MAJELIS SYURO NASIONAL
PENTINGNYA MEMENUHI UNDANGAN PEMILIHAN WAKIL MAJELIS SYURO/MUSYAWARAH DALAM JEMAAT AHMADIYAH
Oleh: Ustadz Dendi Ahmad Daud, M. Ag. Dosen Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Jemaat Serua- Pinus Pamulang, 03 April 2026
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Ta'ala. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita yang mulia, Nabi besar Muhammad Mustafa saw, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Hadirin-hadirat sidang Jum'at yang dirahmati Allah Ta'ala,
Khutbah pada hari ini akan mengangkat sebuah tema yang sangat relevan dengan kehidupan berjemaat kita, yaitu tentang "Pentingnya Memenuhi Undangan Pemilihan Wakil Majelis Syuro/Musyawarah dalam Jemaat Ahmadiyah".
Dalam sistem Khilafat yang kita anut, Majelis Syuro merupakan salah satu pilar penting yang tak terpisahkan. Lembaga ini adalah badan konsultasi utama yang didirikan oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah untuk membahas usulan-usulan guna memajukan upaya Jemaat dalam menyebarkan ajaran Islam yang benar, damai dan penuh kecintaan. Oleh karena itu, memahami hakikat dan kewajiban kita terhadap Majelis Syuro, khususnya dalam pemilihan wakil-wakilnya, adalah suatu keharusan bagi setiap anggota Jemaat.
1. Dalil Al-Qur'an tentang Kewajiban Musyawarah
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Asy-Syura, ayat 39:
وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ
Artinya: "Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
Ayat yang mulia ini dengan jelas menunjukkan bahwa musyawarah atau syuro adalah salah satu ciri utama orang-orang yang beriman. Dalam ayat ini, Allah Ta'ala secara langsung mengaitkan ibadah salat dan infak (candah) dengan praktik musyawarah. Ini menegaskan bahwa musyawarah bukan sekadar tradisi atau formalitas, melainkan bagian integral dari kehidupan seorang Muslim. Inilah landasan utama mengapa dalam Jemaat Ahmadiyah, Majelis Syuro ditempatkan pada posisi yang sangat istimewa dan sakral
2. Hadis tentang Kewajiban Memenuhi Undangan
Selain perintah untuk bermusyawarah, Islam juga sangat menekankan kewajiban untuk memenuhi undangan dari sesama Muslim. Rasulullah saw bersabda:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ
Artinya: "Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bahkan menegaskan: "Barangsiapa yang diundang, maka hendaklah ia memenuhinya." (HR. Muslim).
Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa memenuhi undangan adalah kewajiban sosial dan spiritual yang sangat ditekankan dalam Islam. Seorang Muslim yang dengan sengaja tidak memenuhi undangan dari saudaranya tanpa alasan syar'i, dikhawatirkan telah mengurangi hak persaudaraan dalam Islam. Bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu).
3. Kedudukan Majelis Syuro dalam Jemaat Ahmadiyah
Dalam struktur Jemaat Ahmadiyah, Hazrat Khalifatul Masih V (aba) sendiri yang telah menegaskan bahwa setelah Lembaga Khilafat, institusi terpenting dan tersuci kedua adalah Majelis Syuro. Lembaga ini, sebagaimana dijelaskan oleh Hazrat Khalifatul Masih V (aba), berbeda dengan parlemen duniawi mana pun yang sering kali didorong oleh kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Sebaliknya, Majelis Syuro dalam Jemaat Ahmadiyah adalah wadah di mana para wakil yang terpilih berkumpul untuk memberikan masukan serta nasihat demi kemaslahatan Jemaat, kemudian penyebaran Islam (tabligh), dan juga tarbiyat (pembinaan) para anggotanya. Inilah yang membedakannya secara fundamental dari lembaga-lembaga duniawi lainnya.
Pemilihan wakil-wakil Majelis Syuro, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional bukanlah sekadar proses administratif biasa. Ini adalah amanah suci yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab dan ketakwaan. Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya", (QS. An-Nisa: 60)
Ayat ini menjadi fondasi bahwa setiap jabatan atau pengkhidmatan yang dipercayakan kepada seseorang adalah sebuah amanah.
4. Kewajiban Memenuhi Undangan Pemilihan Wakil Majelis Syuro
Hadirin-hadirat yang dirahmati Allah Ta'ala,
Mari kita hubungkan dalil-dalil di atas dengan praktik dalam Jemaat kita. Ketika seorang anggota Jemaat menerima undangan untuk menghadiri acara pemilihan wakil Majelis Syuro, maka undangan tersebut bukanlah undangan biasa. Ia adalah undangan untuk menunaikan beberapa kewajiban sekaligus:
1. Memenuhi hak persaudaraan dalam Islam untuk menghadiri undangan, sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw.
2. Menunaikan amanah untuk memilih wakil-wakil yang paling layak dan amanah, yang akan duduk dalam Majelis Syuro. Ini adalah amanah langsung dari Allah Ta'ala.
3. Melaksanakan perintah musyawarah (syuro), dengan berpartisipasi aktif dalam memilih wakil-wakil yang akan mengurus urusan Jemaat.
Oleh karena itu, jika ada yang mengabaikan undangan tersebut tanpa alasan yang sah, seorang anggota Jemaat tidak hanya melalaikan hak sosial sesama Muslim, tetapi juga berpotensi mengabaikan amanah dan perintah Khalifah Waqt dan Allah Ta'ala untuk bermusyawarah.
5. Panduan Memilih Wakil yang Amanah
Hazrat Khalifatul Masih V (aba) telah memberikan tuntunan yang sangat jelas mengenai bagaimana seharusnya kita memilih para wakil dan pengurus. Beliau bersabda dalam sebuah khutbah Jumat:
"Para pengurus dipilih oleh anggota Jemaat atau (dipilih langsung) oleh Khalifah di masa itu. Pemilihan itu pun dilakukan setelah merenungkan dan memikirkan siapa orang yang paling tepat untuk jabatan tersebut."
Jangan Memilih Karena Sesuatu
Lebih lanjut, Khalifah menegaskan agar dalam memilih, kita tidak boleh mempertimbangkan hubungan pertemanan atau hubungan-hubungan lainnya. Jangan sampai ikatan pribadi atau persahabatan mengaburkan penilaian atau menjauhkan kita dari keadilan. Beliau juga mengingatkan untuk tidak memilih orang-orang yang mempromosikan diri mereka sendiri untuk menduduki suatu jabatan. Sebaliknya, kita harus selalu berupaya keras untuk memilih sosok yang terbaik di antara kita dan melakukannya dengan perantaraan doa. Niat kita semata-mata karena Allah Ta'ala, bukan karena kepentingan pribadi atau kelompok.
Para wakil yang terpilih memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Mereka harus memberikan pandangan mereka setelah pemikiran yang mendalam, pemahaman, dan renungan yang sungguh-sungguh, karena pandangan mereka akan sampai kepada Khalifah-e-Waqt. Ini adalah amanah yang berat yang tidak bisa dijalankan dengan setengah hati.
6. Tujuan Utama Majelis Syuro
Sebagai penutup dari khutbah ini, marilah kita renungkan kembali tujuan utama dari Majelis Syuro. Hazrat Khalifatul Masih V (aba) mengingatkan:
"Ingatlah selalu bahwa tujuan dan sasaran utama Majelis Syuro adalah untuk merumuskan usul-usul... untuk menghidupkan ajaran agung Rasulullah saw dan menyebarkan pesan Islam yang damai ke seluruh penjuru dunia".
Inilah visi besar kita, dengan memenuhi undangan dan berpartisipasi aktif dalam pemilihan wakil-wakil Syuro, kita turut serta membangun Jemaat yang lebih kuat, yang pada gilirannya akan semakin kokoh dalam menyebarkan cahaya Islam yang damai ke seluruh alam.
Hadirin-hadirat Jamaah salat Jumat yang berbahagia,
Demikianlah khutbah pada hari ini. Semoga Allah Ta'ala memberikan kita semua kekuatan dan keikhlasan untuk senantiasa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah meremehkan undangan seperti ini, karena di dalamnya terkandung perintah Allah Ta'ala untuk bermusyawarah, perintah Rasulullah untuk memenuhi undangan, dan amanah untuk memilih pemimpin yang terbaik.
Saya akhiri khutbah ini dengan doa semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita di bawah naungan Khilafatul Masih yang diberkati, dan semoga setiap langkah kita dalam menjalankan sistem syuro ini membawa kita semakin dekat kepada rida Allah Ta'ala. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
Disalin Kembali by. Abu Arsalanullah MAA, bekasi, 03/03/2026.