia menjadi sangat mudah dan cepat), (8). dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, (9). karena dosa apakah ia dibunuh (banyaknya tindakan kriminal berupa pembunuhan terhadap para bayi), (10). dan apabila buku-buku disebarluaskan (diciptakannya berbagai sarana percetakan dan upaya penyebarluasannya), (11). dan apabila tutupan langit dilenyapkan (kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat sehingga menembus batas ruang dan waktu), (12). dan apabila neraka dinyalakan (merajalelanya perbuatan dosa yang dilakukan oleh banyak manusia di bumi), (13). dan apabila sorga didekatkan (diutusnya seorang utusan Tuhan ke dunia dimana bagi yang mempercayainya sorga itu lebih dekat kepadanya)”.
Adapun tanda-tanda akhir zaman menurut hadist Rasulullah SAW sangat banyak diantaranya,
(1). kaum muslimin akan menjadi seperti Yahudi dan Nasrani (amal perbuatan mereka akan mengikuti budaya serta peradaban Yahudi dan Nasrani (Bukhari, Muslim dan Misykat hal. 458),
(2). akan ada 30 pendusta yang mendakwakan diri sebagai nabi, (Bukhari,Muslim dan Misykat hal. 465), hal ini sudah genap sebelum Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan diri sebagai utusan Tuhan. Nama-nama 30 orang pendusta yang mendakwakan diri sebagai nabi adalah : (1). Musailamah Al-Kadzdzaab dan (2). Aswad Anshi ( Shahih Bukhari ) dan (3). Ibnu Shayad ( Shahih Muslim ) dan (4). Thulaihah Khuwailid dan (5). Bahbud dan (6). Laqid bin Malik ‘Azdi (Futuhatil-Islamiyati) dan (7). Ustadz Syeis dan (8). Mukhtar, dan (9). Laa dan (10). Muchammad bin Faraj dan (11). Abdullah bin Maimun dan (12). Ghozali Syahir dan (13). Faris bin Yachya dan (14). Ischak Ichris (Khujajul-Kiraamah) dan (15). Achmad Muslim Mutanabbi (Ibnu Khalqoon) dan (16). Al-Basandi dan (17). Nawakh Nadi (Kitab Taarik Khulafaa) dan (18). Abu Manshur (Kitaabul-Fikri fil-Firooq) dan (19). Thoriq dan (20). Sholeh bin Thorif (kitab Ibnu Kholdun) dan(21). Banan bin Sam’an (kitaab Minhaajus-Sunnah) dan (22). Kabi (Kitaab Iftiroosah) dan (23). Mughiroh bib sa’iid (Kasyful-ghimmah) dan (24). Shooleh bin Muchammad dan (25). Ibrohim bin Kholaf bin Masyhur dan (26). Abdullah bin Khafsh Al-Wakil dan (27). Yahya bin Zakaria dan (28). Yahya bin Anbasah Al-Quroisy (Miznul-I’tidaal) dan (29). Khasan bin Ibrohim ( Kitab Itsnaa Mathlab) dan (30). Malik bin Nuwairoh Banu Tamim (Kitaab Khoolid bin Waalid).
Tanda-tanda akhir zaman di atas merupakan pedoman bagi kaum muslimin, apakah kondisi dunia saat ini sudah seperti demikian ataukah belum. Hal ini dapat kita kaji dan pelajari secara empirik sehingga kita bisa menangkap isyarat akhir zaman dalam kehidupan kita seperti dijelaskan Al-Quran dan Rasulullah SAW.
3. Mengkompromikan Matan Hadits yang Dianggap Kontradiktif
Sekilas, hadits-hadits yang berkenaan dengan tidak adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW dengan hadits-hadits mengenai turunnya Isa ibn Maryam di akhir zaman dari umat beliau dianggap kontradiktif. Padahal sebenarnya, secara substantif bisa dikompromikan dengan cara memahami makna – makna tekstualnya dengan didukung oleh teks-teks yang lainnya. Ketika tidak bisa dipahami secara tekstual kita bisa mencari pemahamannya melalui makna kontekstual melalui perbandingan dengan teks-teks sejenis yang mendukung kepada pemahaman yang dikehendaki atau setidak-tidaknya mendekati. Namun apabila tidak menemukan titik temunya maka dikembalikan kepada Al-Qur’an yang harus dijadikan standar pokok dan barometer akhir dalam mengkompromikan makna-makna hadits baik tekstual maupun kontekstual. Apabila ada matan hadits yang bertentangan dengan Al-Qur’an, maka hendaklah dicoba untuk mendapatkan takwilnya. Dan apabila tidak dapat ditakwilkan maka hadits tersebut hendaknya diabaikan saja.
Hadits-hadits mengenai tertutupnya pintu kenabian sebenarnya masih bisa direduksi oleh hadits-hadits mengenai kedatangan nabi Isa ibn Maryam di akhir zaman yang berasal dari kalangan umat Islam. Inilah poin penting dan benang merah dari dianggapnya kontradiksi hadits-hadits dimaksud, karena hadits-hadits mengenai kedatangan nabi Isa Ibn Maryam di akhir zaman diisyaratkan melalui kemunculan sosok baru yang berasal dari kalangan umat Islam sendiri dan tidak merujuk kepada nabi Isa ibn Maryam Israili yang jelas-jelas bukan umat Rasulullah SAW.
Al-Qur’an Al-Karim dalam hal ini secara tegas menyatakan bahwa pintu kenabian di kalangan umat Islam akan terus menerus berlangsung dan Isa ibn Maryam Israili adalah seorang utusan Tuhan untuk kaum Bani Israil dimana ia telah dinyatakan wafat dan dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW bahwa usianya 120 tahun. Kata بعدىBa’di di dalam hadits-hadits tersebut tidak selalu berkonotasi sesudah.
Allah SWT berfirman :terjemahannya: “Firman siapa lagi yang mereka akan imami sesudah atau dengan meninggalkan firman Allah dan tanda-tandanya”. (Q.S. 45: 6). Dalam ayat ini kalimat ba’dallah jelas bukan berarti sesudah Allah mati, Naudzibillah, melainkan selain Allah atau dengan meninggalkan ataupun yang bertentangan dengan Allah dan tanda-tandaNya.
Kemudian firman Nya lagi yang terjemhannya:“Alangkah buruknya sikap yang kamu lakukan dalam mewakili Ku sebagai khalifah sesudah Ku”. (Q.S. 7: 150). Dalam ayat ini kata ba’di hanya mempunyai arti sesudah Nabi Musa as pergi ke bukit Tursina atas perintah Tuhan bukan sesudah wafat beliau. Kemudian firman-Nya:“Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah atau sesudah Dia itu?”. (Q.S. 3: 160). Firman-Nya yg terjemahannya: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya selain Dia. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. 35: 2).
Nabi Muhammad Rasulullah Saw. bersabda:
ان الرسالة و النبوة قد انقطعت فلا رسول بعدى ولا نبى
(Innar risaalata wan nubuwwata qod inqotho'at falaa rasuula ba'dii wa laa nabiyy) artinya : “Sesungguhnya kerasulan dan kaenabian itu telah berakhir kini tidak ada rasul dan tidak akan ada nabi”. (H.R. Ahmad). Ibnu Arabi mengomentari hadits ini sbb:
ان النبوة التى انقطعت بوجود رسول الله انما هىنبوة التشريع لا مقامها فلا شرع يكون ناسخا لشرعه صلى الله عليه وسلم ولا يزيد فى حكمه حكما احر و هذا معنى قوله صلى الله عليه صلى الله عليه وسلم ان الرسالة و النبوة قد انقطعت فلا رسول بعدى ولا نبى
Bahwasanya Kenabian yang terputus dengan datangnya Rasulullah saw adalah kenabian syareat bukan pada martabat kenabiannya. Maka tidak ada lagi nabi pembawa syareat yang akan memansukhkan syareat beliau.
Kalimat لا نبي بعدىLaa Nabiyya Ba’di pada umumnya diartikan hanya untuk لالنفي الجنس Laa Li Nafyil Jinsi (Menafikan segala macam nabi). Namun ternyata, dalam tradisi literatur Arab, kata لا نبي بعدى Laa Nabiyya Ba’di dalam kondisi tertentu maksudnya adalah untuk لالنفي الكمال Laa linafyil Kamal (menafikan kesempurnaan sifat sang Maushuf atau sang pemilik sifat). Disini, huruf لا bukan untuk nafyil jins tetapi untuk nafyil kamal, pengertiannya adalah “Tidak akan datang untuk masa yang akan datang nabi atau rasul yang memiliki kesempurnaan seperti nabi Muhammad saw. . Kemudian banyak juga para ulama yang memahami bahwa لا رسول بعدى ولا نبى dalam sabda-sabda yang mulia Rasululah saw. dimana maksudnya ialah untuk nafyil kamal (menafikan kesempurnaan atau sesuatu yang khusus, bukan umum). Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh diantaranya:
. لا صلوة إلا بفا تحة الكتاب (laa sholaata illa bi faatihatil kitaab) rtinya: “Tidak ada shalat tanpa membaca surah Al-Fatihah”, maksud tidak ada shalat dalam kalimat ini adalah kesempurnaan shalat, bukan dalam artian sama sekali tidak mengerjakan shalat,
لا دين لمن لا عهد له (laa diina liman laa 'ahda lahu) artinya: “Tidak ada agama bagi seseorang yang tidak menepati janjinya”, Inipun maksudnya bukan sama sekali tidak beragama melainkan ketidaksempurnaan dalam keberagamaannya. Urusan Agama adalah urusan keimanan, maksudnya adalah sikap seorang yang memeluk suatu Agama kemudian tidak menepati janji yang merupakan salah satu ajaran Agama, maka ia dikatakan tidak memiliki keimanan yang sempurna.
لا إيمان لمن لا أمانة له. (laa imaana liman laa amaanatun lahu) artinya: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak melaksanakan amanahnyaimannya”. Maksud tidak ada iman disini ialah tidak adanya kesempurnaan iman akibat tidak memiliki sikap jujur.
إذا هلك كسرى فلا كسرى بعده وإذا هلك قيصر فلا قيصر بعده (idzaa halaka kisroo falaa kisroo ba'dahu wa idzaa halaka qoishoro falaa qoishoro ba'dahu) artinya: “Apabila Raja Persia meninggal, maka tidak ada Raja sesudahnya. Dan apabila Kaisar Roma meninggal, maka tidak ada Kaisar sesudahnya). (Bukhari, Jilid 4, Hal. 91). Yang dimaksud kalimat sesudahnya adalah yang sebagus, sebaik, sehebat, dan semasyhur raja dan kaisar sebelumnya. Fakta sejarah mencatat bahwa sepeninggal beliau-beliau tersebut, raja-raja dan kaisar-kaisar di kalangan Persia dan Romawi terus ada dan muncul silih berganti, akan tetapi raja dan kaisar yang sebelumnya itu tetap tidak tertandingi dalam hal kehebatannya oleh raja-raja dan kaisar sesudahnya.
لا فتى إلا علي ولا سيف إلا ذوالفقار (laa fataa illa 'ali wa laa saifa illa dzul fiqoor) artinya: “Tidak ada pemuda kecuali Ali, dan tidak ada pedang kecuali Dzulfikar”. Maksudnya tidak akan ada seorang pemuda yang sebagus Ali dalam hal ketangguhan, dan tidak ada pedang yang sehebat seperti pedang Dzulfikar.
Sebagian Ulama’ ada yang memahami bahwasanya Hadits:
لو كان بعدى نبى لكان عمر (lau kaana ba'dii nabiyyun lakaana 'umar) artinya: “Seandainya sesudahku ada Nabi maka, tentulah Umar”. Kata بعد ى (sesudahku), diartikan بعد موتى (sesudah kewafatanku). Dengan demikian, jika sesudah wafatku ada lagi nabi maka nabi itu adalah Umar. Namun karena tidak akan ada lagi nabi, maka itulah kalimat yang disabdakan oleh Rasulullah saw.
Untuk memahami makna hadits diatas agar sesuai dengan maksud yang dikehendaki, hendaknya tidak meninggalkan sabda-sabda beliau Saw. yang diriwayatkan oleh para perawi lain. Sudah menjadi tugas seorang Muslim untuk mendahulukan makna suatu hadits yang didukung oleh riwayat-riwayat lain. Tidak sedikit hadits-hadits Rasulullah saw. Tidak dapat difahami secara hakiki melainkan dengan cara majazi. Oleh karena itu untuk mendapatkan sebuah kesimpulan yang tepat maka berbagai perangkat pendukungnya perlu mendapat perhatian secara proporsional.
Muhaddits Mulla Ali Qari memberikan komentar terhadap hadits diatas bahwa: لو كان بعدى نبى لكان عمر terdapat pula riwayat lain berikut ini: لو لم ابعث لبعثت يا عمر (lau lam ub'atsu labu'itsta yaa 'umar) artinya: “Jika aku tidak diutus, maka engkaulah wahai Umar yang diutus”. (Syarah Misykat, Jilid 5, hal. 539). Kemudian pada catatan kaki Mujtabai tertulis pula kata-kata yang sama yakni: لو لم ابعث لبعثت يا عمر . Kata بعدى (ba'dii) dimaknai dalam arti selain dan kecuali bukan dalam arti sesudah wafatku. Demikian juga periwayatan hadits diatas terdapat dalam Kunuuzul haqaaiq, hal. 103 : لو لم ابعث فيكم لبعث عمر فيكم - (lau lam ub'atsu fiikum labu'itsa 'umaro fiikum) artinya: “Jika aku tidak diutus diantara kalian, maka Umar lah yang akan diutus diatara kalian”. Demikian pula ada satu riwayat yang tercantum dalam Tarikh Al-Khulafa, dengan sanad Abu Bakar Siddik sebagai berikut: لو لم ابعث فيكم لبعث عمر فيكم (Tarikh Khulafa, hal.36) . Kata بعدى dengan jelas artinya adalah selain saya. Dalam Kanzul Ummal, jilid 6, hal.146, hal ini pun dapat kita temukan dengan berbagai bentuk periwayatan.
Dengan menilik contoh-contoh yang disebutkan diatas, maka dengan jelas kita akan mendapatkan pemahaman bahwasanya maksud yang dikandung dalam ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan kepada suatu kesempurnaan, keutamaan, yang paling baik dan kalimat-kalimat yang sepadan dengan itu karena pemahaman huruf لا (Laa) merujuk kepada penggunaan untuk nafyil kamal dan bukan untuk nafyil jins.
4. Komentar Para Ulama Mutaqaddimin
Berikut akan dipaparkan komentar para ulama mutaqaddimin yang mengomentari matan hadits لا نبي بعدى Laa Nabiyya Ba’di:
Syekh Muhyiddin Ibn ‘Arabi: “Inilah arti dari sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya risalah dan nubuwwah sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudah ku yang bertentangan dengan syariatku. Apabila ia datang, ia akan berada di bawah syariatku” (Futuhatul makiyyah, Jilid II, hal. 3)
Imam Abdul Wahab Asy-sya’rani: “Dan Sabda Nabi SAW: tidak ada Nabi dan Rasul sesudahku, maksudnya tidak ada lagi nabi sesudah ku yang membawa syari’at”. (Alyawaqit Wal Jawahir, Jilid II, Hal. 42).
Imam Thahir Al-Gujrasi: “Ini tidaklah bertentangan dengan hadits tidak ada nabi dan sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang membatalkan syariat beliau” (Takmilah Majmaul Bihar, Hal. 85).
Mulla Ali Al-Qari : “Maka tidaklah hal itu bertentangan dengan ayat Khataman Nabiyyin karena yang dimaksudkan tidak akan ada lagi nabi yang akan membatalkan agama beliau dan nabi yang bukan dari umat beliau” (Maudhu’at kabir, hal. 59)
Nawwab Siddiq Hasan Khan: “Benar ada hadits yang berbunyi Laa Nabiyya Ba’di yang artinya menurut pendapat ahli ilmu pengetahuan ialah bahwa sesudahku akan membatalkan syariatku”. (Iqtirabus Sa’ah, hal. 162).
Dari sini kita bisa melihat bahwa tidak adanya nabi sesudah nabi Muhammad SAW hanya dalam pengertian nabi pembawa syariat. Karena Islam adalah agama yang paripurna, maka syariat beliaupun adalah syariat yang paripurna dibandingkan dengan syariat yang dibawa oleh para nabi sebelumnya. Dengan kesempurnaan yang Allah SWT telah anugerahkan kepada Islam maka tidak akan pernah ada syariat baru yang akan membatalkan syariat beliau. Memang benar, beliau menubuwatkan kedatangan seorang nabi ummati, tetapi hal ini tidak akan merubah syariat beliau namun akan menegakkan kembali syariat yang dibawa oleh beliau SAW.
D. Kalimat Penutup
Kedatangan seorang nabi atau rasul merupakan ujian bagi keimanan seseorang. Kewajiban seorang mukmin adalah melakukan penelitian dan klarifikasi terhadap sebuah kebenaran yang belum diyakini agar benar-benar menjadi sebuah kebenaran yang hak. Upaya ini dilakukan dengan tidak melepaskan diri memohon bimbingan dan petunjuk Allah SWT melalui sabar dan shalat (do’a) serta berharap Allah SWT berkenan memberikan taufik dan hidayah kebenaran-Nya.
Sikap yang harus ditunjukan seorang mukmin terhadap para utusan Tuhan – sebagaimana diajarkan Al-Quran, surah 2:285 - adalah dengan tidak membeda-bedakannya antara satu dengan lainnya karena risalah dan nubuwah merupakan hak prerogatif Allah SWT dan bukan hak manusia. Allah SWT akan menghukum kepada siapapun yang mengaku-ngaku sebagai utusan-Nya (QS 69:44-46).
Tidak setiap nabi dan rasul yang datang ke dunia, akan serta merta menggugurkan dan menghapuskan nabi sebelumnya serta membawa agama baru. Maka dari itu, kenabian dan kerasulan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS tidak menggugurkan dan menghapuskan kenabian nabi Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyiin, bahkan hal ini merupakan pengabulan do’a kaum muslimin umumnya akan janji Rasulullah SAW mengenai kedatangan Imam Mahdi dan nabi Isa AS dari umat beliau. Namun perlu diingat bahwa kenabian dan kerasulan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah kenabian tanpa syariat (Ghairu Tasyri’i) dan tidak berdiri sendiri (Ghairu Mustaqil), tetapi terkait erat kepada kenabian nabi Muhammad SAW karena berkat mengikuti beliau.
Akhirnya, kami ingin menyampaikan pesan Rasulullah SAW kepada kaum muslimin bahwa apabila Imam Mahdi atau nabiyullah Isa as telah datang, mereka supaya berbai’at (menggabungkan diri) walaupun mereka harus merangkak di atas salju (Ibnu Majah, juz II/4082). Sekali lagi, kami dari Jama’ah Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Imam Mahdi dan nabi Isa as itu telah datang dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, Pendiri Jama’ah Ahmadiyah. Kepemimpinan Jama’ah Ahmadiyah sepeninggal beliau dilanjutkan oleh para Khalifatul Masih (khalifah Imam Mahdi) dimana saat ini dipimpin oleh Khalifatul Masih V yaitu Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba. Wallahu Waliyyut Taufiq.
Disusun & dirapihkan ulang oleh : Mln. Nasiruddin Ahmadi, (Pwt, 25/02/2021)