DA'WAT ILALLAAH (JS BALI)
SISI LAIN KEBERKATAN DA’WAT ILALLAAH
( KHILAFAH AHMADIYAH ADALAH KHILAFAH YANG RAMAH LINGKUNGAN )
WA MAN AHSANU QAULAN-MIMMAN-DA’AA ILALLAAHI WA ‘AMILA SHAALIHAN-WA QAALA INNANII MINAL-MUSLIMIIN
“ Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal shaleh serta berkata, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri “ (Ha Mim As-sajdah 41:34)
Disusun, 01 Nubuwwah 1389 HS/Nopember 2010 M
oleh :
MLN. NASIRUDDIN AHMADI
P E N D A H U L U A N
Manusia adalah makhluk Allah paling sempurna karena diberi keistimewaan berupa akal dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan akal tadi bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Sejak para Nabiullah dan Rasulullah dibangkitkan oleh Allah Ta’aala – sesuai dengan misinya basyiran wa naziiran - adalah untuk mengajak umat manusia kepada jalan Allah dan kebenaran sehingga terwujud keteraturan, dan ketertiban hidup dengan undang-undang kitab sucinya masing-masing. Para Nabi – terutama Nabi Muhammad SAW – mengajarkan, apa tujuan hidup manusia sebenarnya ?. Yaitu untuk mengenal, beribadah atau mengabdi kepada Allah Ta’aala. Usaha untuk mengajak manusia ke jalan Allah Ta’aala ini disebut, DA’WAT ILALLAAH, pelakunya dinamakan DA’ILALLAAH.
Da’i yang sangat berhasil dan sempurna adalah wujud suci Nabi Muhammad Musthafa Rasullah SAW. Maka sudah selayaknya seluruh umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya mengikuti tauladannya. Untuk melaksanakan tugas mulia da’wat Ilallaah ini munbul kendala yang dihadapi diantaranya, Perasaan Malu, Takut dan Malas, dan lain-lain. faktor penyebab penyakit ini muncul pada setiap orang tentunya berbeda-beda. Kendala yang ada ini dihadapi dengan : Pensucian diri, niat baik dan tekad yang kuat, Do’a dan Keyakinan yang teguh, kerja keras, pantang menyerah, tawakkal Ilallaah. Dengan moto : USAHA ADALAH WAJIB, HASIL ADALAH SUNAT.
Manfaat Tabligh adalah untuk mendidik diri menjadi orang pintar, merubah prilaku menjadi orang berakhlak, lahir menjadi manusia shaleh bahkan wali sebagai jalan untuk meraih ma’rifat Ilaahi. Apabila di seantaro negeri ini banyak orang-orang shaleh dan suci, maka akan aman dan damai-lah negeri tersebut. Ketika proses pertablighan, terkadang ada perbedaan dan perdebatan yang menimbulkan gesekan bahkan kalau tidak saling memahami, akan muncul antipati yang berujung anarkhis. Solusinya adalah, tempuhlah dialog yang dilandasi kecintaan, menyingkirkan rasa benci dan dendam, sebagai solusi terbaik. Dan yang pasti, kalau tidak mencapai titik temu, jangan saling menyesatkan, karena hanya Allah-lah yang tahu, siapa yang sesat dan siapa saja yang mendapat petunjuk. Manusia tidak berhak untuk menjustifikasi hati atau keimanan seseorang,.
Setelah melakukan perjuangan yang panjang,ada janji kemenangan yang akan diberikan Allah kepada Jemaat Ahmadiyah. Janji kemenangan tersebut bukan berupa penguasaan letak Geografis atau Teritorial, tetapi bentuk kemenangan yang dijanjikan adalah “ Keterangan dan dalil Tuhan sempurna dia atas bumi dan tidak seorangpun dapat melawannya. Begitulah Allah Ta’aala membuktikan kebenaran mereka dengan tanda-tanda yang kuat.”. Otomatis apabila semua penduduk dunia ini sudah mengenal dan mengikuti keinginan Allah, akan terjadi daulah Islamiyah universal – karena Islam ini untuk Rahmatan Lil-‘aalamiin -. Sangat berbeda sekali dengan kelompok muslim lain ketika berbicara masalah perjuangan demi meraih kemenangan Islam di akhir jaman. Konsep mereka adalah, harus ada daulah Islamiyah, atau negeri taklukan terlebih dahulu – walaupun harus terjadi benturan dengan penguasa yang ada - untuk berdirinya sistim Khilafah. Dengan karunia Allah kenyataannya, Sistim Khilafah yang diperjuangan oleh Jemaat Ahmadiyah-lah yang berjalan lancar, aman dan damai – tidak berbenturan atau tidak mengancam pemerintahan atau wibawa penguasa yang ada – boleh dikatakan, KHILAFAH AHMADIYAH ADALAH KHILAFAH YANG RAMAH LINGKUNGAN. Sementara mereka masih berupa angan-angan, konsep bahkan masih dalam mimpi. Para Ahmadi tidak perlu khawatir terhadap gerakan-gerakan mereka – yang terkadang melegalkan segala cara - Insya Allah sesuai dengan janji-Nya, Allah akan memberikan kemenangan kepada jemaat ini sampai hari kiamat, “ Aku ( Allah ) akan memberi kepada Jemaat ini, yaitu pengikut-pengikut engkau kemenangan di atas golongan-golongan lain sampai kiamat “. Untuk memberikan motivasi, maka dipersembahkan sebuah Syair, semoga ada manfaatnya :
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama penulis : Nasiruddin Ahmadi, lahir di Kota Bogor, 12 Mei 1968 dari pasangan suami – istri bernama : Sukman Ahmadi ( Purn. ABRI-Veteran ) dan Alm. Ny. Sumarni ( Bidan RSU DKT-Bogor ) – Ahmadi lama di Jemaat Bogor Kota -. Pernah mengenyam pendidikan di :
1. Sekolah Dasar Negeri Batutulis 5 Bogor, : Lulus, 29 Mei 1982
2. SMP PGRI 29 Pamoyanan-Bogor, : Lulus, 14 Mei 1985
3. SMA Yayasan Bhakti Insani, Bogor : Lulus, 13 Mei 1988
4. Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Bogor : Lulus, 01 Sept 1994
Penulis sebelum masuk ke Jamiah Ahmadiyah Indonesia – melalui shalat Istikharah dahulu -, sempat bekerja di suatu Perusahaan Indonesia, Licence Japan, sebagai Detailer ( Branch Office ) bergerak dibidang “ Instrument Medical of Suplier“, di PT. Agung Sentosa Eka Mandiri dan PT. Lito Bina Medikantara-Jakarta selama 3 tahun. Penulis Juga aktif dibeberapa kegiatan kepemudaan karang Taruna, Kader salah satu Partai dan Club Olah Raga ( Tenis Meja). Semua jabatannya yang pernah di pegang, di jalankan dengan penuh dedikasi dan amanah.
Riwayat tugas sebagai Muballigh Jamaah Ahmadiyah di mulai dari Desa Wolwal Kab. Alor Prov. NTT. Sempat di Kupang dan Timor Timur., tahun 1994-1995. Setelah berada di Wilayah NTT, tahun 1995-1998, berkhidmat di Jemaat Pancor, Mataram, Keruak, Kelompok Praya, Sumbawa dan Bima-NTB. Tahun 1998-2005, Amir Nasional menugaskan Penulis sebagai Muballigh di Kalimantan Timur, yang meliputi Kota Bontang, Samarinda, Balikpapan, Tarakan dan Nunukan, sebagai Koordinator Wilayah Kaltim yang selanjutnya menjadi Mubwil-Kaltim.
Tahun 2005-2010, Penulis ditugaskan oleh PBJAI ke Jemaat Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) selama 5 tahun, sebagai Mubwil. Sultra. Penulis selama di tugaskan di Kaltim & Sultra, selain aktif di Jemaat, juga menyibukan diri di Kantor Kelurahan sebagai Tim Penyuluh, juga aktif menjadi Pengurus Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia ( PTMSI ) Provinsi Sultra. Hal ini dilakukan oleh penulis untuk program Rabtah. Hasil dari Rabtah ini, Alhamdulillah hubungan Jemaat dengan aparat Keamanan khususnya, Pemerintah umumnya baik – Kondusif -.
Tahun 2010, tepatnya bulan Juni akhir, penulis di mutasikan oleh Amir Nasional kembali ke Wilayah yang pernah dijelajahinya – 13 tahun yang lalu-, yaitu di Lombok-NTB, sebagai Muballigh Wilayah NUSRA, sampai dengan sekarang.
DAFTAR REFERENSI
NO
JUDUL
PENGARANG
TAHUN
1
Al-quran & Tafsir Singkat
Al-Haj Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra,
1987
2
Pengantar mempelajari Al-quran
Al-Haj Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra,
1989
3
Buku Al-wasiyat
Hz. Mirza Ghulam Ahmad as.
1993/2001
4
Ajaranku
Hz. Mirza Ghulam Ahmad as.
1993
5
Dzikir Ilahi
Al-Haj Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra,
1999
6
Hadits Riadhush-shalihin, Jilid. II
Salim Bahreisy
1997
7
Jawaban atas 36 Masalah
Mln. Ch. Mahmud Ahmad Cheema, HA, Sy. D.
1987
8
Riwayat Hidup Khalifatul-masih ke-III ra.
Mln. Ch. Mahmud Ahmad Cheema, HA, Sy. D.
1987
9
Analisa Khaataman-Nabiyyiin
Muhammad Sadiq, HA
1999
10
Filsafat Ajaran Islam ( FAI )
Hz. Mirza Ghulam Ahmad as.
2001
11
Mahzarnamah
Islam International Publications
2002
12
Catatan-catatan pribadi ( Pengalaman bertugas )
Nasiruddin Ahmadi
1990-2010
SISI LAIN KEBERKATAN DA’WAT ILALLAAH
Oleh : Mln. Nasiruddin Ahmadi (Mubwil-Nusra)
Disajikan untuk : Ceramah Jalsah Wilayah Bali-Nusra, Denpasar, 10-12 Februari 2012
- WA MAN AHSANU QAULAN-MIMMAN-DA’AA ILALLAAHI WA ‘AMILA SHAALIHAN-WA QAALA INNANII MINAL-MUSLIMIIN -
“ Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal shaleh serta berkata, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri “ ( Ha Mim As-sajdah 41:34 )
I. DEFINISI DA’WAT ILALLAAH : Segala amalan baik sekecil apapun pasti diganjar oleh Allah Ta’aala, sebagaimana Firman-Nya, FAMAY-YA’MAL MITSQAALA DZARRATIN KHAIRAY-YARAHUU, “ Kemudian barangsiapa berbuat kebaikan seberat zarah ( atom ) sekalipun, niscaya ia akan menyaksikannya ( merasakan nikmatnya) “ ( Al-zilzal 99:8 ). Ada perilaku dan perkataan yang lebih baik yang nilainya lebih dasyat dibandingkan dengan amalan yang lainnya, yaitu, DA’AA ILALLAAH atau DA’WAT ILALLAH, mengajak manusia kepada Allah. Pelakunya sering dinamakan Da’i ( Penyeru ). Karena pekerjaannya menyeru ke jalan Allah, maka disebut DA’ILALLAAH.
1. Macam-macam Da’i :
a. Da’i yang sempurna : Adalah yang bisa mempromosikan ke-Agungan Allah, Ketinggian Islam, Keindahan Al-quran dan Kemulian Nabi Muhammad SAW kepada orang lain yang terangkum dalam kalimat Thayyibah “ Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur-rasuulullaahu “ . Berarti, Da’i yang sempurna adalah – berkat hasil ceramahnya atau nasihatnya - ia bisa menanamkan ke dalam hati setiap orang – Asma Allah, sehingga mau berdzikir -, dan pada awalnya umat tidak mau bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, akhirnya umat mau bershalawat. Standar Akhlak Beliau SAW. menjadi pedomannya. dia tidak membawa misi pribadi, tetapi misi Nabi Muhammad Rasulullah SAW - LAA YU-MINU AhADUKUM hATAA YAKUUNA HAWAAHU TABA’ALIMAA JI-TU BIHII,- “ Seorang tidak menjadi mu’min sebelum kemauannya mengikuti apa yang kubawa “ ( Misykatul-Mashabih Bab Al-I”tisham bil-kitab ), dan BALLIGHU ‘ANNI WALAU AAYAH, “ Sampaikanlah ( Ilmu ) dariku ( Al-quran, Sunnah ) walaupun hanya satu ayat “ ( Al-hadits ).
b. Da’i yang berhasil dan sempurna : Da’i yang sangat berhasil dan sempurna dalam mengemban misinya bahkan bisa mengubah dunia adalah wujud suci Nabi Muhammad Musthafa Rasulullah SAW. Sehingga Beliau SAW dikatakan DA’ILALLAAH AGUNG. Karena Beliau SAW sebagai Guru Jagad tanpa cela, maka sudah selayaknya-lah seluruh umat Islam dan manusia pada umumnya berguru dan mengikuti tauladannya. Hz. Masih Mau’id as bersabda, KULLU BARAKATIN MIN-MUHAMMADIN SAW FATABAARAKA MAN ‘ALLAMA WA TA’ALLAMA, “ Segala keberkatan dari Nabi Muhammad SAW, maka berberkatlah orang yang mengajar( Rasulullah SAW ) dan belajar (Masih Mai’ud as ) “.
2. Tujuan Jemaat :
a. Jemaat dan Ishlah bi nafsi : Salah satu Tujuan Jemaat Ilahi ini didirikan oleh Allah Ta’aala adalah untuk YUHYIDIINA WA YUQIIMUNASY-SYARIAT, “ Akan menghidupkan Agama ( Islam ) dan menegakkan Syariat ( Al-quran ) “. Untuk Menjadi seorang Da’i yang berhasil tidak semudah yang dibayangkan, perlu perjuangan dan pengurbanan terutama Ishlah bi nafsi ( perbaikan diri ), perkataannya dan perbuatannya tidak tercela seperti dan sia-sia, tidak berdusta, harus jujur, tidak sombong, rendah hati. sebagaimana Hz. Imam Mahdi as bersabda, “ …hal yang penting ialah, kebersihan hati. Lebih dahulu dan yang utama ialah kelurusan dan kejernihan hati, kemudian sesudah itu kamu baru akan memperoleh segala sesuatu yang kamu ingini “, (Ajaranku, hal. 38, tahun 1993 ).
Hz. Khalifatul-Masih ke-IV rh, bersabda, “ Sebelum kita memperbaiki orang lain, kita sendiri harus berusaha menjadi pelaku kebaikan itu sendiri, tetapi untuk menjadi seorang Da’i jangan menunggu menjadi seorang wali dahulu. Justru dengan melakukan tugas-tugas Tabligh, kita akan menuju ke proses perbaikan diri untuk menjadi seorang wali “. Jadi Mau tidak mau, suka maupun tidak suka karena tugas Jemaat Akan menghidupkan Agama (Islam) dan menegakkan Syariat (Al-quran), seorang da’i dituntut harus berusaha lebih hidup ruhaninya dibandingkan dengan yang akan dihidupan, seorang da’i harus lebih tegak dibandingkan dengan yang akan ditegakkan, dan harus berusaha, teguh dan konsekwen dalam mengamalkan Syariat (Al-quran).
b. Manfaat melakukan Da’wat Ilallaah :
Segala perintah yang baik tentunya ada manfaatnya, termasuk melaksanakan da’wat Ilallah. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta’aala, … WA QUULUU QAULAN SADIIDAN YUSHLIh LAKUM A’MAA LAKUM WA YAGHFIR LAKUM DZUNUUBAKUM…., “ …dan ucapkanlah perkataan yang jelas ( jujur ). Dia akan memperbaiki amalan-amalan kamu dan akan mengampuni dosa-dosa-mu…. “ ( Al-ahzab 33: 71-72 ). Untuk menambah bobot perkataan, harus di bantu dengan sarana lain, yaitu Tahajud, INNA NAA SYIATAL-LAILI HIYA ASYAD-DU WATH-AN WA AQ-WAMU QIILA, “ Sesungguhnya bangun tengah malam ( untuk Tahajud ) itu merupakan sarana sangat ampuh untuk menguasai diri dan sarana yang paling kuat untuk mempunyai kemampuan berbicara “. ( Al-Muzammil:7).
II. PRA DA’WAT ILALLAAH :
Seorang da’i sebelum melakukan misi da’wat Ilallaah, selain mengadakan perbaikan diri, ia harus berusaha memahami betul apa definisi, melakukan da’wat Ilallaah itu sebagaimana ia memahami dirinya sendiri. Yaitu siapa, darimana dan mau apa dirinya hidup sebagai manusia. Setelah ia mengetahui tentang dirinya, ia harus berusaha tahu juga tentang orang lain, yaitu siapa, dimana dan bagaimana orang yang akan ditablighi ?. Inilah yang dinamakan mengenali situasi lingkungan. Dalam hal ini, seorang da’i harus berdo’a, “ Ya Allah langkahkan-lah kaki kami, persatukan dan bimbing-lah hati kami, persatukan-lah diri kami dengan orang-orang yang akan menerima kebenaran Jemaat Ilaahi, Karena kami tidak tahu siapa dan dimana orang-orang tersebut “.
1. Manusia paling sempurna :
Allah Ta’aala menciptakan alam raya berikut isinya sudah pasti ada tujuannya, demikian pula Allah Ta’aala menciptakan manusia, dan mahkluk lainnya ( binatang, tumbuh-tumbuhan, benda cair, padat, mati dan Gas ) pasti ada tujuannya. Dari sekian makhluk Allah Ta’aala yang paling sempurna adalah Manusia, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, dengan akal ini manusia bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Mengenai tujuan hidup manusia, Allah Ta’aala berfirman : - LAQAD KHALAQNAL-INSAAANA FII AHSANI TAQWIIM -, artinya, “ Sesungguhnya Kami telah menciptalan manusia dalam sebaik-baiknya penciptaan “. ( At-tin 95:5 ). Tetapi walaupun manusia dinamakan makhluk yang sempurna, bisa saja derajatnya jatuh terpuruk bahkan perilakunya lebih buruk dari pada binatang, - TSUMMA RADADNAAHUU ASFALAA SAAFILIIN, Artinya, “ Kemudian saat ia berbuat jahat, Kami menjatuhkan dia ke derajat paling rendah dari segala yang rendah “ ( At-tin 95:6 ).
2. Tujuan hidup manusia :
Walaupun manusia mempunyai keinginannya masing-masing -. Tujuan hidup sudah ditentukan oleh sang Pencipta, yaitu untuk beribadah atau mengabdi kepada-Nya. sebagaimana Allah Ta’aala berfirman, WA MAA KHALAQTUL-JINNA WAL-INSA ILLAA LIYA’BUDUUN, artinya, “ Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku “ ( Adz-dzariyat 51:57 ). Jadi manusia datang dan pergi bukan atas kemauannya sendiri. Hazrat Masih Mau’ud as. Bersabda, “ ..menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia adalah untuk menyembah Allah Ta’aala dan meraih ma’rifat Allah Ta’aala serta menjadi milik Allah Ta’aala…tidak peduli apakah manusia mengerti atau tidak mengerti tujuan itu, akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak diragukan lagi yaitu, untuk menyembah Tuhan dan meraih ma’rifat Allah Ta’aala serta menjadi fana ( melebur ) di dalam Allah Ta’aala “. ( FAI, Hal. 125-126, 2001). Jadi apabila manusia dari awal, sudah salah menentukan jalan hidupnya, maka selanjutnya pun akan mengalami kehidupan yang gelap dan terlunta-lunta tanpa arah, laksana si buta mencari jalan rata. Untuk mencapai tujuan hidup tersebut, manusia membutuhkan aturan hidup yang namannya agama.
3. Modal untuk mencapai tujuan :
Karena tujuan hidup manusia yang sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah dan berusaha menjadi milik Allah, maka untuk mengoalkan capaian-capaian tersebut manusia diberi modal yang mendasar yaitu. Akal dan Ilmu untuk : 1. Mengenali Allah Ta’aala, da’i harus tahu apa itu da’wat Ilallah, 2. Mendapatkan gambaran tentang kejuwitaan Allah ( Husnun ), harus tahu asyiknya ber-da’wat Ilallah, 3. Mengenal kebaikan yang lebih dari Allah ( Ihsan), da’i harus tahu apa manfaat berda’awat Ilallah, 4. Do’a , apabila sulit dalam menghadapi da’wat Ilallah harus mohon bantuan Allah, 5. Mujahadah, harus kerja keras jangan malas, 6. Istiqomah, Teguh, ada tantangan yang menghadang, maju terus pantang mundur, 7. Bergaul dengan orang-orang Shaleh seperti hidupnya para Nabiullah. belajar dengan para da’i yang sudah mumpuni, 8. Kasyaf & Ilham Suci, sebagai sarana pengawasan dan hiburan dari Allah Ta’aala. Jangan khawatir ketika bertabligh, Allah akan membimbing langkah dan perkataannya.
4. Kunci meraih Fanafillah :
a. Allah pemilik hati : Kunci keberhasilan yang sangat menentukan dalam melakukan da’wat Ilallaah adalah penyatuan hamba dengan Allah. Tapi ingat !, definisi menyatu disini bukan seperti menyatunya baut dengan mur, karena Allah bukan makhluk dan Allah bukan benda. Allah adalah Pencipta, Allah adalah Maha Ghaib dari yang ghaib, Allah adalah pemilik segala kebenaran dan Allah pemilik HATI setiap orang. Pendeknya Allah Ta’aala pemilik segala-galanya. Jadi melalui jalan apa untuk menyatu dengan keinginan ?. Jawabannya : Jalan yang lain sudah buntu tetapi jalan melalui Nabi Muhammad SAW masih tetaplah panjang. Pintu yang lain boleh tertutup, tetapi pintu melalui Nabi Muhammad SAW. masih terbuka lebar.
b.Nabi Muhammad SAW. Juru syafaat : Sebelum kita meraih Fanafillah, kita harus Fanafirasul terlebih dahulu. Kalau ingin dicintai Allah, maka harus mengikuti Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu, QUL INKUN-TUM TUhIB-BUUNALLAAH FAT-TA’IBUU-NII YUhBIB-KUMULLAAH…, “ Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, maka ikuti-lah aku, kemudian Allah pun akan mencintai-mu…”( Ali-Imran 3 : 32 ). “ Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Rasulullah SAW..” ( Khalifah ke-II ra, Foot Note 398, Surah Ali-Imran : 32, hal. 220, 1987 ). Hz. Masih Mau’ud as bersabda, “ …bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul dan Juru Syafaat kecuali Muhammad Musthafa SAW. Maka berusahalah kamu sekalian menaruh kecintaan yang semurni-murninya kepada Nabi Agung ini, dan janganlah memberikan kepada siapapun tempat yang lebih tinggi daripada beliau, agar kamu digolongkan diantara orang-orang yang telah diselamatkan…. Siapakah yang memperoleh Najat itu ?, ialah orang yang benar-benar yakin bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan Nabi Muhammad SAW adalah juru Syafaat yang menengahi antara Tuhan dan seluruh umat manusia. Bahwa di bawah bentangan langit ini tidak ada Rasul lain yang semartabat dengan beliau dan tidak ada Kitab lain yang sederajat dengan Al-quran…” ( Ajaranku, hal. 12-13, 1993).
c. Rela berkurban demi Muhammad SAW. : Hz. Khalifatul Masih III ra, bersabda, “ Kami mengurbankan HATI dan jiwa untuk Nabi Muhammad SAW. HATI kami penuh dengan kecintaan kepada Beliau SAW. Zarrah-zarrah wujud kami dinaungi kebaikan-kebaikan Beliau SAW. Jika anak-anak kami di bunuh dengan kejam ( di hadapan kami ) maka kami bisa menahan kesedihan itu. tetapi kami tidak bisa menahan kesedihan sekejap matapun bila ada orang yang mencaci-maki kekasih kami, Hazrat Khairul-Anam ( yang lebih baik dari semua makhluk ) Khaatamul-Anbiyaa SAW “, ( Pidato Hz. Khalifatul-Masih ke-III ra, 7 Juni 1972, Hal. 5/ Riwat Hidup Khalifah-Masih ke-III ra, Hal. 22, Tahun 1987 ).
d. Belah-lah hati, dan lihatlah : Tentang keyakinan & kecintaan yang menghujam sampai ke HATI yang sangat dalam, beliau bersabda, “ …. Jika ada seorang yang membelah HATI saya dan bisa melihatnya, maka ia mengetahui bahwa dalam HATI saya tidak ada sesuatu selain kecintaan kepada Allah SWT dan Muhammad SAW. “ ( Riwat Hidup Khalifah-Masih ke-III ra, Hal. 23, Tahun 1987 ). Selanjutnya beliau bersanda, “ Hendaknya setiap HATI manusia penuh dengan kecintaan kepada Muhammad SAW dan hendaklah dari seluruh ujung dunia suara pujian Allah SWT dan suara shalawat kepada Muhammad SAW sampai ke telinga semua manusia “ ( Al-Musabin, Hal. 351/Riwat Hidup Khalifah ke-III ra, Hal. 26, Tahun 1987 ).
5. Agama yang baik menurut Allah, adalah Islam : Fitrat yang suci, tunduk, ta’at, dan ikhlas dinamakan dengan fitrat ISLAM. Agama yang benar adalah, INNAD-DIINA ‘INDALLAAHIL-ISLAAMU, artinya, “ Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah adalah ISLAM …“ ( Ali-Imran 3:2 ). FA AQIM WAJHAKA LID-DIINI hANIIFAA, FITHRATALLAAHIL-LATII FATHARAN-NAASA ‘ALAIHAA, LAA TABDIILA LI KHALQILLAAHI, DZAALIKAD-DIINUL-QAYYIIM, Artinya, “ Maka hadapkanlah wajahmu untuk berbakti kepada agama dengan kebaktian selurus-lurusnya. Dan turutilah Fitrat yang diciptakan Allah, yang sesuai dengan Fitrat itu Dia telah membentuk umat manusia. Tiada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah Agama yang benar “ ( Ar-rum 30:31 ). Hazrat Masih Mau’ud as bersabda. “ Agama yang di dalamnya terdapat ma’rifat yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya\ dalam bentuk yang tebaik, adalah ISLAM ( 3:20).. Dan Islam telah ditanamkan dalam fitrat manusia. Dan Allah Ta’aala telah menciptakan manusia dalam keadaan Islam serta telah menciptakannya untuk Islam ( 30:31 )“. Selanjutnya Beliau as. Bersabda, “ Dia ( Allah ) telah menghendaki agar manusia dengan segala kemampuannya terus-menerus menyembah, manaati, dan mencintai Tuhan. Itulah sebabnya Sang Maha Kuasa dan Maha Mulia telah menganugerahkan kepada manusia seluruh kemampuan yang selaras dengan ISLAM “.
III. DA’WAT ILALLAAH DAN JIHAD :
1. Apa Jihad itu ? :
Da’wat Ilallaah adalah bagian dari Jihad, dan jihad diantaranya adalah da’wat Ilallaah. Pada saat aman dan damai, Jihad dengan peperangan tidak dibutuhkan lagi, tetapi apabila kondisi memungkinkan perlu dilakukan dengan takaran yang terukur.
Apakah Jihad itu ?. Hz. Khalifatul-Masih Ke-II ra. bersabda, “ Jihad ( kata masdar dari Jahada yang berarti, ia berusaha keras atau berjuang dengan segala kemampuan yang ada padanya untuk mencapai tujuan ) pada umumnya dipergunakan dalam Al-quran dalam arti ini…” ( Foot Note 1199, Tafsir Singkat, Surah At-taubah, hal. 711, 1987 ).
2. Tiga macam Jihad :
Islam mengajarkan tiga macam Jihad, Pertama : Jihad Kecil ( Shaghir ) , yaitu perang dengan senjata. Kedua : Jihad Besar ( Kabiir ), yaitu, Tabligh atau dakwah Islam, menyampaikan amanat Allah SWT ( Quran Karim ) kepada seluruh manusia di seluruh dunia, sebagaimana tugas Nabi Muhammad SAW untuk memberikan Khabar suka ( Basyiraan) dan memberikan Peringatan ( Nadziiraan ). Ketiga : Jihad paling besar ( Akbar ), yaitu, memperbaiki diri ( Akhlak atau hawa nafsu ) menurut perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Nabi Muhammad SAW tentang Jihad Kecil dan Paling Besar : RAJA’NAA MINAL-JIHAADIL-ASHGHAR ILAL-JIHAADIL-AKBARA, “ Kita sudah pulang dari Jihad yang kecil ( untuk menuju ) Jihad yang Paling Besar“.
3. Jihad Besar adalah Bertabligh :
Allah SWT tentang Jihad Besar, WA JAAHID-HUM BIHII JIHAA-DAN KABIIRAA, “ Dan berjihad-lah terhadap mereka dengannya ( Al-quran ) dengan Jihad yang besar “. ( Al-Furqaan 25 : 52 ).“ Jihad besar dan Jihad yang sesungguhnya menurut ayat ini, ialah menablighkan amanat Al-quran. Oleh karena itu berjuang untuk menyiarkan Islam dan menyebarkan serta menaburkan ajaran-ajarannya adalah Jihad, yang orang-orang Islam selalu dianjurkan seupaya melaksankannya dengan semangat pantang mindur Jihad inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW ketuika kembali dari suatu gerakan militer. Menurut riwayat beliau pernah bersabda, “ Kita telah kembali dari Jihad kecil ( Perang ) menuju Jihad besar ( Raad al-Muhtar ) “. ( Khalifah ke-II ra, Foot Note 2084, Tafsir Singkat Surah Al-furqan, hal. 1269, 1987 ).
4. Jihad dan Perang :
Sungguh sayang di masa sekarang ini masih ada sekelompok orang yang memahami bahwa Jihad Paling besar itu adalah perang, dengan argumentasi, bahwa umat Islam sekarang ditindas, dilecehkan, dihina, dikatakan teroris, dll. Pendeknya mereka ( kelompok radikal ) berpikir, “ Perang “ adalah solusi dalam menyelesaikan masalah. Padahal apabila mau instropeksi diri, dan kembali kepada tauladan Nabi suci Muhammad SAW, kapan saatnya Islam boleh mengadakan peperangan, apa tujuan dan syarat-syaratnya ?. Tentunya mereka akan memahami bahwa tidak semua peristiwa atau kasus yang dihadapi umat Islam di masa sekarang solusinya harus berakhir dengan jalan perang. Padahal Al-quran dan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mengajarkan demikian. Untuk mengetahui lebih detail, kapan saatnya Islam boleh mengadakan peperangan, apa tujuan dan syarat-syaratnya ?. lihat tafsir Singkat surah Al-Hajj 22 : 40-41, Foot Note 1957-1958, buah karya, Khalifah ke-II ra, 1987 ).
5. Peluang menabur kebaikan :
Sudah saatnya para anggota Jemaat merapatkan kembali barisan yang kokoh laksana pondasi yang di cor oleh timah, untuk melakukan da’wat Ilallah atau Jihad damai, tanpa kekerasan sesuai cara Nabi suci Muhammad SAW. Peluang melakukan da’awat Ilallah ini sangat terbuka lebar, sebagaimana yang di sabdakan oleh Hz. Masih Mau’uad as, “ Bersukacitalah kamu, sebab medan untuk mendapat qurub ( kedekatan ) kepada Tuhan, sekarang sedang sunyi-sepi. Tiap-tiap bangsa sedang asyik dalam urusan dunia. Dan tiap amal yang diridhai oleh Tuhan itu tidak diacuhkan oleh dunia. Bagi orang-orang yang dengan sekuat tenaganya hendak memamasuki pintu ini, ada kesempatan baik untuk memperlihatkan kecakapannya serta memperoleh hadiah istimewa dari Tuhan. Janganlah kamu menyangka bahwa Tuhan akan menyia-nyiakan kamu. Kamu adalah sebuah benih dari Tuhan yang sudah ditanamkan dalam bumi. Allah berfirman : Benih ini akan tumbuh kian besar, dari setiap pihak akan keluar cabang-cabangnya dan akan menjadi sebuah pohon besar…. “ ( Al-wasiyat, h. 17, 1993 ).
6. Membeli hati dengan Akhlakul-karimah :
Jihad yang dialakukan oleh Islam Ahmadiyah ini bukan dengan paksaan apalagi kekerasan tetapi dengan penuh damai, kasih sayang, sesuai dengan motonya, LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE, “ Cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapapun “. Senjata Jemaat Ahmadiyah untuk menyebarkan misi Islam yang suci ini adalah, dengan cara “ membeli hati “ orang dengan akhlak. Hz. Khalifatul-Masih IV rh. ketika ditanya oleh salah seorang wartawan BBC “ Landon “, Wartawan : “ Saya dengar Tuan bertekad akan meng-Islam kan orang-orang Eropa ?, senjata apa yang akan Tuan pergunakan untuk mencapai tujuan itu ? “. Huzur rh. : “ Kami ( Ahmadiyah ) akan berusaha membeli hati orang-orang Eropa agar tertarik kepada Islam dengan senjata Akhlakul-karimah Nabi Muhammad SAW. Dan Kami tidak akan memberi kesempatan kepada ghair Muslim melihat, bahwa Islam itu ada kelemahan-kelemahan dari segi Akhlak !..”. ( Kutipan Question & Answer ).
7. Bai’at karena keindahan Akhlak :
Tuntutan sesuai dengan statmen di atas – adalah, dalam melaksanakan da’wat Ilallah harus diutamakan akhlak mulia. Maksudnya adalah, bagaimana caranya agar orang lain pada kesan awal, tertanam kesan baik tentang keindahan Islam atau Jemaat ?. Sejarah membuktikan, sudah banyak kaum Yahudi dan Nasrani bahkan orang-orang Musyrik tertarik dan masuk Islam di jaman Rasulullah SAW. bukan karena dalil – walaupun ada -, tetapi karena keindahan Akhlak mulia-lah yang ditampilkan Rasulullah dan para sahabat. Mereka merasa nyaman, aman, damai, sejuk, tenang atau khusu’ hidup berdampingan dengan kaum Muslimin saat itu. Suasana ini sangat berbekas, sehingga dari antara mereka ada yang berkata, “ Alangkah indahnya jika kami menjadi pengikut Muhammad, alangkah indahnya jika sekiranya kami menjadi Muslim ! “. Pertayaannya adalah, Apakah penilaian positif ini akan terulang lagi di masa sekarang?, sementara ini, ada segelintir atau sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam, tetapi dalam ucapan dan perilakunya tidak terpuji, senang dengan ucapan caci-maki, menghina, memfitnah. Senang melakukan kekerasan, pengrusakan, penjarahan, pembakaran bahkan pembunuhan kepada sesama muslim dengan mengatasnamakan Jihad dan mati Syahid ?. Rasa-rasanya suatu hal yang mustahil dan musykil, penilaian positif tadi akan terulang lagi. Yang ada adalah, non Muslim akan merasa takut, terhadap kaum Muslim bahkan orang yang sudah berada dalam Islam sendiri pun akan merasa risih, malu bahkan putus asa melihat kondisi ini.
8. Nabi Muhammad jadi sasaran pelecehan :
Celakanya !, karena ulah mereka tadi – yang melakukan kekerasan ( aksi teror, Bom bunuh diri ) - wujud suci Nabi Muhammad SAW pun kena imbas negatifnya, Beliau SAW menjadi sasaran pelecehan. Media barat – dengan alasan kebebasan Pers - membuat karikatur yang menghina wujud suci Rasulullah SAW. Yang tentunya sangat mengganggu perasaan kaum muslimin yang masih memiliki hati suci dan cinta damai. Pendeknya, citra umat Islam saat ini terpuruk yang disebabkan oleh kelompok radikal tadi. Untuk mendongkrak kembali agar citra Islam kembali positif, berwibawa, berjaya, unggul dan disegani, adalah dengan cara : Tampilkan akhlakul-karimah Nabi Muhammad SAW kepada saudara-saudara kita non muslim. Jangan diberi kesempatan non muslim melihat atau menilai, bahwa Islam itu kaum barbar yang senang kekerasan dan permusuhan. Untuk Intrn Islam : Stop !, Caci-maki, hujatan, fitnahan dan kekerasan karena itu bukan solusi terbaik dalam menyelesaikan suatu perbedaan tetapi akan menambah daftar panjang kegelapan umat Islam itu sendiri yang akhirnya umat lain tidak tertarik terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW.
9. Dialog penuh hikmah langkah terbaik :
Apabila di medan pertablighan menemui jalan buntu dan beda pemahaman dengan orang lain, cara penyelesainnya harus melalui etika standar yang di nasihatkan oleh Allah Ta’aala, UD’U ILAA SABIILI RAB-BIKA BIL-HIKMATI WAL-MAU’IZHOT-IL HASANATI WA JAADIL-HUM BILLATII HIYA AHSANU. INNA RAB-BAKA HUWA A’LAMU BIMAN-DHOLLA ‘AN SABIILIHI WA HUWA A’LAMU BIL-MUHTADIINA -, “ Panggilah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik. Dan hendaknya bertukar-pikiran dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau telah mengetahui, siapa yang telah sesat dari Jalan-Nya, dan Dia Maha Mengetahui pula siapa yang sudah mendapat petunjuk “ ( An-nahl 16 : 126 )
10. Cara Ahmadiyah mengatasi anarkisme :
Pada umumnya ketika seseorang merasa tersinggung atau dirugikan oleh orang lain, akan dibalas dengan perbuatan yang tidak terpuji, yaitu kejahatan dibalas dengan kejahatan, caci-maki dibalas dengan caci-maki, fitnah dibalas dengan fitnah penganiayaan dibalas dengan penganiayaan, kekerasan dibalas dengan kekerasan bahkan nyawa dibakas dengan nyawa lagi. Dengan alasan Quran membolehkan dengan hukum “ Qishash-nya “, pendeknya api dibalas dengan api. Hasilnya bagaimana ?, bukan menyelesaikan masalah, tetapi muncul masalah baru. Jemaat Ahmadiyah dalam mengatasi semua ini mempunyai trik tersendiri, yang munmgkin tidak dimiliki oleh kelompok lainnya. Insya Allah cara-cara ini dapat ditiru oleh Pemerintah da Masyarakat untuk menyelasaikan masalah anarkhisme yang sering timbul.
Cara mengatasi hal di atas, Jemaat Ahmadiyah tidak membawa konsep baru, tepapi konsep yang sudah diajarkan oleh Al-quran, Nabi Muhammad SAW. Hz. Imam Mahdi as dan para Khalifahnya, yaitu :
Konsep Al-quran : - ID FA’ BILLATII HIYA AHSANU- “…Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik….” (41:35). Dalam melaksanakan da’wat Ilallah pasti akan ada kesulitan-kesulitan, ayat ini menasihatkan agar bersabar dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan membalas penganiayaan dengan kebijakan.
Konsep Nabi Muhammad SAW : Ketika Nabi Muhammad bersama sahabatnya berdakwah ke Thaif, beliau dihadang dan dilempari oleh orang-orang yang nakal. Akibat dari perlakuan itu Beliau SAW,. Sempat terluka dan berdarah. Malaikat Jibril menawarkan kepada Beliau SAW. untuk membinasakan kaum tersebut, tetapi Beliau SAW menjawab, Jangan !, dan berdo’a, - ALLAHUMAHDI QAUMII FA INNAHUM LAA YA’LAMUUN - “ Ya Allah berilah petunjuk kepada kaum-ku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui “. Kekerasan, di balas dengan Do’a. Perilaku yang mengesankan yang diperagakan oleh Rasulullah SAW. ini diperhatikan oleh Addas, pemuda Kristen dari Ninewe, setelah didakwahi akhirnya bai’at.
Konsep Hz. Imam Mahdi as. : “ Balaslah kemungkaran dengan do’a “. Dan Beliau as. Bersabda “ Dengarkanlah caci-maki orang dan bersyukurlah kepada Allah. Alamilah kekecewaan, akan tetapi janganlah memutuskan hubunganmu dengan Dia. Kamu sekalian adalah satu Jemaat Allah yang paling akhir “.
Konsep Khalifah ke-III ra, - LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE – “ Cinta untuk semua, tidak ada kenbencian bagi siapaun “. Yang dibenci oleh Ahmadiyah bukan orangnya, tetapi perilaku dan ucapan jahatnya.
Konsep Hukum : Warga Ahmadiyah adalah bagian dari Rakyat Indonesia yang hidup di wilayah NKRI, mempunyai hak dan kewajiban yang sama di mata hukum dengan masyarakat lainnya- apalagi Jemaat sudah berbadan hukum. Apabila ada permasalahan yang menyangkut pelanggaran hukum, diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang.
MI = Mahkamah Ilahi : Apabila semua usaha yang bersifat manusiawi sudah maksimal tetapi masih, mengalami jalan buntu, maka kami serahkan sepenuhnya pengharapan masa depan Ahmadiyah kepada Mahkamah Ilahi yang Maha Adil, Maha Mengetahuai, dan Maha Bijaksana. Karena Tuhan-nya Ahmadiyah bukan Raja-raja/Presiden ataupun Ulama.
IV. PENGHAMBAT DA’WAT ILALLAAH :
Sudah banyak konsep dan nasihat bagaimana caranya agar berhasil dalam menunaikan da’wat Ilallah seperti yang dijelaskan oleh : Allah Ta’aala dalam Al-quran, Nabi Muhammad SAW dalam Sunnah & Haditsnya, Sabda-sabda Hz. Masih Mau’ud as. dan para Khulafanya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya banyak yang kandas atau berhenti ditengah jalan, mengapa hal ini harus terjadi ?. Jawaban setiap orang pasti berbeda-beda. Berdasarkan temuan-temuan yang di alami di lapangan, dari sekian alasan yang dungkapkan oleh para Ahmadi diantaranya adalah :
1. MALU :Yang melahirkan rendah diri/minder, merasa minoritas di tengah-tengah yang mayoritas. Malu akhlaknya belum sesuai dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan Masih Mau’ud as. Karena beda status ekonomi, dan posisi di masyarakat.
2. TAKUT : Kurang Ilmu karena minimnya tarbiyyat/pembekalan, yang melahirkan kurang PD, takut salah saat menjelaskan, takut ditinggalkan atau diboikot oleh keluarga, sahabat dan masyarakat – apalagi pemberitaan sisi negative Jemaat secara simultan -. Kalau Pegawai : takut diketahui oleh teman sekantor atau atasan, takut pangkat dan gajinya diturunkan, takut kehilangan jabatan bahkan takut dipecat, takut hilangnya relasi & patner kerja, takut diketahui dirinya jemaat nanti propertinya dirusak, dijarah atau dibakar. Atau factor lain. special NTB, pengawasan ketat dari para Tuan Guru/Kyai/Ulama, sehingga para da’i bertindak hati-hati, bukan berarti diam.
3. MALAS : melahirkan sifat kurang peduli, berkurangnya rasa tanggungjawab, masa bodo, tidak ada ghairah/semangat bahkan muncul sifat putus asa. Tidak adanya motivator, dan banyak lagi alasan yang lain. Berdasarkan hasil wawancara dengan para Ahmadi, penyakit yang paling dominan sehingga enggan bertabligh adalah PENYAKIT MALAS. Sama halnya, mengapa para pengurus cabang atau badan-badan enggan atau tidak mau laporan hasil kerjanya - padahal format laporan sudah dibuat oleh Para Sekretaris PBJAI/Sadr Badan-badan sedemikian rupa mudahnya -, ini dikarenakan penyakit MALAS menghinggapi hati dan pikiran, yang meluluhkan semangat untuk bertindak.
V. MOTIVASI & SOLUSI :
Untuk mengikis dan menghilangkan kendala ( penyakit ) Malu, Takut Malas, dan lain-lain. - tentunya tidak semudah yang dikatakan. Pengobatannya dibutuhkan cara tersendiri, karena setiap orang penyakitnya berbeda. Beberapa nasihat di bawah ini adalah resep untuk menghilangkan penyakit yang ada, semoga ada manfaatnya untuk motivasi dan solusi agar gairah dalam bertabligh :
1. Niat baik dan Tekad yang kuat :
Islam mengajarkan, setiap kita akan melakukan kebaikan harus diawali dengan NIAT baik dan Tekad yang kuat, dan menyebut ASMA ALLAH. Tanamkan dalam hati bahwa, pengkidmatan da’wat Ilallaah ini adalah karunia dan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Sebagaimana Syair Hz. Khalifatul-Masih II ra yang berbunyi, - KHIDMAT DIN KO IK FAZAL ILAHI JANO – “ Berkhidmat kepada agama adalah suatu karunia “.
2. Miliki derajat Keyakinan :
Setelah mengawali dengan NIAT yang baik dan tekad yang kuat juga menyebut ASMA ALLAH. Niat dan tekad tadi, harus didukung oleh KEYAKINAN yang teguh, bahwa usaha da’wat Ilallaah tersebut akan berhasil. Mengenai derajat keyakinan ini, harus ditempatkan di posisi yang tinggi sebagai motivator keberhasilan. Hz. Imam Mahdi as bersabda, “ Oleh karena itu ingatlah baik-baik, tanpa keyakinan yang senpurna kamu tidak dapat keluar dari kehidupan yang gelap-gulita, demikian pula kamu tak akan mendapatkan Ruhul-qudus. Berbahagialah mereka yang berkeyakinan dengan sempurna sebab mereka itulah yang beruntung ( berhasil) melihat seri wajah Tuhan. Berbahagialah mereka yang telah diselamatkan dari bahaya kewaswasan sebab merekalah yang diselamatkan dari dosa “ . ( Ajaranku, hal. 59, 1993 ).
a. Menumbuhkan keyakinan : Keyakinan akan tumbuh dan berpengaruh dalam hati dan pikiran seseorang tatkala kita berusaha untuk menghindarkan diri dari segala macam dosa. Untuk menghilangkan dosa harus ada usaha, “ …peganglah keyakinan itu dengan sungguh-sungguh sebab apabila hatimu telah bersimbah penuh oleh keyakinan yang sempurna, di saat itu barulah akan timbul tarikan dari Tuhan dan kamu akan bersih dari kekotoran dosa. Mungkin kamu akan berkata bahwa kamu sudah memiliki keyakinan, namun ingatlah !, perasaan ini hanya tipuan terhadap dirimu sendiri. Keyakinan itu sekali-kali belum kamu miliki, sebab kamu belum memenuhi syarat-syarat yang dikehendaki. Sebab kamu belum menghindarkan dari dari dosa. Kamu belum lagi melangkahkan kaki sebagaimana seharusnya kamu melangkah. Kamu tidak takut akan dosa sebagaimana seharusnya “ ( Ajaranku, hal. 60-61, 1993).
b. Manfaat memiliki keyakinan yang sempurna : Keyakinan akan memberi daya atau kekuatan dalam kondisi apapun, suka maupun duka, sulit maupun mudah. Orang yang memiliki keyakinan tinggi, tidak mudah goyah ke-imanannya, akan tumbuh menjadi orang yang tegar, siap menghadapi segala rintangan bahkan akan melangkah menjadi orang yang suci di hadapan Allah Ta’aala, Hz. Imam Mahdim as. Bersabda, “ Barangsiapa yang telah menyucikan dirinya, sesungguhnya telah disucikan oleh keyakinannya. Keyakinan memberi satu daya untuk menanggung derita dan kesukaran sehingga seorang Raja rela untuk turun tahta dan menjalani hidup sebagai seorang fakir. Keyakinan mempermudah segala kesukaran. Keyakinan memungkinkan manusia melihat wajah Tuhan…Satu-satunya yang menyampaikan manusia kepada Tuhan – sehingga derajat yang dicapai manusia dalam hal ke-ikhlasan, kemantapan, dan kegigihannya dapat melampai derajat malaikat – adalah keyakinan “. ( Ajaranku, hal. 62, 1993 ).
c. Keyakinan akan menghilangkan rasa takut : Dai’ilallah yang menjadi milik Allah, tidak akan pernah takut : Hz. Khalifatul-Masih III ra bersabda, “ Kamu akan mengetahui bahwa orang yang mengatakan perkataan yang benar ( Qaulan Shidqun ), adalah orang yang DIMILIKI OLEH ALLAH. Tidak baik melawan dan janganlah menyerang singa-singa itu dengan tangan, hai orang yang seperti rubah cengeng !...Kami selalu melihat kekuatan Allah SWT dan luar biasa kecintaan-Nya. Kami mempunyai keyakinan yang kuat tentang kekuasaan-kekuasaan-Nya. Bagaimana kami akan takut dari kamu ?. Kami tidak takut kepada seluruh dunia juga…kami telah melihat tanda-tanda besar dari Allah SWT, sekarang bagaimana kami akan takut ( dari siapapun ) selain kepada Allah SWT. “ ( Azad Kasymir ki ek karardad par Tabserah, H. 11-13/ Riwat Hidup Khalifah-Masih ke-III ra, Hal. 29-30, Tahun 1987).
3. Doa dan Keyakinan :
Dua unsur ini tidak bisa dipisahkan. Umat Islam harus yakin ketika dia memanjatkan do’a kepada Allah, niscaya Allah akan mendengar dan mengabulkannya. Sebagaimana janji Allah Ta’aala, - ..FA INNI QARIIBUN, UJIIBU DA’WATAD-DAA’I IDZAA DA’AANI…-“ … Maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan do’a orang yang memohon apabila ia mendo’a kepada-Ku…”. ( Al-baqarah 2 : 187 ). Hz. Imam Mahdi as. Besabda, “ Untuk mengikuti ajaranku seseksama-seseksamanya dikehendaki agar mereka harus berkeyakinan bahwa mereka mempunyai satu Tuhan yang Qadir, Qayyum, dan Khalikul-kul, yang sifat-sifat-Nya tidak pernah berubah serta kekal lagi abadi “, ( Ajaranku, hal. 2, 1993).
a. Berdo’alah laksana bayi ; Berdoalah laksana bayi yang meminta air susu ibunya, menangis dan menangis dengan penuh harap dan kegelisahan, “ Mualailah kamu menangis bagaikan bayi yang meminta susu supaya air keluar dengan sendirinya dari dada ibu. Buatlah dirimu layak menerima kasih supaya kamu dianugerahi Kasih Sayang. Perlihatkanlah kegelisahan agar kamu memperoleh ketentraman hati. Merataplah sepuas-puasnya sampai ada sebuah tangan meraih tanganmu…”. ( Ajaranku, hal. 40-, 1993 )
b. Do’a dan amal Shaleh solusi menuju ke menara keyakinan : Berdo’a apabila ingin dikabulkan jangan hanya di bibir saja tetapi harus disertai keyakinan yang dihayati dan beramal shaleh, “ ..dalam memohon pertolongan ini janganlah hanya sekedar di bibir melainkan hendaknya benar-benar keyakinan itu dihayati bahwa setiap berkat itu turunnya dari langit. Kamu akan benar-benar menjadi orang shaleh hanya apabila pada setiap waktu jika kesulitan datang menimpamu, sebelum kamu menata rencana untuk menanggulangi kesulitan itu, kamu menutup pintu kamarmu dahulu lalu merebahkan dirimu dihadapan singasana Ilahi – meratap di hadapan Dia dan mengungkapkan bahwa kamu di hadapkan kepada suatu kesulitan dan kamu memohon Karunia-Nya. Maka niscayalah Ruhul-qudus akan menolongmu dan dengan jalan ghaib Dia kan membukakan pintu jalan keluar bagimu “ ( Ajaranku, 34, 1993 ). Beliau as. Bersabda, “ Kalau kamu bermohon ( berdo’a ) dengan kesungguhan hati niscaya kamu akan menyadari itulah sebenar-benarnya ilmu yang memberi kesegaran dan kehidupan baru dan menyampaian kamu ke puncak menara keyakinan “ ( Ajaranku, hal. 37, 1993 ).
4. Jangan gentar menghadapi cobaan :
a. Kesukaran yang di ridhai Allah : Hz. Masih Mau’ud as. Bersabda : “ Terimalah penghidupan pahit karena Tuhan. Kesukaran yang karenanya Tuhan ridha, lebih baik daripada kesenangan yang karenanya Tuhan murka. Kekalahan yang karenanya Tuhan Suka itu lebih baik daripada kemenangan yang menyebabkan kemurkaan Ilahi… Akan tetapi kalau kepahitan itu kamu tanggung, maka laksana seorang kanak-kanak yang disayangi. Kamu akan berada dalam pengkuan Tuhan dan kamu akan menjadi waris orang-orang suci yang telah berlalu sebelum kamu, tetapi amat sedikit yang demikian ini …Kalau kamu benar-benar tunduk kepada Tuhan, maka perhatikanlah, aku berkata kepadamu menurut kehendak Tuhan, bahwa kamu akan menjadi kaum Tuhan yang terpilih…
b. Cobaan untuk uji kebenaran atau kebohongan : Berbahagialah orang yang percaya kepada perkataan Tuhan dan dia tidak gentar dalam menghadapi cobaan-cobaan yang akan datang dipertengahan masa itu, tersebab kedatangan cobaan-cobaan pun perlu juga supaya Tuhan menguji kamu, siapakah yang benar dalam pengakuan Bai’at-nya dan siapa pula yang bohong. Orang yang tergelincir karena suatu cobaan, ia sedikitpun tidak merugikan Tuhan, malah kesialannya itu akan menyampaikannya ke neraka. Kalau ia tidak dilahirkan lebih baik bagi dia “ ( Al-wasiyat, h. 17, 1993 ).
5. Pemberani tidak pernah melarikan diri :
Munculkan sifat Berani, Perasaan TAKUT hanya bisa dikalahkan oleh KEBERANIAN ( Syajaa’ah ). Dalam mengartikan beberapa Firman Allah tentang Keberanian, Hz. Masih Mau’ud as bersabda, “ Pemberani adalah mereka yang tidak melarikan diri pada saat bertempur, atau pada saat mereka ditimpa suati musibah,( 2:178 ), Kesabaran mereka pada waktu bertempur dan pada saat susah ialah demi keridhaan Allah untuk meraih Wajah-Nya, bukan memamerkan keberanian ( 13:23 ). Mereka ditakut-takuti bahwa orang-orang telah sepekat untk menghukum mereka, maka hendaklah mereka takut kepada orang-orang itu, ternyata dengan ditaku-takuti itu keimanan mereka semaki bertambah, dan mereka berkata, “ Cukuplah Tuhan bagi kami “ ( 3:174 )… Jadi, akar keberanian sejati adalah, Sabar dan keteguhan langkah. Tetap teguh dan tidak melarikan diri sebagai pengecut dalam menghadapi setiap dorongan nafsu atau musibah yang menyerang bagaikan musuh, inilah keberanian… “ ( Filsafat Ajaran Islam ( FAI ), h. 59-60, tahun 2001 ).
6. Rasulullah SAW. tidak memiliki rasa malas :
Hz. Masih Mau’ud as bersabda, “ ….Penderitaan yang dialami selama 13 tahun oleh Nabi Kita SAW, di Mekkah Mu’azzamah dengan membaca riwayat hidup beliau pasa periode itu, maka dengan jelas akan diketahui bahwa Rasulullah SAW telah memperlihatkan akhlak-akhlak yang memang seharusnya diperlihatkan oleh seorang shaleh sempurna pada saat-saat sulit, yaitu tetap tawakkal kepada Allah, tidak berkeluh kesah, tidak memperlihatkan kemalasan dalam tugas, dan tidak takut terhadap sosok seseorang- sedemikian rupa sehingga orang-orang kafir menjadi beriman karena menyaksikan istiqamah yang demikian itu dan memberikan kesaksian bahwa istiqamah serta ketabahan dalam penderitaan seperti itu tidak dapat dilakukan tepat pada waktunya ini dan untuk itulah Dia telah menciptakan saya, sama sekali saya tidak mungkin jadi malas melaksanakannya, walaupun matahari di satu sisi dan bumi di sisi lain sama-sama ingin melumatkan saya “ ( Tuhfah Golerwiyah, h. 8,9/Mahzarnamah, Hal. 197-198, tahun 2002 ).
7. Bagaimana posisi orang malas dalam jemaat ?, :
Hz. Imam Mahdi as. Bersabda, “ Dan andaikata di suatu sudut relung dadamu ada terselip sifat keangkuhan, ria, cinta diri-sendiri, dan kemalasan, kamu tidak akan dianggap memiliki sesuatu yang dapat diterima oleh Tuhan. Jangan-jangan, oleh karena beberapa hal yang kamu sangka amal baktimu, kamu sebenarnya menipu diri sendiri karena beranggapan bahwa segala yang harus kamu kerjakan telah kamu laksanakan. Sabab Tuhan menghendaki agar di dalam wujudmu terjadi suatu revolusi yang dasyat lagi menyeluruh. Dia menuntut darimu suatu maut, sesudah maut itu kamu akan diberi oleh-Nya kehidupan yang baru ”. ( Ajaranku, hal. 7-8, tahun 1993 ). Orang malas tidak berguna : Beliau as. Bersabda “ Perlihatkanlah amal baik sejauh mungkin hingga kesempurnaannya mencapai derajat yang tertinggi. Setiap orang dari antara kamu yang menjadi kendur dan malas akan dilemparkan dari Jemaat bagaikan sebuah barang yang kotor. Ia akan mati membawa penyesalan dan bagaimanapun ia tidak akan dapat merugikan Allah “ ( Ajaranku, hal. 17, tahun 1993).
8. Keberanian dan semangat pantang mundur :
Tekad Nabi Muhammad SAW perlu di teladani dalam berdakwah walaupun badai perlawan terus menerpa dan tawaran iming-iming sangat menjanjikan, Beliau SAW bersabda, “ … Tuhan Maha Esa, menjadi saksi dan aku mengatakan bahwa andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kanan-ku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti menyebarkan Kebenaran Tauhid Ilahi. Aku harus berjuang sampai mati… “. ( Hisyam & Zurqani/Pengantar untk mempelajari Al-quran, hal. 185, tahun1989)
9. Istiqomah senjata utama :
Keyakinan yang teguh kepada Allah Ta’aala yang Maha Penolong dan Pelindung, dan Istiqomah dalam beramal akan menghilangkan Rasa Takut. Allah Ta’aala memberikan motivasi kepada orang-orang yang beriman, yaitu, “ Orang-orang yang berkata, Tuhan Kami adalah Allah dan kami sudah menjauhkan diri dari tuhan-tuhan palsu kemudian mereka Istiqamah, yakni tetap teguh dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan musibah, maka malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil berkata; Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati, dan bergembira serta bersuka-rialah sebab kamu sudah menjadi pewaris kebahagiaan yang telah dijanjikan kepadamu. Kami adalah sahabatmu di dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat “ ( 41:31-32 ).
10. Istiqomah yang sempurna :
Hz. Imam Mahdi as. Bersabda, “ Istiqamah yang sempurna adalah, Ketika bala musibah mengepung dari segala penjuru, dan di jalan Allah nyawa, kehormatan dan harga diri dihadapkan kepada bahaya, sementara tidak terdapat sesuatu yang menghibur, sampai-sampai Tuhan pun dengan tujuan hendak menguji, menutup pintu kasyaf atau mimpi atau Ilham yang membesarkan hati, lalu membiarkan dalam keadaan-keadaan takut yang mengerikan; pada saat itu tidak memperlihatkan sikap penakut dan tidak mundur ke belakang bagai para pengecut, serta tidak memperlihatkan suatu perubahan apa pun pada sifat kesetiaan, tidak mencemari ketulusan dan ketabahan, rela terhadap kenistaan, pasrah terhadap maut, dan untuk mengokohkan langkah tidak menunggu-nunggu seorang kawan agar ia meberikan pertolongan. Tidak menuntut turunnya khabar-khabar suka dari Tuhan sebab masa yang genting, dan walaupun tidak berdaya serta lemah serta tidak memperoleh sesuatu yang menghibur sekalipun, tetap saja berdiri tegak, dan merebahkan leher ke depan seraya mengatakan, “ Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi “ dan tidak mengecam keputusan takdir, serta sama sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan keluh kesah sampai selesainya saat cobaan itu “ ( FAI, Hal. 131-132, tahun 2001 ).
11. Jangan merasa malu, Ahmadi memiliki kelebihan :
Hz. Imam Mahdi as bersabda, “ Orang-orang dari golonganku begitu hebat akan memperoleh kelebihan dalam hal Ilmu dan Ma’rifat, sehingga mereka akan menutup mulut semuanya dengan Nur kebenaran mereka dan melalui dali-dalil dan tanda-tada ( Aayat ) “. ( Riwat Hidup Khalifah-Masih ke-III ra, Hal. 41, Tahun 1987 ). Do’a yang berberkat dari Nabi Muhammad SAW untuk menghilangkan rasa malas dan Penakut ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MINAL-‘AJZI WAL-KASALI WAL-JUBNI WAL-HARAMI WAL-BUKHLI…, Artinya, “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan malas, dan penakut dan tua dan bakhil/kikir…” ( Tarjamah Riadhush-shalihin, hal. 373, Cetakan tahun 1973 ).
VI. JANJI KEMENANGAN :
1. Kemenangan Islam pasti ada :
Sabda Beliau as, “ Ini sunnah – kebiasaan - Allah Ta’aala semenjak Dia menciptakan manusia di atas bumi, selamanya sunnah ini dizahirkan-Nya. Yaitu Dia selalu menolong Anbiyaa dan Rasul-rasul-Nya dan memberi kemenangan kepada mereka sebagaimana Firman-Nya, KATABALLAAHU LA AGHLIBANNA ANA WA RUSULII, - Sudah dituliskan Allah bahwa Aku dan Rasul-rasul-Ku-lah yang akan menang – ( Al-wasiyat, h. 11, 1993 ). Cepat atau lambatnya janji kemenangan ini tergantung dari kita sendiri. Jangan sampai kisah Nabi Musa as dan para pengikutnya terulang lagi terhadap murid-murid Imam Mahdi as. Pada satu kesempatan, ada Majelis Tanya-jawab di jaman Khalifatul-Masih ke-III ra. Pada acara tersebut ada seorang Ahmadi bertanya kepada Huzur “ Ya Huzur, kapan kemenangan Islam melalui Jemaat ini ? “. Huzur ra. Menjawab, “ Kalian tidak perlu bertanya dan berpikir, kapan kemenangan Islam melalui Jemaat ini, kemenangan ini pasti adanya. Yang terpenting adalah, berkhidmatlah di dalam Islam dan Jemaat ini dengan sebaik-baiknya pengkhidmatan !…”. ( Kutipan Tanya-Jawab, Khalifah ke-III ra. ).
2. Kemenangan bukan letak Geografis :
Apakah definisi kemenangan yang dijanjikan kepada Jemaat Ahmadiyah itu, kemenangan dari segi toritorial atau letak Geografis ?. “ yang dimaksud dengan kemenangan adalah, Sebagaimana cita-cita para Rasul & Nabiullah yaitu, Keterangan dan dalil Tuhan sempurna dia atas bumi dan tidak seorangpun dapat melawannya. Begitulah Allah Ta’aala membuktikan kebenaran mereka dengan tanda-tanda yang kuat. Dan kebenaran yang hendak dikembangkan mereka di dunia, di tangan merekalah ditanamkan-Nya benihnya itu. Akan tetapi untuk menyempurnakannya tidak dikerjakan-Nya dengan perantaraan tangan mereka, para Rasul itu…..”. ( Al-wasiyat Hal. 11-12, tahun 1993 ).
3. Janji kemenangan sampai Kiamat :
Janji kemenangan dari Allah, “ Aku ( Allah ) akan memberi kepada Jemaat ini, yaitu pengikut-pengikut engkau kemenangan di atas golongan-golongan lain sampai kiamat “ ( Al-wasiyat, H. 15, Tahun 2001 ). Siapakah yang dimaksud dengan Jemaat-ku atau pengikutku ?, Beliau as bersabda, “ …Yaitu orang-orang yang beriman, dengan iman yang tidak dicampuri dengan keduniawian, Iman yang tidak dinodai kemunafikan atau kegentaran, dan Iman itu meliputi semua derajat Ita’at, orang-orang yang demikian inilah yang disukai oleh Allah. Tuhan berfirman,: Orang-orang inilah yang jejak dan langkahnya terletak di atas jejak kebanaran “ ( Al-wasiyat, h. 21, Tahun 2001 ).
4. Banyak yang minoritas akan unggul :
Jemaat Ahmadiyah memang masih minoritas, tetapi kita harus yakin akan pertolongan Allah. Fakta dan bukti tidak bisa dibantah, dan Al-quran memberi kesaksian, yang minoritas ini akan unggul, - KAM MIN FIATIN QALIILATIN GHALABAT FIATAN KATSIIRATAN BI IDZNILLAAHI WALLAAHU MA’ASH-SHAABIRIINA -, “ …banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar ” ( Al-baqarah 2:250 ).
5. Tabligh sarana bekal untuk di akhirat :
Percepat langkamu dalam menunaikan tugas mulia Da’wat Ilallaah sebagaimana Hz. Imam Mahdi as. Mengingatkan, “ Waktu sangatlah pendek, sedangkan tugas hidupmu belum lagi selesai. Bergegaslah melangkahkan kaki – ( untuk berda’wat Ilallaah, pny.) - karena hari sudah petang dan malam hampir tiba. Apa-apa yang akam kamu persembahkan kehadapan Tuhan, periksalah berulang-ulang, jangan-jangan ada kekurangan dan menyebabkan kerugian – atau jangan-jangan semua itu tak ubahnya hanya kotoran dan barang-barang rombengan yang sekali-kali tak layak dipersembahkan di hadapan singasana Maha Raja ( Allah Ta’aala ) “ ( Ajaranku, hal. 41, tahun 1993 ). Syair yang indah dan penuh Hikmah : “ Umur berkurang, ajal mengejar, Keranda mayat menanti-nanti, liang lahat nunggu diisi, siapkah anda mati ?. Bawalah piranti yang suci murni, kepada Ilahi Jangan membawa yang basi-basi, sementara kamu pun risi. Raihlah hidup yang surgawi di dunia pun di nikmati, apalagi di alam ukhrawi, demi mendapat ridha Ilahi. SIAPKAH ANDA MATI ? “.
VII. KESIMPULAN DAN PENUTUP :
1. Da’i-lallaah : mengajak manusia ke jalan Allah :
Manusia adalah makhluk Allah paling sempurna karena diberi keistimewaan berupa akal dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan akal tadi bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Sejak para Nabiullah dan Rasulullah dibangkitkan oleh Allah Ta’aala – sesuai dengan misinya basyiran wa naziiran - adalah untuk mengajak umat manusia kepada jalan Allah dan kebenaran sehingga terwujud keteraturan, dan ketertiban hidup dengan undang-undang kitab sucinya masing-masing. Para Nabi – terutama Nabi Muhammad SAW – mengajarkan, apa tujuan hidup manusia sebenarnya ?. Yaitu untuk mengenal, beribadah atau mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah Ta’aala. sesuai dengan tingkat ilmu pengetahuan di jamannya masing-masing. Usaha untuk mengajak manusia ke jalan Allah Ta’aala ini disebut, DA’WAT ILALLAAH, pelakunya dinamakan DA’ILALLAAH.
2. Hadapi kendala dengan pensucian diri dan usaha :
Da’i yang sangat berhasil dan sempurna adalah wujud suci Nabi Muhammad Musthafa Rasullah SAW. Maka sudah selayaknya seluruh umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya mengikuti tauladannya. Untuk melaksanakan tugas mulia da’wat Ilallaah ini banyak kendala yang dihadapi diantaranya, Perasaan Malu, Takut dan Malas. faktor penyebab penyakit ini muncul pada setiap orang tentunya berbeda-beda. Da’i yang ingin berhasil, tidak akan menyerah pada keadaan, kendala yang ada akan dihadapi dengan : Pensucian diri, niat baik dan tekad yang kuat, Do’a dan Keyakinan yang teguh, kerja keras, pantang menyerah, tawakkal Ilallaah. Dengan moto : USAHA ADALAH WAJIB, HASIL ADALAH SUNAT.
3. Manfaat da’wat Ilallaah & buka pintu dialog ! :
Setiap perbuatan baik dan bermanfaat tentunya ada ganjarannya. Ternyata manfaat Tabligh adalah untuk mendidik diri menjadi orang pintar, merubah prilaku menjadi orang berakhlak, lahir menjadi manusia shaleh bahkan wali sebagai jalan untuk meraih ma’rifat Ilaahi. Apabila di seantaro negeri ini banyak orang-orang shaleh dan suci, maka akan aman dan damai-lah negeri tersebut. Ketika proses pertablighan sedang berlangsung, terkadang sering ada perbedaan dan perdebatan yang menimbulkan gesekan bahkan kalau tidak saling memahami, akan muncul antipati yang berujung anarkhis. Apabila ini terjadi, dialog yang dilandasi kecintaan, menyingkirkan rasa benci dan dendam, sebagai solusi terbaik, jangan saling menyesatkan, karena hanya Allah-lah yang tahu, siapa yang sesat dan siapa yang tidak. Manusia tidak berhak menghakimi keimanan seseorang, kecuali kalau dia mendapat sertifikat dari Allah.
4. Kemenangan, dalil Tuhan sempurna di muka bumi :
Janji kemenangan yang akan diberikan Allah kepada Jemaat Ahmadiyah, bukan janji kemenangan berupa penguasaan letak Geografis atau Teritorial, tetapi bentuk kemenangan yang dijanjikan adalah “ Keterangan dan dalil Tuhan sempurna dia atas bumi dan tidak seorangpun dapat melawannya. Begitulah Allah Ta’aala membuktikan kebenaran mereka dengan tanda-tanda yang kuat.”. Otomatis apabila semua penduduk dunia ini sudah mengenal dan mengikuti keinginan Allah, akan terjadi daulah Islamiyah yang universal – karena Allah dan Islam ini untuk Rahmatan Lil-‘aalamiin -. Sangat berbeda sekali dengan kelompok muslim lain ketika berbicara masalah perjuangan demi meraih kemenangan Islam di akhir jaman. Konsep mereka adalah, harus ada daulah Islamiyah, ada negeri taklukan terlebih dahulu – walaupun harus terjadi benturan dengan penguasa yang ada - baru dibentuk Negara Islam dengan pirantinya ( Khalifah dan Undang-undang syariah ).
5. Khilafah yang ramah lingkungan :
Ternyata pada pelaksanaannya, Sistim Khilafah yang diperjuangan oleh Jemaat Ahmadiyah-lah yang berjalan lancar, aman dan damai – tidak berbenturan, tidak mengancam pemerintah atau wibawa penguasa yang sedang berkuasa – boleh dikatakan, KHILAFAH AHMADIYAH ADALAH KHILAFAH YANG RAMAH LINGKUNGAN. Sementara mereka masih berupa angan-angan, konsep belaka bahkan masih dalam mimpi. Para Ahmadi tidak perlu khawatir terhadap gerakan-gerakan mereka – yang terkadang melegalkan segala cara - Insya Allah sesuai dengan janji-Nya, Allah akan memberikan kemenangan kepada jemaat ini sampai hari kiamat, melalui Kudrat-Nya yang kedua ( Khilafah ). “ Kedatangannya kepadamu adalah membawa kebaikan, karena Dia selamanya akan tinggal bersamamu, dan sampai kiamat silsilah ini tidak akan putus-putus… Aku ( Allah ) akan memberi kepada Jemaat ini, yaitu pengikut-pengikut engkau kemenangan di atas golongan-golongan lain sampai kiamat “. Alwasiyat, h. 14-15, 1993 ). Amin